
Kini ketiga orang itu bersiap untuk jalan-jalan ke benteng Kremlin, mereka seperti biasanya berlibur. Ana dan Angela serta Diego duduk di belakang, sedangkan Evan di depan menyetir mobil.
Sejak dari rumah Evan hanya diam saja, dia tidak banyak bicara bahkan bermain dengan Diego. Sedangkan Ana dan Angela berbicara dan bercanda seperti biasanya. Kandang Angela melirik ke arah Evan yang hanya diam saja sejak tadi.
"Kak Evan kok diam saja? Biasanya juga ikut ngomong." kata Angela memancing Evan kesal.
"Udah jangan hiraukan kakak iparmu itu, bagaimana dengan temanmu itu? Katanya dia masuk kuliah di Inggris ya?"
Pembicaraan demi pembicaraan pun terus berlangsung, Evan masih saja tidak menanggapi ucapan keduanya. Membuat Ana yang kini keheranan pada suaminya.
"Sayang, kamu kenapa sejak tadi diam saja?" tanya Ana pada Evan.
"Ngga apa-apa sayang, aku lagi fokus menyetir ini biar sampai di tempat itu." jawab Evan.
"Hem, ya sudah. Takutnya kamu sakit, jadi diam aja sejak tadi." kata Ana lagi.
"Ngga kok, kamu tenang aja. Nah, sebentar lagi sampai. Kalian siapkan semuanya untuk masuk ke dalam." kata Evan.
"Siap kak Evanku sayang."
Kali ini Angela yang menyahutinya dengan senyuman mengembang seolah meledek Evan. Ana hanya menggelengkan kepala saja. Dia pun menggendong Diego.
Evan sendiri hanya diam saja, dia mendengus kesal. Namun begitu, dia pun keluar dari mobilnya.
Mereka pun kini berjalan menelusuri jalanan red Square, menikmati beberapa bangunan megah di benteng Kremlin.
Ana dan Angela menikmati foto-foto, Evan hanya sebagai fotografer amatir mereka. Meski enggan untuk terus mengikuti mereka, Evan juga tidak menikmati jalan-jalan kali ini.
__ADS_1
Membuat Ana pun bertanya dengan sikap Evan yang tidak biasa itu.
"Kamu kenapa sih sejak di mobil diam saja?" tanya Ana pada suaminya itu ketika Angela tidak ada.
"Aku ngga apa-apa sayang, tiba-tiba aku kurang suka jalan-jalan di sini." jawab Evan.
"Tadi pagi kamu biasa aja, sekarang kok banyak diam. Apa karena Angela ikut?" tanya Ana.
"Kalau aku katakan iya pun, kamu jawab tetap tidak akan terima. Padahal aku ingin punya waktu bertiga saja, tapi kamu tidak mau." kata Evan.
"Aku bilang bukan tidak mau, tapi ngga enak kalau menolak Angela ngga ikut kita jalan-jalan sayang. Kok kamu ngga ngerti sih?!"
Ana marah pada Evan, dia mengerti Evan ingin waktunya hanya keluarga kecilnya saja. Namun dia merasa tidak enak kalau harus menolak Angela tidak ikut.
Sedangkan Evan seperti itu ingin menghindari Angela, tapi Ana tidak mengerti. Kalau pun dia katakan alasan kenapa ingin menghindari Angela.
_
Hari sudah sore, Evan dan Ana sudah sampai lagi di rumah setelah jalan-jalan tadi dengan Angela juga. Angela tidak ikut pulang ke rumah Ana, tapi dia bertemu temannya ketika di benteng Kremlin.
Beruntung Evan tidak banyak menghindar karena Angela. Hanya Ana yang mulai curiga kenapa suaminya itu banyak diam.
"Evan, kenapa kamu banyak diam tadi?" tanya Ana lagi karena dia masih penasaran pada suaminya.
"Kenapa di tanyakan lagi, sudahlah sayang jangan di bahas terus. Yang penting kita sudah selesai sampai di rumah juga, buat apa di bahas yabg sudah lalu?" kata Evan mulai kesal.
Ana menghela nafas panjang, sesungguhnya dia ingin bertanya lagi. Namun Evan sepertinha mulai kesal dan lelah.
__ADS_1
"Aku abaikan yang sekarang, nanti aku tanya lagi. Karena bagiku kamu tidak seperti biasanya, banyak diam tidak mengajak Diego bermain. Mendiamkan Angela dan ..."
"Cukup Ana! Sudah aku bilang jangan di bahas lagi. Apa kamu tidak menghargai suamimu ini?"
Ana kaget, dia menatap Evan tajam. Lalu membuang muka ke samping, rasa kesal karena di bentak Evan semakin memuncak. Sejak tadi dia kesal pada Evan, malah sekarang dia di bentak suaminya itu.
"Kamu membentakku?" tanya Ana tajam.
"Itu karena kamu selalu saja bertanya yang sudah lalu sayang, aku lelah. Di tanya terus masalah Angela dan juga tadi. Bosan aku mendengarnya." kata Evan mulai melemah nada bicaranya.
Namun Ana masih kesal dengan Evan, dia menatap tajam. Dia tidak peduli Diego menangis karena teriakan Evan tadi.
Evan merasa bersalah, dia pun mendekat pada Diego untuk menenangkannya. Dia bawa anaknya itu ke kamarnya untuk di tenangkan.
Ana pun mengejar Evan, dia merebut Diego dengan kasar dari gendongan Evan. Evan kaget dia pun diam.
"Aku malas berdebat terus sama kamu, lebih baik aku pergi!" kata Evan.
Dia berlalu meninggalkan Ana yang masih saja menatapnya tajam. Hatinya benar-benar kesal sekali, istrinya tidak pernah mengerti akan keinginannya.
_
_
_
😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤❤
__ADS_1