E L A N A

E L A N A
97. Ke Rumah Calon Mertua


__ADS_3

Minggu pagi, Elana memberitahu pada pegawainya kalau hari Minggu ini butik tutup karena dia akan pergi dengan Chiko untuk bertemu dengan calon mertuanya. Dia sangat antusias, lalu memikirkan apa yang ingin dia bawa untuk oleh-oleh di rumah calon mertuanya.


Elana pun membeli parcel buah dan juga beberapa cemilan snack untuk kedua adik Chiko. Dia sangat senang sekali melakukan itu, jika nanti jadi kenyataan menikah dengan Chiko. Bisa dia bayangkan nanti punya adik banyak dan akan memanggilnya dan akrab dengannya.


Bukan hanya Celine, tapi juga ke empat adik lainnya. Tapi kata Chiko yang dua adiknya itu sudah besar, dan laki-laki. Tentu saja tidak bisa di jadikan teman dekat, lagi pula nanti Chiko akan marah dan cemburu jika dekat dengan adik laki-laki dari Chiko.


"Aah, membayangkan bisa akrab dengan keluarga bang Iko rasanya menyenangkan. Keluarganya pasti sangat bahagia, apa lagi makanya itu sepertinya seorang ibu yang sangat baik dan penyayang sama anak-anaknya." gumam Elana.


Dia terus melangkah di sekitar butiknya mencari toko buah yang sudah buka lalu meminta di buatkan parcel. Dan Elana kembali membayangkan keluarga kekasihnya itu akan sangat menyenangkan, dia sudah bertemu dan mengobrol dengan kakak kembar kekasihnya Chila. Dan Elana sangat senang dengan Chila, orangnya sama pendiam tapi bisa beradaptasi dengan mudah. Serta sifatnya juga keibuan, terlihat jarang marah.


Elana tersenyum sendiri, dia melihat pedagang buah. Dia lalu menghampiri pedagang buah itu.


"Mas, bisa bikin parsel buah ngga?" tanya Elana.


"Bisa, tapi istri saya yang buat." kata tukang buah itu.


"Ngga apa-apa. Tapi ada kan istri masnya?"


"Ya, ada. Tapi sedang membeli makanan dulu, untuk sarapan. Mbaknya ngga apa-apa menunggu dulu." kata tukang buah itu.


"Iya, ngga apa-apa. Saya tunggu di sini aja mas." kata Elana.


"Ya, tunggu ya."


Elana mengangguk, dia lalu duduk di kursi sambil melihat beberapa buah yang masih segar. Dia bangkit lagi dan memlilih beberapa buah yang akan di buat parsel.


"Mas, saya pilih aja ya buahnya. Biar nanti istri masnya tinggal bungkus." kata Elana.


"Ya, mbak."


Dengan antusias Elana memilih buah yang masih segar, lalu di masukkan ke dalam kerajang. Yak berapa lama istri dari pedagang itu datang dan memberikan makanan yang dia beli pada suaminya. Dia menghampiri Elana dan bertanya.


"Mbak mau beli buah?"


"Iya, tapi sekalian di buatkan parsel bisa kan bu?"


"Ya, bisa. Mau di bungkus sekarang?"


"Iya, soalnya saya mau langsung pergi."


"Oke, di tunggu ya mbak."


"Baik."

__ADS_1


Dengan sabar Elana memunggu, dia menunggu lumayan lama. Hingga Chiko pun datang menghampirinya setelah tadi di telepon.


"Kamu beli apa?"


"Cuma beli buah aja bang, ngga apa-apa kan?" tanya Elana.


"Kenapa harus repot." kata Chiko.


"Ngga repot kok bang, buah aja. Masa mau ketemu mama kamu ngga bawa apa-apa sih, kan ngga enak bang." jawab Elana.


Chiko tersenyum, dia lalu mengelus kepala Elana dengan lembut. Dan tak berapa lama, parsel pesanan Elana pun sudah iadi. Elana lalu membayar buah dan juga pembuatan parsel.


"Terima kasih ya bu."


"Iya mbak, sama-sama."


Chiko mengambil parsel dari tangan Elana, dia membawanya lalu di masukkan ke dalam mobil. Elana dan Chiko masuk mobil dan Chiko pun melajukan mobilnya dengan cepat. Dia tidak mau sampai di rumah terlalu siang dan nanti pulang mengantar Elana kemalaman.


Sepanjang jalan mereka banyak mengobrol, dan pertanyaan Elana mengenai mamanya itu membuat Elana merasa minder, meski begitu dia juga antusias mendengar cerita Chiko.


