
Chiko membawa Elana pergi dari rumahnya, dia membawa jalan-jalan entah kemana. Yang terpenting Elana tidak merasa sedih, karena sejak keluar dari rumah mamanya Elana semakin diam tanpa bicara sedikitpun pada Chiko. Wajah datarnya tampak jelas menandakan kesedihan yang mendalam, Chiko memengang tangan Elana dengan erat. Dia tahu dan juga merasakan kesedihan kekasihnya itu.
"Abang jangan pernah menentang mama sama papa bang Iko ya, tidak baik." kata Elana.
Membuat Chiko semakin sedih, kenapa saat dirinya di tolak oleh papanya malah Elana memberinya nasehat jangan menentang kedua orang tuanya. Dia semakin mengeratkan pegangan tangannya pada Elana.
"Keluarga abang sangat sayang sama abang, jangan sia-siakan kasih sayang kedua orang tua abang itu." kata Elana lagi.
Air matanya mengalir perlahan, dia benar-benar iri pada Chiko karena punya kedua orang tua yang sangat menyayanginya. Meski Arga bukan papa kandung Chiko, namun kasih sayangnya benar-benar tulus. Seperti menyayangi anak dan istrinya. Dia benar-benar iri sekali.
Sejak kecil dia tidak pernah merasakan kasih sayang seorang papa, walau Jhosua pernah dia rasakan sebagai pengganti papanya. Namun tidak seperti dia rasakan kasih sayang seorang papa.
"Elana, kamu harus percaya sama mamaku. Mamaku bisa meluluhkan hati papaku, aku tahu kamu sangat sedih dan sakit hati dengan perkataan papaku. Tapi percaya sama aku, mamaku bisa meluluhkan hati papaku. Aku yakin itu." kata Chiko meyakinkan Elana tentang papanya.
"Aku sedih bukan karena penolakan papa bang Iko, tapi karena aku sedih karena aku tidak tahu apa-apa tentang mamaku dulu. Jika aku tahu mamaku adalah perebut suami mama bang Iko dulu, aku rasanya malu sekali bang." katq Elana.
"Elana, jangan pikirkan itu. Aku sudah melupakan semuanya, begitu juga mamaku. Jadi, jangan merasa bersalah dan malu karena itu. Abang dan mama sudah memaafkan mamamu, kamu tidak bersalah Elana. Ku mohon jangan pikirkan masalah itu, sakit rasanya hati abang melihatmu sedih dan jadi diam begini. Bagaimana abang harus berbuat agar kamu tidak lagi sedih dan kecewa karena masalah ini?" kata Chiko.
Mobil Chiko sejak tadi berhenti di pinggir jalan yang sepi. Perut yang tadi keroncongan rasanya tiba-tiba kenyang karena kejadian mendadak tadi.
"Bang, antarkan aku pulang ke kontrakan." kata Elana.
"Elana, abang mohon kamu jangan sedih terus. Percaya sama abang, semua akan baik-baik saja."
"Iya bang, aku tahu. Mama abang itu sangat baik, tapi aku ingin menyendiri dulu bang. Dan maaf, beberapa hari aku tidak mau bertemu dengan abang dulu." kata Elana.
"Elana?"
"Abang bisa mengerti keadaanku kan?"
Diam, Chiko menatap kekasihnya itu yang tampak sedih dan kecewa. Entah kecewa pada siapa, tapi dia benar-benar kecewa sekali hari ini. Di benaknya, dia akan bertanya banyak hal pada Sandra tentang ibunya.
"Baiklah kalau itu maumi, tapi aku mohon jangan menghilang atau menolakku ketika aku ingin meneleponmu. Aku tidak bisa berdiam lama denganmu Elana, aku tidak bisa." kata Chiko.
"Coba abang tahan dulu, aku ingin menenangkan hatiku bang." kata Elana memohon padanya.
"Apa kamu ingin aku akan datang setiap hari kw butikmu?"
__ADS_1
"Bang, kamu tidak mengerti keadaanku."
"Aku mengerti, aku hanya meminta kamu jangan menolak jika aku meneleponmu. Itu saja, apa itu berlebihan?"
Elana diam, dia meninduk dan menarik nafas panjang. Berat sekali memang, tapi dia tidak ingin di ganggu dulu oleh Chiko. Tapi dia harus mengalah, lalu akhirnya Elana pun mengangguk setuju.
"Kita pulang bang." kata Elana.
"Iya, maafkan papaku ya Elana." kata Chiko.
"Papa bang Iko ngga salah kok, beliau hanya ingin yang terbaik untuk keluarganya. Mungkin papa bang Iko berpikir aku tidak baik buat bang Iko, jadi beliau marah sama aku." kata Elana.
"Jangan berkata begitu, aku yakin mama sudah meyakinkan papa. Karena papaku mudah sekali di bujuk sama mama." kata Chiko lagi.
