E L A N A

E L A N A
52. Suster Maria


__ADS_3

Sejak Chiko pergi, saat itu dia tidak keluar kamar seharian. Dia benar-benar kecewa sama Chiko, yang menurutnya sama saja dengan yang lainnya.


Celine sering memanggilnya untuk makan bersama, namun Elana tidak keluar juga. Baru keesokan harinya, Elana mau keluar dari kamarnya dan makan bersama dengan Celine.


Celine sendiri tidak tahu apa yang terjadi pada keduanya, namun dia berusaha memaklumi dan mengerti yang terjadi di antara mereka.


Elana duduk di kursi, tersaji makanan yang menggugah selera. Namun Elana tidak tertarik, dia hanya mengambil roti dan di olesi selai stroberi saja lalu di makan.


Celine memperhatikan apa yang di lakukan oleh Elana, dia masih diam. Lalu dia mengambil piring dan menuangkan nasi di piring serta lauk rendang yang dia pesan melalui aplikasi pesan online di Indonesia. Tapi terkadang dia juga minta di kirim oleh Anita dari negaranya.


"Kamu tidak makan rendang ini?" tanya Celine menyuap makanan ke dalam mulutnya.


"Ngga, aku tidak berselera." jawab Elana.


"Oh ya, dua hari ini kamu pergi ke mana?" tanya Celine.


"Mencari tempat baru." jawab Elana singkat.


Dia masih mengunyah rotinya dengan pelan, sambil melihat ke arah ponselnya. Celine mendesah, dia merasa Elana sekarang lebih dingin dari sebelum ada masalah dengan Chiko, kakaknya.


"Elana, aku tidak tahu kamu dan bang Iko punya masalah apa. Tapi tolong jangan samakan sikapmu sama aku, aku seperti bicara dengan robot tahu ngga sih?" ucap Celine dengan kesal.


Dia kesal Elana menjawab pertanyaannya seperlunya saja, tidak seperti biasanya yang kadang selalu ceria dan penuh antusias.


Elana menatap Celine yang terlihat kesal padanya.


"Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu. Tapi aku sedang mempersiapkan diri untuk jauh darimu." kata Elana.


"Kamu mau kemana, Elana?" tanya Celine heran.


"Tidak kemana-mana, aku masih tetap di negara ini. Tapi mungkin akan di lain tempat." jawab Elana membuat Celine semakin bingung.


"Elana, beritahu aku kenapa kamu dan bang Iko jadi seperti bermusuhan?"


"Tidak Celine, aku yang salah berteman dengan kalian. Seharusnya aku memjauh darimu dan abangmu." kata Elana.


"Elana, jangan berkata seperti itu. Kamu adalah temanku, sahabatku juga mungkin akan jadi ...."


"Tidak Celine, aku tidak berharap mempunyai sahabat dan teman setia. Maaf atas sikapku ini, dan terima kasih kamu memberiku tumpangan di rumah ini. Dan emm, nanti aku akan pergi dari sini." kata Elana.


"Kamu mau tinggal di mana?"

__ADS_1


"Di mana saja, yang bisa menampungku dan menerimaku dengan ikhlas."


"Elana, kamu pikir kami tidak menerimamu dengan ikhlas? Hah, kamu terlihat angkuh sekali berkata seperti itu. Kamu mau tinggal di mana? Kembali ke rumah papamu?"


Elana menggeleng, dia menunduk dalam. Dan ya, kini keduanya terlibat salah paham semakin besar. Celine mengira Elana kini tidak mau berteman dengannya, dan Elana berpikir Celine dan Chiko sudah tidak seperti dulu. Seperti mereka yang mengucilkannya.


Dan kini Celine segera menyelesaikan makannya, dia lalu pergi meninggalkan Elana yang masih mengunyah rotinya yang belum habis karena sejak tadi dia bicara dan melamun.


Dia menatap kepergian Celine yang kesal padanya.


"Maaf Celine, maafkan aku." gumam Elana.


_


Elana kini sudah berada di sebuah panti asuhan St. Clause, dekat dengan sebuah gereja kecil. Sudah tiga hari Elana pergi ke panti asuhan itu. Awalnya dia berada di sebuah taman, dia bertemu dengan seorang suster pengasuh panti asuhan tersebut.


Suster itu bernama suster Maria, dia melihat Elana sedang melamun di taman. Suster Maria mendekat dan menyapa Elana.


"Ty odin?" ("Kamu sedang menyendiri?") tanya suster Maria.


Elana menoleh, dia tersenyum pada suster Maria. Dia menatap perempuan memakai baju seperti jubah dan seperti berkerudung rapat.


