E L A N A

E L A N A
89. Sebuah Janji


__ADS_3

Elana berdiri dengan tangan mengepal, matanya berkaca-kaca. Hatinya bergemuruh, sesak sekali rasanya dadanya melihat Chiko berdiri di depannya hanya berjarak dua meter saja. Dia ingin mendekat dan memeluk kekasihnya itu, tapi hatinya menahannya.


Sedangkan Chiko juga merasakan hal yang sama, antara senang dan bahagia dia rasakan di dada. Membuat dirinya tidak bisa maju ke depan, namun demikian dia akhirnya maju perlahan dengan senyum mengembang.


"Elana, abang rindu kamu." ucap Chiko lirih dan semakin mendekat pada Elana.


Tapi Elana malah berbalik, dia ingin menjauh. Namun, Chiko dengan cepat menarik tangan Elana hingga Elana terjerembab dan jatuh di pelukan Chiko. Chiko menangkapnya dan memeluknya erat, erat sekali. Membuat Elana tidak bisa berkutik.


"Jangan pergi, aku mohon. Aku sangat rindu sama kamu, kamu pulang tanpa memberi kabar padaku Elana, jangan pergi sayang." kata Chiko dengan lembut.


Elana berusaha melepas pelukan Chiko, tapi Chiko malah mendekap lebih erat dan mengatakan terus jangan pergi lagi.


"Bang, sesak nafasku." kata Elana akhirnya dia menyerah.


Dia senang juga Chiko bisa menemukannya, tapi satu yang membuat dia penasaran. Kenapa pesannya pada Celine tidak di balas saat itu?


Chiko lalu melepas pelukannya, dia ingin mencium Elana. Namun mereka berada di luar dan akhirnya hanya bisa menatap Elana dengan lembut dan mengelus pipi Elana.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Chiko.


"Aku baik bang, abang sendiri bagaimana?" tanya Elana.


"Aku tidak baik, saat aku tidak bisa menghubungimu rasanya aku kalang kabut dan gelisah. Ku pikir kamu marah karena tidak aku jawab teleponmu. Celine juga menghubungimu tapi tidak aktif." kata Chiko menjelaskan waktu itu.


Elana pun mengajak masuk ke dalam butiknya, dia juga sangat tersiksa ketika tidak bisa menghubungi Chiko karena ponselnya di sita saat itu.


"Ini butik kamu?" tanya Chiko dengan pandangan seluruh penjuru butik.


"Bukan, ini punya tanteku. Dia menyuruhku untuk menjaga butik ini dan memberiku kesempatan untuk membuat rancangan baju." jawab Elana.


Kini keduanya pun sudah berada di dalam ruang yang biasa untuk Elana membuat rancangaj baju. Banyak sekali kertas di atas meja Elana dan di sudutnya da kursi sofa dan juga beberapa manekin serta kain untuk sampel.


"Elana, apa kamu senang dengan semua ini?" tanya Chiko.


"Aku senang bang, aku bisa menuangkan inspirasiku pada baju buatanku." jawab Chiko.


Chiko kembali menatap Elana, rasa rindunya pada Elana benar-benar masih melekat di hatinya.


"Elana, kamu ingat janjiku waktu itu?" tanya Chiko menatap Elana.


"Janji apa bang?" Elana malah bertanya balik, membuat Chiko sedikit kecewa.

__ADS_1


Elana tahu dan selalu ingat janji Chiko waktu itu, namun dia ingin tahu apakah Chiko serius dengan ucapannya dulu.


"Ternyata kamu lupa." ucap Chiko lirih.


"Aku ingat bang, bahkan aku sendiri berharap abang menepati janjimu itu. Aku ini siapa? Bahkan mama saja ngga punya, lalu papa? Dia bahkan mengusirku. Aku harus berdiri sendiri di atas kakiku, agar aku bisa bangga dengan diriku sendiri bang. Tanpa bantuan orang lain, dan tanpa dukungan kedua orang tuaku. Hanya tanteku saat ini yang bisa dan memberiku semangat." kata Elana.


"Lalu aku? Apa aku sudah tidak berarti lagi? Apa aku sudah tidak ada di hatimu?" tanya Chiko menatap tajam pada Elana.


Berharap menemukan di matanya kalau dirinya masih berharga di hidupnya. Elana menatap balik kekasihnya itu, namun dia alihkan. Karena rasanya dia tidak kuasa untuk terus menatap mata Chiko yang penuh dengan perasaan cinta untuknya.


"Elana, tatap aku!"


"Bang ..."


"Elana?"


