
Chiko saat ini sedang mengendarai mobilnya, hatinya sangat bahagia karena saat ini dia akan bertemu dengan Elana dan memberi kabar baik tentang undangan makan malam dengan keluarganya. Hatinya benar-benar bahagia, dia juga membelikan sesuatu untuk Elana.
Ya, dia membeli cincin agar nanti dia benar-benar akan mengikat Elana. Meski dia berjanji pada Arga nanti setelah lulus kuliah, lalu nanti bekerja lebih dulu. Baru dia akan menikahi Elana.
Mobil dia parkirkan di depan halaman butik, dia tidak datang ke kontrakan Elana. Tapi memang sengaja ingin datang ke butiknya. Dan Chiko turun dari mobilnya lalu segera masuk ke dalam butik, bertanya apakah Elana ada di ruangannya pada pegawai.
"Elana ada di dalam mas, silakan di ketuk aja pintunya." kata pegawai itu.
"Terima kasih mbak." jawab Chiko.
Dia lalu menuju ruang Elana dan mengetuk pintunya. Saat akan mengetuk pintu, Elana malah membuka pintu dan berdiri di depan hendak keluar. Mereka berdiri saling berhadapan dan terkejut.
"Lho bang Iko ada di sini?" tanya Elana kaget.
"Iya, mau kasih kejutan buat kamu." jawab Chiko dengan senyum mengembang.
"Kejutan?"
"Ya, aku boleh masuk ke ruanganmu?"
"Oh, boleh kok. Yuk masuk, tadi aku mau pesan makanan sama mbak Rani." kata Elana.
Tampak wajah Elana tidak seperti minggu lalu, masih mengandung kesedihan. Sekarang dia kini biasa saja, dia pikir buat apa di pikirkan. Lebih baik dia berkarya membuat rancangan baju dari pada bersedih.
Chiko masuk ke dalam ruangan, dia menutup pintunya langsung lalu mendekap Elana dari belakang. Sudah lebih dari seminggu dia tidak bertemu Elana, rasa rindunya dia tuangkan dengan mendekap Elana kali ini. Dan Elana pun terkejut, diam di tempatnya, merasakan juga kalau dia merindukan kekasihnya itu.
"Aku rindu kamu Elana." gumam Chiko di dekat telinga Elana.
Elana tersenyum, dia pun berbalik dan menatap Chiko. Senyumannya tidak memudar, tatapan kerinduan terlihat terpancar di mata masing-masing. Elana mendekatkan wajahnya dan mencium Bibir Chiko dengan cepat.
"Aku juga rindu abang." kata Elana.
Kini ganti Chiko yang mencium bibir Elana lembut, beberapa kali mereka saling mengecap dan mengulum. Setelah di rasa cukup, keduanya pun melepas ciumannya. Duduk di sofa kecil, Elana mengambil ponselnya dan segera memesab makanan siap antar saja dari pada menitip sama Rani.
"Kamu pesan apa?"
"Pesan makanan bang, abang lapar juga kan?"
"Hemm, ya lumayan. Dari rumah aku belum sarapan juga, aku langsung naik mobil dan ingin bertemu denganmu."
"Kenapa ngga sarapan dulu bang?"
"Karena aku ingin memberimu kejutan dan memberi kabar baik buatmu." kata Chiko.
"Kabar baik apa?" tanya Elana.
__ADS_1
"Sabtu besok kamu di undang makan malam di rumahku." jawab Chiko dengan senyumnya.
Elana diam menunduk, wajahnya berubah sedih mengingat penolakan papanya Chiko. Nafasnya di tarik pelan dan berat, beberapa hari ini dia berusaha setenang mungkin agar tidak mengganggu kegiatannya di butik.
"Buat apa bang? Bukankah papa bang Iko tidak menerimaku?" tanya Elana lirih.
"Hei, dengar dulu. Ini undangan dari papaku, kamu di undang makan malam dari papa. Itu artinya apa? Papa menyetujui hubungan kita, Elana." kata Chiko.
Membuat Elana mendongak dan menatap Chiko tidak percaya. Dia menatap lekat di mata kelasihnya itu, apakah ada kebohongan di sana. Agar dia tidak merasa kecewa.
"Apa yang di katakan bang Iko itu benar?" tanya Elana memastikan bahwa kabar itu memang benar.
"Benar sayang, aku bahkan bicara sendiri dengan papaku. Beliau mengizinkannya berhubungan denganmu, tapi ...." kata Chiko terputus.
Dia menatap Elana lekat, ada raut wajah sedih. Lalu menghela nafas panjang. Membuat Elana semakin penasaran apa yang menggantung dari kalimat Chiko.
