E L A N A

E L A N A
81. Mencari Elana


__ADS_3

Mobil Chiko melaju dengan kecepatan sedang, hari masih siang ketika dia sudah berada di pertengahan perjalanan. Dia selalu melirik ke arah jam tangannya yang melingkar di pergelangan tangan.


Sudah pukul dua belas, dia merasa perih perutnya, lalu mobilnya dia pinggirkan ke sebuah warung makan di pinggir jalan. Rasanya sangat lapar dan juga haus.


Dari rumah Chiko tidak makan apa pun, dan tidak membawa bekal minuman. Karena sejak pagi pikirannya ingin sekali mencari Elana.


Rencananya dia akan menginap di rumahnya yang dulu pernah di berikan oleh papanya Rendi almarhum. Jika nanti belum ketemu, tinggal menelepon Anita untuk izin tidak pulang dan akan menginap di rumahnya itu.


Chiko turun dari mobilnya, lalu masuk ke dalam warung makan yang sederhana. Namun tempatnya lumayan bersih.


Dia duduk di bangku panjang dan memesan makanan sederhana, hanya ayam goreng dan sambel serta beberapa lalapan saja. Selera makannya belum kembali semenjak dia tidak pernah bertemu Elana sewaktu di Rusia. Tubuhnya juga lumayan berkurang bobotnya, tapi tidak terlihat.


Dia makan hanya untuk menahan rasa lapar saja, setelahnya dia tidak pernah makan apa pun. Hanya sesekali ada cemilan dia makan, namun tidak banyak.


"Ini mas pesanannya." kata pelayan pada Chiko.


"Iya mbak, terima kasih." ucap Chiko.


"Minumnya apa?"


"Es teh aja, sama jus apel boleh."


"Oke, di tunggu ya mas."


"Iya."


Chiko tidak langsung makan, dia menunggu minumannya datang dulu baru dia makan. Sembari menunggu minumannya datang, dia bermain ponselnya. Mencari berita update tentang dunia sekitar.


"Ini mas minumannya, es teh dan jus apel." kata pelayan.


"Ya, terima kasih mbak."


Setelah minuman datang, Chiko baru mulai makan makanan yang dia pesan. Dan beberapa suap saja, rasanya kenyang. Akhirnya dia sisakan makanan itu lalu meminum es tehnya.


Ada anak kecil mendekat padanya, menatap makanan yang tersisa banyak di piring Chiko dan ayamnya juga masih cukup besar.


"Om, boleh minta makanannya?" tanya anak kecil yang berpakaian dekil itu.


Chiko menoleh, dia menatap anak kecil itu dengan seksama.


"Kamu mau makan?"


"Iya om, dari pada ngga di makan lebih baik buat saya aja om." kata anak kecil itu.


Chiko diam, dia mengamati penampilan anak kecil berbaju dekil itu.


"Kakak pesankan saja ya, ini sisa kakak. Ngga bagus makan sisa orang." kata Chiko.

__ADS_1


Dia lalu melambaikan tangannya pada pelayan. Dan pelayan pun menghampiri.


"Iya mas, mau pesan apa lagi?"


"Tolong bikin dua bungkus makanan seperti punya saya lalu berikan pada anak kecil ini, sekalian minumannya juga." kata Chiko.


"Baik mas."


Pelayan itu pun pergi untuk membuat makanan di bungkus untuk anak kecil tersebut. Sepuluh menit menunggu, akhirnya pelayan datang membawa bungkusan makanan dan di berikan pada anak kecil itu.


"Terima kasih kakak." kata anak itu.


"Iya, jangan lagi makan makanan sisa ya." pesan Chiko.


"Kalau ada duit sih, saya tidak akan makan makanan sisa kak."


Setelah mengatakan itu, anak kecil berbaju dekil itu pergi dari hadapan Chiko. Dia menatap dengan penuh rasa iba, pikirannya heran di negara ini masih saja ada yang kelaparan dan kekurangan hanya untuk sesuap nasi saja.


_


Chiko melihat carik kertas di tangannya, meneliti sebuah tulisan alamat Elana. Mobil dia lambatkan mencari nomor alamat yang tertera di kertas.


"Ini kan alamatnya ya, tapi nomor rumahnya tidak ada ya?" gumam Chiko melihat beberapa rumah berjejer di pinggir jalan.


