
"Anda kenapa mencari anakmu sekarang? Apa istrimu itu mencampakkanmu?" tanya Arga dengan sinis.
Tiba-tiba dia merasa ikut kesal dengan papanya Elana itu. Dia jika sudah kesal maka, ucapan pedas akan keluar dari mulutnya. Membuat orang yang berhadapan dengannya jadi ciut nyalinya, dia seperti menghadapi seorang pelaku yang sombong dan tidak mengakui kesalahannya.
"Anda terlalu mencampuri urusanku pak Arga." kata Evan dengan wajah merah padam.
Benar apa yang di katakan Arga, kalau dia di campakkan oleh istrinya. Bahkan di pecat dan di aniaya oleh adik istrinya itu. Hingga dia pingsan di jalan. Beruntung ada yang menolongnya waktu itu, lalu membawanya ke rumah sakit. Tapu setelah dia sadar dan kembali ke rumah istrinya, justru di usir oleh Ana.
Miris sekali hidup Evan di sana. Dia harus ke hidup sendiri dan mencari makan sendiri karena setelah pulang dari rumah sakit dia sudah tidak di kenal oleh keluarga istrinya, bahkan Angela juga merasa jijik dengannya yang seperti gembel. Dan satu hampir dua tahun dia terlunta-lunta di sana, sampai dia harus ke kantor KBRI untuk membantunya pulang ke Indonesia.
"Saya tidak mencampuri urusanmu, tapi kamu telah merampas kebahagiaan seorang anak. Kamu hanya memikirkan hidupmu sendiri, tidak memikirkan bagaimana hidup anakmu sendiri." kata Arga lagi.
"Elana anakku pak Arga." kata Evan dengan marah.
"Anakmu? Tapi anda dengar tadi, dia membencimu? Ayah macam apa anda ini? Sejak kecil di tinggalkan tanpa mau tahu keadaannya. Dan sekarang mengaku anak? Kamu sudah mengusirnya, jadi dia sekarang anakku!" kata Arga dengan tegas.
"Hah! Atas dasar apa anda mengaku dia anakmu?" kata Evan menantang Arga.
"Karena sebentar lagi dia akan menikah dengan anakku, jadi dia juga anakku." kata Arga lagi.
Ucapan Arga ini terdengar sampai di dalam, Anita merasa terharu mendengar suaminya mengaku Elana anaknya. Dan Chiko dan Celine yang baru datang pun mendengar ucapan Arga itu. Dia menekat pada Arga dan juga Evan, menatap laki-laki yang di anggap papanya Elana.
Chiko marah, dia lalu mendekat dan menatap tajam pada Evan yang berpenampilan kucel itu. Dia memperhatikan Evan dari atas sampai bawah membuat Evan semakin kesal. Evan berpikir, Chiko sama sombongnya dengan Arga.
"Kamu lagi, apakah kamu dan papamu juga sama? Sombong dan memandang orang rendah?" tanya Evan.
"Om sadar tidak? Om itu tidak di akui oleh Elana, anak om sendiri. Om mengusir Elana dari Rusia tanpa mau tahu apa penyebab dia melawan sama kedua orang om sayangi itu. Dan sekarang om mencari Elana? Jangan mimpi om. Om tahu ketika sore-sore Elana om usir, sampai rumah kontrakanku dia hipotermia. Dia hampir mati, om tahu itu? Anak om, Elana hampir mati karena kedimginan. Apa om masih menyangka kalau Elana akan mengakui om sebagai papa? Papa macam apa om itu sampai anaknya hampir mati dan tidak mau tahu keadaannya?!" teriak Chiko yang benar-benar marah pada Evan.
Evan tercekat, dia tidak tahu kalau Elana yang dia usir partama kali itu kedinginan dan hampir mati. Bahkan Elana masih mau ikut lagi dengannya saat itu ketika dia menyuruhnya kembali lagi ke rumah Ana, istrinya dulu. Evan luruh. Tubuhnya ambruk ke bawah dan tiba-tiba menangis, sedih.
"Anda pantas di buang pak Evan, laki-laki tidak punya hati. Apa anda memang seorang ayah?" kata Arga.
__ADS_1
"Tapi Elana anakku, dia satu-satunya keluargaku. Aku akan merawatnya dengan baik, aku janji akan percaya dan menyayanginya." ucap Evan dengan lemah.
Dia memang ayah yang tidak peka dan hanya mementingkan diri sendiri saja. Saat sekarang sedang terpuruk, baru dia mengingat anaknya Elana. Sejak kecil dia juga tidak mengasuh dan mendidik Elana, sejak sakit dia juga tidak pernah tahu keadaan anaknya. Dan ketika besar, dia mencoba untuk membawanya agar bisa dia di sebut ayah bertanggung jawab.
Sampai di sana, dia bahkan sibuk sendiri dengan pekerjaan dan istrinya. Elana hanya hidup sendiri dan jadi gadis pendiam. Sampai bertemu dengan Chiko, dia tetap masih mau menerimanya dan mau kembali ke rumahnya. Namun, kembali dia di usir sampai kuliahnya pun tidak di lanjutkan.
