
Elana sudah bersiap untuk pergi dengan Evan, kemarin dia berpamitan pada Riri dan bos Marta. Dan hari ini dia berpamitan pada ibu Mira sekaligus menitipakan rumahnya pada ibu Mira.
"Jadi nak El mau ikut papa nak El?" tanya ibu Mira.
"Iya bu, saya mencoba sesuatu yang baru di sana. Lagi pula saya ingin kuliah juga." jawab Elana.
"Ya nak El, ibu doakan nak El di sana bahagia ya hidup dengan papanya. Dan juga istri papanya juga menerima nak El dengan baik." kata ibu Mira lagi.
"Iya bu, terima kasih. Oh ya, rumahnya silakan di tempati aja bu. Ibu ngga usah bayar kontrakan lagi selaka saya tinggal di Rusia, juga rumah saya tolong juga di jaga." kata Elana.
"Iya, tenang aja nak El. Ibu akan menjaga rumah nak El, dan terima kasih dengan keringanannya ibu ngga bayar kontrakan. Dan nak El, berbahagialah di sana. Ibu merasa terharu dan sedih nak Elana mau pergi, hik hik hik."
"Sudaj bu, ngga apa-apa."
Mobil Evan pun sudah datang, dia turun dari mobilnya. Elana membawa koper bajunya serta tas berisi surat-surat serta ijasah dan juga uang beasiswa uang ada di rekeningnya dari perushaan besar yang pernah di dapat oleh ibunya.
Biarlah uang itu dia simpan lebih dulu, nanti sewaktu-waktu dia butuh akan di ambil.
"Tidak ada yang ketinggalan kan El?" tanya Evan mengambil koper Elana.
"Udah pa, barang El ngga banyak. Jadi hanya satu koper aja bawanya." jawab Elana.
Evan tersenyum, dia lalu berpamitan sama ibu Mira dan mengucapkan terima kasih.
"Kami berangkat dulu bu, dan terima kasih jadi teman dan membantu Elana selama ini." kata Evan.
"Iya pak Evan, semoga nak Elana betah di sana." ujar ibu Mira.
Lalu Elana mendekat pada ibu Mira dan memeluknya erat. Rasanya berat sekali meninggalkannya, tapi itu harus. Elana menangis.
"Sudah nak El, jangan menangis. Tetap tersenyum dan semangat ya." ucap ibu Mira.
Elana melepas pelukannya dan hapus air matanya, lalu mencium tangan ibu Mira.
"El berangkat dulu bu."
"Iya, hati-hati ya."
Elana dan Evan pun masuk ke dalam mobilnya, lalu melambaikan tangan tanda perpisahan. Ibu Mira membalasnya dan tersenyum pada Elana.
_
"Sayang, kita jemput Chiko jam berapa?" tanya Arga pada Anita.
"Jam lima sore deh, soalnya dia bilang pesawat landing jam empat sore." jawab Anita.
"Lho, kok jam lima sore jemputnya. Apa itu ngga kelamaan mereka menunggu kita datang?" kata Arga.
"Katanya Celine mau pergi ke toko buku yang terkenal di kota dulu katanya." jawab Anita.
"Ya mending di jemput lebih cepat, kan bisa kita antar ke toko buku itu. Aku juga mau beli buku di sana kalau mampir kesana."
"Terus, berangkat jam berapa?"
"Jam setengah tiga aja, kita perkirakan setengah jam untuk macetnya."
"Ya udah, berarti kita harus siap-siap kan?"
__ADS_1
"Em, lalu itu Cheril sama Karin katanya mau ikut jemput abangnya sama kakaknya. Apa sudah siap juga?"
"Mereka sejak pulang sekolah selalu menanyakan kapan menjempit abang Iko dan kakaknya Celine."
"Kalau begitu, aku temui mereka dulu. Kamu siap-siap aja."
"Iya."
Arga lalu keluar dari kamarnya mencari kedua putrinya yang hanya beda satu tahun itu. Tapi kemudian dia balik lagi dan melihat Anita masuk ke dalam kamar mandi.
"Sayang, kalau Chila itu kapan liburnya?"
"Bulan depan katanya, kan dia sedang sibuk praktek ke rumah sakit di sana." jawab Anita.
Arga mendekat, dia mengambil jepit rambut yang di pegang Anita untuk menjepit rambutnya yang berantakan tadi.
"Eh, kenapa di ambil?"
"Emm, aku suka aja rambut kamu tergerai begini. Tambah cantik." kata Arga merapikan anak rambut di pipi istrinya.
Tapi Anita malah membola matanya, dia hafal betul jika sudah begitu Arga ada maunya.
"Kamu mau apa?"
"Hahah, kamu ternyata mengerti apa mauku sayang. Ayo kita ke ranjang aku ingin main-main sama kamu." ucap Arga sambil menarik tangan istrinya itu.
