
"Selamat siang tante." sapa Elana pada Anita dengan senyum ramahnya.
"Waah, selamat siang nak. Ternyata ini ya pacarnya abang?" tanya Anita pada Elana.
Elana tersenyum malu, dia menyalami tangan Anita dengan takzim. Anita sendiri kaget dengan Elana, dia merasa senang karena Elana pernah bertemu dengannya dan anaknya juga baik. Tidak menyangka akan bertemu dengannya di rumahnya, dan lebih mengejutkan lagi Elana adalah kekasih anaknya.
"Mama udah kenal Elana?" tanya Chiko dengan senyum senangnya.
"Iya bang, waktu mama sama Cheril dan Karin itu menginap di rumah abang. Mereka bilang pengen beli baju seperti punya temannya di sekolah, katanya bajunya bagus-bagus. Jadi mama anterin mereka ke butik itu, ngga nyangka butiknya memang ramai anak remaja. Dan yang punya juga masih muda, dan itu Elana ya." kata Anita.
"Baik kan Elana orangnya?" tanya Chiko pada mamanya.
Anita sendiri waktu itu juga senang dengan keramahan Elana. Jika tahu itu pacarnya Chiko, mungkin Anita tidak berpikir panjang dan sampai merenung berhari-hari.
"Maaf ya Elana, anak tante suka berlebihan. Tapi memang mama melihat pacar kamu baik juga." jawab Anita melirik ke arah Chiko.
Elana tersenyum malu, dia menunduk karena Chiko terlalu memujinya di depan mamanya. Dia sangat senang, ternyata pikirannya tentang calon mertua tidak sesuai dengan kenyataannya. Elana melihat Anita begitu keibuan dan juga berwibawa, setiap anaknya semua menurut padanya tak terkecuali Celine.
"Oh ya Elana ya namanya?" tanya Anita berbasa-basi.
"Iya tante." jawab Elana dengan senyum mengembang.
"Elana siapa?"
"Elana Patricia tante."
"Oh, bagus juga."
"Terima kasih tante, maaf ini ada buah untuk sekedarnya saja tante, maaf kalau saya bawanya cuma itu." kata Elana.
__ADS_1
"Aduh, jangan repot-repot segala. Tante cuma mau kenalan aja kok."
"Ngga repot tante, hanya buah saja kok."
"Bang, nanti ajak makan siang ya di belakang." kata Anita pada anaknya.
"Siap ma, aku juga udah lapar kok." jawab Chiko.
"Emm, Elana. Maaf ya kalau tante tanya-tanya tentang kamu, namanya juga punya anak laki-laku kalau di bawa ke rumah pasti di tanya tentang temannya atau pacarnya."
"Iya tante, tidak masalah. Tante mau tanya apa tentang saya, akan saya jawab dengan jujur." jawab Elana.
Dalam hati dia merasa tegang dan juga khawatir Anita akan bertanya tentang masa lalu ibunya yang pernah menculik Chiko. Dia takut masa lalu itu terungkit lagi dan akan terjadi drama perdebatan antara kekasihnya dengan mamanya. Pikiran Elana jauh ke sana, namun dia berusaha tenang.
Chiko memperhatikan mimik wajah tegang Elana juga merasa khawatir, namun dia berusaha tidak ikut campur antara mamanya dan kekasihnya. Tapi Chiko percaya kalau mamanya tidak akan mempersulit Elana.
"Ma, apa harus di tanya lagi ya ma?" tanya Chiko agar Anita tidak mempersulit Elana, meski tadi dia percaya mamanya tidak akan melakukan itu. Tapi, Chiko khawatir juga.
Dia tahu Chiko khawatir akan bertanya macam-macam pada Elana, apa lagi masalah penculikan waktu itu. Tapi dia akan bertanya banyak hal dengan gadis di depannya itu, karena dari cerita anaknya, kehidupan Elana sangat menyedihkan.
Anita menatap anaknya dengan tajam, berharap Chiko segera pergi dari hadapannya dan tidak mengganggunya. Chiko mendengus kasar dengan tatapan mamanya itu, dia lalu pergi ke dapur. Sesekali dia melirik ke arah Elana dan memberikan dukungan agar tetap sabar dan jangan berkecil hati.