Sekarang, ketika Elana bahagia. Dia datang dan mengajaknya untuk kembali. Mengaku sebagai papanya? Memang hubungan darah orang tua dan anak tidak akan terputus sampai kapanpun, tapi kasih sayang itu hilang ketika dia tidak di percaya bahkan harus mengusirnya. Apa pantas Evan mendapatkan itu lagi?
"Tapi Elana adalah anakku, darah dagingku. Kalian tidak bisa menghilangkan itu!" teriak Evan tiba-tiba.
Dia tidak mau kehilangan Elana lagi. Dia akan berusaha meyakinkan Elana agar bisa mau menerimanya lagi. Dia akan hidup berdua dengannya, menerima apa pun keinginannya. Tapi Evan lupa kalau Elana bukanlah bidadari yang berhati malaikat.
"Darah daging ya? Anda mrngaku sebagai darah daging anda? Di mana sewaktu anda usir sampai dia hampir mati pak Evan? Apa anda ingat kalau dia darah daging anda?" kali ini Arga benar-benar kesap dengan sikap Evan yang angkuh.
Mengakui darah dagingnya tapi malah lupa Elana adalah anaknya saat itu. Dia lebih asyik bermain dengan anak laki-lakinya, bahkan ketika hati libur Minggu Elana tidak pernah di ajak berlibur. Sungguh, Elana seperti anak tiri tinggal di Rusia dengan Evan.
"Tapi aku tetap papanya, dia anakku." kata Evan lagi dengan percaya diri kalau Elana akan memaafkannya.
"Heh, anda sombong sekali."
"Siapa yang sombong?"
"Om Evan, sebaiknya anda pulang. Tidak ada gunanya om datang kemari, karena Elana tidak akan mau bertemu dengan om." kata Celine menimpali.
Dia tahu semua apa yang di alami Elana, dia juga tahu cerita Elana yang pahit sejak kecil. Maka, apakah pantas Evan mengakui sekarang setelah Elana sudah bahagia dan mengakuinya.
"Kamu anak kecil, tidak perlu ikut campur!" kata Evan.
Dia kalap, dia benar-benar tidak terima jika semua menghakiminya yang tidak ada hubungannya sama sekali. Hanya Elana yang memutuskannya, apakah dia akan merimanya atau bahkan malah mengusirnya.
Tak lama, Elana pun keluar. Dia mendekat pada Evan dan berdiri di depannya dengan wajah datar dan dingin. Evan mengira bahwa Elana mau mengakuinya dan memaafkannya lagi.
__ADS_1
"Sayang, maafkan papa Elana." kata Evan mendekat pada Elana.
"Ya, aku memaafkan." kata Elana.
"Ah ya, anak papa. Selalu memaafkan papa, papa janji tidak akan meninggalkan kamu sayang. Em, mari ikut papa ke rumah nenekmu." kata Evan.
"Maaf, aku memaafkan papa. Tapi tidak mau lagi dengan papa. Hiduplah dengan baik di sana pa, jangan lagi menemuiku. Aku sudah lupa, seperti papa telah mengusirku dan lupa siapa aku." kata Elana.
"Elana! Bicara apa kamu?! Apa karena bergaul dengan keluarga pacarmu yang sombong itu, kamu bersikap kurang ajar pada papa?!"
"Pak Evan jangan berteriak di rumahku."
"Dia anakku! Dia darah dagingku, aku berhak membawanya pulang. Anda tahu itu pak Arga?!"
"Heh, secara hukum dan biologis memang Elana anakmu. Tapi secara hati nurani dan emosi dia tidak pernah merasakan kasih sayang anda. Apa anda pikir saya tidak bisa mengambil alih Elana menjadi anakku?"
Kali ini Arga benar-benar merasa kesal pada Evan yang kekeh mau membawa Elana dan hidup dengannya. Dia tahu, Evan sekarang sedang tidak baik-baik saja kehidupan keluarganya. Di lihat dari penampilannya saja, dia sangat tidak baik. Bisa jadi memang dia di usir oleh istrinya.
"Meski begitu, dia tetap anakku. Dia akan tetap jadi darah dagingku pak Arga. Anda siapa?" kata Evan begitu sombongnya.
"Oh, ya. Saya tidak tahu terbuat dari apa hati anda ini, datang kemari dengan percaya diri mengaku sebagai papanya Elana dan mencoba untuk memintanya lagi? Elana sudah memaafkan anda, itu baik. Dia anak yang baik, tapi anda menyia-nyiakan anak sebaik dia. Jadi jangan heran jika Elana menolakmu. Sudah untung anda di maafkan olehnya, karena dia anak yang baik memaafkan semua kesalahan anda padanya. Sadarlah pak Evan, tidak semua darah daging itu akan mau menuruti apa yang anda mau, meski dia tahu anda itu darah dagingnya. Tapi apa yang anda lakukan selama ini? Bahkan sejak kecil?"
Evan terdiam, dia menatap anaknya yang masih diam membisu dan bersikap dingin padanya. Mungkin benat, Elana sudah membeku hatinya untuknya. Evan pun luruh dan tertunduk.
_
_
_
😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤❤
__ADS_1