E L A N A

E L A N A
56. Kegundahan Hati Elana


__ADS_3

Sampai di panti asuhan, Elana di sambut oleh anak-anak panti, mereka merasa senang Elana kembali dan akan tinggal di panti asuhan selamanya. Elana tersenyum tipis, jika di awal dia merasa senang di sambut baik dan ceria oleh anak-anak.


Kini dia malah merasa hampa, merasa ada yang hilang di hatinya. Namun dia bertekad untuk melupakan Chiko dan Celine.


"Kamu kembali lagi Elana?" tanya suster Maria.


"Iya suster." jawab Elana lirih.


Suster Maria melihat wajah Elana yang sendu, wajahnya tidak sama ketika dia mau pulang ke kontrakan Celine.


"Apa ada masalah lagi dengan temanmu?" tanya suster Maria menatap Elana.


"Tidak ada suster, semua sudah selesai." jawab Elana dengan senyum yang di paksakan.


"Istirahat saja dulu, baru kamu bisa bergabung dengan kami." kata suster Maria.


Mungkin Elana terlihat lelah, jadi istirahat untuk menenangkan pikiran dan hati lebih dulu agar tenang dan siap bermain dengan anak-anak panti yang sejak kemarin menanyakan Elana.


"Baik suster, terima kasih."


Elana pun pergi ke belakang menuju kamarnya, dia ingin istirahat lebih dulu. Memang dia ingin istirahat, menenangkan hatinya dan pikirannya agar tidak gundah lagi. Karena sejak di mobil dia memikirkan Chiko dan ucapannya tadi di rumahnya.


Elana masuk ke dalam kamarnya, meletakkan kopernya dan dia langsung rebahan di ranjangnya. Pikirannya kembali mengingat ucapan Chiko tadi.


"Apakah benar bang Iko tulus mencintaiku?" gumam Elana.


"Tapi bagaimana dengan keluarganya nanti? Apakah mereka akan menerimaku? Aku ini anak penculik anaknya, masa aku jadi pacar anak yang di culik oleh ibunya. Bagaimana nanti?"


Pertanyaan demi pertanyaan jika memang dia tadi menerima cinta Chiko. Tapi tetap tidak ada jawaban, jika dia bicara dengan Chiko mungkin akan di diskusikan.


"Bang, maafkan aku." lirih Elana berucap.


Lelah berpikir, Elana pun akhirnya tertidur.


_


Hari demi hari Elana di panti asuhan, dia awalnya senang. Namun kembali dia merenung dan akhirnya melamun, ada rasa sedih, kecewa dan rasa rindu dalam dirinya. Membuat kini dirinya sering melamun, dan suster Maria melihat itu.


"Dia melamun lagi." gumam suster Maria.


Tapi suster Maria membiarkan Elana seperti itu, mungkin saja hal lain yang dia pikirkan. Bukan masalah dengan temannya itu.


_


Hari Minggu, kebaktian di gereja seperti biasanya. Anak-anak setelah dari acara kebaktian mereka di ajak ke taman untuk bermain di luar ruangan. Elana seperti biasa membantu anak-anak bermain.

__ADS_1


Terkadang dia merasa senang, kadang juga dia merasa sedih juga seringnya melamun. Hingga anak-anak yang bermain bola sering sekali mengenai Elana, bahkan juga mengenai wajah Elana yang sedang terdiam.


Membuat suster Maria pun heran, dia pun mendekat pada Elana yang memegang bola dan memutar-mutarnya saja.


"Ayolah lempar bolanya kak Elana." teriak anak-anak lainnya.


Elana tersenyum, dia memandang satu persatu anak-anak yang bermain bola. Lalu dia melempar ke arah anak yang bermata cokelat, dia tertawa senang. Yang lain pun ikut mengejar bola yang di lempar Elana tadi.


"Elana." panggil suster Maria.


"Ya suster?"


Suster Maria duduk di bangku di mana dulu dia bertemu Elana pertama kali yang sedang melamun. Elana pun mendekat, dia juga duduk di di sisi suster Maria dan menatap anak-anak yang bermain.


"Di sini kamu dulu duduk termenung, Elana." kata suster Maria menerawang ke depan.


Elana pun tersenyum lalu menunduk, dia malu kenapa akhir-akhir ini sering melamun.


"Kamu menangis sedih saat itu."


Kembali Elana tersenyum miris, suster Maria mengingatkan dulu dirinya yang menyedihkan.


"Maaf suster, aku selalu saja begini." kata Elana lirih.


