
Bulan Desember di Rusia dan di negara Eropa lainnya sedang mengalami musim dingin dan salju. Banyak penduduk yang merasa malas untuk keluar rumah jika bukan suatu hal penting dan mendesak.
Tapi di bulan ini, di Moscow akan di adakan festival musim dingin. Yaitu beberapa rangkaian acara di selenggarakan di Moskow.
"Besok mau ngga kita pergi ke acara festival?" tanya Chiko saat itu di kampus ketika bertemu Elana.
"Bertiga bang, dengan Celine juga?" kata Elana.
"Iya, nanti Celine di ajak juga. Tapi dia kayaknya dengan temannya pergi ke festival itu." kata Chiko.
Dia menatap Elana dengan lembut, berharap Elana mau pergi ke acara festival di Moskow dengannya.
"Aku lihat besok ya bang, aku izin dulu sama papa." kata Elana.
"Oh, gitu ya." kata Chiko kecewa.
Elana melihat Chiko kecewa dengan jawabannya itu, dia merasa tidak enak.
"Jam berapa pergi ke acara festival itu bang?" tanya Elana.
"Jam dua siang, nanti kita sampai malam karena ada pertunjukkan lampu di sana." kata Chiko.
Berharap Elana mau ikut dengannya.
"Nanti malam aku hubungi abang deh, jadi ngga ikutnya." kata Elana.
Chiko tersenyum, dia lalu mengelus kepala Elana. Rasa yang ada di hati Chiko untuk Elana kian tumbuh, dia berharap Elana mau terus berteman dengannya atau nanti bisa lebih dari teman.
"Bang, bisnya udah datang." kata Elana.
"Iya, hati-hati ya."
"Iya bang."
Elana masuk ke dalam bis trem itu, Chiko hanya memandangi Elana sampai dia duduk dan melambaikan tangan padanya. Dia tersenyum dan membalas lambaian tangan Elana.
Dan malam ini, Elana akan meminta izin pada Evan untuk besok pergi dengan Chiko. Dia berharap Evan memberinya izin dengan mudah.
Elana menghampiri Evan yang sedang berada di ruang kerjanya. Dia sekarang semakin sibuk setelah semua pekerjaan dia yang menanganinya. Elana berdiri di samping Evan yang sedang memeriksa beberapa berkas di laptopnya lalu di cocokkan dengan berkas di tangannya.
Evan menoleh pada anaknya lalu tersenyum pada Elana.
"Ada apa sayang? Tumben malam-malam kemari." tanya Evan.
__ADS_1
"Pa, besok aku boleh pergi jalan sama teman kampus kan?" tanya Elana.
"Jalan-jalan kemana?" tanya Evan.
"Menonton festival musim dingin di Red Square pa, aku ingin melihat festival di sana. Katanya sangat ramai dan meriah." kata Elana.
Evan tampak berpikir, dia lalu memandang anaknya dan tersenyum.
"Ya boleh, maaf ya. Selama kamu di sini papa sibuk banget, belum pernah mengajak kamu jalan-jalan." kata Evan.
Elana tersenyum senang, dia pun memeluk Evan dengan bahagia.
"Terima kasih pa, aku pergi dengan teman-teman aja ngga apa-apa kok. Papa sibuk kerja El ngerti."
"Jangan lupa pakai mantel tebal ya, karena cuacanya sangat dingin. Oh ya, berangkat jam berapa?"
"Jam dua siang, nanti pulang malam. Ngga apa-apa kan?" tanya Elana.
"Emm, asal janga sampai larut malam. Papa izinin kamu sayang, tapi ingat ya kamu ngga boleh macam-macam dengan temanmu itu." pesan Evan.
"Memang papa tahu teman El itu siapa?" tanya Elana.
"Emm, teman lelaki kampusmu kan? Atau dia teman perempuanmu?"
"Keduanya, tapi nanti malam adik perempuannya tidak ikut. Jadi kita hanya berdua aja pa." kata Elana.
"Iya pa, papa tenang aja. Teman El ini orangnya tahu kok apa yang baik buat El."
"Bagus, papa hanya tidak mau anak yang papa bawa kemari jadi repot papa." kata Evan.
