E L A N A

E L A N A
78. Balasan Dimitri


__ADS_3

Evan pulang dengan membawa beberapa kardus barang miliknya, dia melangkah gonta. Beberapa karyawan menatapnya dengan tidak acuh, mereka bahkan mengucilkan orang yang telah berbuat curang di kantor.


Sanksi dari kantor memang jika ada karyawan yang berbuat salah atau menggelapkan uang perusahaan, tidak ada yang simpati padanya. Dia bahkan tidak membantu meski kesusahan membawa barang-barang yang akan di bawa pulang.


Seperti sekarang, Evan beberapa kali bolak-balik naik turun lift untuk di bawa ke mobilnya. Melelahkan, tapi itu kunsekuensi dari seorang yang curang di perusahaan.


Setelah selesai, Evan pun masuk ke dalam mobilnya. Dia diam sejenak lalu menatap kantornya yang berlantai lima belas itu. Dia tidak menyangka karirnya akan jatuh secepat itu, lalu rumah tangganya pun di ujung tanduk.


Entah harus bagaimana yang akan Evan lakukan, tiba-tiba dia ingat Elana. Dia dulu pernah mengusir Elana dari rumahnya, dan itu gara-gara Angela.


Kini nafas Evan seperti turun naik, dia marah pada Angela yang telah merusak rumah tangganya dan juga telah mengusir anaknya Elana.


"El, maafkan papa. Apa kamu baik-baik saja di sana?" gumam Evan.


Dia lalu melajukan mobilnya, memikirkan setelah dia meminta maaf pada Ana. Rencananya dia akan kembali ke Indonesia dan meminta maaf juga pada Elana. Dia akan hidup berdua saja dengan Elana di Indonesia, itu yang di pikirkan Evan saat ini.


Mobil Evan melaju kencang menuju rumah bibi Margareta, dia akan meminta maaf pada Ana. Dan bila perlu akan memohon dan bersujud, dia tahu Ana mencintainya. Pasti Ana akan memaafkannya, pikir Evan.


Setelah hampir satu jam, mobil Evan sampai di depan rumah bibi Margareta. Suasana sudah malam, karena Evan tadi berkeliling untuk menenangkan pikirannya yang buntu. Dan kini dia bisa mendapatkan ide jika nanti dia tidak di terima lagi oleh Ana, maka dia akan pulang ke Indonesia. Hidup dengan Elana dan meminta maaf padanya.


Tok tok tok


Evan mengetuk pintu rumah Margareta, lama pintu tidak di buka. Beberapa kali Evan mengetuk, dan akhirnya terbuka juga.


Terlihat bibi Margareta berdiri dengan wajah datar pada Evan. Evan tahu bibi Ana itu kesal padanya, tapi di bandingkan suaminya juga Dimitri bibi Margareta lebih lunak padanya.


"Ada apa kamu kemari?" tanya Margareta dingin.


"Aku mau menemui Ana dan meminta maaf padanya, bi." jawab Evan.


"Huh! Kamu mengakui kesalahanmu?" tanya Margareta sinis.


"Meskipun aku salah, tapi tidak sepenuhnya salahku bi. Keponakan bibi juga salah, dia yang membuat ulah dan sengaja ingin merusak rumah tanggaku." kata Evan.


"Seharusnya kamu berpikir tentang Ana, kenapa kamu tidak pergi saja dari rumahmu waktu itu? Bahkan kamu juga menikmatinya kan? Angepa bilang kamu juga mengancam agar jangan Ana tahu. Kenyataannya Ana tahu sendiri, dan kamu tidak bisa mengelak lagi." kata Margareta.


Evan diam, dia menunduk dalam. Merasa bersalah, meski membela diri kesalahan itu memang sangat fatal.


"Bi, aku mohon izinkan aku bertemu Ana. Sekali saja dan juga anakku." kata Evan memohon pada Margareta.


"Kamu yakin jika aku izinkan Ana akan memaafkanmu?" tanya Margareta.


"Setidaknya aku bisa menemuinya dan meminta maaf padanya, juga ingin bertemu dengan Diego." kata Evan lagi.


Margareta menghelan nafas kasar, dia lalu menyuruh Evan masuk dan bertemu dengan Ana. Ana sedang menonton tv di ruang tengah, pikirannya juga entah kemana.

__ADS_1


"Ana, sayang." ucap Evan pada Ana.


Ana menoleh, dia kaget kenapa Evan ada di rumah Margareta. Ana membuang wajahnya, dia benci dengan Evan.


"Sayang, maaflan aku. Aku benar-benar bersalah, maafkan aku Ana." kata Evan duduk di di samping Ana.


Ana bangkit dari duduknya, menghindari Evan yang mendekat padanya. Namun mulutnya masih terkunci.


"Sayang, maafkan aku." kata Evan lirih.


