E L A N A

E L A N A
96. Mendapatkan Restu


__ADS_3

" Bang, mama juga ingin tahu dia seperti apa. Bawalah dia ke rumah, mama ingin kenalan dengan gadis itu." kata Anita.


"Yang benar ma?"


"Ya, mama ingin kenal dengan pacarmu itu." kata Anita meyakinkan anaknya.


Chiko tampak senang, dia sekali lagi memeluk Anita dengan erat. Rasa harunya pada mamanya itu membuat dia sangat bahagia. Memang benar apa yang di katakan Chila padanya, ternyata mamanya tidak akan lama untuk memberi keputusan akan menerima Elana.


Hanya butuh waktu untuk berpikir, dan dengan cerita yang dia katakan tentang Elana. Dia sangat berterima kasih pada kakaknya itu, dan dia juga merasa bersalah pada Anita karena sejak saat itu selalu menjauh pada ibunya itu.


"Ma, maafkan abang ya. Sejak waktu itu abang kasih tahu mama, abang menghindar dari mama." kata Chiko.


"Ngga apa-apa sayang, mama juga minta maaf kalau mendiamkan abang. Mama butuh waktu untuk berpikir, mama hanya takut abang nanti melupakan mama kalau sudah punya kekasih apa lagi mau menikah muda." kata Anita berasalan.


Padahal, yang dia pikirkan itu tentang masa lalunya berumah tangga dengan Rendi, perlakuan Mourin padanya dulu yang sangat angkuh dan meremehkannya. Dan sekarang dia akan menyayangi anaknya itu, berat sekali bagi Anita. Tapi kembali lagi, mungkin itu cara Tuhan untuk melupakan kenangan pahit dan juga mengikhlaskan apa yang selama ini jadi rasa marah dan kesalnya.


Memang dia sudah memaafkan Rendi, tapi belum bisa memaafkan Mourin. Meski pun sudah berkali-kali ingin mencelakainya dan juga anaknya Chiko.


"Aku tahu ma, seharusnya abang yang memohon pada mama. Bukan mama yang datang ke kamar abang dan meminta maaf. Abang yang salah telah mencintai gadis itu, tapi abang tidak bisa mengabaikan dia. Jika bukan abang yang akan melimdunginya, belum tentu akan seperti abang nantinya ma. Dan, mama jangan khawatir. Mama akan tetap ada di hati abang, mama adalah cinta pertama abang ketika masih kecil dulu dan sampai sekarang." kata Chiko.


"Uuh, mama jadi terharu sayang. Kamu benar-benar sudah dewasa. Baiklah, kalau begitu ajak dia ke rumah. Mama juga ingin berkenalan dengan dia, sebaik apa dia itu." kata Anita.


"Mama pasti akan menyukainya, dia gadis yang supel sebenarnya. Hanya karena dia sudah terbiasa dengan lingkungan yang tidak menerima dirinya, jadi dia jadi gadis pendiam." kata Chiko lagi.


Anita tersenyum, dia lalu memeluk Chiko. Mungkin dengan cara menyayangi dan mengenal serta menerimanya, gadis itu jadi lebih ceria lagi dan bersemangat. Dari cerita Chiko, Anita membayangkan Elana adalah gadis yang merana. Dari sana sini tidak ada yang mau menerimanya, dia juga akan mencoba akan menyayangi gadis itu juga layaknya sebagai anak. Agar dia merasa di cintai oleh orang-orang di sekitarnya.


_


Chiko sangat bahagia, mamanya telah merestui hubungannya dengan Elana. Setelah sepulang dari kantor dia akan ke butik Elana dan memberitahu kalau mamanya menerimanya, bahkan mengajaknya untuk datang ke rumah dan bertemu keluarganya.


Chiko belum memberitahu Arga mengenai Elana itu, sesuai rencananya memang. Arga yang akan di beritahu terakhir dan itu atas dasar persetujuan Anita. Dia bahagia sekali, nanti jika Arga yang menentang. Anita yang akan meluluhkan papanya itu.


Karena dia tidak tahu semarah apa waktu itu papanya ketika tahu Chiko di culik dan istrinya di celakai oleh Mourin. Dia melihat sendiri, mamanya di sabet pisau yang di pegang Mourin dan papanya sangat marah. Jika terus mengingat itu, dia juga marah. Tapi kembali lagi, Elana tidak tahu apa-apa masalah itu. Dan cara Tuhan dengan uniknya mempertemukannya pada anak yang pernah menculiknya.

__ADS_1


Tuhan begitu sayang padanya dan keluarganya, tidak menaruh dendam dan kemarahan begitu lama dengan mengirimkan Elana pada Chiko. Gadis yang selalu di rundung kemalangan. Ibunya sudah mendapatkan balasan di penjara, bahkan dia juga meninggal. Beruntung sekali Mourin meninggal dengan keadaan yang sudah baik.


Dan kini Chiko akan membawa Elana ke rumahnya, mengenalkannya pada Anita dan Arga. Dan nanti, sebisa mungkin Chiko tidak akan berselisih paham dengan Arga di depan Elana. Agar gadis itu tidak merasa sedih kerana tidak di sukai oleh Arga.


Chiko menunggu Elana di depan butiknya sore ini. Dia izin pada Arga untuk pergi ke kota memberitahu Elana dan sekalian menjemputnya juga. Elana keluar dari butiknya dan menguncinya. Karena semua pegawainya juga sudah pulang.