Dia hanya menunggu kabar dari mamanya, kalau papanya sudah mau menerima Elana. Namun demikian, dia akan memberi waktu sendiri untuk Elana. Setidaknya satu minggu Chiko tidak akan bertemu Elana.
_
Seperti biasa, Elana pergi ke butik setiap pagi. Dia berangkat lebih pagi dari karyawannya. Siang ini rencananya dia akan pergi ke butik utama. Butik milik Sandra di tengah kota, dia akan menemui Sandra dan ingin bertanya banyak hal tentang ibunya di masa lalu.Tepatnya di masa ketika dia belum lahir.
Elana sendiri adalah anak dari perselingkuhan Mourin dan Evan ketika ibunya itu sudah menikah dengan Rendi. Benar-benar rumit sekali cerita masa lalu itu, tapi Elana ingin tahu semuanya. Dia ingin tahu kehidupan ibunya dulu.
"Iya, memang mau ke mana Elana?" tanya Rani, dia melihat ada raut wajah sendu di sana.
"Mau ke butik tante Sandra, ada hal penting yang ingin aku tahu." jawab Elana.
"Elana, maaf kalau mbak ikut campur. Apa kamu sedang sedih? Mbak lihat dari kemarin-kemarin kamu terlihat sedih dan banyak diam, tidak lagi menyapa pelanggan ketika banyak yang datang." tanya Rani.
Elana diam, dia memang sejak dari rumah Chiko lebih banyak diam dan tidak lagi menyapa pelanggan. Rasanya untuk tersenyum dan berbincang dengan pelanggan enggan sekali, karena dia ingin sekali menuntaskan masalahnya sendiri.
"Iya mbak Rani, memang aku ada masalah yang sangat rumit. Sampai aku tidak bisa bicara banyak dengan masalahku ini, maaf kalau aku ngga bisa cerita sama mbak Rani." jawab Elana.
"Ya, tidak masalah. Yang penting kamu cepat selesaikan masalahmu. Jangan di tunda-tunda, aku tahu masalahmu begitu berat meski tidak tahu apa itu." kata Rani lagi.
Elana tersenyum, dia lalu masuk lagi ke dalam ruangannya. Membuat beberapa sketsa baju dan beberapa aksesoris yang sedang naik daun dan di sukai anak remaja. Dia sekarang mencoba membuat aksesoris kelengkapan penampilan anak-anak remaja di jaman sekarang.
Meskipun dia sedang banyak masalah, dia bisa membuat beberapa rancangan baju. Mungkin itu salah satu pelampiasannya agar masalahnya hilang sementara. Hari terus berjalan, waktu yang dia tunggu untuk pergi ke butik Sandra. Dia berpamitan pada Rani dan berpesan jika dirinya tidak kembali lagi ke butik, maka langsung di tutup saja sore harinya.
__ADS_1
Menaiki taksi menuju butik Sandra yang cukup dua puluh menit di tempuh. Dan kini Elana tiba di butik Sandra, suasana butik sedang sepi. Mungkin sedang waktu makan siang. Elana masuk ke dalam butik setelah membayar ongkos taksi.
Dia langsung menuju ke dalam ruangan Sandra dan mengetuk pintu dari luar.
Tok tok tok
"Masuk!"
Pintu Elana buka dan dia langsung masuk ke dalam. Dia melihat Sandra sedang sibuk membuat beberapa rancangan untuk langganannya.
"Selamat siang tante." sapa Elana dengan senyumannya.
"Oh, kakak El. Duduklah ka, sebentar ya. Tante mau selesaikan sketsa ini dulu." kata Sandra.
"Iya tante, teruskan aja ngga apa-apa." jawab Elana.
Dia duduk di sofa dengan hati yang tidak karuan, entah kenapa dia jadi gugup sendiri dengan tujuannya menemui Sandra. Dan tak lama, Sandra pun menyelesaikan menggambar rancangan bajunya. Dia menyimpan sketsa itu dan menghampiri Elana di sofa, menyiapkan minuman seadanya.
"Tumben kakak datang ke butik tante, ada apa?" tanya Sandr dengan senyum senangnya.
"Ada yang ingin El tanyakan tante." jawab Elana.
"Tanya apa? Rupanya penting banget ya, sampai kakak datang menemui tante di butik." kata Sandra heran.
Elana diam, agak ragu dia ingin bertanya. Di tatapnya Sandra yang sedang menatapnya juga karena heran, lalu menghela nafas panjang dan menundukkan kepalanya. Mengumpulkan kekuatan untuk bertanya tentang Mourin di masa lalunya.
"Kak El, ada apa?"
"Tante, tolong ceritakan tentang kehidupan mama sewaktu belum menikah dengan papa Evan."
Sandra tercekat, dia menatap Elana dengan penuh rasa penasaran. Kenapa anak dari sahabatnya itu ingin tahu masa lalu ibunya?
_
_
_
__ADS_1
😊😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤❤❤