Hatinya kembali sedih, tak terasa juga air matanya mengalir. Dengan cepat dia menghapus jejak air matanya yang hampir menetes.


"Tidak suster, mereka sangat baik. Mungkin saya yang terlalu kecil dan rendah diri di hadapan mereka, hik hik hik." jawab Elana.


"Kenapa seperti itu?"


Lalu Elana menceritakan kebenaran yang dia dengar ketika dia pulang itu. Rasa malu, menyesak dan juga kecewa pada diri sendiri serta ada rasa rindu yang dia rasakan di hatinya. Membuat suster Maria ikut sedih.


Dia memeluk Elana, dan juga mengelus punggungnya agar Elana merasa lega. Namun kesimpulannya, Elana juga menyukai temannya itu.


"Saya tahu kamu bingung, tapi tidakkah kamu pertimbangkan dengan keinginan temanmu itu? Dia tulus mencintaimu, Elana." kata suster Maria.


"Saya takut suster, takut dengan keluarganya. Apakah mereka akan menerimaku? Sedangkan aku anak dari penculik anaknya. Hik hik hik." jawab Elana.


"Saya rasa, dia yang mencintaimu akan berusaha meyakinkan keluarganya untuk menerimamu. Bukankah itu bukan salahmu? Hanya mamamu saja yang melakukan, dan dia sudah meninggal. Apakah harus di ungkit lagi?" kata suster Maria.


"Saya tidak tahu suster."


"Saya kira keluarganya akan menerimamu, ya meski mungkin ada perdebatan. Elana, di dunia ini tidak ada penderitaan yang terus menerus di berikan oleh Tuhan pada ciptaanNya, kamu harus percaya bahwa Tuhan itu Maha Adil." kata suster Maria lagi.


Elana terdiam, dia memikirkan apa yang di ucapkan oleh suster Maria. Meski dia masih dalam kebimbangan, tapi tetap saja hatinya masih memikirkan Chiko.

__ADS_1


"Apa dia menurut kamu itu baik?" tanya suster Maria.


"Ya, dia sangat baik." jawab Elana.


"Jadi, apa yang membuatmu ragu dan bimbang Elana? Bukankah orang mencintai itu akan selalu melindungi yang di cintainya?"


Elana terdiam, dia sendiri tidak tahu. Apakah Chiko akan melindunginya dari hal-hal yang tidak di duga. Bukankah memang orang yang mencintai akan melindunginya?


"Pikirkan baik-baik, Elana. Masih ada waktu untuk kembali ke rumah temanmu itu."


"Suster, bagaimana dengan di panti suster? Mereka sepertinya senang saya berada di tengah-tengah mereka."


"Semuanya menyukaimu, bahkan saya juga. Kamu gadis baik dan tulus menolong orang."


"Suster, kenapa suster mau menjaga dan mengurus para anak-anak yang di tinggal oleh orang tuanya itu?"


"Karena mereka juga butuh di sayang Elana, suatu saat nanti mereka juga akan di sayang oleh pasangannya masing-masing."


"Bukankah suster juga perlu mencari seseorang yang menyayangi suster juga?"


"Saya sudah berjanji mengabdikan diri di panti asuhan itu, Elana. Sama dengan suster Valen juga suster Rossi."


"Jadi, jika ingin mengabdikan diri mengasuh anak panti asuhan itu harus berjanji lebih dulu?"


"Ya, kami berjanji dan tidak bisa mengingkari. Karena kami datang dari gereja pusat untuk melindungi anak-anak yang membutuhkan perlindungan dan juga kasih sayang kami. Kamu belum terlanjur Elana, pikirkan baik-baik sebelum kamu terlanjur seperti kami." kata suster Maria.


Elana pun menunduk, memang benar, suster Maria dan juga suster Valen berpakaian berbeda. Dan ada logo yang selalu di pakai di baju mereka.


"Boleh saya berpikir lebih dulu suster?"


"Tentu, kamu ingin kemana?"


"Entah, tapi saya ingin pergi ke suatu tempat."


"Lakukanlah, jika itu membuatmu bisa berpikir lebih baik." kata suster Maria dengan senyum mengembang.


Suster Maria memeluk Elana, dia berharap keputusan Elana tepat dan bisa membuatnya hidup dengan bahagia.


_


~~> Maaf ya, bab ini othor ngga pake translate dulu. Othor sibuk real life..πŸ™πŸ™πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜


_


_

__ADS_1


😊😊😊😊😊😊😊❀❀❀❀❀❀❀


__ADS_2