"Kamu sudah siap kita kencan sore ini?" tanya Chiko dengan senyuman di bibirnya.


"Sudah bang, tapi kita mau kemana?" tanya Elana.


"Mau jalan-jalan ke sebuah taman hiburan. Hari ini aku mau membawamu jalan-jalan, tadi aku lewat ada taman hiburan semacam pasar malam. Aku ingin mengajakmu ke sana." kata Chiko.


"Hemm, kayak remaja aja."


"Hahaha, biar ini jadi sebuah kenangan di masa depan sayang. Ayo masuk ke mobil, keburu malam dan nanti kita makan malam di pinggir jalan. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan sama kamu." kata Chiko.


"Apa itu bang?"


Elana hanya tersenyum, dia berpikir mungkinkan kekasihnya itu akan memberikan sesuatu? Tapi ..., aah itu terlalu berlebihan. Pikir Elana. Akhirnya dia hanya diam saja, menunggu makan malam di pinggir jalan dan mendengarkan Chiko bicara.


Mobil melaju dengan kecepata sedang setelah mereka sudah ada di dalamnya. Banyak sekali cerita Chiko tentang magangnya dan kasus yang di tanganinya itu bersama dengan papanya.


"Jadi abang sebentar lagi selesai magangnya?" tanya Elana.


"Iya, dan nanti kembali ke Rusia untuk kuliah lagi." kata Chiko.


Elana diam, dia jadi sedih ketika ingat harus putus kuliah karena papanya telah memulangkannya ke Indonesia. Chiko memperhatikan perubahan wajah sedih Elana, dia tahu Elana sedih bukan karena akan di tinggal lagi ke Rusiam. Namun karena tidak bisa meneruskan kuliahnya di sana.


"Jangan sedih, aku hanya sebentar kok. Dan nanti juga Celine pulang ke Indonesia." kata Chiko menenangkan kekasihnya itu.


"Aku sedih tidak bisa meneruskan kuliahku lagi bang. Aku harus puas di tahap ini, sampai akhirnya nanti abang benar-benar melamarku dan keluarga abang menerimaku." kata Elana.


Chiko tercekat, dia tidak menyangka ucapan terakhir Elana. Jadi, selama ini Elana berpikir kalau keluarga Chiko terutama papa dan mamanya belum merestui atau belum tahu hubungannya dengan anaknya. Chiko menggenggam tangan Elana, dia memberikan kekuatan baru dan semangat agar tidak menyerah begitu saja.

__ADS_1


"Elana, sebenarnya abang ingin bicarakan masalah mamaku. Abang sudah bicarakan pada mama tentangmu, awalnya mama syok. Beliau mungkin kaget, tapi beberapa hari kami saling diam dan tidak pernah bicara dan bercanda lagi. Pada akhirnya mama menemuiku dan mengatakan mama menyetujui hubunganku denganmu. Aku sangat bahagia dan berterima kasih sama mama, walaupun sesungguhnya mama juga waktu itu berat. Aku tahu itu, tapi beliau juga sadar. Ternyata Tuhan memang menakdirkan kita untuk di pertemukan dengan cinta. Aku yakin nanti setelah mama mengenalmu, beliau akan menyukaimu." kata Chiko.


Ucapan yang ingin dia tunda pemciraannya justru sekarang dia katakan. Karena dia tidak ingin Elana merasa sedih dan mengingat semua apa yang di lakukan oleh papanya di sana.


"Benarkah bang?"


"Iya, aku sempat putus asa ketika mama tidak berkata apa-apa waktu aku bilang mencintaimu dan akan menikah denganmu." kata Chiko.


"Senangnya punya mama seperti mama bang Iko. Aku juga ingin kenal dengan beliau bang."


"Ya, besok hari Minggu. Pagi-pagi aku jemput kamu ya untuk di kenalkan pada keluargaku. Aku bilang sama mama kalau hari Minggu besok akan membawamu ke rumah." kata Chiko lagi.


"Terus papamu? Apa beliau juga tahu siapa aku bang?"


"Itu nanti urusan mama, biar mama yang menjelaskan. Papaku itu sangat menurut apa yang di katakan mama, beliau itu cinta mati sama mama. Tapi kamu jangan khawatir, aku dan mama akan menyelesaikan masalah papa." kata Chiko.


Kembali Elana diam, raut wajahnya berubah sedih. Jadi kedua orang tuan Chiko belum tahu salah satunya, apakah nanti akan di terima atau di tentang.


"Sayang, kamu jangan khawatir. Meski pun nanti aku di usir dari rumah mama, aku akan tetap memilihmu. Aku sudah punya rumah sendiri dan kita akan hidup berdua di rumah itu." kata Chiko.


"Semoga saja papa abang mau menerimaku, karena jika papa abang tidak menerimaku aku ngga mau abang jadi anak durhaka pada orang tua. Memikirkan ini membuatku semakin sulit untuk melangkah, tapi aku sudah punya sesuatu untuk di jalani. Abang jangan khawatir, aku akan baik-baik saja nantinya." kata Elana.


"Tidak Elana, abang akan berjuang sekali lagi. Dan aku yakin akan mudah karena bantuan mama. Jangan berkecil hati, sayang. Aku bersamamu." kata Chiko menggenggam tangan Elana.


Elana bukannya tidak percaya dengan Chiko, namun dia masih belum yakin pada diri sendiri kalau dia benar-benar ada yang menyayanginya sepenuh hati seperti Jhosua.


_


_


_


😊😊😊😊😊😊😊😊❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2