"Tapi apa bang? Apa papa bang Iko memberi syarat untukku?" tanya Elana.
"Tidak, hanya saja abang ngga bisa langsung menikah denganmu setelah lulus kuliah nanti. Papa memberi syarat aku harus menikahimu sesudah punya pekerjaan." kata Chiko lirih.
Dia juga malu pada Elana, dan memang benar. Seorang laki-laki harus mapan lebih dulu sebelum menikahi perempuan yang dia cintai. Elana tersenyum, dia lalu mengusap pipi Chiko dengan lembut.
"Itu tidak masalah bang, meski abang janji akan menikahiku setelah lulus kuliah. Yang penting papa abang menyetujui hubungan kita, tapi benarkan papa bang Iko setuju?" tanya Elana.
"Iya, dan besok kamu harus datang ke rumahku dari siang. Makanya aku datang kesini dengan cepat." kata Chiko.
Membuat Chiko mengambil kesempatan mencium kembali bibir Elana.
"Ish, abang menyerobot aja sih."
"Hahah, habis aku gemas dengan senyummu. Oh ya, mana tanganmu?"
"Kenapa?"
"Sini tanganmu, biar kamu tahu aku mau apa."
Elana pun mengeluarkan tangannya, Chiko memegang tangan Elana daj tangan satunya mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Kotak cincin dia buka dan mengambil cincin itu untuk di sematkan di jari manis Elana. Elana pun terkejut, namun dia pun tersenyum.
"Ini untukmu, sebagai tanda kalau kamu itu milikku. Mungkin dua tahun lagi aku baru akan menikahimu, jadi sebelum itu terjadi kamu harus aku ikat dulu dengan cincin ini." kata Chiko.
Dia menatap cincin bermata berlian itu di jari manis Elana. Lalu mengecupnya tangan Elana itu pelan. Elana sendiri merasa malu dan juga senang bisa di ikat oleh cincin itu, meski tidak di ikat pertunangan. Dia bahagia.
"Terima kasih bang, aku akan selalu menunggumu melamarku nanti." kata Elana.
"Cantik." kata Chiko.
__ADS_1
"Cincinnya?"
"Orangnya, apa lagi pakai cincin dariku."
Elana semakin malu, wajahnya bersemu merah dan tersenyum manis di bibirnya. Chiko menatao Elana tidak bosan-bosannya. Tangannya mengelus pipi Elana dan kembali ciuman mereka pun terjadi.
Tok tok tok
Elana dan Chiko terkejut, mereka segera melepas pagutan bibirnya dan kembali ke posisi semula. Merasa malu karena mereka tenggelam dengan rasa cinta dan rindu yang menyatu dengan bibir mereka saling menyatu.
Elana bangkit dari duduknya menuju pintu lalu membukanya. Dia melihat seorang pengantar makanan datang.
"Mbak, ini pesanan makanannya." kata pengantar makanan itu.
"Oh ya mas, tunggu ya."
Elana kembali masuk dan mengambil dompetnya, mengambil beberapa lembar uang untuk membayar makanan yang dia pesan.
"Ini uangnya, terima kasih ya."
"Iya mba, sama-sama."
Setelah menerima makanan itu, Elana meletakkan bungkusan makanan dan membukanya. Dia memesan dua porsi untuk Chiko juga."
"Bang, kita makan dulu. Abang pasti lapar kan sejak tadi." kata Elana.
"Ngga, aku tadi kenyang." jawab Chiko.
"Kenyang makan apa? Tadi katanya dari rumah belum sarapan, kenyang dari mana?"
Chiko mendekat dan berbisik di telinga Elana.
"Makan bibir kamu yang manis itu, aku udah kenyang."
"Ish, bang Iko gombal ah. Udah yuk makan." kata Elana yang kembali memerah wajahnya karena malu mengingat ciuman tadi.
Chiko tersenyum, dia pun mengambil satu kotak makan dan langsung melahapnya. Elana senang sekali, bukan hanya kabar gembira bahwa besok dia akan bertemu dengan keluarga besar Chiko dan makan malam bersama, tapi juga restu dari papanya.
Belum lagi cincin tanda pengikat untuk dirinya dari sang kekasih membuat kebahagiaannya berlipat. Apakah ini buah dari kesabarannya? Mendapatkan sesuatu yang sangat berharga baginya, restu dari kedua orang tua Chiko. Dan Elana berjanji akan setia dan menjaga nama baik keluarga kekasihnya itu.
_
_
_
__ADS_1
😊😊😊😊😊😊😊😊😊❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️