
Sarapan pagi menjelang, semua tampak sarapan dengan tenang. Meski Anita sedang tidak baik hatinya, begitu pun Chiko. Pagi ini dia banyak diam, dia masih menunggu restu mamanya untuk bisa berhubungan dengan Elana.
Anita sesekali melirik ke arah anaknya Chiko yang tetap diam dan menunduk makan hanya sekedarnya saja. Ingin Anita mengingatkan Chiko agar makan dengan benar, tapi dia sedang enggan bicara dengan anak lelaki sulungnya itu.
"Ma, nambah nasi gorengnya." kata Karin menyodorkan piringnya.
Anita menuangkan nasi goreng ke piring Karin lalu di letakkannya lagi sandok nasi itu di tempatnya.
"Bang Iko, ikut papa lagi ke kantor?" tanya Kevin.
"Iya dek, tanggung ada satu kasus yang belum selesai." jawab Chiko pelan.
Masih tidak mengangkat kepalanya, Chiko masih tetap makan dengan pelan. Arga melihat anak sambungnya diam saja seperti itu jadi heran, biasanya dia banyak bicara dengan Anita. Bahkan dengan adik-adiknya.
"Kamu kenapa bang." tanya Arga.
"Ngga apa-apa pa, aku memikirkan bagaimana kasus satu ini bisa cepat selesai dan membuat laporannya." jawab Chiko beralasan.
"Ooh, itu. Biar nanti papa bantu. Memang kasus satu itu sangat susah dan lama menanganinya. Orangnya ngga mau memeberitahu siapa pelakunya. Menurut papa sih pelakunya itu pacarnya sendiri." kata Arga menjelaskan sebuah kasus yang sulit di pecahkan.
"Mungkin dia masih sayang pa sama pacarnya, ibunya saja yang kesal kenapa anaknya masih bungkam." jawab Chiko perlahan dia lupa masalahnya dengan mamanya.
"Ya, banyak yang seperti itu. Itu masih tahap pacaran, apa lagi kalau sudah suami istri. Akan terjadi KDRT terus dan istrinya nanti akan menerima perlakuan suaminya yang galak itu." kata Arga lagi.
"Apa bisa jadi dia di ancam pa?" tanya Chiko.
"Mungkin, kemumgkinan pacarnya dia punya sesuatu yang membuat gadis itu tidak bisa bercerita banyak." jawab Arga.
"Seperti sebuah adegan terlarang yang di videokan mungkin pa."
"Ya, kebanyakan perempuan itu mau di perdaya oleh laki-laki brengsek seperti itu. Tapi kita harus bisa meyakinkan gadis itu kalau laki-laki brengsek itu harus dapat hukuman." kata Arga.
"Iya pa, nanti Iko juga akan menanyakan itu juga buat laporan hasil magangku." kata Chiko.
Anita melihat percakapan Arga dan Chiko benar-benar serius. Dia sangat bangga pada suaminya jika membantu atau menangani kasus sampai tuntas, meski kadang korban itu tidak membayarnya penuh atau bahkan sama sekali tidak di bayar. Bagi suaminya, membantu orang dan memecahkan kasus penganiayaan itu harus tuntas. Baru bisa lega hati dan pikirannya. Begitu kata Arga dulu.
_
Dua hari ini Chiko dan Anita masih belum saling bicara seperti biasanya. Hanya sesekali ketika ada anak-anaknya dan juga suaminya. Anita masih bimbang, dia belum bisa keadaan itu. Namun dia juga kasihan pada anaknya, sejak dua hari ini Chiko selalu diam.
Dan jika sudah pulang dari kantor suaminya, langsung masuk kamar dan langsung membuat laporan. Kadang lupa makan malam sampai larut. Seperti malam ini, Chiko pulang sore hari. Sedangkan suaminya seperti biasa pulang jam tujuh malam.
Anita dan ke empat anaknya makan malam dengan tenang, tapi hati Anita gelisah kenapa Chiko tidak turun ke bawah ikut makan malam. Sudah dua hari, yang pertama karena pulang langsung tidur. Dan saat ini entah sedang apa.
__ADS_1
" Bang Angga, coba kamu panggil abang kamu untuk makan malam. Kemarin malam dia ngga ikut makan malam, barangkali sedang mengerjakan tugas suruh berhenti dulu." kata Anita pada anaknya.
"Iya ma." jawab Angga.
"Aku aja ma, aku mau sekalina pinjam sweaater bang Iko yang dari Rusia itu. Keren sweaternya, lusa aku mau naik gunug." kata Kevin mencegah kakaknya.
"Ya udah sana cepat, keburu selesai makannya. Kan ngga enak makan malam ketinggalan." kata Anita.
"Oke ma."
Kevin lalu bangkit dari duduknya dan langsung naik tangga memanggil kakaknya itu yang sejak pulang dari kantor papanya tidak keluar kamar.
Tok tok tok
"Bang, aku masuk ya?"
"Masuk dek!"
Kevin membuka pintu kamar Chiko, dia melihat abangnya itu sedang mengetik laporan dengan serius tanap melihat Kevin masuk dan mendekat padanya.
"Bang, di suruh turun sama mama makan malam." kata Kevin duduk di samping Chiko.
"Abang ngga makan malam dek, lagi banyak tugas ini. Kemarin abang ngga sempat kerjakan tugas, kalian kalau makan ya makan aja. Jangaj tunggu abang selesai." kata Chiko.
"Ya, kemarin benar-benar lelah dan abang butuh isturahat. Bilang aja sama mama, abang ngga ikut makan malam. Maaf ya." kata Chiko lagi.
Kevin masih memperhatikan apa yang di lakukan kakaknya, belum pergi dan belum bertanya lagi. Membuat Chiko menghentikan mengetiknya dan bertanya pada adiknya itu.
"Kenapa? Apa yang kamu inginkan dari abang?" tanya Chiko yang sudah hafal kalau Kevin dekat dengannya.
"Heheh, bang. Pinjam sweater yang dari Rusia itu dong. Lusa aku mau naik gunung." kata Kevin.
"Hemm, ada maunya ternyata."
"Heheh."
"Ambil aja tuh di lemari, buat kamu aja. Abang juga udah kekecilan itu."
"Benar bang?"
"Iya, ambil aja."
"Aseeek."
__ADS_1
Kevin lalu menuju lemari Chiko dan mengambil sweater yang dia maksud. Dia melihat ada syal panjang, memegangnya dan itu sangat adem dan hangat.
"Bang, syalnya juga boleh nih buat Kevin." kata Kevin.
Chiko melihat apa yang di pegang adiknya itu, dia langsung berdiri dan menarik syal yang di pegang Kevin.
"Jangan, ini kenang-kenangan abang di sana satu-satunya." kata Chiko.
"Ya udah, pinjam aja deh."
"Ngga boleh, udah jangan ngelunjak kalau minta. Sana keluar, ganggu abang aja kamu tuh."
"Ish, pelit banget sih abang."
Kevin bersungut, dia lalu keluar dari kamar Chiko sambil membawa sweater dari kakaknya itu. Senyum di bibirnya mengembang, dia langsung turun menuju meja makan. Anita melihat anaknya turun tanpa Chiko ikut turun juga.
"Mana abang kamu?" tanya Anita.
"Ngga ikut makan malam katanya ma, banyak tugas. Tadi aja sedang serius ngetiknya." jawab Kevin kembali duduk di kursinya.
"Ya sudah, kalian cepat makan. Nanti mama bawakan makan malamnya bang Iko ke atas." kata Anita.
Mereka pun makan malam dengan lahap karena menu makanan ternyata banyak kesukaan mereka. Anita membuat menu itu untuk anaknya Chiko, tapi ternyata tidak mau makan malam bersama juga. Biar nanti dia bawakan setelah semua makan dan masuk ke kamarnya untuk belajar.
"Kalian jangan lupa belajar setelah makan." kata Anita mengingatkan anaknya.
"Iya ma." jawab mereka serentak.
"Aku juga harus belajar ma? Kan udah lulus." tanya Angga.
"Tapi kamu belum tes untuk masuk ke universitas teknik, jadi harus belajar yang serius. Ingat kata papa. Kalau abang ngga lulus tes, harus mau ikut apa kata papa." kata Anita.
Angga pun lemas, niatnya dia mau main pees. Tapi mamanya memaksanya untuk belajar lagi.
"Iya ma."
Malam itu, hati Anita benar-benar gelisah. Sama halnya dengan Chiko anaknya. Dia menunggu restu ibunya, seperti apa kata kakaknya Chila. Mungkin Anita sedang syok saja, dan lambat laun akan menerima dengan pilihannya. Tinggal menunggu restu Anita, maka nanti restu Arga pun akan bergulir meski mungkin nanti ada drama seperti yang di lakukan Anita.
_
_
_
__ADS_1
😊😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤❤❤