
Sudah sepuluh menit posisi Chiko belum berganti, dia kini akhirnya bangkit dan duduk di ranjangnya dan menarik nafas panjang. Dia sudah menduga reaksi mamanya akan syok dan mungkin tidak menerima Elana sebagai kekasihnya apa lagi sebagai menantunya.
Bagaimana dengan Elana jika tahu mamanya itu tidak menerimanya? Pasti akan sedih sekali, dan dia akan meminta putus. Chiko tidak mau seperti itu, dia akan tetap memperjuangkan Elana pada mamanya. Bahkan nanti papanya, tapi saat ini Chiko masih bingung.
Di ambilnya ponselnya lalu dia menghubungi Chila kakaknya. Menunggu sambungan telepon tersambung dan di angkat. Gelisah hati Chiko, kakak kembarnya itu belum juga mengangkat teleponnya. Saat ini dia ingin meminta pendapatnya tentang kejadian tadi dengan mamanya.
"Halo dek, ada apa?" telepon di angkat oleh Chila.
"Kak, aku sudah memberitahu mama." jawab Chiko lemah.
"Lalu, reaksi mama bagaimana?"
"Sepertinya mama syok kak, beliau diam saja. Ngga menanggapi ucapanku lagi, aku tidak tahu dan sangat takut mama akan menentang hubunganku dengan Elana."
"Mungkin mama syok aja dek, beliau masih belum percaya dengan apa yang kamu katakan. Tunggu mama sampai hatinya tenang, nanti kamu bicara lagi dengan mama." kata Chila memberi semangat pada adiknya itu.
"Aku takut kak, aku sangat mencintai Elana. Dan berjanji akan menikahinya setelah lulus kuliah."
"Dek, perjalanan cinta sejati itu tidak semudah membalikkan tangan. Perjuanganmu masih panjang, kamu sudah mendapatkan Elana lagi. Teruskan perjuanganmu untuk mendapat restu mama lalu papa. Kamu itu laki-laki, harus kuat. Jika kamu seperti itu, sedih dan putus asa. Bagaimana dengan Elana? Kamu harus berjuang untuk kekasihmu di terima mama dan papa, aku yakin hati mama tidak sekeras batu. Kamu harus taklukan dulu mama, baru papa bisa kamu taklukan." kata Chila seolah memberi tantangan pada adiknya itu.
Chiko diam, menghela nafas panjang. Rasanya berat sekali dia harus berjuang terus. Tapi dia harus lakukan demi cintanya.
"Dek, belajarlah dewasa. Kakak seperti ini juga karena rasa sakit yang dulu di tinggal papa Rendi dan sekarang memaafkannya. Itu sangat susah bagi kaka, begitu juga mungkin kamu dek. Makanya kamu harus meyakinkan maka suapaya beliau mau menerima Elana. Kakak yakin mama hanya syok aja, kenapa hidup itu selalu kenetulan dan nasib anaknya di pertemukan dengan orang yang dulu sangat di sesalinya. Hubungan kehidupan ini sangat rumit, biarkan mama berpikir dulu. Kamu jangan usik mama dulu ya." kata Chila lagim
"Iya kak, aku akan memunggu mama selesai merenunginya. Tapi sebelum aku kembali ke Rusia, masalah ini harus selesai." kata Chiko.
"Terserah kamu, tapi yang jelas jangan patah semangat dan berikan mama waktu untuk berpikir."
"Terima kasih kak, kakak selalu mendukungku. Aku tidak tahu harus cerita sama siapa." kata Chiko.
__ADS_1
"Ya, kakak selalu mendukungmu. Jangan putus asa."
"Iya kak, terima kasih. Kakak sudah sampai di Jogja?"
"Baru mau turun dari kereta. Ya udah kakak tutup dulu ya, mau keluar gerbong ini."
"Iya kak."
Klik!
_
Anita masuk ke dalam kamarnya, dia tidak percaya apa yang di katakan oleh anaknya itu. Dia tidak habis pikir, kenapa takdir begitu aneh. Seseorang yang dulu pernah dia benci, tapi kini anaknya malah mencintai anaknya perempuan itu.
Kenangan penuh kepahitan, dan juga perselingkuhan yang di lakukan oleh Rendi. Serta hinaan Mourin dulu padanya, lebih marahnya lagi bagi Anita, Mourin telah menculik anaknya. Itu sangat rumit bagi Anita, hubungan yang sangat sulit di pahami.
"Apakah aku harus menerima anak itu? Bagaimana kehidupannya dulu? Baikkah sejak saat ibunya di penjara?" gumam Anita.
Selagi Anita sedang melamun dan memikirkan anaknya Chiko dan kekasihnya itu, Arga masuk dan melihat istrinya sedang duduk membelakangi arah pintu. Dia heran dengan Anita, kenapa istrinya malam ini diam saja. Seperti ada yang di pikirkannya.
"Sayang, kamu melamun?" tanya Arga duduk di samping Anita.
Anita tersenyum, dia melihat suaminya terlihat lelah sekali. Karena hari sudah pukul delapan malam, dan acara makan malam terlewatkan begitu saja. Hanya Angga, Kevin dan juga kedua adik perempuannya yang makan malam. Chiko juga tidak ikut makan malam, dia masih sedih karena Anita belum merestui hubungannya dengan Elana.
"Kamu pulang telat?" tanya Anita dengan senyum di paksakan.
"Iya, hari ini pekerjaan banyak banget. Si abang ngga datang dua hari di kantor jadi aku kewalahan. Apa dia sudah pulang?" tanya Arga mencium pipi istrinya.
"Sudah tadi sore jam tiga dengan Chil, tapi dia sudah berangkat lagi ke Jogja. Katanya temannya yang satu koas di rumah sakit yang sama meneleponnya terus. Dia ngga bisa pamit sama kamu." kata Anita mengambil sepatu suaminya dan di letakkan di rak sepatu.
__ADS_1
Mengambil baju serta celananya lalu di masukkan ke dalam keranjang baju kotor. Dia mengambil handuk untuk Arga serta menyiapkan air hangat di bak mandi untuk suaminya. Jika pulang terlambat, Arga pasti minta mandi air hangat.
"Ga, sudah siap airnya. Mau mandi sekarang?" tanya Anita.
"Iya sayang, tapi tunggu dulu. Aku ingin rebahan dulu sebentar, kepalaku tiba-tiba sakit." kata Arga.
Dia memejamkan matanya, memijat pelipisnya dan juga kepala bagian atasnya. Anita mendekat, dia membantu suaminya memijat pelipis dan kepalanya. Jika sudah di pijit oleh Anita, maka sakit kepala berkurang bahkan hilang. Entah sugesti atau apa, bagi Arga tangan Anita sangat ajaib. Bisa menyembuhkan sakit kepalanya dalam setengah jam dia di pijat oleh istrinya itu.
"Sudah lebih baik?" tanya Anita.
"Iya sayang, kamu memang sangat pintar dalam hal pijit memijit. Apa lagi jika sesuatu milikku kamu pijat, rasanya hilang seketika pusingku." kata Arga masih memejamkan matanya.
"Hemm, modus banget kalau itu sih. Ya sudah sana mandi, nanti keburu dingin airnya." kata Anita.
Arga pun bangkit dari rebahannya, dia duduk dan menatap istrinya. Wajahnya di dekatkan pada Anita dan kemudian bibirnya langsung mrnyambar bibir Anita. Ciuman lembut itu membuat Arga semakin merasa enteng kepalanya. Dia terus mencium bibir istrinya, lama. Lalu di lepas setelah dia sendiri merasa puas.
"Terima kasih sayang. Aku mandi dulu ya, nanti malam kita bertempur." kata Arga.
Dia bangun dari duduknya dan menuju kamar mandi. Anita hanya menatap kepergian suaminya menuju kamar mandi, hatinya kembali gundah memikirkan Chiko dan kekasihnya itu. Dia belum mau cerita pada Arga tentang Chiko dan kekasihnya.
Bisa dia bayangkan Arga akan marah sekali dengan ceritanya, Anita tidak mau itu terjadu. Dia akan merenungkannya sendiri, baru setelah berpikir lama dan menerima takdir seperti itu. Namun, saat ini Anita masih belum menerima keputusan Chiko tentang gadis itu.
_
_
_
😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤❤
__ADS_1