"Mama pernah kerja di pabrik, cuma sebentar. Tapi sekarang ngga lagi, karena papa yang sekarang kembali ke pabrik lagi." kata Chiko.


"Oh, jadi pernah bekerja di pabrik ya."


Mobil memasuki sebuah rumah besar dan bercat putih. Elana memperhatikan rumah besar itu, dia merasa kecil dan rendah diri dengan melihat keadaan rumah Chiko yang besar dan megah. Dia diam saja, menatap Chiko yang begitu tenang memarkirkan mobilnya di halaman parkiran rumah.


"Ayo turun." kata Chiko.


"Emm, bang. Apa mama abang itu ngga pemilih ya?" tanya Elana ragu.


"Pemilih apa maksudnya?"


"Ya, misalnya harus yang sederajat gitu calon menantunya. Kan aku bukan orang kaya juga ngga punya mama, bang. Dan ...." kata Elana berhenti.


"Sudah, jangan di pikirkan Kamu harus lihat mamaku dulu, baru bisa menilai mamaku seperti apa ya. Jangan tegang dan jangan takut, mamaku orangnya baik kok." kata Chiko menenangkan Elana.


Elana tersenyum, dia mengambil parsel yang di bawa Chiko. Namun Chiko menolaknya, tapi Elana memaksanya dengan alasan parsel itu biar dia yang memberikan pada Anita.


"Duh, pacarku ini mau dekat dengan calon mertua ya. Heheh ...."


"Ish, abang jangan menggodaku. Terus kenapa ngga jalan juga? Masa mau di sini aja?"


"Iya, ayo kita masuk ke dalam. Pasti papa dan mama sudah menunggu dengan adik-adikku juga." kata Chiko.

__ADS_1


Chiko menggandeng tangan Elana dengan erat, memberikan kekuatan ager Elana tidak gugup dan takut bertemu dengan mamanya.


Chiko membuka pintu dan mendorongnya, dia mengajak Elana masuk lebih dalam melangkah menuju urang tamu. Terlihat Cheril dan Karin sedang duduk sambil bermain gadget dengan asyiknya.


"Cheril, Karin Mama mana?" tanya Chiko pada kedua adiknya itu.


"Mama di dapur bang, sama bi Ina lagi masak." jawab Cheril.


"Oh, ya udah. Kalian lihat kemari, kalian boleh kenalan nih pacar abang." kata Chiko memperkenalkan Elana pada kedua adiknya.


Dan begitu menoleh pada kakaknya itu serta beralih ke Elana. Keduanya pun melebarkan matanya. Mulutnya terbuka, dia tidak percaya siapa yang di bawa oleh abangnya itu.


"Bang, kakak ini kan yang waktu di butik El Boutiqe itu. Iya kan Karin?" kata Cheril pada adiknya.


"Iya kak, bener. Waaah, ternyata pacar abang yang ada di EL Boutiqe itu ya?" tanyq Karin dengan senyumnya.


Sedangkan Elana tersenyum malu, ternyata kedua adik Chiko dan dia pernah bertemu di butiknya itu. Dan Elana sudah tahu siapa mamanya Chiko, ya tante-tante yang pernah dia bantu mencari baju untuknya sendiri. Elana senang, namun juga khawatir karena bisa jadi mamanya Chiko berbeda.


"Abang ke belakang dulu ya, panggil mama. Kamu di sini aja sama dua gadis centil ini." kqtq Chiko pada Elana.


"Iya bang."


Lalu Chiko pun menuju dapur, dia menghampiri Anita yang sedang memasak dengan serius. Dari belakang Chiko memeluk mamanya dan mencium pipinya, membuat Anita terkejut di kura Arga suaminya.


"Ish, mama kira papq yang seperti ini. Kok manja banget bang, ada apa?"


"Tuh, di depan sama para gadis cerewet ada pacar abang ma. Mama ke depan yuk?" kata Chiko.


Oh, udah datang ya."


"Iya ma, ayo ke depan."


"Ya udah, mama cuci tangan dulu. Nanti masak di teruskan sama bi Ina."


Setelah berkata seperti itu, Anita mencuci tangan dan mengikuti Chiko menuju ruang tamu bertemu dengan Elana. Sampai di depan, Elana berdiri dan tersenyum pada Anita. Anita terkejut, dia menatap Elana lekat dan mengingat dia pernah bertemu dengannya.


"Selamat siang tante."


_


_


_

__ADS_1


😊😊😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤❤❤❤


__ADS_2