
Chiko kini sedang berada di kafe bersama sahabat-sahabatnya sewaktu SMA dulu. Memang mereka baru berpisah dua tahun lebih, tapi persahabatan mereka rupanya tidak terputus.
"Tadi siang gue ketemu Siska di swalayan, dia mengira gue sama tante-tante." ucap Chiko pada teman-temannya.
"Serius lo? Terus lo sama siapa?" tanya Markus.
"Ya sama mama guelah, gila aja gue sama tante-tante. Gue bukan orang susah yang mencari uang dengan cara begitu." ucap Chiko.
"Ck, iya. Gue ngerti lo anak pengacara. Jadi apa-apa juga papa yang urus.
"Eh, terus lo gimana sama si Siska? Di ledekin dong pastinya?"
"Jelaslah, bahkan gue di lihatin terus sama pengunjung lain di swalayan itu. Emang tampang gue ya, memukau semua orang." ucap Chiko dengan bangganya.
"Hueeekk!!"
Semua serempak seperti memuntahkan pada mulutnya tanda jengah dengan sikap Chiko yang berlebihan. Chiko justru tertawa senang.
Lama mereka berkumpul di kafe seperti dulu biasanya mereka ngumpul. Ke klub malam itu hanya sesekali ketika mau lulus ujian sekolah. Tapi justru Arga memarahi Chiko dan ceramah panjang lebar, membuat teman-teman Chiko jadi heran karena sikap Arga yang terlalu berlebihan menurut teman-teman Chiko.
"Eh, Ko. Lo udah punya cewek belum?" tanya Markus.
"Belum sempat cari cewek gue, setiap hari belajar terus." jawab Chiko santai.
"Yakin lo? Di sana kan ceweknya cakep-cakep, masa sih lo ngga tertarik?" tanya Deri tidak percaya.
"Eh, Ko. Gue pacarin adek lo ya, Celine." kata Joni.
"Jangan ngarep lo, gue ngga akan setuju adek gue pacaran sama lo." ucap Chiko.
"Kenapa? Kan lebih baik sama sahabat sendiri dari pada sama orang lain." jawab Joni lagi.
"Ck, bukan gue aja yang akan lo hadapi. Tapi papanya, sama gue aja protektif banget. Apa lagi sama anak ceweknya." jawab Chiko.
Joni pun merasa putus asa, dari dulu dia suka sama Celine. Tapi setiap kali mengatakan suka sama Chiko, dia akan mengatakan hal yang sama padanya. Jangan berharap.
"Kenapa sih, Ko? Gue suka beneran sama adik lo itu." kata Joni lagi.
"Ngga pokoknya. Udah deh, yuk kita pulang." ucap Chiko lagi.
Joni mendesah kasar, ternyata susah juga mendapat restu dari Chiko.
Kini mereka pun berpisah di persimpangan, ada yang sama lurus dengan dirinya seperti Markus.
"Lo kenapa sih kalau si Joni bilang suka sama adik lo itu, jadi ngga suka?" tanya Markus.
"Ngga apa-apa. Adik gue masih kecil, dia anaknya cerewet." jawab Chiko asal.
__ADS_1
Markus melihat Chiko dengan jawaban asal itu, dia tahu mungkin Chiko punya alasan. Ya, dari pada di tolak Celine kan lebih baik di tolak dulu oleh Chiko. Mungkin itu pikir Markus.
_
Satu bulan lebih, Chiko dan Celine sudah liburan di rumahnya. Kini Chiko harus berangkat lagi setelah dia berjanji akan mengunjungi kakak kembarnya di asramanya di tempat di mana kampus kedokteran itu.
"Abang mau menemui kak Chila?" tanya Anit ketika Chiko sudah menyiapkan bawaannya untuk berangkat ke Rusia tiga hari lagi.
"Iya ma, kan aku udah janji sebelum berangkat ke Rusia abang mau ketemu sama kak Chila dulu." kata Chiko.
Sebenarnya, lima hari lagi Chila bisa pulang libur satu minggu. Tapi Chiko tidak bisa menunggu selama itu, dia sudah memesan tiket pesawat dan juga sesampainya dia di sana akan langsung mengikuti pelatihan di kampus.
"Apa ngga tunggu kaka Chila pulang aja, bang? Kan lima hari lagi kak Chila pulang."
"Tiket abang sudah di beli ma, tiga hari lagi harus berangkat. Ya makanya, abang yang ke asrama kak Chila nanti sore.
Anita menghela nafas panjang, dia ingin anak-anaknya kumpul semua meski pun hanya satu hari. Tapi tidak bisa, apa boleh buat hanya bisa berharap.
Chiko melihat ibunya terlihat kecewa, lalu dia mendekat dan memeluknya dari samping.
"Ma, aku juga pengen kok semua kumpul seperti dulu. Anak-anak mama dan papa semua kumpul sebelum aku, Celine dan kak Chila kuliah. Nanti juga saatnya kumpul kok ma, jangan khawatir. Makanya abang ngga mau menyia-nyiakan waktu kuliaj abang untuk hal-hal yang ngga penting ma, Celine juga udah aku suruh fokus kuliah. Agar nanti cepat selesai kuliah." kata Chiko menenangkan hati Anita.
Anita tersenyum, dia tahu anaknya itu sangat mengerti dengan hatinya. Entah kenapa, dari kecil sebenarnya Chiko itu sangat keras kepala, tapi ketika besar dia semakin berubah dan lebih memperhatikan dirinya.
"Iya sayang, ya udah. Nanti mama siapkan bekal untuk kakakmu juga ya. Dia suka cumi sabel pedas buatan mama." kata Anita akhirnya luluh juga.
"Oke ma." kata Chiko melepas pelukannya pada Anita.
_
Pukul empat sore Chiko sampai di asrama kakaknya, Chila. Dia lalu menelepon Chila dan menyuruhnya keluar, dia malas harus bertanya dan menyuruh pegawai asrama untuk memanggil kakaknya.
"Halo, Ko. kamu udah sampai?"
"Udah, kakak keluar deh."
"Ya udah, tunggu sebentar."
"Iya, cepat ya."
"Iya."
Klik
Sambungan terputus, Chiko keluar dari dalam mobilnya dan menunggu di depan gedung asrama putri di mana Chila tinggal.
Lima menit, Chila datang dengan memakai kaos pendek dan juga celana panjang. Dia tersenyum sama adiknya itu, semakin dekat dia memeluk Chiko dengan erat. Rasanya sangat menyenangkan memeluk adik kembar yang baru bertemu lagi setelah satu tahun lebih baru bertemu.
__ADS_1
Lama mereka berpelukan, membuat orang-orang melihat mereka jadi heran. Setelah cukup, Chila pun melepas pelukannya dan mengajak Chiko duduk di kursi di bawah pohon rindang.
"Nih, mama nitip ini. Kakak suka cumi sambel pedas kan?" kata Chiko memberikan sebuah kotak makan di bungkus plastik.
"Waah, mama tahu aja deh kalau aku kangen masakan mama." kata Chila menerima kotak makan itu.
Mencium bau masakan cumi sambel dan menghirupnya cepat lalu melepasnya dengan senyuman sumringahnya. Chiko hanya tersenyum melihat tingkah kakaknya itu.
"Bagaimana kak kuliah di kedokteran?" tanya Chiko.
"Emm, lumayan ribet. Aku harus melihat dokter memeriksa pasien, mencatatnya lalu harus mencatat obat apa yang di butuhkan pasien ketika sudah di ketahui penyakitnya. Tapi kakak suka seperti itu." jawab Chila.
"Emm, menyenangkan ya berinteraksi langsung dengan masyarakat." ujar Chiko.
"Iya, kamu juga nanti seperti itu. Harus magang ke kantor pengacara juga harus tahu tentang hukum nanti." ucap Chila.
"Iya, dulu aku suka senang kalau papa cerita tentang hukum. Atau membela orang yang lemah masalah hukum. Dan suka gregetan sama pelanggar hukum itu, rasanya enak aja menceramahi mereka yang bersalah lalu memberinya hukuman pada mereka, hahah." ucap Chiko dengan tawanya.
Chila ikut tertawa juga, dia kinj bercerita tentang apa saja pada adiknya. Karena memang Chila lebih dekat dengan Chiko selain sama Anita. Tapi Chiko lebih sering cerita sama Chila tentang apa pun, juga Celine yang ceriwis.
Hari pum mulai petang, Chiko berpamitan sama kakaknya itu.
"Kak, aku pulang ya." kata Chiko.
"Kok bentar banget sih?"
"Iya, takut kemaleman di jalan."
"Ya udah, salam buat semua di rumah ya. Kamu kapan berangkat?"
"Lusa, soalnya tiket udah di beli. Maaf ya kak, sebenarnya pengen juga kumpul bareng."
"Iya ngga apa-apa, demi cita-cita kita harus melupakan ego kita."
Chiko tersenyum, dia pun kembali memeluk kakaknya dan setelah selesai berpamitan pulang.
"Hati-hati di jalan ya." ucap Chila.
"Iya kak, nanti telepon aku ya sampai di Rusia."
"Ya."
Lalu mobil Chiko melaju pelan meninggalkan Chila yang masih melambaikan tangannya.
_
_
__ADS_1
_
😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