"Menye zovut Mariya. Vy mozhete pozvonit' sestre Marii. Yest' problemy?" ("Nama saya Maria. Kamu bisa panggil suster Maria, apa sedang punya masalah?") tanya suster Maria.


"Pochemu ty v zameshatel'stve?" ("Kenapa bingung?")


"Ya ne znayu, gde zhit', vse moi druz'ya derzhatsya podal'she." ("Saya tidak tahu harus tinggal di mana, semua temanku memjauh.") kata Elana.


"Ty ne Russkiy, ty otkuda?" ("Kamu bukan orang Rusia, kamu dari mana?")


"Indoneziya." ("Indonesia.")


"Kak eto v Rossii?" ("Kok bisa ada di Rusia?")


Elana lalu memceritakan siapa dirinya dan kenapa dia berada di Rusia, hingga dia di usir papanya sendiri dan juga teman yang dia anggap sebagai teman yang tulus dengannya kini pergi dan menjauh darinya. Dia menceritakan semua yang di alaminya selama ini.


Tidak ada yang terlewat, suster Maria mendengarkan dengan baik. Bahkan dia merasa kasihan dengan apa yang di alami oleh Elana. Dia melihat Elana bercerita tanpa menangis, sangat tegar dan juga pasrah.


Gadis di samping suster Maria, Elana Patricia berjuang sendiri hidupnya setelah terlepas dari sahabat ibunya.


Elana berhenti, ingin dia menangis. Namun di tahannya karena dia berada di tempat umum.

__ADS_1


"Plach', Elana, tu mozhesh' plakat' so vsemi problemami, s kotorymi stalkivayesh'sya." ("Menangislah Elana. Kamu boleh menangis dengan semua permasalahan yang kamu hadapi.") kata suster Maria.


Elana terdiam dan menunduk, tak lama dia pun menangis terisak. Rasa beban di hatinya dia tumpahkan pada suster Maria, dan suster Maria memeluk Elana. Dia mencoba menjadi teman baik dan nyaman bagi Elana, mendengarkan cerita Elana dan memberinya kehangatan sebagai seorang teman. Hanya itu yang di butuhkan Elana saat ini, di peluk dengan rasa hangat dan penuh kasih sayang.


"Ty poydesh' so mnoy." ("Maukah kamu ikut denganku?") ajak suster Maria dengan senyum damainya.


Elana menoleh padanya, dia mengerutkan dahinya.


"Kuda?" (Kemana?")


"V priyut." (Ke panti asuhan.")


"Pochemu tam." ("Kenapa ke sana?")


"Potomu chto yest' tak mnogo lyudey, kotoryye lyubyat srug druga, dazhe yesli oni ne znayut, kto oni i otkuda oni." ("Karena di sana banyak sekali orang-orang yang saling menyayangi meski tidak tahu siapa mereka dan dari mana asalnya.") jawab suster Maria.


Elana terdiam, memikirkan apa yang di katakan oleh suster Maria. Ada benarnya, sebaiknya dia ke panti asuhan saja.


"Mogu ya poyti tuda?" ("Bolehkah saya kesana?")


"Pochemu net? Vy mozhete pomoch' i poznakomit'sya so vsemi tam." ("Kenapa tidak? Kamu juga bisa bantu-bantu dan berkenalan semua orang di sana.")


"Khorosho." (Baiklah.")


Suster Maria tersenyum, dia lalu bangkit dari duduknya dan mengajak Elana pergi.


"Ya uveren, tebe tam ponravitasya." ("Aku yakin kamu akan suka di sana.") kata suster Maria lagi.


Elana pun mengikuti langkah suster Maria, dia mengikuti kemana suster Maria pergi. Tak jauh dari taman itu, ada sebuah panti asuhan tidak begitu besar. Ternyata panti asuhan itu hanya di huni oleh anak-anak saja, hanya suster Maria dan dua orang yang membantunya saja yang dewasa juga satu orang laki-laki.


Dan ya, sejak saat itu dia kini sering datang ke panti asuhan. Menemani suster Maria yang memberikan arahan serta membantu membuatkan makanan untuk anak-anak panti asuhan yang semua rata-rata anak-anak panti asuhan berusia lima sampai delapan tahun.


Ada lima belas anak panti asuhan, dua orang pembantu suster Maria dan satu orang laki-laki di sana yang membantu suster Maria.


Elana merasa senang berada di antara mereka yang membantu anak-anak menyiapkan pakaian dan juga makanan. Selama di panti asuhan itu, dia merasa tenang dan merasa damai.


_


_


_

__ADS_1


😊😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤❤


__ADS_2