E L A N A

E L A N A
21. Maafkan Papa, El..


__ADS_3

Setelah menerima carik kertas itu, Evan pamit pada Sandra untuk menemui Elana anaknya. Rasa penasaran kenapa Elana tidak tinggal lagi dengan Sandra membuat hatinya cemas. Tapi mungkinkah dia sudah tinggal dengan Mourin?


Ah, ya. Mungkin saja Elana tinggal dengan Mourin. Tapi, apakah dia tega membawa Elana pergi dengannya, bagaimana dengan Mourin?


Evan melajukan mobilnya dengan cepat, agar bisa bertemu dengan Elana. Dan sampai di sebuah gang, mobil masuk. Mesku kecil gangnya, tapi mobil Evan bisa masuk. Matanya berkeliling mencari nomor alamat rumah yang tertulis di kertas.


Dan mobil Evan berhenti pada seorang ibu-ibu sedang berjalan dan bertanya padanya.


"Bu, maaf alamat rumah ini di mana ya?" tanya Evan.


Ibu itu melihat tulisan di kertas dan menunjuk sebuah rumah agak besar yang terlihat dari tempat mobil Evan berhenti.


"Terima kasih ya."


"Iya pak."


Mobil Evan maju sedikit lagi untuk sampai di rumah yang Elana tempati. Dia berhenti dan memperhatikan rumah itu, seperti tak asing bagi Evan. Dia pernah datang ke rumah itu saat masih menjadi suami Mourin dulu.


Terlihat sepi, Evan pun turun dari mobilnya dan masuk ke dalam pintu pagar yang tidak terkunci. Rumah itu seperti di bagi dua, satunya sepi dan satunya lagi terbuka pintunya.


Evan mendekat pada rumah yang terbuka pintunya. Dia ingin bertanya pada penghuni rumah itu.


"Permisi." ucap Evan di depan rumah ibu Mira.


Tak lama ibu Mira keluar dan melihat Evan dengaj heran.


"Bapak cari siapa ya?" tanya ibu Mira.


"Apa benar Elana tinggal di sebelahnya?" tanya Evan ragu.


"Iya benar, tapi anaknya sedang tidak ada di rumah. Bapak siapa ya? Ada apa mencari Elana?" tanya ibu Mira masih heran, siapa laki-laki gagah berusia empat puluh delapan itu.


"Saya Evan, ada perlu dengan Elana." jawab Evan.


"Bapak yang memberi beasiswa ke Elana ya?" tanya ibu Mira lagi.


Evan mengerutkan dahinya, dia pun tersenyum. Jadi anaknya mencari program beasiswa?


"Bukan bu, saya ini papanya Elana." jawab Evan pasti.


Ibu Mira diam terkejut, wajahnya berubah jadi mengeras. Ada rasa kesal ketika Evan mengaku sebagai papanya Elana. Kemana saja laki-laki tidak bertanggung jawab ini? pikir ibu Mira.


"Bu, apa mamanya Elana ada? Kok sepi rumahnya?" tanya Evan lagi.

__ADS_1


Ibu Mira menarik nafas kasar lalu mengajak Evan duduk di teras rumah. Dia akan menceritakan semua pada Evan tentang Elana dan ibunya.


"Ada apa ya bu? Kok ibu mengajak saya untuk duduk?"


"Bapak sedang menunggu Elana pulang kan?"


"Iya, tapi bisakah ibu panggilkan mamanya saja? Biar saya menemui mamanya saja dan bicara sama mamanya." kata Evan.


"Saya mengajak bapak duduk mau menceritakan tentang mamanya Elana dan juga kehidupan Elana. Bapak dengarkan saja sambil menunggu Elana pulang." kata ibu Mira.


Evan pun diam, memang tidak ada salahnya mendengarkan cerita dari ibu itu. Pikir Evan.


"Ceritakan apa yang terjadi selama ini dengan anakku." pinta Evan.


Lalu ibu Mira menceritakan awal mula dia mengontrak rumah sebelah Elana sampai ibunya bebas dari penjara. Awalnya mereka hidup bahagia antara Elana dan Mourin. Hingga tahun berganti kesehatan Mourin pun mulai memburuk dan akbirnya meninggal dua bulan lalu. Dan kini Elana tinggal seorang diri di rumah itu.


"Jadi mamanya Elana meninggal?" tanya Evan tidak percaya.


Dadanya begitu sesak mendengar cerita ibu Mira, dia tidak menyangka anaknya hidup sengsara dan sekarang hidup sebatang kara? Bagaimana dia hidup? Bagaimana dia menjalani hidup yang sejak kecil di kucilkan oleh teman sekolahnya sampai menjelang ujian dan kelulusan beasiswa pun tidak di dapatkan karena dia anak seorang narapidana.


"Hik hik hik, saya tidak tahu kalau anakku hidupnya sangat sulit dalam bergaul. Saya tidak menyangka Anakku akan mengalami hal seperti itu. Elana, maafkan papa, nak." ucap Evan menangis di depan ibu Mira.


Dia benar-benar menyesal, dia menyesal selama lima tahun tidak menjenguk Elana. Hanya waktu itu ketika masih tinggal dengan Sandra. Tapi kenyataannya Sandra juga berubah dan menjauhi Elana.


Elana masuk ke dalam kamarnya, dia lelah hari ini. Baju loundry sangat banyak hari ini. Untungnya bos Marta memyuruh semua karyawannya pulang karena sudah jam lima sore.


Elana ingin merebahkan tubuhnya sebentar, setelah itu dia akan mandi dan membuat makanan apa saja. Tadi pagi dia memasak nasi dan juga telor ceplok untuk sarapan, dan nasi dia bawa ke loundry. Tinggal lauknya saja yang beli di warung, setap hari seperti itu.


Tok tok tok


Suara pintu di ketuk dari luar.


"Nak El,ada tamu nih." teriak ibu Mira.


Elana pun bangkit dari rebahannya, siapa tamu yang ingin bertemu dengannya. Pikir Elana.


Lalu dia melangkah menuju pintu depan dan membuka daun pintunya. Elana tertegun, dia menatap laki-laki yang selama ini dia ingin temui Ada rasa rindu namun lebih tepatnya dia ingin bercerita banyak pada laki-laki itu.


Evan maju dan langsung memeluk Elana erat sambil terisak, dia tidak bisa menahan rasa terharu dan sedihnya pada Elana anaknya. Elana sendiri masih kaget dengan kedatangan Evan, lalu secara tidak sengaja air matanya luruh ke bawah dan terisak.


Dia benar-benar tidak percaya, rasa kesendirian di tinggal Mourin kini seperti menemukan tempat sandaran baru. Namun entah karena senang dan bahagia, tubuh Elana luruh merosot membuat Evan kaget dan menahan tubuh Elana yang jatuh.


"Sayang, maafkan papa. Maafkan papa, El. Hik hik hik." ucap Evan sambil terus menahan beban tubuh Elana yang mulai lemas karena pingsan.

__ADS_1


"El, bangun sanyang. Kamu pingsan?" tanya Evan melihat mata Elana terpejam rapat bibir terkatup.


"Elana pingsan pak, tolong di bawa ke dalam kamar saja. Mungkin Elana syok melihat papanya datang." kata bu Mira.


Tanpa pikir panjang, Evan membopong tubuh Elana dan di bawa masuk ke dalak kamar Elana. Di baringkannya tubuh mungil itu dengan hati-hati. Di rapikan anak rambut yang menutup wajahnya serta mengusap air mata yang membasahi pipinya. Evan duduk di pinggir ranjang Elana, ibu Mira memijit kaki Elana agar cepat sadar dan menempelkan minyak kayu putih di depan hidung Elana.


Tak lama, kepala Elana pun bergerak. Dia sadar dan membuka matanya pelan. Pupil matanya beradu dengan pupil mata Evan. Dia tersenyum, dan Evan pun membalas senyuman Elana. Senyuman Mourin yang cukup manis, ada rindu juga di senyuman itu.


Evan pun memegang tangan Elana, Elana bangun dan duduk bersandar.


"El sudah bangun, ibu pulang dulu ya. Silakan nak El ngobrol sama papa nak El." ucap ibu Mira.


"Terima kasih bu." jawab Elana.


Ibu Mira pun keluar, lalu Evan kembali memeluk Elana dengan erat.


"Papa kangen sama El, maafkan papa baru bisa mengunjungi El." kata Evan.


Lagi, Elana menangis tersedu, dia berucap tidak jelas tentang Mourin.


"Mama pergi pa, El di tinggal sendiri. Mama tega sama El, El hidup sendirian di sini. Hik hik hik."


"Jangan menangis, pap akan bawa El ke Rusia. El tidak akan sendirian lagi kalau sama papa di sana." ucap Evan.


Elana terdiam, dia melepas pelukan Evan dengaj tiba-tiba lalu menunduk.


"Ngga pa, El mau di sini aja." ucap Elana.


"El?"


"Papa punya keluarga, papa pasti sayang keluarga papa. El ngga mau jadi benalu lagi nantinya." kata Elana.


"El, siapa yang mengatakan El jadi benalu? El anak papa, papa berhak menjaga El, sayang." ucap Evan membujuk Elana agar mau pergi dengannya ke Rusia.


Elana menggeleng, dia masih belum bisa melupakan semua perlakuan Mince padanya, dan juga Sandra yang dulu menyuruhnya untuk tinggal ke rumah ini, itu benar-benar membuat Elana merasa takut hidup dengan orang lain.


Evan diam, dia harus membujuk Elana dengan pelan dan halus. Hati Elana sedang terluka, dia benar-benar mengalami banyak hal yang menyakitkan dari orang-orang sekitarnya.


_


_


_

__ADS_1


😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤


__ADS_2