E L A N A

E L A N A
64. Angela Berulah Lagi


__ADS_3

Elana bersiap pergi ke kampus, dia di jemput oleh Chiko di dapan rumah Evan. Elana senang, ternyata Chiko menjemputnya, setelah kemarin dia tidak membicarakannya dengan Chiko bahwa akan di jemput.


Elana berjalan cepat untuk segera keluar agar Chiko tidak menunggunya lama.


"Kamu ngga sarapan dulu sayang?" tanya Evan yang kebetulan berpapasan dengan Elana.


"Ngga pa, teman aku menunggu di depan." jawab Elana.


"Teman? Kamu di jemput oleh dia?" tanya Evan heran.


"Ya, bang Iko temanku. Kenapa pa?" tanya Elana.


"Ngga apa-apa sayang, ya sudah papa mau sarapan dulu. Kamu jangan lupa sarapan di kampus." kata Evan mengingatkan.


"Iya pa, El berangkat dulu pa."


"Hati-hati, bilang sama temanmu jangan ngebut." kata Evan lagi.


"Ya pa."


Elana berlari keluar rumah. Evan sebenarnya ingin mengantarnya ke kampus, dulu dia jarang sekali mengantar Elana pergi ke kampus. Alasannya selalu saja buru-buru.


"Dia mungkin pacarnya." gumam Evan.


Kemudian Evan menuju ruang makan untuk sarapan. Sedangkan Angela sudah ada di depan meja makan, menunggu kakak iparnya duduk dan sarapan bersama.


"Apa anakmu tidak ikut sarapan?" tanya Ana.


"Tidak, dia di jemput temannya." jawab Evan mengambil roti lalu di olesi selai.


Kali ini dia ingin sarapan roti selai kacang, tidak seperti biasanya makanak Rusia jika sarapan.


"Kamu hanya makan roti saja?"


"Ngga apa-apa, ini juga kenyang kok."


"Terserah kamu saja."


"Apa Elana punya pacar?" tanya Angela pada Evan.


"Aku tidak tahu, tapi sepertinya iya."


"Hem, mungkin juga itu pacarnya. Apa kak Evan tidak menjaganya dengan ketat? Karena laki-laki jaman sekarang lebih brutal, bisa jadi jika dia selesai apa yang di inginkan akan di tinggalkan. Bahkan akan di campakkan begitu saja." kata Angela memprovokasi Evan.


"Dia orang Indonesia juga, jadi aku ragu laki-laki itu akan melakukan hal tidak baik pada Elana." kata Evan membantah anggapan Angela pada teman laki-laki anaknya.


Meski dia juga takut, tapi dia mencoba memberi kepercayaan pada anaknya itu tentang memilih teman atau pacar.


"Ya, mungkin sama dengan satu negara. Tapi laki-laki brengsek tidak mengenal dari mana asal negaranya, sekali pun itu satu negara." kata Angela lagi.

__ADS_1


Evan diam, dia membenarkan apa yang di katakan adik iparnya itu. Namun dia mencoba memberi kepercayaan pada anaknya Elana berhubungan dengan temannya.


Evan tidak tahu, teman Elana hanya Amanda di kampus. Jika Celine dan Chiko jadi temannya, maka hanya ada tiga orang teman akrab Elana. Dan Evan tidak tahu itu.


"Sudahlah Angela, kakakmu itu tidak percaya jika belum melihatnya langsung." kata Ana pada Angela.


Angela diam saja, dia berpikir bagaimana membuat Evan bisa membenci anaknya lagi. Dia tidak suka pada Elana, tapi dalam hatinya Angela menyukai kakak iparnya itu.


_


Elana sedang belajar di kamarnya, dia belajar sambil memasangkan headsetnya untuk mendengarkan lagu-lagu yang dia sukai. Dia tidak tahu kalau Angela masuk dan berdiri di belakangnya.


Di tariknya headset di telinga Elana, membuat Elana kaget. Lalu dia menoleh ke arah Angela, dan menatapnya heran.


"Ada apa Angela?" tanya Elana.


"Kamu sedang belajar sambil mendengarkan musik? Apa bisa masuk ke otakmu?" tanya Angela sinis.


"Itu urusanku, bukan urusanmu. Masuk tidak materi yang aku baca, juga bukan urusanmu." kata Elana.


"Oh ya? Wah, kamu sombong sekali ya. Oke tidak masalah, emm kamu tahu papamu itu sangat mencintai kakakku?" tanya Angela lagi.


"Wajar saja, karena kakakmu istri papaku." jawab Elana.


"Ya, wajar. Dan kamu tahu kakakku tidak suka padamu?" tanya Angela lagi.


"Itu juga terserah kakakmu, maj suka padaku atau tidak." jawab Elana semakin ketus.


"Kamu tahu, sepertinya papamu mulai goyah."


