
Persiapan Chiko dan Antonio berangkat ke Rusia sudah rapi. Sebelumnya, Elana sudah kembali ke kota untuk mengurus lagi butiknya karena selama tiga hari dia tinggalkan. Setelah mengantar Elana kembali, Chiko balik lagi ke rumah Anita.
Karena dia akan di antar Angga, Arga tidak bisa mengantarnya ke bandara karena ada klien yang membutuhkannya di kantor firma hukumnya.
"Bang, jam berapa berangkat ke bandara?" tanya Anita.
"Jam sebelas ma." jawab Chiko merapikan tas ranselnya.
"Pesawat berangkat jam berapa?" tanya Anita lagi.
"Sore sih ma, tapi abang mau beli buku dulu sebelum ke bandara. Jadi punya waktu untuk mencari buku di sana." jawab Chiko lagi.
"Papa ngga bisa antar, paling nanti Angga dan Celine yang antar kamu. Tapi katanya Chila juga pengen ikut." kata Anita.
Chiko mengerutkan dahinya, kakaknya ingin ikut mengantar? Tidak biasanya, pikir Chiko.
"Tumben kak Chila mau ikut, biasanya dia ngga mau." kata Chiko.
"Ya memang kenapa, kan besok kakakmu juga harus berangkat laginke Jogja. Sudah jangan curiga terus, kamu tuh curiga terus bawaannya sama kakakmu. Tidak baik bang." kata Anita.
Chiko menghela nafas panjang, memang dia akhir-akhir ini selalu curiga dengan kakaknya dan Antonio. Apakah mereka punya hubungan? Anita lalu keluar dari kamar anaknya, di depan Chila, Celine dan kedua anaknya lagi Cheril dan Karin sedang bercanda dengan Antonio.
Belajar mengucapkan kata-kata dan bahasa Rusia juga bahasa Inggris. Terlihat menyenangkan bagi Anita melihat pemandangan itu, dia melihat Antonio sangat akrab sekali dengan Karin dan Cheril. Apa lagi dengan Celine, tentu saja akrab. Karena di Rusia Celine juga mengenal Antonio.
Tapi Anita melihat Chila berbeda, ada wajah ceria ketika dia dekat dengan Antonio. Selalu tertawa dan sorot mata Chila selalu mengarah pada Antonio. Insting seorang ibu itu kuat, anak sulungnya sepertinya menyukai Antonio. Terlihat dari sorot pandangannya dan juga gerak tubuhnya berbeda menanggapi Antonio.
"Ma, sedang apa?" tanya Chiko tiba-tiba berdiri dekat Anita.
"Eh, bang. Kok tahu-tahu ada di samping mama. Kaget mama lho." kata Anita.
"Ish, mama. Segitu aja kaget. Mama lihat apa?" tanya Chiko.
"Itu, lihat mereka yang sedang bercanda. Mama senang lihatnya." kata Anita.
Chiko memperhatikan Antonio dan Chila. Keduanya sering sekali melirik dan tersenyum pada masing-masing meski ada ketiga adiknya di sana. Namun keduanya seolah tidak menganggap ada pada adiknya.
Kecurigaan Chiko mulai tinggi, dia memang Antonio dan Chila ada sesuatu di antara mereka. Chiko lalu mendekat, dia ingin bertanya langsung pada Antonio. Sebelum mereka berangkat ke Rusia.
__ADS_1
"Bang, mau kemana?" tanya Anita.
"Ke depan ma, bergabung dengan mereka." jawab Chiko.
Dia berjalan cepat, matanya masih menatap tajam pada Antonio. Lalu dia berdiri di depan, membuat semuanya kaget dengan datangnya Chiko di sana.
"Bang, udah selesai?" tanya Celine berbasa basi.
"Cheril sama Karin ke belakang dulu ya. Abang mau bicara sama kak Chila dan Antonio, kamu juga dek." kata Chiko pada Celine.
"Memang abang mau bicara apa?" tanya Celine, dia takut juga Chiko sepertinya mencium sesuatu.
"Bukan urusanmu dek, cepat ke belakang. Ajak Cheril dan Karin ke belakang." kata Chiko lagi dengan tegas.
Mau tidak mau Celine pun menurut, dia menatap kakaknya Chila dan seperti memberi isyarat untuk tetap tenang. Dia mengajak Cheril dan Karin masuk ke dalam, meski dia penasaran ada apa Chiko seperti itu.