Chiko berdiri, dia masih menatap Elana tanpa mengalihkan sedetikpun. Elana masih merasa kaku, dia hanya khawatir jika nanti berharap akan kecewa lagi. Seperti dulu dia berharap Chiko bisa menemukannya dan tetap bersamanya.


Chiko mendekat, dia berdiri di depan Elana. Sedangkan Elana masih duduk dan masih membuang muka, dia takut luluh. Tapi Chiko malah menarik pundaknya agar Elana berdiri menghadapnya


Dia ingin tahu, apakah Elana masih mengharapkannya, atau memang dia tidak butuh dirinya lagi. Mau tidak mau Elana pun berdiri, menatap Chiko sebentar lalu menunduk. Di angkatnya dagu Elana, lalu bibir Chiko menyentuh bibir Elana dengan lembut.


Diam, beberapa detik keduanya masih diam. Dan Chiko mulai mengulum bibir yang sangat dia rindukan, kekasihnya itu benar-benar dia rindukan. Elana membalasnya, mereka pun saling mengecap dan sama-sama saling merasakan salivanya.


"Aku rindu kamu Elana, sangat. Enam bulan lagi aku lulus kuliah, setelah lulus aku akan menepati janjiku untuk menikahimu sayang. Aku janji akan segera menikahimu." kata Chiko yang kini sudah kembali memeluk Elana erat.


Elana diam, lalu dia pu membalas pelukan Chiko yang memang sangat dia rindukan.


"Abang janji dengan ucapan abang itu?" tanya Elana.


"Janji, apa pun yang terjadi abang akan menikahimu. Abang selalu ingin bersamamu, Elana. Abang tidak mau berpisah lagi denganmu." kata Chiko.


"Aku tunggu janjimu bang." kata Elana.


"Tunggulah aku, sayang."


Keduanya masih berpelukan, Chiko membelai kepala Elana dengan penuh kasih sayang dan cinta. Dia benar-benar bahagia bisa menemukan Elana lagi. Sedang asyik berpelukan, suara kruyuk-kruyuk perut Chiko membuat Elana mengerutkan dahinya.


Dia melepas pelukannya dan menatap Chiko, Chiko tersenyum malu. Karena perutnya berbunyi membuat Elana heran dan tertawa kecil.


"Abang belum makan?" tanya Elana.

__ADS_1


"Belum, bangun tidur aku langsung mandi dan langsung ke sini. Aku ngga sempat sarapan karena ingin cepat bertemu denganmu." jawab Chiko.


"Aku bawa bekal bang, makan bekalku ya." kata Elana.


"Nanti kamu makannya gimana?"


"Aku udah sarapan, ini bekal untuk makan siang hari. Makanlah bang, kasihan cacing-cacing di perutmu minta makan." kata Elana mengeluarkan kotak makannya.


Dia buka kotak makan itu, sengaja dia buat seperti nasi bento. Ada ikan gurame goreng, sayur brokoli dan juga tumis jagung wortel. Dan Chiko tergugah selera makannya, meski bekal makanan seperti anak-anak. Tapi Chiko merasa itu sangat menggiurkan.


"Aku makan ya?"


"Hem, makan sampai habis ya."


Chiko tersenyum, dia lalu memakan bekal Elana dengan lahap. Elana pun mengambil gelas dan di isi air mineral dari dispenser yang ada di ruangan itu.


"Oh ya bang, kemarin aku ketemu perempuan yang mirip banget sama kamu." kata Elana.


"Ya, dia kak Chila. Kembaranku, kamu kenalan dengannya?" tanya Chiko.


"Ngga sih bang, biasanya aku selalu menyapa pengunjung baru yang datang ke butikku. Dia aku arahkan agar membeli baju di butikku, itu salah satu trik untuk menarik pelanggan. Jadi dia itu kakak kembarmu?"


"Ya, cantik kan dia?"


"Ya, dia cantik. Sama dengan adik kembarnya, heheh."


"Aku cantik? Jadi selama ini aku cantik di matamu?" tanya Chiko sengaja meninggi untuk mencandai kelasihnya.


"Ya ngga cantik bang, masa laki-laki cantik. Kamu itu ..., ganteng. Ganteng banget, hihihi ..." kata Elana dengan malu-malu mengakui Chiko ganteng.


Chiko tersenyum senang, lalu dia mencium pipi Elana dengan cepat.


"Kamu juga manis, aku suka kamu jika sedang tersenyum. Apa lagi tertawa, kecantikan bidadari kalah sama kemanisanmu Elana."


"Bang Iko gombal!"


"Hahaha!!"


_


_

__ADS_1


_


😊😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤❤❤


__ADS_2