
Menu makan malam pun sudah siap, kini tinggal orang-orang yang sedang mengobrol di ruang keluarga. Elana sendiri masih berada di dapur untuk membereskan piring-piring yang mau di gunakan.
"Non El, sudah biar bi Ina aja yang beresin." kata bi Ina.
"Ngga apa-apa bi, kan kasihan tante Anita sendiri yang beres-beres tadi." kata Elana membawa piring ke meja makan.
"Duh, meski baru pertama bicara sama gadis itu sepertinya dia gadis yang baik dan tidak banyak tingkah." ucap bi Ina menatap kepergian Elana menuju meja makan.
Sedangkan Anita terus menghubungi suaminya sampai jam enam tujuh puluh petang masih belum sampai rumah. Anita gelisah, Chila mencoba menghubungi Celine. Namun tetap sama, tidak di jawab.
"Celine juga ngga jawab ma, sampai mana ya papa?" tanya Chila.
"Ngga tahu kak, mama bingung kenapa papa ngga di jawab-jawab teleponnya." ucap Anita.
Hatinya benar-benar gelisah, dia takut terjadi apa-apa pada suami dan anaknya di jalan. Anita mencoba lagi menghubungi suaminya, dia juga pergi keluar rumah. Menunggu suaminya datang. Dan benar saja, baru juga dia keluar rumah. Mobil Arga memasuki gerbang lalu masuj ke halaman rumah dan berhenti.
Anita merasa lega, dia lalu menghampiri mobil suaminya. Penasaran kenapa suaminya itu tidak menjawab teleponnya, juga Celine tidak menjawab telepon Chila.
"Kenapa tidak menjawab teleponku, pa?" tanya Anita menyongsong suaminya yang baru turun dari mobil.
"Maaf sayang, tadi itu di jalan ada tabrakan. Jadi jalanan macet, akhirnya pulang telat." jawab Arga menggapit pinggang istrinya agar lebih tenang.
"Terus kenapa tadi Celine ngga jawab telepon kak Chila?" tanya Anita melirik Celine.
"Celine tadi ponselnya mati ka, habis baterainya. Jadi ngga bisa masuk telepon kak Chila." jawab Celine.
"Kalian membuat mama khawatir, seharusnya cepat jawab teleponku pa. Kenapa ngga di jawab?" tanya Anita lagi.
"Ponselnya aku silent, jadi ngga dengar ada panggilan dari kamu. Maaf ya sayang." kata Arga mencium pipi istrinya agar tidak marah.
Tapi Anita masih kesal, tidak biasanya Arga tidak menjawab panggilan darinya. Apa lagi ponselnya di silent, apakah ada yang di sembunyikan Arga darinya? Pikir Anita
Dia diam saja, lalu menarik nafas panjang. Namun begitu, dia akan tanyakan lagi nanti di kamar setelah acara makan malam nanti. Celine sendiri terlihat banyak diam setelah datang dari bandara, biasanya dia yang paling heboh jika pulang dari Rusia. Dan katanya, dia membawa temannya juga. Di mana temannya itu?
"Celine, katanya kamu bawa teman dari Rusia?" tanya Anita ketika mereka berjalan berdua.
__ADS_1
"Ngga jadi ma, dia sebenarnya teman bang Iko sih." jawab Celine.
"Celine, mama mau tanya. Sebenarnya di jalan kenapa? Kamu di telepon ngga jawab, papa di telepon mama berkali-kali ngga jawab juga. Kamu ketemu siapa di jalan, sampai rumah bisa terlambat pulang?" tanyw Anita yang tidak sabar kenapa anak dan suaminya itu berbeda seperti biasanya.
"Mama tanya papa aja, mungkin papa akan jawab di tanya mama. Celine hanya capek ma, makanya aku ngga semangat ini." kata Celine lagi.
"Baiklah, mama akan tanya papa nanti. Dan kamu tahu sekarang ada siapa?"
"Siapa ma?"
"Kakakmu Chila dan Elana. Mama ngga mau ya kamu bersikap dingin nanti di meja makan sama calon kakak iparmu." kata Anita.
"Waah, benarkah? Elana itu teman baikku ma sewaktu di Rusia. Terus di mana dia sekarang?"
"Di ruang keluarga, mereka sedang mengobrol." jawab Anita.
Anita lalu kembali ke dapur, Celine tersenyum senang lalu dia pun ke ruang keluarga untuk bergabung dengan saudaranya semua.
_
"Elana, maafkan om ya. Kamu tahu orang tua itu khawatir akan masa depan anak-anaknya, jadi om hanya berpikir ke sana. Om juga sudah tidak berpikir apa pun tentang kesalahan yang di buat oleh orang tuamu dulu. Jadi, kamu mengerti apa yang om khawatirkan dengan anak om itu." kata Arga yang kini semakin lembut bicara pada Elana.
"Iya om, terima kasih. Saya tahu kok, orang tua mana yang tidak khawatir dengan masa depan anaknya jika hidup bersama dengan orang yang tidak jelas asal ususlnya. Apa lagi saya ini adalah anak dari masa lalu keluarga om. sekali lagi terima kasih, dan maaf atas semua kesalahan yang pernah di buat oleh mama saya, om." kata Elana dengan menunduk.
Walau bagaimana pun Elana tetap harus meminta maaf pada Arga dan Anita, meski bukan dia yang bersalah. Chiko, Chila dan Celine yang mengetahui semua permasalahan dan kehidupan Elana jadi terharu Elana tidak melupakan apa yang bukan mrnjadi kewajibannya. Dia memang baik, pikir ketiga orang itu.
Adik-adik mereka, Angga, Cheril dan juga Karin hanya diam saja karena tidak mengerti apa yang terjadi pada papa dan calon kakak iparnya itu. Mereka asyik makan saja.
Sementara itu, jika orang lain pasti akan marah, dan membela diri. Bahkan mungkin mrnuntut orabg tuanya dan akan selalu merasa kesal. Tapi Elana tidak, dia justru merasa malu sekali dengan mengetahui masa lalu orang tuanya bahkan meminta maaf.
Dia sadar siapa dirinya, maka dari itu Elana lebih baik meminta maaf dan itu yang membuatnya di pandang baik bagi orang-orang yang mempunyai hati nurani yang berpikir dengan perasaan.
"Sekarang, waktunya makaaan." teriak Celine.
"Kan tadi sudah makan dek. Memangnya kamu lapar lagi?" tanya Chila.
__ADS_1
"Ngga kak, emm. Ya udah deh kita mengobrol lagi aja di depan." kata Celine yang kebingunan mau apa.
Dia di kasih tahu papanya untuk bungkam masalah kepulangannya yang terlihat aneh oleh Anita. Dan terbukti, sejak tadi Anita hanya diam saja, tidak menanggapi apa pun yang di katakan oleh Arga atau pun Elana.
"Ma, kok diam aja?" tanya Chiko.
"Mama hanya malas bicara, tadi siang banyak bicara sama Elana." jawab Anita dingin.
Semua menatap Anita yang aneh itu, Arga tahu istrinya itu sedang kesal padanya.
"Ya sudah, sekarang sudah malam. Elana menginap saja, kamu mau tidur dengan Celine atau Chila nantinya." kata Arga.
"Kita tidur bertiga aja pa, seru kayaknya kita ngerumpi bertiga. Ya ngga kak?" kata Celine.
"Setuju. Nanti kita rapikan di kamar kakak aja ya." kata Chila.
"Oke kak, nanti kita bantu." kata Celine.
"Aku ikut dong?" ucap Chiko.
"Jangan!!" teriak ketiga gadis itu.
Membuat Chiko cemberut, menatap Elana dan kakaknya. Elana sendiri lucu melihat Chiko yang cemberut masam itu.
"Ya sudah, semua bantu bi Ina beresi meja ini sebelum kalian merumpi." kata Anita.
"Siap mama!" dan kekompakan jawaban terjadi lagi pada Chila dan Celine serta Chiko. Di sambung kedua gadis remaja yang baru tumbuh.
Tentu saja itu membuat takjub, semua nampak menyenangkan. Elana jadi betah jika tinggal dengan keluarga Anita itu. Ada rasa iri, namun dia juga merasa beruntung bisa hadir di tengah-tengah keluarga mereka.
_
_
_
__ADS_1
😊😊😊😊😊😊😊😊😊❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️