"Dengar ya Angela, apa yang kamu katakan itu aku tidak peduli dan tidak mau ambil pusing. Sebaiknya kamu keluar dari kamarku." kata Elana masih sabar dengan gangguan Angela.


"Baiklah, ku kira tidak baik mengganggu orang yang sedang belajar." kata Angela sambil berlalu meninggalkan Elana.


Elana hanya mencibir, dia akhirnya lega juga Angela tidak mengganggunya lagi. Lalu Elana meneruskan belajarnya, dia mempelajari beberapa bahan kain untuk membuat pakaian dan juga jenis kainnya.


Elana tetap fokus belajar di kamarnya, Evan masuk ingin melihat anaknya yang sedang fokus belajar.


"Halo sayang, kamu sedang belajar?" tanya Evan dengan senyumnya.


"Iya pa. Tumben papa melihat El belajar?" tanya Elana.


"Hmm, apa papa ngga boleh lihat kamu belajar?" tanya Evan.


Pandangannya mulai beredar, dia memperhatikan meja belajar Elana. Dia pun mendekat, dan betapa kagetnya Evan. Dia melihat sebuah botol minuman beralkohor tergeletak di meja, sedangkan Elana posisinya sekarang ada di ranjang.


"Sayang, ini apa?" tanya Evan pada anaknya.


"Apa itu pa? El ngga tahu." jawab Elana santai.

__ADS_1


"Kamu bawa minuman beralkohol Elana, kamu minum-minuman keras?" tanya Evan dengan nada tinggi.


Elana memperhatikan botol di minuman yang berada di meja belajarnya. Dia memicingkan matanya, heran kenapa ada botol minuman di meja belajarnya.


"Aku ngga bawa botol dan ngga minum pa, buat apa aku minum minuman itu?" tanya Elana.


"Tapi buktinya botol minuman itu ada di meja belajar kamu Elana." kata Evan lagi.


Dia marah pada anaknya itu, bisa-bisanya Elana membawa masuk minuman yang biasa ada di bar-bar itu.


"Mungkin punya Angela, dia tadi masuk ke kamarku pa. Dan aku tidak memperhatikan dia menaruh botol itu di mejaku." kata Elana, membela dirinya.


Evan masih kesal, dia pun mengambil botol itu dan membawanya keluar. Bertanya pada Angela apakah benar botol itu milik Angela.


"Ini punyamu?" tanya Evan.


"Botol apa itu kak?" tanya Angela pura-pura tidak tahu.


"Kamu yang tahu ini botol apa." kata Evan.


"Aku tidak tahu itu apa, apa punya Elana?"


"Elana ngga mungkin memiliki botol ini, dia tidak mungkin punya botol ini. Kata Elana kamu tadi masuk ke kamarnya, mungkin kamu meninggalkan botol ini."


"Tapi aku tidak tahu itu botol apa, dan punya siapa. Kenapa kakak menuduhku? Kalau itu ada di kamar Elana, berarti milik Elana. Aku masuk ke kamarnya botol itu sudah ada di meja dan terbuka, dia pasti habis minum isi botol itu." kata Angela meyakinkan Evan kalau botol itu milik Elana.


Evan diam, dia bingung. Dia kesa, siapa yang di percaya ucapannya. Jelas botol minuman itu ada di meja Elana, Angela masuk katanya sudah ada botol itu. Tapi Elana mengelak itu miliknya, Evan yakin anaknya tidak melakukan itu apa lagi di rumahnya.


"Kakak ragu Elana punya barang itu? Mungkin dulu dia tidak melakukannya, tapi sejak dia keluar dari rumah ini dulu bisa jadi dia berani melakukannya karena pengaruh teman laki-lakinya." kata Angela.


Dan, kini Evana semakin kesal. Ada benarnya juga ucapan Angela, bisa jadi itu milik Elana. Dia semakin berani setelah berteman dengan laki-laki itu, pikirnya.


Dia lalu masuk lagi ke dalam kamar anaknya, wajah kesalnya masih tampak jelas.


"Kata Angela ini bukan miliknya, jadi benar ini milik kamu?" tanya Evan dingin.


"Apa papa percaya ucapan Angela di banding anak papa sendiri?" tanya Elana tidak percaya.


"Papa tadinya tidak percaya, tapi bisa saja kamu semakin berani setelah keluar dari rumah ini dan berteman dengan laki-laki itu." kata Evan lagi.


Elana diam, dia tidak habis pikir kenapa papanya seperti itu.


"Sudahlah, kali ini papa maafkan. Lain kali kalau papa lihat kamu membawa minuman seperti ini, papa tidak akan memaafkanmu Elana."


Setelah mengatakan itu, Evan pun keluar sambil membaea botol minuman itu. Sedangkan Elana masih diam dengan apa yang di katakan oleh Evan.


_


_

__ADS_1


_


😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤


__ADS_2