E L A N A

E L A N A
54. Kebenaran Yang Terungkap


__ADS_3

Elana pun kembali ke rumah kontrakan Celine dan Chiko. Dia sudah bertekad akan tinggal di panti asuhan dengan anak-anak panti asuhan lainnya, di sana dia mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan dengan anak-anak panti serta dengan tiga suster di sana.


Biarlah kuliahnya dia tinggalkan sementara, nanti jika sudah tenang hatinya dan bisa menerima apa yang dia rasakan saat ini Elana akan kembalu kuliah.


Sejujurnya, sikap Chiko yang meninggalkan dirinya saat itu. Bahkan ketika Chiko membentaknya dan menatap tajam, Elana merasa sakit hati. Dia tidak menyangka Chiko berubah begitu cepat.


Dalam bis, Elana termenung memikirkan Chiko lagi. Mungkin sudah ada rasa cinta di hati Elana untuk Chiko. Ada rasa rindu di hati Elana pada Chiko, namun buru-buru dia hapus perasaan itu.


"Kenapa aku memikirkan bang Iko ya?" gumam Elana, dia menunduk dalam dan menarik nafas panjang.


Satu jam perjalanan menuju rumah kontrakan Celine, Elana kin turun dari trem dan membayar dengan kartu seperti biasanya.


Dia berjalan dengan langkah pelan, hatinya berdegup kencang ketika di halaman rumah Celine ada motor Chiko terparkir. Sejenak Elana berhenti, menatap rumah kecil itu lalu menghela nafas panjang.


Baru dia melangkah lagi, di depan pintu Elana berhenti dan mengetuk pintu pelan.


Tok tok tok


Tak ada jawaban, diam lagi menunggu Celine atau Chiko membuka pintunya.


"Kemana mereka ya? Motor bang Iko ada di depan, tapi kok ngga keluar sih?" gumam Elana.


Lama dia menunggu, dan akhirnya Elana membuka sendiri pintu rumah. Ternyata tidak di kunci, Elana masuk lebih dalam. Melangkah menuju ruang tengah tempat meja makan, tidak ada orang.


Sedangkan di kamar Celine yang dulu kamar Chiko, Celien dan Chiko sedang bicara serius. Mereka berdebat karena Celine memaksa Chiko berceriat karena Chiko sudah janji akan menceritakan masalahnya setelah dia pulang.


"Abang kemana?"


"Aku kw rumah Antonio, dek."


"Terus, ngapain di sana? Katanya abang mau cerita masalah abang sama Elana. Sebenarnya apa yang terjadi sih bang? Elana juga pergi selama empat hari ini." kata Celine.


"Kemana dek?"


"Aku tidak tahu, waktu dia pergi aku kesal sama dia. Jadi ngga sempat tanya kemana dia bang."


"Kenapa kesal?"


"Ya karena dia di tanya selalu jawabannya ngga terus, ngga apa-apa.Padahal jelas sekali abang sama Elana itu ada masalah." kata Celine.


Chiko menghela nafas panjang, dia menunduk lama. Membuat Celine semakin pensaran.


"Sebenarnya ngga ada masalah dek secara langsung. Tapi kamu ingat ngga, waktu abang di culik itu?" tanya Chiko.


"Iya, selama dua hari itu kan? Lantas apa hubungannya bang dengan masalah abang sama Elana?" tanya Celine.

__ADS_1


Chiko lalu menceritakan dari awal Elana bercerita tentang dirinya, dari kecil di buli, berpenyakit jantung, di asuh oleh sahabat mamanya hingga dia juga di usir oleh papanya. Chiko menceritakan secara menyeluruh bagaimana kehidupan Elana saat kecil hingga besar dan sekarang hidupnya menderita.


"Kasihan ya bang, aku benar-benar merasa bersalah sama Elana. Dia bahkan jadi gadis pendiam dan tidak punya teman sama sekali karena dia anak seorang narapidana. Tapi bukan berarti dia tidak bisa bergaul kan bang?"


"Ya, memang. Tapi lingkungannya yang membuat dia jadi gadis pendiam. Abang tadinya penasaran sama dia, tapi sekarang abang ..." ucap Chiko berhenti.


"Iya, aku tahu abang cinta kan sama Elana?"


"Iya, maka dari itu. Abang tadinya mau menyatakan cinta sama dia, abang berharap kesedihannya yang dia tunjukkan di wajahnya itu bisa hilang dengan dia bercerita masalah dirinya. Dan yang membuat abang syok waktu mamanya Elana, dek." kata Chiko.


"Memang kenapa dengan mamanya Elana bang? Bukankah mamanya sudah meninggal?" tanya Celine heran.


"Ya maka dari itu, kenapa abang marah sama Elana. Mamanya bernama Mourin dek, tahu siapa Mourin itu?" tanya Chiko.


"Siapa bang?"


Celine penasaran, dia tidak sabar mendengar apa yang jadi masalahnya dengan Elana. Sama halnya Elana yang berdiri di belakang pintu kamar Celine, dia juga mendengarkan apa yang di katakan Chiko pada Celine. Dan sangat jelas, dia bahkan menahan dan membekap mulutnya sendiri agar tidak bersuara.


"Bang, Mourin itu siapa? Dan kenapa?"


"Mourin itu yang dulu menculik abang dek, dia yang menyekap abang meminta tebusan pada mama dan papa. Bahkan dia minta tebusan sertifikat rumah papa Rendi. Saat tahu Elana itu anaknya Mourin, abang marah dan kecewa dek sama dia. Benar-benar abang marah, abang kecewa sama Elana. Makanya waktu itu abang pergi begitu saja, pergi ke rumah Antonio untuk menenangkan diri. Dan sekarang abang sudah menemukan jawabannya, bagaimana abang nantinya sama dia dek." kata Chiko dengan suara berat namun pasti.


