E L A N A

E L A N A
34. Tiba-Tiba Rindu


__ADS_3

Chiko berada di bandara International Sheremetyevo, bandara internasional lintas negara yang berada di Moscow.


Chiko menunggu di terminal, sembari melihat-lihat sekeliling. Barangkali dia terlewati adiknya Celine, namun begitu ponselnya dia sambungkan ke nomor adiknya yang masih juga belum terhubung. Mungkin karena baru turun dari pesawat yang baru landing.


Chiko masih menghubungi Celine, meskipun tetap saja tidak aktif. Ada seseorang melambaikan tangannya pada Chiko dan memanggil namanya.


"Abang Iko!"


Teriak Celine yang sedang melambai ke arahnya dan mendekatinya. Chiko memasukkan ponselnya ke dalam saku celanany dan menghampiri Celine. Mereka saling berpelukan.


"Kamu bawa barang banyak banget." kata Chiko memperhatikan dua koper kecil dan besar serta tas ranselnya juga tas selempangnya.


"Heheh, tadinya satu koper bang. Tapi mama bilang harus bawa beras juga buat kita nanti di kontrakan. Ya sudah, kita bawa juga." jawab Celine.


Chiko hanya menggelengkan kepala saja, dia tahu mamanya itu sangat memperhatikan makanan anak-anaknya. Anita tahu kalau Chiko harus makan nasi, setidaknya siang hari harus makan nasi. Jadi di bawakan oleh Celine. Juga cumi sambelnya tidak ketinggalan.


"Ya sudah, ayo kita pulang ke rumah. Kita ngga bisa mampir deh, repot bawa koper juga tas kamu itu." ucap Chiko.


"Kok ngga mampir sih bang, aku pengen beli makanan bang. Lapar."


"Ck, ya udah kita mampir di food treet aja, biar ngga turun dari mobil. Abang males kalau harus turun mobil." kata Chiko.


"Ya udah ngga apa-apa deh." jawab Celine.


Chiko mengambil alih koper paling besar dan menariknya untuk di masukkan ke dalam mobil yang dia pinjam dari Antonio. Karena dia tahu, jika Celine kembali itu pasti bawaannya banyak sekali. Jika membawa motor, tidak akan muat dan susah membawanya.


Setelah masuk ke dalam mobil, Chiko melanjukan mobilnya dengan pelan. Dia akan ke food treet sesuai permintaan adiknya itu.


_


"Bang, tahun ini ada mahasiswa dari Indonesia ngga?" tanya Celine.


Mereka bersiap untuk berangkat ke kampus bareng naik motor.


"Ada, dia satu jurusan dengan kamu." jawab Chiko.

__ADS_1


Dia merapikan bajunya dan mengambil sepatunya. Celine membelalak, tidak percaya.


"Serius bang?"


"Iya, abang juga udah kenal sama dia. Tapi orangnya pendiam." jawab Chiko.


Setelah selesai memakai sepatu, dia mengambil kunci motornya serta helmnya. Mereka pun keluar dari rumah kontrakan, tak lupa Celine mengunci pintu rumahnya.


Chiko sudah siap di atas motornya, lalu Celine membonceng di belakang. Pikirannya masih penasaran dengan mahasiswa baru yang di maksud oleh kakaknya itu.


"Abang kenal dia waktu di penerimaan mahasiswa baru itu?" tanya Celine.


"Ngga, sebelum itu. Abang ketemu dia di toko buku dan waktu itu dia beli buku tapi duitnya kurang. Jadi abang yang bayarin buku-bukunya sisanya." jawab Chiko.


"Ooh, ketemu di toko buku ya. Emm, bisa juga tuh di bikin cerita cinta. Kepincut gadis di toko buku, hahah ...." ucap Celine meledek kakaknya itu.


"Ck, jangan ngeledek abang, dia juga pengen kenalan sama kamu." kata Chiko.


Dia menjalankan motornya dan melaju di jalanan yang tidak terlalu ramai. Karena masuk jam kantor sudah lewat. Chiko mengendarai motor dengan santai, karena hari ini hanya satu mata kuliah. Sedangkan Celine mungkin hanya pindah kelas, karena berbeda mata kuliah akan selalu pindah kelas.


"Emm, sebenarnya di lihat dari dekat dan memandangnya itu cantik. Tapi bukan sih, dia lebih manis senyumnya. Hanya saja wajah sendu dan pendiamnya itu yang menutupi paras wajahnya yang manis itu." kata Chiko sambil membayangkan Elana waktu tersenyum.


"Apa dia punya banyak masalah ya bang?" tanya Celine.


"Ngga tahu, tapi sepertinya dia banyak masalah atau memang pembawaannya dia seperti itu." kata Chiko lagi sembari membayangkan Elana.


Motor Chiko telah sampai di depan kampus, dia memarkirkan motornya. Celine turun dari motor dan berpisah dengan Chiko.


"Aku ke kelas dulu bang."


"Ya."


Chiko menghubungi sahabatnya Antonio, apakah dia sudah ada di kampus atau masih tidur di rumahnya. Karena jika di kampusnya hanya satu jam mata kuliah, Antonio lebih santai berangkat ke kampus. Kadang juga ketinggalan mata kuliah, dan mau tidak mau Antonio mengulang mata kuliah yang tidak lulus karena dia selalu menyepelekannya.


Chiko sendiri sudah beberapa kali menasehatinya, namun Antonio tetaplah seperti itu. Tidak bisa di nasehati, namun salutnya Chiko jika mau ujian Antonio selalu menyiapkannya dan itu membuat takjub. Walaupun belajar penuh perjuangan mengalahkan rasa malas pada dirinya.

__ADS_1


Selain dia seperti itu, rasa peduli pada teman itu besar. Seperti kemarin Chiko meminjam mobilnya, Antonio memberikannya.


Tuuut


"Ty ushel?" (Kamu udah berangkat?)


"Ya tol' ko chto prosnulsya, pochemu?" (Aku baru bangun, kenapa?)


"Ye uzhe v kampuse, potoropites' ne spat." (Aku sudah di kampus, cepat berangkat. Jangan tidur terus.)


"Da imenno poetomu ya prosnulsya zdes', ya khochu vstit'sya s tvoyey sestroy Selin." (Ya, makanya aku bangun ini. Mau ketemu adik kamu itu.)


"No opravdyvaysya, ya zdhu v kampuse." (Udah, jangan alasan aja. Aku tunggu di kampus.) kata Chiko.


"Khorosho, by." (Oke. By.)


Klik


Chiko menutup sambungan teleponnya, dia lalu melenggang menuju jelasnya yang paling ujung. Dia melihat kelas lain semuanya sudah masuk dan memulai materi kuliah.


Dia melihat dari jauh Celine sedang bercanda dengan teman-temannya di depan kelas. Dan mata Chiko berkeliling, dia seperti mencari sesuatu. Tepatnya mencari sosok yang satu minggu lalu pulang dengannya menaiki mobil trem.


Ah, entah kenapa Chiko rasanya rindu dengan gadis itu. Ya, dia rindu dengan Elana. Gadis pendiam dan tertutup itu. Tentu saja Chiko tidak akan melihatnya di luar kelas, karena biasanya Elana pasti ada di kelasnya jika jam kuliah sudah di mulai. Atau di perpustakaan jika waktunya istirahat.


Kebiasaan itu belum Chiko pahami, mungkin nanti setelah dia dekat dengan Elana.


"Elana, gadis pendiam dan manis itu. Mempunyai sejuta misteri, tapi aku kok semakin penasaran ya sama gadis itu? Atau mungkin aku sudah menyukainya?" gumamnya di sepanjang jalan menuju kelasnya.


Senyumnya mengembang ketika dia di sapa oleh teman perempuan dan berjalan bersama menuju kelasnya.


_


_


_

__ADS_1


😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤


__ADS_2