
Di kamarnya, Angela sangat kesal dengan Evan. Dia benar-benar kesal karena Evan tadi membentaknya. Dia memang ingin menggoda Evan dengan berpakaian tidur yang seksi, agar Evan tergoda.
Mustahil sekali jika Angela yang putih bersih berpakaian baju tidur transparan Evan tidak tergoda. Dia hanya sedang takut, begitu pikir Angela.
"Huh! Munafik. Kenapa dia tidak tergoda? Bohong sekali laki-laki dewasa tidak tergoda dengan pakaianku ini?" ucap Angela dengan kesal.
Dia baringkan tubuhnya di ranjangnya, berpikir bagaimana memikat Evan dengan cepat.
"Kak Evan sangat tampan, sayang sekali kak Ana tidak terlalu peduli pada kak Evan. Aku sungguh menyukai kan Evan, tapi bagaimana dengan kak Ana ya?" tanya Angela berbicara sendiri.
Malam semakin larut, Angela pun tertidur karena dia memang sudah mengantuk. Jika bukan ingin menggoda Evan, dia akan pergi ke klub malam dengan teman-temannya. Ana juga tidak pernah melarang Angela jika dia pulang larut malam.
_
Hari demi hari Evan selalu menghindari makan bersama dengan Angela. Jika dia baru duduk, dan Angela datang maka dengan cepat Evan menghabiskannya dengan cepat Begitu terus, membuat Angela jengah.
Dia sepertinya akan membuat rencana untuk menjebak Evan. Tapi belum terpikirkan seperti apa rencananya itu.
"Kak, besok aku ngga menginap di sini." kata Angela pada kakaknya.
"Biasanya juga kamu ngga pernah bilang mau tidur di sini atau ngga. Kenapa harus mengatakan itu?" tanya Ana heran.
"Emm, ada yang harus aku lakukan kak. Sepertinya ada seseorang yang tidak suka padaku." jawab Angela melirik pada Evan yang memang pagi ini mereka sarapan bersama dan Evan dengan cepat makan makanannya.
Dia pun sedikit terbatuk, membuat Ana menoleh pada suaminya.
"Kenapa? Kamu makan terburu-buru, jadinya kesedak." kata Ana.
"Ngga apa-apa sayang. Aku memang buru-buru mau pergi keluar." kata Evan.
"Mau kemana? Kan ini hari Minggu?" tanya Ana heran.
"Ada janji dengan teman kantor." jawab Evan berbohong.
__ADS_1
"Kalian aneh, kenapa seperti ada yang di sembunyikan dariku?" kata Ana kesal.
Dia heran kenapa Angela izin padanya tidak menginap di rumahnya, bahkan Angela tidak pernah melakukan itu. Dia datang sendiri sesuka hati itu sudah biasa bagi Angela, meski itu hal yang lumrah.
Dan sekarang tiba-tiba Evan mengatakan akan keluar dan janji bertemu teman kantor. Siapa yang akan di temui Evan?
"Aneh gimana sayang? Kan aku biasa ketemu dengan teman kantor." kata Evan.
"Sudahlah, itu terserah kamu. Rencananya tadi aku mau ajak jalan-jalan kamu ke benteng Kremlin, aku orang Moscow tapi jarang berwisata kesana." kata Ana dengan ketus.
Evan diam, dia mengakhiri sarapannya, selera makannya jadi hilang. Jika Ana sudah kesal seperti itu, maka satu hari dia akan mendiamkan Evan. Evan tidak mau itu, meski dia juga kadang lelah menghadapi Ana.
"Ya sudah, nanti aku telepon temanku untuk membatalkan janji ketemu dengannya." kata Evan mengalah.
Pikirnya, lebih baik pergi bertiga dengan anak dan istrinya untuk berwisata. Dari pada di rumah bertemu Angela terus, dan Angela sekarang semakin berani padanya.
"Yakin? Nanti kamu kesal lagi." kata Ana.
"Tidak, memang kita harus jalan bertiga ke tempat wisata itu." kata Evan.
"Katanya kamu mau bertemu dengan teman kamu juga?"
"Setelah di pikir, mungkin lebih baik ikut kakak aja berwisata. Boleh kan kak Ana, kak Evan?" tanya Angela.
"Boleh aja, kenapa harus menunggu persetujuan kakak?"
"Ya, takutnya kan Evan keberatan kak, aku ikut." kata Angela melirik Evan lagi.
"Ngga kok, sudah jangan hiraukan. Kakak iparmu mungkin hanya tidak mau kamu bergaul dengan sembarang teman." kata Ana.
Angela tersenyum, dia lalu memeluk Ana dari samping.
"Terima kasih kakak, uuurgh sayang banget sama kak Ana. Cup." Angela memberi kecupan di pipi Ana.
__ADS_1
Lalu dia pergi dari meja makan menuju kamarnya, bersiap untuk pergi ke benteng Kremlin.
Dan tentu saja Evan membuang muka ke samping, niat mau menjauhi Angela malah dia sendiri yang meminta ikut pada istrinya. Jika Angela minta pada Ana, sudah pasti akan selalu di turuti.
"Kenapa dia harus ikut?" tanya Evan.
"Kan biasanya juga dia ikut kemana kita jalan-jalan. Kamu kenapa bertanya seperti itu? Biasanya juga ngga pernah protes." kata Ana heran.
Evan diam, dia bingung harus jawa apa. Memang biasanya Angela selalu ikut, tapi kali ini dia tahu itu hanya modus Angela agar bisa dekat dengannya. Dulu sebelum tahu Angela menyukainya, dia biasa saja dan tidak pernah protes seperti sekarang.
"Ya, aku pengen jalan bertiga aja sayang tanpa Angela. Kan sudah biasa dia ikut, jadi aku ingin kita bertiga aja. Satu keluarga, aku, kamu dan Diego." kata Evan.
Ana berpikir, memang benar. Mereka selali jalan berempat, sebelum ada Diego jalan bertiga. Kalau ada Dimitri juga sering jalan berlima, namun Ana tetap berpikir lebih enak jalan berramai-ramai dari pada hanya bertiga.
"Tapi enak jalan ramai-ramai, seru juga. Kalau ada Dimitri pasti ikut, sudah ngga apa-apa. Aku terlanjur mengiyakan, kalau di batalkan dia ngga ikut kan kasihan. Nanti lain waktu kita jalan bertiga aja ya." kata Ana lagi.
Evan kembali membuang nafas kasar, kesal juga dengan istrinya yang tidak peka akan maksud Angela. Padahal pernah sebelum dia tahu Angela menyukainya, Angela pernah bergelayut manja padanya dan seperti sengaja mendekatkan wajahanya pada Evan. Waktu itu Evan tidak tahu, jadi biasa saja.
Dan Ana mengetahui itu, hingga dia marah dan kesal pada adiknya. Dia juga marah pada Evan, dan sekarang mungkin Angela lebih berani lagi karena Evan tahu dia menyukai kakak iparnya.
"Ayo kita bersiap, sudah jam sembilan. Kalau terlalu siang nanti panas." kata Evan pasrah dengan keputusan Ana.
"Baiklah, jangan lupa mantelnya di bawa." kata Ana.
"Ya."
Evan lalu masuk ke kamarnya, dia bingung harus bagaimana nantinya. Yang jelas dia akan menghindar dari Angela.
_
_
_
__ADS_1
😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤❤