E L A N A

E L A N A
22. Mengunjungi Makam Mourin


__ADS_3

Elana dan Evan kini duduk di kursi meja makan, mereka sedang makan masakan sederhana Elana. Dia hanya memasak orek tempe dan telur ceplok. Evan sangat senang dengan masakan Elana, dia sesekali menatap anaknya itu makan dengan lahap. Ada rasa terharu dan sedih di hati Evan, dia membayangkan Elana makan hanya seadanya saja. Sedangkan dia makan dengan enak berbagai makanan yang bisa dia beli dengan uangnya, bahkan sering sekali dia dan istrinya makan di restoran.


Elana melihat pada papanya yang makan pelan seakan tidak menyukai makanan itu.


"Papa ngga suka makanan sederhana ini? Maaf pa, El hanya bisa masak itu. El belum beli sayuran atau daging di pasar." kata Elana merasa bersalah.


"Ngga sayang, papa senang kok makan masakan kamu. Papa hanya ..., terharu dengan kamu yang begitu mandiri dan kuat." ucap Evan.


Dia menatap Elana penuh kasih sayang dan kesedihan. Berbagai rasa sesak di dada, sedih dan menyesal terpancar di raut wajahnya itu. Tak terasa air matanya mengalir.


"Apa papa mau mengunjungi mama di pemakaman?" tanya Elana.


Dia tahu tentang perceraian itu meski tidak memahami apa yang jadi masalah penyebab mereka bercerai.


"Iya, besok antar papa ke makam mama kamu ya." kata Evan.


"Iya pa."


Setelah selesai makan, Elana merapikan piring bekas makan dan menyimpan kembali makanan sisa di lemari. Dia lalu mencuci piring bekas makannya juga Evan.


Evan memperhatikan setiap gerak-gerik Elana dari gesitnya merapikan meja makan sampai mencuci piring. Dia tidak melihat gaya Mourin ketika mereka masih bersama. Dulu semua di kerjakan oleh pembantu, hanya membuatkan kopi saja Mourin melakukan itu.


Tapi senyum Elana adalah duplikat Mourin, senyumnya yang manis itu jarang sekali di tampilkan Elana. Hanya wajah datar dan dingin serta sedih terkadang terlihat.


Selesai mencuci piring, Elana menghampiri Evan yang berada di ruang tamu. Menemaninya malam ini untuk mengobrol, meski canggung Elana berusaha mendekatkan diri pada Evan.


Evan tahu Elana masih canggung dan kaku padanya, dia menghela nafas panjang. Tidak seharusnya antara anak dan ayah kandung bersikap canggung dan segan, apa lagi anak gadis biasanya lebih dekat pada ayahnya. Tapi Elana seperti menjaga jarak. Apakah terlalu lama menahan rasa sakit di jauhi oleh orang-orang sekitar, sehingga dia bersikap apatis. Bukan, tapi lebih tepatnya itu menjaga jarak agar jika nanti berpisah atau di abaikan tidak terlalu sedih dan sakit hati. Itulah Elana, karena terbiasa seperti itu.


"El, papa ingin tanya kenapa ngga tinggal lagi di rumah tante Sandra?" tanya Evan.


Elana diam, dia tidak menjawab. Lalu menunduk dalam.


"El betah tinggal sendiri di rumah ini?" tanya Evan lagi.


Elana masih diam, dia berpikir buat apa bercerita kalau nanti membuat orang yang pernah mengasuhnya itu terus merasa bersalah.


"El betah tinggal sendiri pa." jawab Elana, Evan menatap anaknya itu.


"El punya rumah sendiri meskipun tidak besar, tapi El nyaman. Tinggal di rumah besar kalau oramg-orang di rumah itu tidak menyukai El, buat apa?" kata Elana pilu.


Dia kembali mengingat ucapan Sandra yang menyuruhnya pindah dan mengurus ibunya yang sebentar lagi bebas waktu itu.

__ADS_1


Dada Evan sesak, berarti entah sejak kapan Elana merasa tidak nyaman tinggal dengan Sandra. Dia juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Sandra, dia yang bersalah. Dia yang telah menelantarkan anak gadisnya itu. Dan sekali lagi, Evan tidak bisa berkata apa-apa.


Tapi kini dia bertekad akan membawa Elana ke Rusia, dia juga sudah berdiskusi dengan istrinya di sana. Dan Ana menyetujui kalau Elana akan tinggal dengannya.


"Maafkan papa sayang, papa ngga tahu kalau El tidak nyaman tinggal dengan tante Sandra. Tapi papa mohon, ikutlah dengan papa ke Rusia. Papa akan jaga El di sana, El mau kuliahkan?" tanya Evan.


"El kuliah di sini aja pa." jawab Elana.


"Jika El tinggal di sini sendirian, papa ngga bisa memantau El lebih sering. Pekerjaan papa di sana, kalau El mau ikut papa, papa akan tenang karena El berada pada pengawasan papa. Papa akan daftarkan kuliah ke universitas yang bagus di sana, kata bu Mira El itu pintar dan selalu dapat juara. Di sana bisa kok mendapatkan kuliah bagus dengan anak yang pintar. El mau ya ikut papa?" kata Evan lagi.


Elana masih diam, dia menatap Evan lalu menunduk lagi. Belum menjawab pertanyaan Evan untuk ikut dengannya.


Hari sudah malam, waktu menunjukkan pukul sembilam malam, Evan belum kembali ke hotelnya.


"Apa papa ngga kembali ke penginapan malam ini?" tanya Elana.


"Papa mau menginap di sini." kata Evan.


Setidaknya dia ingin menemani Elana saat ini.


"Tapi ngga ada kamar lagi pa, yang ada itu kamar mama dulu. El belum rapikan kamar mama itu." kata Elana.


"Papa bisa kok tidur di kursi tamu ini, jangan khawatirkan papa." kata Evan.


"Tapi kursi itu tidak empuk pa, nanti papa sakit. Papa bisa kok tidur di kamar El, biar El tidur di kamar mama." ucap Elana memberi solusi.


Evan tersenyum, lalu mengangguk pelan.


"Kalau begitu, El mau merapikan kamar mama dulu. Papa bisa istirahat di kamar El sekarang."


Setelah mengucapkan itu, Elana masuk ke dalam kamar Mourin. Sejenak dia berhenti, ada rasa sesak kembali di dadanya. Namun dia tarik nafas panjang. Mungkin ini yang kedua kali Elana masuk ke dalam kamar Mourin. Entahlah, rasanya selalu merasa sedih jika masuk ke dalam kamar mamanya itu. Makanya dia jarang bahkan tidak pernah masuk ke dalam kamar Mourin.


_


Hari ini Elana izin tidak bekerja. Dia menelepon bos Marta kalau papanya datang dan tidak bisa berangkat ke loundry. Meski penasaran dengan papanya Elana, bos Marta mengizinkan Elana tidak masuk kerja.


"Kamu menelepon siapa?" tanya Evan.


"Menelepon bos El pa, hari ini ngga masuk kerja." jawab Elana.


"Kamu kerja di mana?" tanya Evan penasaran.

__ADS_1


"Di loundry, pa." jawab Elana.


"Loundry baju?" tanya Evan lagi karena kaget.


"Iya pa." jawab Elana.


Evan terdiam, entah apa yang dia pikirkan. Begitu banyak sekali yang di alami Elana yang tidak dia ketahui.


"Ayo pa, katanya mau ke makam mama." kata Elana.


"Ah ya, maaf papa melamun." kata Evan.


Elana tersenyum, dia lalu membawa keranjang berisi bunga untuk taburan di makam Mourin yang tadi pagi dia beli di pasar. Lalu Evan dan Elana masuk ke dalam mobil, tidak terlalu jauh tempat pemakaman umum itu. Tapi lumayan jauh jika di tempuh dengan jalan kaki.


Dan Elana sering jalan kaki ke pemakaman itu, dia lebih senang jalan kaki.


Sepuluh menit sampai, mereka berjalan menyusuri jalan yang di sisi kanan kiri itu gundukan makam orang-orang juga. Elana berjalan di depan, Evan di belakang mengikuti kemana Elana melangkah.


Tak jauh, Elana berhenti. Dia jongkok merapikan dedaunan yang jatuh di sekitar pusara Mourin. Lalu mengambil bunga dan di taburkan di atas pusara itu. Merenung berdoa dalam hati sejenak lalu selesai.


"Papa mau bicara sama mama?" tanya Elana.


Evan tergagap, hatinya saat ini sedang trenyuh menyaksikan pusara Mourin. Ada buliran air mata yang menggantung, dan dadanya pun rasanya sulit untuk bernafas.


"Pa?"


"Iya sayang, papa mau bicara sama mama." jawab Evan.


"Kalau begitu, El duduk di bamgku itu ya." kata Elana.


"Iya."


Elana lalu beranjak pergi, dia meninggalkan Evan yang masih terdiam di tempatnya sambil memandangi pusara Mourin.


_


_


_


😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2