"Bang?"
Chiko tertawa kecil, sejak tadi dia pergi namun berhenti lagi karena memberitahu Elana agar tidak perlu takut. Dia lalu benar-benar pergi ketika tatapan Anita tetap ke arahnya, Elana hanya tersenyum saja dengan tingkah Chiko dan salut dengan Anita. Hanya dengan tatapan saja anaknya itu menurut pergi menjauh.
"Tante tahu, pacarmu itu khawatir kamu akan di tanya macam-macam sama tante. Tapi tenang saja Elana, tante hanya ingin bercerita saja. Kalau sejak dulu antara ibumu dan tante itu selalu berhubungan, meski dulu hubungannya tidak baik. Tapi kami punya hubungan yang rumit." kata Anita.
Elana hanya mendengarkan apa yang di bicarakan Anita, dia merasa tidak enak hati. Namun, dia akan mendengarkan dengan baik apa yang di katakan oleh Anita.
__ADS_1
"Tante tidak menyalahkan kamu, kamu tidak tahu masa lalu ibumu saat itu. Jika memang di ceritakan kamu juga mungkin akan sedih. Tapi tante tidak akan mengungkit itu, karena nantinya akan membuatmu sedih. Hanya saja tante ingat apa yang terjadi dulu." kata Anita lagi.
"Kalau boleh tahu, hubungan rumit apa ya tante? Saya memang tidak tahu masa lalu mamaku, yang saya tahu dulu mama berbuat tidak baik pada anak tante, bang Iko. Kalau masalah itu saya minta maafkan saya tante, saya benar-benar minta maaf atas nama mama saya." kata Elana sedikit terisak.
"Bukan masalah itu, tante juga kecewa dengan masalah itu. Tapi Chiko sudah memaafkan mamamu, jadi tante juga memaafkan apa yang telah di lakukan mamamu. Tapi sudahlah, Elana. Tante tidak akan mengungkit masa lalu, terlalu menyakitkan bagi tante. Dan tante sudah memaafkan semuanya. Kamu jangan merasa bersalah dengan perbuatan mamamu dulu, karena itu hanya masa lalu. Namun, masa lalu tidak bisa hilang begitu saja." kata Anita.
"Iya tante, tapi tetap saja saya minta maaf atas nama mama saya. Dengan begitu, beliau akan tenang di alam sana jika memang tante benar-benar memaafkan mama saya." kata Elana.
"Ya, tante juga turut berduka cita atas meninggalnya mama kamu. Tante tahu mama kamu di penjara dengan sangat panjang, sembilan tahun. Itu sangat sulit bagi mama kamu. Tapi itu juga hukuman setimpal atas perbuatannya. Pasti mama kamu sangat menderita di lapas waktu itu." kata Anita.
Elana hanya mendengarkan saja, dia tidak menyangka Anita tahu banyak tentang mamanya. Tapi dia ingat kalau tadi Anita mempunyai hubungan tidak baik dan sangat rumit. Elana penasaran, hubungan apa yang rumit sehingga Anita tidak mau mengatakannya.
"Emm, maaf tante. Apakah tante mengenal mama saya?" tanya Elana ragu.
"Tante tidak mengenal baik, tapi bagi tante saat itu mama kamu ...." ucapan Anita terpotong.
Dia ragu mengatakan kalau Mourinlah yang membuat dia harus bercerai dengan Rendi. Lagi pula, dengan bercerainya dia dengan Rendi, bisa bertemu lagi dengan Arga sahabatnya semasa SMA dulu.
"Sudahlah, jangan di pikirkan. Tante tidak mau mengingat hal yang menyakitkan. Yang jelas tante sudah memaafkan mama kamu dan sekarang tante bahagia dengan suami tante sekarang." kata Anita lagi.
"Iya tante, sekali lagi saya atas mama saya minta maaf pada tante dan bang Iko. Karena waktu itu melakukan kesalahan telah menculik bang Iko, tante." kata Elana.
"Apa?!"
_
_
_
__ADS_1
😊😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤❤❤