Elana hanya tersenyum, mungkin papanya mengira dia bergaul dengan laki-laki Rusia dan bergaul bebas. Tapi papanya itu salah tentang Elana.
Setelah mendapatkan izin dari Evan, Elana pun mengirim pesan singkat pada Chiko bahwa besok dia bisa pergi ke festival musim dingin di Moscow malam hari.
Tentu saja Chiko sangat senang, dia pun mempersiapkan untuk besok. Dia juga akan memberi Celine uang untuk bisa oergi dengan santai bersama teman-temannya. Untungnya Celine pergi ke Saint Petersburg bersama teman satu kelasnya.
_
Waktu perjanjian pun tiba, Elana menunggu di halte bus seperti biasa dia menunggu bus untuk ke kampus. Rencananya Chiko akan menghampirinya dengan menaiki kendaraan roda dua.
Dan orang yang di tunggu pun tiba, Elana tersenyum. Dia berdiri dan menatap Chiko dengan senang.
Dengan memakai jaket tebal, syal juga sepatu boot modern agar nanti di sana tidak kedinginan. Begitu juga dengan Chiko, memakai jaket kulit hangat dan juga syal serta kain upluk penutup kepala.
__ADS_1
"Sudah siap?" tanya Chiko.
"Sudah bang." jawab Elana tersenyum.
"Ayo kita berangkat, biar nanti sebelum ferstival lampu di sana kita sudah ada. Ada banyak festival di sana." kata Chiko.
"Apa saja bang di sana?"
"Banyak, yang menjual makanan juga ada. Kalau di Indonesia itu bisa di bilang pasar malam, seperti itu. Hanya saja di sini ada pertunjukan musik dan banyak lagi." ucap Chiko.
Elana lalu menaiki motor Chiko di belakang membonceng, Chiko menarik tangan Elana untuk berpegangan pada pinggangnya agar dia bisa tenang dengan mengendarai motor dengan cepat.
"Kamu pegangan di pinggangku El, biar nanti kita lebih cepat sampai aku akan mengebut." kata Chiko.
"Jangan ngebut bang, santai juga ngga apa-apa kok." kata Elana.
"Baiklah."
Elana pun berpegangan pada pinggang Chiko, Chiko melajukan motornya sesuai keinginan Elana. Sepanjang jalan Elana banyak bertanya tentang negara yang sekarang dia tinggali itu. Karena merasa Chiko lebih lama tinggal di Rusia.
"Kenapa abang ngambil hukum?" tanya Elana.
"Aku suka lihat papa itu membantu para korban kekerasan sangat mudah dan juga tidak memandang siapa yang di tolong. Siapa pun papa bantu dalam urusan hukum." jawab Chiko.
Elana tersenyum, jika saja waktu itu dia tahu papanya Chiko bisa membantu orang-orang yang membutuhkan hukum. Tentu dia akan meminta pada papanya Chiko untuk meringankan hukuman mamanya dulu, tidak di penjara ataupun di kurangi masa hukumannya.
"El, kenapa kamu ambil desain?" tanya Chiko membuyarkan lamunan Elana tentang Mourin.
"Aku suka lihat tanteku itu membuat desain baju sangat mudah sekali dan hasilnya bagus. Bisa membuat baju yang indah dan bisa di jual juga hasil karya kita. Aku suka sekali, makanya aku ingin jadi desainer nantinya." ucap Elana.
"Ooh, jadi kita punya seseorang yang kita kagumi ya untuk bisa menentukan cita-cita kita ya." ucap Chiko.
Kini mereka sampai di lapangan merah atau Red Square yang terkenal. Mereka kembali lagi ke sana, melihat pertunjukan musik dan juga festival lainnya. Dan yang lebih penting adalah membeli cinderamata di sana untuk kenang-kenangan nanti setelah pulang ke Indonesia.
"Ayo kita kesana, kita main salju dulu ya." kata Chiko.
Elana mengangguk, Chiko menggandeng tangan Elana erat. Elana tidak menampik, dia merasa senang sekali hari ini bisa keluar lagi dengan Chiko.
Mungkin di antara mereka sudah mulai tumbuh benih-benih cinta dan akan mekar sebentar lagi.
_
_
__ADS_1
_
😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤❤