
Elana diam, dia menatap Evan dengan rasa kesal. Bagaimana bisa papanya membentaknya seperti itu. Dulu dia yang mengusirnya, tapi sekarang malah menyuruhnya pulang ke rumah itu lagi.
"Jangan melawan orang tua, turuti apa katanya. Aku akan tetap menjagamu, Elana." kata Chiko di samping Elana.
"Tapi papa sudah mengusirku bang, bagaimana bisa dia mau menyuruhku kembali lagi ke rumah itu." kata Elana dengan kesal.
"Mungkin papamu menyesal, beliau ingin memperbaiki semuanya." kata Chiko lagi.
Dia tidak mau di cap sebagai laki-laki yang mempengaruhi Elana tidak baik. Selama ini papanya Elana menganggapnya tidak baik, maka dia akan tunjukkan itu padanya.
Elana menatap Chiko, ada rasa tidak rela Chiko berkata seperti itu. Namun dia berpikir lagi, lalu menatap Evan yang masih kesal padanya.
Akhirnya Elana duduk di kursi sebelah Evan, Chiko pun masuk ke dalam rumah. Dia memberi ruang antara anak dan ayah itu bicara baik-baik tanpa ada keributan, karena waktu sudah gelap gulita.
Evan menatap anaknya, tidak seperti tadi. Menentangnya dan sangat kesal melihatnya.
"Sayang, maafkan papa. Tapi papa mohon kamu pulang ke rumah ya?" tanya Evan mulai melembut suaranya.
"Pa, bukannya aku ngga mau menghargai papa mengajakku ke rumah. Tapi papa sendiri yang mengusir aku dari rumah itu tanpa melihat masalah yang sebenarnya. Papa selalu membuat keputusan sendiri, tanpa mendengarkan penjelasan aku." kata Elana.
"Iya, papa akan dengarkan kamu. Dan kamu juga jangan ladeni Angela, dia memang seperti itu." kata Evan yang menyadari kalau semua ulah Angela.
"Aku selalu berusaha menghindari perdebatan dengan Angela pa, tapi dia tidak akan pernah puas jika aku diam saja pa." kata Elana.
"Kamu harus lebih sabar ya, dan juga mama Ana. Maafkanlah dia juga." kata Evan.
Elana diam, dia tidak tahu harus berkata apa. Evan begitu memaksanya dan bahkan memohonnya. Dia bukan orang yang keras kepala, bahkan bukan orang yang suka pembangkang.
Sejak di bentuk oleh lingkungan berbeda dan sekelilingnya. Dia menjadi orang yang perasa sebenarnya, karena dia merasa mempunyai kekurangan dan aib. Namun sekarang dia bisa merubah itu, bahwa hidup tergantung dari siapa dia berteman.
Dan sekarang dia mulai menampakkan percaya dirinya karena dua orang kakak beradik yang menyayanginya dan memberinya harapan besar untuk hidup normal. Tidak menjadi gadis pendiam dan tertutup.
"Elana."
"Ya pa, apa boleh aku pikirkan lagi?"
"Kenapa harus berpikir lagi? Papa kesini sekalian menjemputmu sayang." kata Evan lagi.
"Aku harus berpamitan sama kedua temanku itu." kata Elana beralasan.
"Ya sudah, besok pagi papa kemari menjemputmu. Besok hari Minggu, sekalian kita bisa jalan-jalan sayang."
__ADS_1
"Dengan mama Ana juga?"
"Ya, tentu saja. Apa kamu keberatan?"
"Tidak, ya sudah. Besok papa bisa datang menjemputku di sini." kata Elana akhirnya.
Evan tersenyum, dia lalu memeluk Elana dengan erat.
"Papa sangat kangen sama kamu sayang." kata Evan.
Lalu Evan melepas pelukannya, dia berpamitan pada anaknya untuk segera pulang ke rumahnya. Karena dia takut nanti Ana terus menanyakannya.
Elana melambaikan tangannya pada Evan, lalu dia masuk ke dalam rumah Chiko. Di ruang tamu kedua kakak beradik sedang duduk dan menunggu Elana masuk.
"Bagiamana dengan papamu? Apa dia sudah pergi?" tanya Celine penasaran.