Sedangkan Elana semakin terisak di balik pintu kamar Celine, hingga suara isakannya semakin keras dan terdengar oleh Celine dan Chiko. Keduanya saling pandang, lalu menuju pintu kamar.


"Elana?" tanya Celine.


Elana mendongak, dia menatap Chiko dengan tatapan tidak terbaca. Tangisnya pecah, dan seperti orang merasa bersalah.


"Bang Iko? Jadi yang di culik oleh mama Mourin itu adalah bang Iko?" tanya Elana terbata dengan isak tangisnya


"Elana, aku tidak bermaksud ...."


Tiba-tiba Elana terduduk di hadapan Chiko, bersimpuh sambil bertumpu kedua tangannya pada kakinya.


"Maafkan mamaku bang, aku minta maaf atas mamaku yang telah menculik abang sewaktu kecil, Elana minta maaf atas nama mama bang. Hik hik hik, Aku minta maaf dengan sungguh-sungguh, karena mama belum sempat minta maaf sama anak yang pernah dia culik. Hik hik hik." ucap Elana sambil bersujud di hadapan Chiko.


Chiko bingung dengan sikap Elana yang mendadak itu, dia pun menunduk dan menahan bahu Elana agar tidak bersujud di hadapannya.


"Elana, jangan begini. Aku tidak bermaksud membenci mama kamu, itu hanya masa lalu Elana." kata Chiko berusaha mengangkat bahu Elana.


Namun Elana masih kukuh bersimpuh di hadapan Chiko, Celine sendiri juga merasa terharu sekaligus sedih. Dia tidak tahu kalau Elana mendengar pembicaraan mereka.


"Aku minta maaf bang,aku sudah berjanji dalam hati. Jika di pertemukan dengan anak kecil sewaktu mama culik, aku akan bersujud di hadapannya dan meminta maaf atas makaku. Aku minta maaf bang Iko. Hik hik hik."


Perih Elana rasakan, ternyata sikap Chiko waktu itu karena kecewa dengan ibunya. Mourin yang menculik Chiko.

__ADS_1


"Elana, bangunlah. Jangan seperti ini." ucap Chiko masih menarik bahu Elana.


"Ngga bang, sebelum abang memaafkan mamaku. Aku tetap bersujud di hadapan abang untuk minta maaf. Hik hik hik." ucap Elana.


"Dengarkan dulu Elana, bangunlah. Aku tidak bisa melihatmu bersujud seperti ini, aku tidak bisa Elana." kata Chiko yang ikut menangis.


"Elana, bangunlah. Jangan seperti ini." ucap Celine, membantu Elana untuk bangun.


"Abang masih belum memaafkan mamaku, aku harus seperti ini. Maafkan mamaku bang Iko, jika abang mau aku terus seperti ini sampai besok pagi untuk mendapatkan maaf dari abang, aku akan lakukan bersujud sampai besok.


Chiko dan Celine semakin bingung, Elana semakin merunduk dan ternyata kuat juga agar tidak bisa di bangunkan.


"Celine, bantu abang untuk membangunkan Elana. Aku tidak bisa melihat dia bersimpuh seperti ini, rasanya sakit."


Celine pun membantu Chiko untuk membangunkan Elan, namun ternyata Elana tetap bertahan sebelum Chiko mengatakan kata memaafkan untuk Elana.


"Elana, abang memaafkan mama kamu. Bangunglah, jangan seperti ini lagi. Abang sakit melihat kamu seperti ini Elana, hik hik hik." kata Chiko ikut menangis.


Tak berapa lama, Elana pun bangun. Di bantu oleh Celine dan Chiko. Dia menuntun Elana untuk duduk di kursi sofa. Ketiganya pun duduk, masih di suasana haru dan sedih ketiganya masih diam.


"Terima kasih bang, terima kasih telah memaafkan mamaku. Aku sangat malu sama abang, sekali lagi terima kasih mau memaafkan mamaku. Hik hik hik."


Elana kembali menunduk mengucapkan terima kasih, dan kini duduk dengan tegak namun kepalanya masih menunduk.


"Elana, abang minta maaf saat itu abang marah dan kecewa sama kamu. Karena abang baru tahu, maafkan abang karena meninggalkan kamu tanpa penjelasan." kata Chiko.


"Ngga apa-apa bang, aku mengerti abang seperti itu. Sekarang aku mengerti kenapa abang menjauh dariku, aku juga mengerti. Kini abang ngga usah kecewa lagi sama aku, namun aku merasa malu sama abang. Malu sekali, hik hik hik." kata Elana.


"Sudah jangan di pikirkan, aku sudah memaafkan mama kamu. Aku sudah menerima apa pun tentang kamu Elana." kata Chiko lagi.


"Kamu kemana aja selama ini?" tanya Celine.


Dia juga merasa bersalah waktu itu, membiarkan Elana pergi dan entah tidur di mana dia.


"Aku ke suatu tempat, maaf kalau aku tidak pulang selama empat hari ini." jawab Elana.


Ketiganya pun kini merasa tenang, dalam benak masing-masing ada kelegaan. Namun Elana tidak, dia merasa malu sekali pada Chiko. Entah apa yang dia pikirkan selanjutnya, apakah kebulatan tekadnya berlajut untuk pergi ke panti asuhan atau tetap tinggal di rumah Celine dan Chiko.


_


_


_


😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2