Chiko tidak tahu rumah Elana masuk sebuah gang yang hanya cukup masuk satu mobil saja. Akhirnya, Chiko berhenti di sebuah warung perempatan gang. Dia keluar dari mobilnya dan bertanya pada tukang warung.


Ibu tukang warung itu pun mengambil kertas kecil tersebut dan mengamatinya dengan lama, alisnya bertaut.


"Ini alamat siapa mas?" tanya ibu itu.


Chiko diam, dia bingung jika mengatakan alamat siapa.


"Kalau tahu namanya, mungkin saya bisa kasih tahu di mana tempatnya." kata ibu warung lagi.


"Itu alamat rumah Elana bu, Elana Patricia. Ibu kenal orangnya?" tanya Chiko.


"Ooh, neng Elana."


"Iya benar bu, ibu tahu rumahnya?" tanya Chiko dengan antusias.


"Rumah neng Elana sih masuk gang kedua mas, yang rumahnya itu di bagi dua berbentuk leter el. Nah, yang sebelahnya itu rumah kontrakan, sebelahnya lagi rumah neng Elana. Tapi sejak setahun yang lalu dia pergi entah kemana, katanya ikut papanya ke luar negeri." kata ibu warung itu.


Deg!


Jadi Elana belum kembali? pikir Chiko.


Lalu dia kemana? Bukankah dia pulang dua bulan lalu?

__ADS_1


"Mas, apanya neng Elana ya?" tanya ibu itu.


"Temannya, kalau begitu terima kasih bu. Nanti saya coba ke rumahnya, barangkali ada tetangganya tahu kemana Elananya." kata Chiko.


Ibu warung itu hanya mengangguk saja, Chiko pergi dari warung. Dia juga membeli air mineral untuk di mobil.


Masuk ke dalam mobil dan melajukannay menuju gang kedua sesuai arahan ibu penjaga warung tersebut. Hatinya gelisah, kemana Elana?


Mobil melaju pelan, seperti tadi dia meneliti setiap rumah yang dia lewati. Hingga di depan rumah berbentuk leter el, Chiko berhenti. Hatinya berdebar, meski di depan rumah itu terlihat sepi dan pintu tertutup. Rumah sebelahnya memang terlihat ada orangnya, Chiko pun turun. Memperhatikan rumah itu.


Mencocokkan nomor alamat rumah dan benar saja, itu alamat rumah yang tertera di kertas tersebut. Chiko terus mendekat, dia membuka pintu pagar bambu yang tidak rapat tertutup. Masuk lebih dalam dan berdiri di depan rumah Elana yang sepi.


Dia mengetuk pintu beberapa kali, namun tidak ada jawaban. Kemudian dia pun melangkah menuju rumah sebelahnya dan melihat dari luar ada laki-laki di dalam rumah.


"Permisi!" teriak Chiko di depan rumah itu.


Kemudian keluarlah seorang laki-laki menatao Chiko dengan heran. Meneliti penampilan Chiko dari atas sampai bawah.


"Cari siapa mas?" tanya laki-laki paruh baya tersebut.


"Emm, apa benar sebelah rumah itu rumahnya Elana Patricia?" tanya Chiko ragu.


"Iya, memang kenapa?" tanya laki-laki itu lagi.


"Oh, ya. Apa bapak tahu kemana Elananya?"


"Setahu bapak sih dia pergi ke luar negeri dengan bapaknya dulu. Sampai sekarang nak Elana belum pulang lagi, memang mas ini mau apa mencari nak Elana?" tanyanya lagi.


"Saya temannya pak. Oh ya, kalau bapak tahu Elana pulang ke rumah ini, bapak bisa kasih tahu saya?" kata Chiko.


"Waaah, kalau itu saya tidak tahu ya. Kan nak Elana pergi juga ngga tahu kapan pulangnya. Dia bilang sama istri saya juga tidak tahu kapan pulangnua." katanya.


Chiko diam, dia tiba-tiba saja merasa kecewa. Orang yang dia cari ternyata tidak ada di rumahnya, lalu kemana Elana berada?


"Jalau begitu, saya permisi pak. Terima kasih atas informasinya." ucao Chiko.


"Iya, mas."


Chiko lalu pamit pergi, langkahnya seperti berat sekali. Rasa kecewa di hati membuatnya sedih, kemana kekasihnya itu pergi?


_


_


_


😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2