"Aku tidak mau bertemu denganmu lagi Evan. Nanti aku urus surat perceraian kita." kata Ana.


"Sayang, secepat itu kamu membuat keputusan?"


"Aku bahkan setelah melihatmu tidur di ranjang dengan Angela sudah memutuskannya Evan, jadi jangan kira keputusanku itu tidak bisa kamu hentikan." kata Ana dengan ketus.


Evan tidak bisa berkutik, dia diam seribu bahasa. Itu artinya sudah tidak ada maaf lagi baginya, jadi sia-sia saja dia mendatangi Ana dan meminta maaf.


"Kalau begitu, aku terima keputusanmu. Tapi aku ingin bertemu Diego untuk terakhir kalinya, setelah ini aku tidak akan mengganggumu lagi." kata Evan.


Ana diam saja, dia lalu menuju kamarnya dan Evan mengikutinya dari belakang. Ana mendorong pintu kamarnya, berdiri di sana menunggu Evan masuk dan menemui anaknya yang sedang tidur pulas.


Evan masuk dan menghampiri Diego yang sedang tidur di ranjang Ana. Dia duduk di tepi ranjang dan menatap anaknya yang tertidur pulas. Lalu Evan mencium Diego pelan dan lama, mengusap pipinya dan menciumnya lagi.


"Cukup Evan." teriak Ana pada suaminya.


Evan lalu mencium sekali lagi anaknya, kemudian dia melangkah keluar dari kamar Ana. Dan berhenti di depan Ana, menatapnya sedih dan penuh penyesalan.


"Maafkan Aku Ana." kata Evan.


Dia lalu pergi dari hadapan Ana yang sedikitpun tidak mau melihat ke arahnya. Evan keluar dari rumah Margareta, dia menarik nafas panjang. Berat rasanya harus pergi meninggalkan Ana dan Diego. Tapi apa boleh buat, dia harus pergi.


Sedangkan Margareta menatapnya datar saja, Evan menoleh padanya.


"Terima kasih bi, aku minta jaga Ana dan Diego. kata Evan.


"Tidak di suruh olehmu pun aku akan menjaga Ana dan Diego dengan baik. Kamu pergilah, sebelum sesuatu terjadi padamu." kata Margareta.


Dia tahu Dimitri akan melakukan sesuatu pada Evan, Margareta tidak bisa mencegah apa yang akan di lakukan oleh Dimitri pada Evan.


_


Mobil Evan melaju pelan menuju rumahnya, hari ini benar-benar dia lelah dan sangat kacau pikirannya. Di pecat dari perusahaan juga Ana akan menggugat cerai padanya.


"Sialaaan!"

__ADS_1


Teriak Evan, dia memukul stir mobilnya dengan keras dan nafasnya pun memburu tida beraturan karena kesal dengan nasibnya saat ini. Tiba-tiba ...


Ciiiiitt!


Evan menghentikan mobilnya secara mendadak, dia melihat sebuah motor menghadangnya dengan cepat dan hampir menabrakkannya. Dua motor lainnya pun menyusul, Evan kaget. Diapa mereka?


Kenapa mereka malah menghadang jalannya dan ketiga motor tersebut pun masih menghadangnya.


"Shiiit! Siapa mereka?" umpat Evan.


Bruk bruk!


Pintu mobil Evan di gebrak dari luar, dia melihat salah satunya menatap tajam. Dia tahu siapa dia, Dimitri.


Evan pun membuka pintu mobil dan keluar, dia juga membalas tatapan tajam dari Dimitri.


"Kenapa kamu menghadang jalanku, Dimitri?!" teriak Evan.


Tanpa menjawab pertanyaan Evan, Dimitri langsung memukul pipi Evan dan juga bagian punggungnya beberapa kali, Evan kaget dan terhuyung ke belakang. Dia memegangi pipinya yang kesakitan.


"Dimitri! Ada apa denganmu hah?!" teriak Evan.


"Kamu tahu apa maksudku memukulmu, Evan brengsek!"


Bug! bug!


"Dimitri, hentikan! Bicarakan baik-baik!" teriak Evan lagi.


"Aku tidak bisa bicara baik-baik, aku sudah lama ingin sekali menghajarmu Evan! Bug! bug!"


Kedua teman Dimitri tadi ikut juga memukuli Evan sampai babak belur dan tidak bisa berkutik, mereka memukuli Evan berkali-kali hingga Evan hampir tak sadarkan diri.


"Rasakan itu Evan brengsek! Laki-laki bejat yang memanfaatkan adikku dan juga menyakiti kakakku!" teriak Dimitri dengan sengit.


Dia meludah di wajah Evan, lalu mendengang sekali lagi kakinya keras. Kemudian dia pun pergi, meninggalkan Evan yang sudah terkapar tak berdaya di pinggir jalan yang sepi.


"Anna, maaaafkan aku. Ell a na, maaafkaan paapa aaah ...."


_


_


_


😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2