E L A N A

E L A N A
85. EL Boutiqe


__ADS_3

"Pa, Cheril minta di belikan baju di butik yabg baru buka di daerah ini." kata Anita di telepon oada suaminya.


Ya udah, beli aja sayang. Dia kan sudah mulai remaja, bukan anak-anak lagi."


"Aku belum tahu tempatnya, kata Cheril temannya pernah beli dan katanya bagus modelnya. Ya sudah, aku keluar ya temani anak-anakmu beli baju." kata Anita.


"Oke, ngga apa-apa sayang. Asal hati-hati dan jangan suka melirik laki-laki lain." pesan Arga padanya.


"Apq sih kamu, siapa yang melirik laki-laki lain. Ya sudah, aku tutup teleponnya." kata Anita.


Klik!


"Boleh ya ma?" tanya Cheril.


"Iya, boleh."


"Asyiiiik!"


"Tapi mama ganti baju dulu, bilang sama pak Diman untuk siapkan mobil. Pergi jalan-jalan."


"Iya ma."


Cheril pun pergi ke depan untuk memberitahu supir pribadi Anita yabg sudah sejak mengandung Cheril bekerja pada Anita.


Karin juga tak kalah antusias mau ikut jalan-jalan membeli baju di butik yang di rekomendasikan teman Cheril.


"Kak, emang baju di sana bagus-bagus ya?" tanya Karin.


"Bagus-bagus dek, aku aja suka. Nih lihat poto Mutia pakai baju yang dia beli di butik itu, bagus kan?" kata Cheril memperlihatkan foto temannya pada adiknya.


"Waah, iya kak. Aku juga mau, tapi warnanya jangan yang itu kalau bisa." kata Karin.


"Banyak dek pilihan warnanya, nanti kita pilih sama-sama ya."


"Iya. Terus itu butiknya di mana?"


"Di kota ini."


"Nama butiknya apa?"


"Apa ya namanya? Sebentar, aku tanya dulu sama Mutia."


Cheril pun mengetikkan pesan pada temannya untuk menanyakan nama butiknya itu. Tak lama jawaban pesan singkat masuk notifnya.


Langsung saja Cheril membuka pesan dari Mutia, di sana tertulis nama butiknya.


"Nama butiknya EL Boutiqe dek, tempatnya juga paling ujung. Dan katanya ngga susah kok nyarinya." kata Cheril lagi.

__ADS_1


"Ya udah, bilang sama mama. Kita ke butik EL Boutiqe, mama pasti tahu tempat itu." ucap Karin menimpali.


_


Mobil berputar sekeliling kota, mencari butik yang di tunjukkan Cheril. Pak Diman juga mencari di setiap toko dan bangunan dengan nama-nama tempatnya.


"Nah, itu dia tempatnya ma!" teriak Cheril.


Mata Anita mengikuti arah tangan Cheril, dia lalu menyuruh pak Diman memasuki area parkir butik tersebut.


"Tempatnya kecil ya, tapi lumayan enak sih. Paling ujung dan ngga terlalu besar juga." kata Anita.


Cheril dengan cepat keluar dari dalam mobil dengan tidak sabar, di susul adiknya Karin yang tidak sabar juga ingin melihat-lihat baju di butik tersebut.


Meraka pun masuk, Anita berjalan di belakang. Melihat suasana butik yang memang cukup lumayan ramai oleh pengunjung remaja juga. Anita mencari kemana anaknya itu berada.


"Di mana kedua anak itu?" gumam Anita, matanya terus mencari di setiap jajaran baju yang di pajang. Dan Anita melihat kedua anak gadisnya sedang memilih baju yang mereka suka.


Tampak antusias sekali mereka memilih baju, meminta pendapat pada adiknya dan juga sebaliknya. Kedua kakak beradik itu pun tertawa senang, Anita melihatnya sangat bahagia. Meski dulu sewaktu kecil kedua kakak beradik itu suka sekali bertengkar, namun setelah remaja keduanya sangat kompak.


Arga sendiri kadang bingung jika pertengkaran keduanya sangat sebentar, baru beberapa jam saja mereka akrab lagi. Begitulah anak-anak, kata Anita pada suaminya. Namun yang paling kritis itu Karin, makanya Arga jarang sekali berdebat dengan anak bungsunya itu.


"Kalian sudah menemukan baju yang cocok?" tanya Anita ketika sampai di tempat baju-baju pilihannya.


"Mama, aku suka semua bajunya. Gimana nih, beli banyak boleh ya ma?" kata Cheril pada Anita.


"Iya ma, Karin juga suka semua baju-bajunya. Tuh lihat, ada gambarnya lucu-lucu. Apa lagi kaosnya ma, lucu-lucu banget gambarnya." teriak Karin.


"Selamat siang ibu, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang gadis dengan ramah pada Anita.


Anita menoleh, dia tersenyum pada gadia yang menyapanya tadi.


"Itu anak-anak saya yang mau beli bajunya, saya hanya mengantar saja kok mbak." jawab Anita.


"Oh, mengantar anaknya ya. Ibu kalau mau memilih model untuk dewasa juga ada kok, di pojok kanan khusus baju dewasa dan orang tua. Di saja juga da yang resmi dan juga santai, ibu boleh lihat-lihat dulu?" kata gadis itu, yang tak lain adalah Elana pemilik butiknya.


Anita tersenyum, dia lalu mengikuti Elana melangkah. Mungkin hanya iseng saja menuruti Elana, tapi kemudian matanya juga melihat beberapa baju model sederhana namun tidak biasa.


"Silakan ibu, pilih apa yang ibu suka. Kalau mau memesan baju dengan desain sendiri juga bisa kok." kata Elana lagi


"Iya mbak, terima kasih. Saya coba lihat-lihat dulu deh, siapa tahu ada yang suka dan beli sekalian. Hehe."


"Ya, silakan bu. Saya permisi dulu."


"Ya mbak, terima kasih."


Elana pergi menuju baju remaja, kedua anak Anita sedang mencari beberapa baju lagi untuk di coba. Baju yang di sukai tampaknya kekecilan, sedangkan baju ukuran Cheril tidak ada.

__ADS_1


"Mbak, ini ukuran baju dengan saya ada ngga ya?" tanya Cheril pada Alana.


"Sudah habis dek, maaf." kata Elana.


Yaah, sayang. Padahal aku suka banget baju ini, kok ngga ada ukuran sesuai berat badanku sih." ucap Cheril lagi.


"Coba pilih yang lain lagi, barangkali ada yang di sukai juga." kata Elana memberi pilihan.


"Emm, kira-kira bisa di pesan lagi ngga mbak? Solanya aku suka bajunya." kata Cheril.


"Emm, bisa sebenarnya. Tapi agak lama dek datangnya, kalau adek mau bisa di pesan beberapa baju dan langsung bayar di kasir. Nanti setelah jadi bisa di kirim melalui kurir, bagaimana?" tanya Elana.


"Bisa ya dengan pesan seperti itu, lalu langsung di kirim ke rumah?"


"Ya, kalau adek mau."


"Mau mbak, nanti aku bilang sama mama." kata Cheril antusias.


Elana pun tersenyum, rupanya membujuk pelanggan untuk membeli baju itu butuh sapaan dan kritikan yang menyenangkan, atau menawarkan kemudahan dalam pengirimannya.


Cheril pun menemui ibunya yang berada di sudut bagian baju dewasa dan orang tua.


"Ma, aku mau pesan baju aja. Belinya satu ya." kata Cheril.


"Iya ma, Karin juga mau kayak kak Cheril. Di pesan lalu di kirim ke rumah." kata Karin menjelaskan ucapan Elana tadi.


"Emang bisa butik ini mengirim pesanan baju kak?"


"Bisa ma, kata mbak itu juga bisa katanya. Kan baju yang kakak pengen ngga ada sudah habis, kalau mau bisa di pesan dan nanti di kirim ke rumah ma." kata Cheril.


"Ya udah, pesan aja. Adek juga kan mau?"


"Iya ma."


"Bilang sama mbaknya dan kasih alamatnya juga, nanti mama bayar sekalian dengan baju mama ini. Mama juga mau beli baju satu aja." kata Anita.


"Tapi adek mau beli kaos ma, itu ada kaos bagus. Adek suka, kak Cheril juga suka ma."


"Ya udah, cepat ambil aja. Mama mau bayar sekalian, setelah itu ayo kita pulang. Katanya papa sama bang Iko juga mau pulang." kata Anita.


"Siap ma!"


Kedua gadis yang baru menginjak remaja itu pun memgambil dua kaos santai yang mereka suka lalu di berikan pada Anita untuk sekalian di bayar di kasir.


_


_

__ADS_1


_


😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤❤


__ADS_2