Dengan malas Anita mengikuti kemauan suaminya untuk bermain sejenak. Lagi pula, anak-anak sedang santai di bawah.
"Sayang, kamu kok tambah cantik sih, cup." ucap Arga ketika dia sudah mengkungkung istrinya itu.
Tangan Arga sudah menjalar kemana-mana, membuat Anita terbuai. Senyuman Arga menikmati wajah istrinya yang menikmati permainan tangannya sangat menyenangkan bagi Arga.
Entahlah, meski istrinya itu sudah semakin bertambah umurnya. Tapi di mata Arga, Anita adalah sosok perempuan cantik dan selalu membuatnya ingin menikmati percintaan setiap saat dengan Anita.
"Euuuh, kenapa hanya main-main dengan tangan aja sih, ingat waktu Ga." ucap Anita yang frustasi karena Arga sepertinya masih ingin menikmati wajah istrinya di bawah kungkungannya.
"Sabar sayang, aku sedang menikmati wajahmu yang semakin cantik setiap hari, cup."
"Gombal kamu kok ngga pernah hilang ya, aaaah ..."
"Aku ngga pernah gombal sama kamu, dari dulu aku selalu mengagumimu. Sejak di SMA dulu."
"Ga, eeeuuh."
Dan kini Arga menyudahi permainan tangannya, saatnya menuju puncak nirwana bersama. Menyelami manisnya bercinta dengan pasangan yang saling mencintai.
_
Kini mobil sudah melaju menuju bandara, sepenjang jalan Anita mengomel karena siang tadi Arga tidak juga menyudahi. Akibatnya mereka terlambat, dan kini Arga mempercepat laju mobilnya.
"Udah dong sayang, kan mereka bisa menunggu kita di terminal bandara."
"Ya kamu sih, aku bilang udah tapi malah meminta dua kali lagi." sungut Anita dengan nada kesal.
Arga hanya melirik ke sampingnya, tersenyum melihat bibir Anita yang terus saja menggerutu.
"Papa sama mama kok ribut terus sih?" tanya Karin yang sejak tadi melihat kedua orang tuanya terus saja ribut.
__ADS_1
"Papa kamu sayang, telat jemput kak Celine dan abang Iko." jawab Anita masih mode kesal.
"Kenapa?"
"Ngga kenapa-kenapa, tadi papa sibuk di kamar." jawab Arga.
"Papa kan ngga kerja, ngapain sibuk di kamar?"
"Eh, itu sayang bantu mama beres-beras di kamar."
"Kan ada bi Ani yang beres-beres kamar papa sama mama, kenapa papa jadi ikutan beres-beres juga?"
"Karin, udah sih. Kenapa kamu jadi ikut rewel juga." ini Cheril kakaknya yang protes.
Sejak tadi dia mendengar kedua orang tuanya berdebat, dan kini harus mendengarkan celoteh ceriwis adiknya itu.
"Ish, kak Cheril. Kan aku sedang melerai papa sama mama ribut." jawab Karin.
"Bukan melerai, yang ada kamu tambah bikin kakak pusing." ucap Cheril.
Anita dan Arga hanya tersenyum, yang tadinya kesal kini Anita hanya tertawa tertahan mendengar kedua anaknya yang ribut.
"Pa, nih kak Cheril ngajak ribut aku." kata Karin mengadu sama Arga.
"Nah, sudah sampai. Sekarang kalian jangan ribut lagi. Tuh kak Celine sama abang Iko sudah nungguin. Ayok keluar semua." ucap Arga.
Dia melihat kedua anaknya sedang duduk santai di depan terminal pintu keluar bandara.
Cheril dan Karin melihat ke arah yang di tunjuk Arga, lalu keduanya natusias turun dari mobil dan menghampiri Celine dan Chiko.
"Abang Iko, kak Celine!" teriak.keduanya sambil berlari menghampiri Chiko daj Celine.
"Waaah, adik-adik abang ini tambah cantik aja ya." ucap Chiko menggendong Karin.
Sedangkan Cheril memeluk Celine dengan erat.
"Apa kabar kalian sayang?" tanya Arga pada Celine dan Chiko.
Memeluk bergantian satu persatu anak-anak mereka, lalu di susul oleh Anita.
"Kami baik pa, rasanya ngga sabar sampai rumah." ucap Chiko.
"Lho, bang. Katanya kita mau ke toko buku dulu?" tanya Celine.
"Oh iya, pa ke toko buku dulu ya."
"Iya, tadi mama kamu juga bilang begitu. Ya udah, ayo kita berangkat. Udah petang ini, nanti kita makan malam di restoran aja." kata Arga dan di sambut gembira oleh kedua anak gadis kecilnya.
"Asyiiik!"
_
_
_
😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤
__ADS_1