
Sandra mengarahkan Elana untuk membuat sketsa baju, karena Elana itu cepat belajar dan langsung bisa. Dia membuat beberapa rancangan baju remaja dan juga anak-anak. Beberapa bahan kain dia pilih yang sesuai dengan tren masa kini, tak lupa juga membuat kaos santai.
Sandra mengawasi dana menilai Elana sangat pintar membuat rancangan baju remaja. Dia juga menugaskan Elana membuat sketsa baju dewasa.
"Tante percaya kamu bisa kak, dan tante yakin kamu nanti bisa jadi desainer terkenal. Makanya tante suruh kakak El buat sketsa baju apa saja, kalau nanti ada pelanggan yang minta kakak bisa menanganinya." kata Sandra.
"Iya tante, ini juga buat tantangan untuk El sendiri. El ingin sukses seperti tante Sandra." kata Elana.
"Bagus, kakak punya semangat untuk maju. Tante senang mendengarnya, dan jangan mudah menyerah ya. Tante akan dukung kakak sampai kakak sukses." kata Sandra lagi.
"Iya tante, terima kasih atas bantuan dan dukungannya. Maaf kalau El selama ini terlalu apatis sama tante San." kata Elana.
"Ngga apa-apa, mungkin kakak seperti itu karena dulu tante yang memulai. Tapi sekarang jangan pikirkan masa lalu ya, dan jangan pikirkan papa juga. Biarkan dia hidup dengan keluarganya. Sekarang kakak harus bangkit sendiri dan berjuang sendiri untuk kemajuan kakak El."kata Sandra lagi.
Elana mengangguk, dia bertekad untuk menjadi perempuan suskes. Memang awalnya harus ada orang lain yang membantu, tapi selanjutnya dia akan berdiri sendiri.
_
Kini Elana terus belajar membuat sketsa baju, beberapa sketsa dia setorkan pada Sandra dan jika sudah bagus dan cocok. Maka langsung di buat sesuai sketsa yang di berikan Elana.
Elana semakin semakin semangat ketika sketsanya banyak sekali di terima oleh Sandra dan langsung di buatkan baju. Dia kini sudah mahir membuat rancangan baju.
Hari demi hari sampai satu bulan butik itu awalnya masih sepi, pertama buka memang baru beberapa dan pelanggan Sandra saja. Namun setelah beberapa minggu ada gadis remaja yang masuk ke dalam butiknya lalu melihat-lihat baju-baju yang di pajang di sana.
"Waah, ini bagus banget ya." kata gadis yang sedang melihat baju-baju menurutnya lucu dan menarik.
Elana mendekat, dia tersenyum melihat baju rancangannya ada yang menyukainya.
"Adek coba aja dulu di kamar pas, itu cocok lho untuk remaja seperti adek ini." kata Elana dengan ramah.
"Benar ya kak?"
"Iya, coba aja."
"Baiklah, sekarang aku coba dulu kak." kata gadis itu dengan riang.
__ADS_1
Elana tersenyum, dia pun kembali ke tempatnya, kembali membuat rancangan baju untuk stok di butik. Dan tak lama, gadis tadi kembali dan menunjukkan pada Elana.
"Kak, bagus ngga bajunya buat aku?" tanya gadis itu berharap Elana menilai bagus.
"Bagus, cantik lagi. Terlihat lebih ceria dan energik." kata Elana.
Dia seperti seorang pengamat fashion mengatakannya. Dan tentu saja gadis itu sangat senang. Dia lalu memutar badannya, memperlihatkan setiap detail baju pada Elana. Elana hanya tersenyum saja dan mengacungkan jempol padanya.
"Aku ambil dua deh kak, nanti aku ajak teman-teman aku kemari. Baju-bajunya bagus-bagus banget dan juga terjangkau harganya." kata gadis itu.
Elana senang, dia lalu memberi arahan pada baju yang cocok untuk gadis remaja itu. Dia memberikan beberapa masukan baju mana saja yang cocok dan bagus.
