E L A N A

E L A N A
111. Antonio Berkunjung


__ADS_3

"Aku takut kamu berubah Ga, aku takut di masa tuaku kamu malah meninggalkan aku. Dan mempunyai selingkuhan lain." kata Anita.


Mereka kini sudah berada di kamarnya, di malam ini keduanya sengaja hanya mengobrol saja saling memeluk di pembaringan. Keduanya saling memberi kecupan dengan penuh perasaan.


"Aku sudah tua, mana ada yang menyukaiku sayang." kata Arga.


"Kamu itu masih gagah dan tampan Ga, siapa pun bisa saja tertarik padamu dan menggodamu. Dan kamu mulai tergoda, karena aku sudah mulai menua. Aku takut kamu seperti itu." kata Anita lagi.


Arga mengecup pipi istrinya, dia bahkan tidak pernah sekalipun menanggapi perempuan lain. Memang di kantor banyak sekali anak-anak magang yang masih lajang dan cantik suka mencari perhatian padanya. Tapi dia tidak peduli dengan perempuan-perempuan di luar sana.


"Kamu masih tidak percaya padaku?" tanya Arga.


"Aku tahu kamu tidak tergoda sama perempuan lain, tapi aku takut ada perempuan yang nekat untuk minta pertanggung jawabanmu. Bisa saja karena dia suka sekali sama kamu jadinya nekat membuat segala cara, dan kamu akhirnya menuruti perempuan itu." kata Anita semakin melantur.


"Hahaha, sayang. Pikiran kamu itu terlalu jauh, aku tidak sebodoh itu. Ada perempuan minta pertanggung jawaban padaku karena dia hamil anakku? Aku bahkan tidak pernah pergi dengan teman-teman untuk pesta kemenangan atau acara apa pun. Mereka juga bilang aku suami takut istri, tapi aku tidak peduli. Yang penting di kantor prestasiku bagus dan di rumah aku selalu bertemu denganmu setiap hari dengan senyumanmu menyambutku setiap aku pulang dari kantor. Itu yang selalu aku rindukan dari kebersamaan kita sayang. Aku merasa sudah cukup memilikimu, punya anak banyak darimu dan mereka semua saling menyayangi dan patuh pada kita. Apa yang aku cari lagi dari mereka?" kata Arga panjang lebar.


Anita mendengarkan dengan serius, dia tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya. Beruntung sekali dia mendapatkan Arga, meski tidak dari sekolah. Tapi kenyataannya, hidup dengan Arga memang sangat berwarna.


Sudah menginjak usia pernikahan dua puluh tahun dengan Arga, rasanya banyak sekali hal manis dan membahagiakan baginya. Arga yang penyayang juga penyabar menghadapi anak-anak, serta romantis padanya. Tak peduli di depan anak-anaknya dia melakukannya. Katanya, jika mereka bersikap romnatis di depan anak-anaknya, maka anak-anaknya akan memgikuti apa yang di lakukan oleh orang tuanya.


Bersikap manis dan juga romantis pada pasangan. Terbukti Chiko selalu menginginkan seperti Arga dalam memperlakukan Elana nantinya.


_


"Halo, Ko. Aku sudah berada di bandara, apa kamu mau menjemputku?"


"Waah, jadi kamu mau datang ke rumahku?"


"Tentu, aku ingin berkenalan dengan keluargamu. Dan lagi bagaimana hubunganmu dengan kekasihmu?"


"Sudah selesai, papa dan mamaku sudah menerima Elana dengan baik. Aku senang mendengarnya, akhirnya kami tidak ada penghalang untuk bersatu."

__ADS_1


"Syukurlah, aku senang mendengarnya. Kapan kamu menjemputku? Aku sudah berada di bandara."


"Kamu terlalu mendadak, jika sebelumnya kamu memberitahuku pasti aku sudah menunggumu sejak tadi."


"Hahah, maaf. Aku juga mendadak, maaf kalau aku mendadak membetitahumu."


"Ya sudah, aku kebetulan ada di rumah di kota. Butuh waktu satu jam setengah untuk sampai di bandara. Tunggu saja."


"Oke, aku tunggu."


Percakapan Antonio dan Chiko di telepon terputus, Antonio sahabat Chiko di kampus datang ke Indonesia. Ingin mengenal keluarga Chiko yang begitu menarik karena keharmonisannya. Dia tahu dari cerita Celine dan Chiko dulu, jadi dia ingin tahu.


Chiko bergegas ganti baju dan segera menaiki mobil setelah mengunci rumahnya. Dia langsung meluncur menuju bandara menjemput sahabatnya. Mungkin akan dia bawa ke rumahnya, dan besoknya di kenalkan pada keluarganya.


Dan satu jan setengah, Chiko sampai di bandara. Dia menelepon Antonio mencari posisi di mana dia berada. Tapi baru sebentar, Chiko melihat lambaian tangan Antonio.


"Hai, Chiko!" panggil Antonio.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Antonio.


"Baik, kamu sendiri bagaimana?"


"Aku juga baik. Rasanya sepi jika aku tidak bertemu denganmu selama empat bulan. Hahaha." kata Antonio.


"Kamu merindukanku?" tanya Chiko.


"Ya, bisa jadi. Aku merasa lebih dekat denganmu." kata Antonio.


"Hemm, aku tidak yakin. Kamu banyak teman gadis-gadis yang selalu siap menemanimu di saat kesepian." kata Chiko.


Mereka berjalan menuju mobil Chiko, banyak cerita Antonio di tempat magangnya. Begitu pun juga Chiko meneritakan kegiatannya selama magang dan mencari Elana. Banyak sekali cerita Chiko pada Antonio semenjak pulang dan menemukan Elana kekasihnya.

__ADS_1


Dia juga bercerita yang pertama kali menemukan Elana adalah kakak kembarnya, Chila. Dan kini akhirnya Elana dan Chiko pun bisa tenang dengan hubungannya tanpa harus khawatir.


"Tidak, aku bosan dengan mereka. Lagi pula, aku ingin menikah dan hidup berumah tangga dan punya anak." kata Antonio.


"Benarkah? Kamu punya pikiran seperti itu?" tanya Chiko tidak percaya.


"Tentu saja, aku ingin hidup tenang dengan istriku nanti. Kamu kira aku akan menjadi laki-laki brengsek terus?" kata Antonio.


"Ya ya, aku percaya. Tapi kamu tidak menyukai adikku kan?" tanya Chiko lagi.


"Tidak, aku menganggapnya sebagai adik sama sepertimu. Jangan khawatir, dia tidak pernah aku permiankan." kata Antonio lagi.


Mobil melaju dengan cepat, Chiko dan Antonio mampir lebih dulu ke restoran untuk mengisi perut. Chiko mengajak Antonio untuk mengenal makanan Indonesia, agar dia juga merasakan betapa enaknya makanan Indonesia.


"Aku juga suka makan nasi, tapi tidak setiap haru aku makan nasi." kata Antonio.


"Hemm, di negaraku makan nasi itu wajib. Belum termasuk makan jika belum makan nasi. Jadi nasi itu adalah makanan pokok, meski pun hanya sedikit. Tapi umumnya masyarakat di sini makan siang itu makannya nasi." kata Chiko.


"Hemm, sama juga di negaraku itu banyak yang menyukai makan kentang dan juga roti. Ya, begitulah setiap negara berbeda budaya dan kebiasaan meski hanya makanan."


"Aku suka makan pedas, dan kulihat kamu tidak suka makan pedas."


"Ya, tapi sedikit-sedikit aku bisa makan pedas."


Mereka kini sedang makan di restoran. Chiko memesan beberapa makan olahan ayam saja dan juga tumis berbagai sayur. Mereka makan dengan santai, karena waktu juga memang masih panjang untuk sampai di umah Chiko.


_


_


_

__ADS_1


😊😊😊😊😊😊😊😊❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2