
Sudah satu minggu Chiko menginap di rumah Antonio, dia berpikir tentang Elana. Masih ada rasa marah dan kecewa pada Elana, namun di sisi hatinya paling dalam dia merasakan rindu pada Elana. Bahkan sangat rindu pada gadis itu.
Tapi kembali lagi, dia masih sangat kecewa pada Elana. Yang sebenarnya tidak bukan kesalahan Elana. Tapi ego Chiko masih bersarang di hatinya.
Hingga Chiko tidak bisa konsentrasi mengerjakan tugas dari kampus. Antonio maklum, makanya dia membantu menyelesaikan tugas kampus Chiko.
Dia kesal kenapa selalu saja memikirkan Elana, sampai beberapa tugas jadi salah dan tidak selesai-selesai. Meski masih di bantu oleh Antonio, tapi tetap saja dia tidak bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik.
Akhirnya, dia beranjak dari duduknya dan menutup laptopnya lalu menyimpannya di meja. Antonio memperhatikan apa yang di lakukan oleh Chiko.
"Ya idu pervym." ("Aku pergi dulu.") kata Chiko.
"Kuda ty idesh'?" ("Mau kemana?") tanya Antonio.
"Tak ili inache, ya khotel nayti tikhoyr mesto, chtoby dumat'. Izvinite, yei ya vsegda bespokoyu vas." ("Entah, aku ingin mencari tempat yang tenang untuk berpikir. Maaf kalau aku sering merepotkanmu.") kata Chiko lagi.
"Ne problema, reshite svoyu problemu. Pust' moya rabota v kampuse zakonchitsya." ("Tidak masalah, selesaikan masalahmu. Biar tugas dari kampus aku yang selesaikan.")
"Spasibo." (Terima kasih.")
Chiko menepuk pundak Antonio, lalu dia keluar mengambil jaket serta helmnya. Dia ingin jalan-jalan mengelilingi Moscow, mencari sesuatu, memastikan hatinya pada Elana.
"On mnogoyr poteryeyet, yesli reshit razozlit'sya i brosit' devushku." ("Dia sangat rugi jika memutuskan marah dan mencampakkan gadis itu.") gumam Antonio.
Chiko melajukan motornya, mengelilingi kota entah kemana tujuannya. Lama dia berpikir mau kemana, dan satu pikiran tujuannya yaitu di benteng Kremlin. Yang dulu pernah dia dan Elana serta Celine jalan bertiga.
Dia ingin mengenang itu lebih dulu, meski saat ini dia sangat merindukan Elana. Tapi rasa marahnya pada Mourin masih belum hilang. Jadi, dia mencoba untuk berpikir bagaimana dia harus bersikap. Bagaimana dia menghadapi Elana, sejujurnya dia sangat sakit hati. Tapi benar apa kata Antonio, dia harus memilih.
Memilih apakah akan memperjuangkan cintanya atau menuruti keegoisannya.
Chiko memarkirkan motornya di tempat parikran yang di sediakan. Dia berjalan menuju red square lebih dulu, melihat pemandangan benteng Kremlin dari sana. Berjalan sendiri menikmati indahnya kota Moscow, ikon unik dari kota Moscow Rusia.
Dia pun berada di gereja kathedral Santo Basil yang terletak di swbwlah tenggara Red Square atau Lapangan Merah yang persis di seberangnya itu Menara Spasskaya dari Kremlin. Chiko berkeliling sepanjang letak gereja Kathedral Santo Basil yang di bangun di tahun seribu lima ratus lima puluh lima oleh Ivan empat (IV) Vaslyevich untuk memperingati di rebutnya Kekhanan Kazan.
__ADS_1
Di depan kathedral terdapat Monumen Minin dan Pozharsky. Monumen ini di dirikan untuk memperingati seorang relawan Rusia dalam memghadapi serbuan Polandia pada masa kesusahan pada akhir abad ke-17 dan awal abad ke-18 yang di prakarsai oleh Dmitry Pozharsky dan Kuzma Minin.
Chiko mencoba masuk ke dalam kathedral untuk melihat bangunan dan arsitetur yang penuh dengan seni yang tinggi. Ada mural di dalam koridor kathedral dan beberapa karya seni tinggi lainnya. Sungguh pemandangan yang menakjubkan. Chiko sangat kagum dengan bangunan kathedral Santo Basil itu, penuh dengan sejarah dan beberapa karya seni tinggi.
Sumber berita : Wikipedia Indonesia
Sebelum dia selesai memasuki gereja kathedral Santo Basil, Chiko berdoa dan memohon petunjuk tentang masalah yang dia hadapi. Lama dia berdiam untuk merenungi dirinya yang masih bimbang tentang Elana dan masa lalu ibunya.
"Apakah aku harus memaafkannya?" gumam Chiko.
Sejauh ini Chiko tidak pernah mengungkit masalah penculikan itu, tapi kenangan masa itu kini teringat kembali di otaknya. Rasa marah dan kecewa masih dia rasakan, tapi dia ingat akan ucapan sahabatnya.
Elana tidak bersalah, ibunya yang bersalah dan sudah mendapatkan hukumannya. Bahkan sudah mendapatkan hukuman abadi, istilah yang cukup mengena. Namun itu benar. Lalu, apakah Chiko juga akan menghukum Elana? Membiarkan Elana hidup seperti dulu, tidak di inginkan oleh orang-orang yang mengenalnya. Dia gadis baik, tapi kenapa banyak sekali yang membncinya. Apakah memang karena dia anaknya Mourin?
"Tuhan, aku sangat marah dan kecewa. Tapi aku sangat mencintainya. Hik hik hik." gumam Chiko lagi.
Dia memejamkan mata dan menangkupkan kedua tangannya. Berharap dia mendapatkan jawaban dari semua pertanyaannya itu. Lama dia merenung dan memejamkan matanya, sengaja dia hanya diam tanpa berpikir. Memastikan Tuhan yang memberinya jawaban atas semua kebimbangannya selama ini.
_
Ya, rasa cinta yang dalam menuntun hatinya untuk memaafkan semua perbuatan Mourin dulu. Rasa cinta pada Elana membuat dia harus mengalah dari egonya untuk mempertahankan hatinya pada Elana.
Antonio, sahabatnya yang menuntunnya untuk memilih kemana hatinya berhenti. Ya, dia memilih Elana sebagai sebagian hatinya, separuh jiwanya. Antonio benar, Elana butuh pertolongan. Hanya dia yang bisa menolongnya, karena dia yang mencintai Elana lebih dalam.
"El, tunggu abang datang. Aku minta maaf telah pergi dari kamu beberapa hari ini." kata Chiko dalam hati.
Senyumnya mengembang, mengingat senyuman manis Elana ketika dia duduk berdua dengan Elana. Wajah sedih tak terlihat ketika dia bersama Elana.
"Apa kamu juga mencintaiku, Elana?" gumam Chiko lagi.
Rasa rindu yang tiba-tiba menggebu membuat Chiko tidak sabar ingin bertemu dengan Elana. Dia ingin bertemu dengan Elana, dan akan menyatakan cinta padanya.
__ADS_1
Chiko melajukan motornya untuk pulang lebih dulu ke rumah Antonio. Dia akan menceritakan apa yang dia dapatkan dari hasil renungannya di gereja kathedral Santo Basil.
Dia tidak akan membuang waktu lagi untuk menyatakan cinta pada Elana.
Motor Chiko melaju dengan kencang, dia mengendarai motor bagai kesetanan, membuat pengendara lain merasa kesal karena ulah Chiko itu.
Di benaknya, dia harus pulang ke rumah kontrakannya dan memberitahu pada Elana kalau dia sangat mencintainya, dan mengenai masa lalunya sewaktu di culik ibunya Elana akan dia lupakan. Biarkan hanya menjadi masa lalu, dia tidak akan mempermasalahkan itu lagi. Yanh sekarang terpenting adalah hatinya pada Elana.
"Ty snova vernulsya?" ("Kamu sudah kembali lagi?") tanya Antonio.
"Da, ya skoro budu doma." ("Ya, aku secepatnya pulang.") jawab Chiko.
"Kuda ty idesh'?" ("Kemana kamu pergi?")
"V Kremlevskuyu krepost' i v sobornuyu tserkov' Vailiya Blazhennogo. Ya poluchu to, chto lhochu." ("Ke benteng Kremlin dan ke gereja kathedral Santo Basil. Aku mendapatkan apa yang aku inginkan.") jawab Chiko.
Antonio menebak, bahwa Chiko lebih memilih cintanya dari pada rasa kecewa dan amarahnya.
"Khorosho, ya rad eto slyshat'." ("Baguslah, aku senang mendengarnya.") kata Antonio.
"Spasibo Antonio, ya dal o tom, chto tu skazal. Chestno govorys, Elana ni razu ne byla vinovata, no vinovata yeye mat' i uzhe poluchila svoye nakazaniye." ("Terima kasih Antonio, aku memikirkan apa yang kamu katakan. Sejujurnya memang Elana tidak pernah bersalah, tapi mamanya yang bersalah dan dia sudah mendapatkan hukumannya.")
"Tak luchshe, ne pozvolyayte devushke ***'she stradat'. Ya chuvstvuyu, chto devushka seychas v otchayanii, tak chto potoropis' i poznakom'sya s ney." ("Itu lebih baik, jangan biarkan gadis itu menderita lebih lama. Aku merasa gadis itu sekarang sedang putus asa, jadi secepatnya temui dia.") kata Antonio.
"Da, imenno poetomu ya poshel domoy, chtoby sobrat' svoi veshchi. Yeshche raz spasibo." ("Ya, makanya aku pulang mau mengambil barang-barangku. Sekali lagi terima kasih.") ucap Chiko memepuk pundak Antonio.
Antonio pun tersemyum senang, Chiko pun masuk ke dalam kamar Antonio untuk mengambil buku-buku serta baju-bajunya.
_
_
_
__ADS_1
😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