Setelah lama memilih baju, gadis itu pun akhirnya memilih tiga baju. Lalu dia membayar di kasir. Dengan senang hati, dia pun pergi dan berjanji akan mengajak teman-temannya datang ke butik Elana.
Elana sangat senang hari ini, meski ada saja setiap hari yang membeli baju rancangannya. Tapi hari ini dia merasa senang sekali karena ada gadis yang menyukai baju rancangannya.
Dia lalu masuk ke dalam ruangannya, membuat meneruskan beberapa sketsa yang belum selesai.
Tok tok tok
"Kenapa mbak Reni?" tanya Elana.
"Emm, biasa nak El. Waktunya makan siang." kata Reni pegawai Elana bagian merapikan baju-baju di butik. Di butik Elana mempekerjakan tiga pehawai, satu di kasir, satu di bagian merapikan baju-baju dan satunya laki-laki di belakang untuk mengepak baju-baju yang akan di pajang di butik.
Sedangkan rancangan baju Elana di buat di tempat butik Sandra. Setelah jadi, bisa di kirim ke butik Elana. Memang butik Elana tidak besar, hanya berukuran lima belas meter kali dua puluh meter saja. Memang seperti sebuah toko baju, tapi butik Elana lebih besar dari bangunan toko baju.
_
"Ma, beli baju dong." kata Cheril.
"Beli baju lagi, buat apa kak?" tanya Anita.
"Kan baju kakak udah pada kekecilan." kata Cheril lagi.
"Tapi kemarin kakak beli baju sama adek Karin. Kok beli lagi sih?"
__ADS_1
"Iih, mama. Kemarin teman aku beli baju di butik bagus-bagus banget ma. Kita mumpung ada di kota ini beli ke butik ya ma." kata Cheril lagi.
"Butik di mana? Di sini banyak toko baju dan butik."
"Ada ma, butiknya baru buka sebulan lalu katanya. Teman aku iseng masuk ke butik itu, eh dia beli baju tiga. Katanya bagus-bagus banget bajunya. Aku pengen beli baju di butik itu."
"Kak, nanti papa nyari lho. Bang Iko juga sekarang sedang pergi, jadi mama belum izin sama papa. Nanti papa cariin gimana?" tanya Anita.
Saat ini keluarga Anita sedang menginap di rumah Chiko. Karena memang rencananya setelah lulus kuliah rumah itu akan langsung di tempati katanya untuk sementara.
Anita merasa berat jika Chiko harus pindah ke rumah peninggalan Rendi itu, tapi sepertinya Chiko tidak bisa menyurutkan niatnya untuk menempati rumah itu.
Anita belum tahu maksud dari Chiko ingin pindah ke rumah papanya, keinginan Chiko mencari Elana tidak pernah padam. Dia juga sering ke rumah tinggal Elana dan mencari tahu keberadaan Elana.
Tapi sudah satu bulan, dia tidak juga menemui Elana. Saat ini Chiko sudah magang di kantor Arga dan kantornya itu dekat dengan kantor magang Chiko. Jadi kadang Chiko menginap di rumah itu.
Cheril, gadis yang sekarang sudah menginjak usia remaja. Usianya beranjak tiga belas tahun lebih, dan adiknya Karin berusia dua belas tahun.
Dia sudah mulai sering bermain dengan teman-temannya. Dan memang kebetulan pinggir kota itu tidak jauh dari tempat tinggal Anita dan Arga.
"Ma, boleh ya beli baju lagi. Aku penasaran tempatnya, katanya bagus-bagus banget." kata Cheril merayu Anita.
"Ya sudah, nanti mama telepon papa dulu. Kalau kak Cheril minta di belikan baju lagi." kata Anita akhirnya mengalah.
"Asyiiik." teriak Cheril.
"Ma, Karin juga dong. Masa kak Cheril aja sih yang beli baju." Karin merajuk juga.
Anita pun menghela nafas panjang, sudah pasti Karin akan iri pada kakaknya itu di belikan baju.
_
_
_
__ADS_1
😊😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤❤❤