Setelah Celine dan kedua adiknya pergi, Chiko duduk di antara keduanya. Dia menatap Chila dan Antonio secara bergantian. Berbeda dengan Chila yang ketakutna, namun dia berusaha tenang. Antonio justru bersikap santai, jika Chiki bertanya. Maka dia akan menjawabnya dengan jujur.
"Apa apa, Chiko?" tanya Antonio dengan bahasa Inggris agar Chila mengerti.
"Aku ingin tanya sama kamu." jawab Chiko dengan bahasa Rusia.
Chiko mendengus kesal, dia menatap tajam juga pada kakaknya yang masih diam membisu.
"Apa kalian pacaran?" tanya Chiko langsung pada intinya.
"Ya." jawab Antonio dengan tegas, karena memang seharusnya dia memberitahu Chiko secepatnya.
Chila kaget dengan ucapan jujur Antonio, dia malah menunduk takut. Tapi Antonio malah memberi isyarat agar Chila jangan takut.
"Sejak kapan kalian pacaran?" tanya Chiko lagi dengan penuh selidik.
"Sejak kemarin di pantai." jawab Antonio lagi dengan tenang.
"Kamu tahu apa yang jadi ketakutanku? Kamu mencintai kakakku dan itu aku tidak terima. Aku tidak suka kamu menyukai kakakku, karena aku tahu kamu seperti apa Antonio." kata Chiko meninggi suaranya.
"Chiko, aku mencintai kakakmu sepenuhnya. Dia gadis yang memikatku tidak seperti gadis lain."
__ADS_1
"Bulshiit! Kamu hanya akan mempermainkan kakakku saja Antonio. Dan dua jam lagi kamu akan berangkat ke Rusia, saat itu juga pasti kamu akan melupakan kakakku, kamu tahu kalau kakakku itu sangat berharga. Tidak boleh ada yang menyakitinya termasuk kamu Antonio!" kata Chiko semakin berapi-api karena kesal mereka ternyata sudah jadian tanpa sepengetahuannya.
"Dek, jangan berteriak. Kakak sudah besar, tidak bisa di atur olehmu masalah cinta." kata Chila pada akhirnya.
"Kak Chila tahu kan, kalau Antonio itu playboy? Aku sudah mengatakannya kalau dia itu suka mempermainkan perempuan. Apa kakak mau di permainkan olehnya?"
"Aku tahu, tapi penilaianmu mungkin saja salah. Dia juga baik kan katamu?" tanya Chila kesal.
"Kakak tidak tahu dia seperti apa di sana. Aku yang tahu kak, dia itu suka mempermainkan perempuan. Dan aku tidak mau kakak di permiankan olehnya." kata Chiko lagi.
"Dek, dengarkan kakak. Kakak tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Kakak hanya mencoba mencintai orang yang juga mencintai kakak, jika itu resikonya dia seperti itu. Maka kamu yang harus mencegahnya, dia juga pasti sadar dengan perbuatannya jika dia lakukan lagi selama dia jadi pacar kakak." kata Chila kini berbalik meminta Chiko untuk mengawasi Antonio.
Chiko diam, dia menatap Antonio yang juga khawatir akan Chiko dan Chila terus bertengkar karena dirinya.
"Chiko, jangan memarahi kakakmu." kata Antonio.
"Dia kakakku!"
"Dan dia juga kekasihku!"
Antonio tidak mau kalah, dia kesal kenapa Chiko malah memarahi kakaknya karena dirinya. Chiko menatap tajam pada Chiko, tidak bisa Chila di bentak tadi olehnya.
"Chiko, kamu dengarkan aku. Percaya sama aku, kalau aku sangat mencintai kakakmu. Maaf kalau soal aku seorang playboy. Tapi kamu tahu kan, bukan aku yang memulai. Tapi mereka yang terus memintaku." kata Antonio.
"Tapi kamu mau kan? Munafik."
Pertengkaran ketiga orang tersebut membuat Anita dan Celine khawatir, mereka kini mendekat. Awalnya Celine tidak berani mendekat, tapi Anita juga mendekat Celine pun ikut mendekat.
"Bang, ada apa ini?" tanya Anita pada Chiko heran.
Chiko diam, dia mendengus kesal pada Antonio. Chila pun menunduk, dia menarik nafas panjang. Tidak seharusnya ada pertengkaran di rumahnya karena gara-gara dia. Tapi dia juga tidak bisa mengabaikan perasaannya sendiri. Ini hidupnya, pikirnya.
"Selamat siang semuanya?"
_.
_
__ADS_1
_
😊😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤❤❤