"Sudah, besok papaku kesini lagi." jawab Elana melirik pada Chiko.
Chiko hanya diam saja, dia tahu Elana sebenarnya berat harus kembali lagi ke rumah papanya. Namun Chiko hanya bisa mendukungnya, dia akan menjaga Elana dari jauh, meski pun nanti intensitas pertemuan hanya sebatas di kampus saja. Atau kadang dia harus ke rumah papanya Elana.
"Oh, jadi kamu akan ikut papamu?" tanya Celine yang melirik ke arah abangnya juga.
"Iya." jawab Elana singkat.
Dia juga sedih kalau Elana harus kembali ke rumah Evan.
"Emm, aku mau bicara sama bang Iko aja boleh?" tanya Elana pada Celine.
"Oh, tentu saja. Kalau aku ikut ngobrol dengan kalian pasti jadi nyamuk aja nantinya." kata Celine.
Elana tersenyum, lucu sekali Celine itu. Lalu Celine pun masuk ke dalam kamarnya, memberikan waktu bicara berdua antara Chiko daj Elana.
Elana pun duduk di sebelah Chiko yang sejak tadi hanya diam saja. Meski dia mendukung Elana untuk kembali ke rumah papanya, sebagai bakti anak pada orang tuanya. Namun hatinya sangat sedih, karena waktu kebersamaan mereka jadi berkurang nantinya.
"Bang, abang sedih?" tanya Elana.
"Tentu saja, tapi kamu harus nurut sama orang tuamu. Kamu masih milik papamu, jadi kamu harus menurut sama papamu." kata Chiko.
"Tapi nanti kita ngga sering ketemu bang, paling hanya di kampus aja." ucap Elana lirih.
Di tariknya tangan Elana dan di genggam dengan erat, lalu menciumnya lembut.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa, nanti aku akan datang ke rumahmu. Layaknya seorang pacar mengapel ke rumah pacarnya. Hehehe, ..." ucap Chiko.
Elana tersenyum, dia merasa lucu. Istilah pengapel itu hanya ada di Indonesia, tapi bukankah mereka berasal dari negara itu juga.
"Tapi nanti papa tidak mengizinkan kita bertemu bagaimana bang?" kata Elana lagi.
"Jangan berpikir terlalu jauh, aku tidak mau berpikir jelek. Kamu jalani saja di sana, jangan lupa dia papamu Jadi menurut saja ya, mudah-mudahan kita bisa bertemu selalu setiap hari. Abang juga keberatan, namun saat ini kamu masih milik papamu. Jadi abang tidak bisa mencegahmu kembali pada rumah papamu. Tapi jika terjadi sesuatu, hubungi abang ya? Abang ngga mau kamu kenapa-kenapa, Elana." kata Chiko.
"Iya bang, aku akan selalu menghubungi abang."
"Ya sudah, masuk kamar sana. Ini sudah malam, besok mulai kuliah lagi kan?" kata Chiko lagi.
"Iya bang, ya udah aku masuk dulu ya."
Elana pun beranjak dari duduknya dan hendak menuju kamarnya, Chiko ikut berdiri dan menatap kepergian Elana masuk ke dalam kamarnya.
"Elana." panggil Chiko.
Elana pun menoleh dan menatap Chiko, Chiko mendekat padanya.
"Kenapa bang?" tanya Elana.
Chiko mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Elana seklias lalu tersenyum manis.
"Sudah masuk sana, tidur yang nyenyak ya."
"Iya, abang juga."
Elana pun masuk ke dalam kamarnya, senyumnya tak pernah hilang seiring tadi Chiko mengecup bibirnya.
Chiko pun pergi ke kamarnya, hatinya tiba-tiba sedih karena besok Elana harus pergi dari rumah kontrakannya.
"Semoga kamu nyaman di rumah papamu, Elana. Aku sebenarnya berat, tapi aku juga tidak boleh egois. Karena Elana masih tanggung jawab papanya." gumam Chiko.
Dia menghela nafas panjang, di baringkannya tubuhnya yang leleah karena tadi siang berjalan-jalan mencari buku untuk materi kuliahnya dan juga Elana.
_
_
_
__ADS_1
😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤❤