E L A N A

E L A N A
110. Universary Pernikahan


__ADS_3

Malam semakin larut, Arga malah masuk ke dalam ruang kerjanya Bukan ke kamarnya, dan Anita semakin heran dengan sikap suaminya itu. Dia masih sabar dengan sikap suaminya tadi di meja makan yang hanya bicara sedikit dengannya.


Sekarang pukul sebelas lebih sepuluh menit, Arga masih belum juga masuk kamar. Tidak biasanya Arga di ruang kerjanya sampai malam hari.


"Sedang apa dia ya?" gumam Anita.


Dia menunggu dengan kesal suaminya itu, melihat lagi jam di dinding kamar. Masih pukul sebelas tiga puluh. Duduk di ranjangnya sambil bersedekap, dengan nafas naik turun. Meski sudah bukan gadis remaja atau ibu-ibu muda yang kesal pada suaminya, namun Anita masih tetap curiga.


Jangan-jangan suaminya punya simpanan lain, itu pikiran buruk Anita pada suaminya. Karena tidak biasanya seperti itu selama mereka menikah. Hanya waktu itu dia dan Arga saling diam karena kematian mertuanya. Arga berubah, dan itu pun hanya sebentar saja.


"Aku akan ke ruang kerjanya saja. Tidak sabar juga menunggu dia masuk ke dalam kamar." katanya lagi.


Anita turun dari ranjangnya dan keluar dari kamar. Dia turun ke bawah lalu menuju ruang kerja Arga yang tertutup rapat. Mata Anita memicing, dia mendekat dan memegang handle. Di putarnya handle, namun ternyata di kunci.


"Kenapa di kunci?"


Anita samakin kesal dan dia mengetuk pintu ruangan tersebut.


"Ga, kamu masih di dalam?" teriak Anita.


Karena waktu terus berjalan, malam semakin larut. Lampu-lampu setiap ruangan sudah di matikan, jadi keadaan gelap, hanya pantulan sinar lampu di dapur yang masih menyala. Belum di matikan, Anita masih mengetuj pintu dengan keras sambil menarik handlenya.


Tok tok tok


"Arga, kamu tidur di dalam? Kenapa kamu kunci pintunya, pa. Papa!" teriak Anita lagi.


Hatinya semakin gelisah dan tidak karuan, dia takut suaminya sedang menelepon seseorang dan harus sembunyi-sembunyi darinya. Anita mulai terisak, masih menggedor pintu ruangan itu.


"Kamu sedang apa Ga? Kamu membuatku khawatir, ada apa denganmu sejak pulang dari bandara, hik hik hik."


Dan, sedikit lagi waktu jam dua belas. Dari beberapa kamar terlihat terang cahaya dan pintu terbuka sedikit. Kepala mulai keluar sedikit dan mengintip Anita yang sedang menangis sambil mengetuk pintu ruang kerja Arga.


"Duh, ini padahal nunggu beberapa menit lagi. Papa belum juga membuka pintunya. Tapi kasihan lihat mama menangis seperti itu." kata Celine merasa iba.


"Tahan, tunggu lima menit lagi. Papa juga pasti sedang di depan pintu. Iko sedang apa sih? Kok ngga ada suaranya?" bisik Chila.


"Dia tahu ngga sih mama mau dapat kejutan dari papa?" tanya Celine.


"Aku ngga sempat kasih tahu tadi, tapi kayaknya Cheril memberitahu deh waktu di kamar." jawab Chila.


Elana hanya diam saja melihat tingkah keluarga yang sangat harmonis itu. Arga memberi kejutan aniversary pernikahan yang ke dua puluh, katanya itu. Sangat romantis sekali, pikir Elana. Rasanya menyenangkan tinggal di tengah-tengah keluarga Chiko itu, kompak sekali. Pikir Elana.


"El, kamu kasih tahu bang Iko deh." kata Celine.


"Ke kamarnya?" tanya Elana heran.

__ADS_1


"Ya di telepon, kalau ke kamarnya mama pasti curiga. Cepat sana kasih tahu bang Iko, dia pasti tidur." kata Celine.


Elana tersenyum malu lalu mengangguk. Kemudian dia masuk ke dalam kamar, mengambil ponselnya dan menghubungi kekasihnya itu.


"Halo sayang, kenapa malam-malam menelepon?"


"Semua sedang menunggu waktu. Kan mama kamu mau dapat kejutan dari papamu. Apa abang ngga tahu?"


"Heheh, tahu sayang. Ini lagi nunggu juga sama Angga dan Kevin, kamu lagi apa?"


"Ish, malah tanya. Ya sama nunggu waktu, nah tuh udah jam dua belas kurang satu menit. Udah ya. Daaah."


Klik!


Elana meletakkan lagi ponselnya setelah dia menutup sambungan teleponnya pada Chiko. Lalu dia kembali lagi di tempat di mana Celine dan Chila berada.


"Eh, kak Chila. Mana kuenya?" tanya Celine.


"Tuh ada di meja, ambil dek lalu nyalakan lilinnya." kata Chila.


"Oke, nanti kita keluar sama-sama ya."


"Ya."


Celine mengambil kue ulang tahun bertuliskan dua puluh tahun. Dia menyalakan lilinnya, lalu dia mendekat lagi pada Chila.


"Iya kak."


Chila, Celine dan Elana keluar dari kamar Chila menuju ruang kerja Arga membawa kue ulang tahun. Chiko dan Angga serta Kevin juga keluar dari kamarnya, sama seperti Celine. Mereka juga membawa kue ulang tahun.


Anita masih terisak, tangannya masih menggedor pintu ruangan itu. Perlahan pintu terbuka. Arga berdiri di depan Anita yang sedang terduduk karena dia marah dan sedih pintu tidak juga di buka.


"Sayang, bangunlah." kata Arga.


Anita mendongak, dia melihat Arga juga membawa kue ulang tahun bertuliskan angka dua puluh. Anita heran, dia pun bangkit dari duduknya dan menatap heran pada suaminya.


"Apa ini Ga?"


"Mamaa! Selamat hari jadi pernikahan ke dua puluh!!" teriak semua anak-anaknya pada Anita.


Anita kaget dan menoleh pada semua anak-anaknya berdiri dengan senyum kemenangan karena sudah bisa mengerjai mamanya.


"Selamat ya sayang, kita sudah dua puluh tahun menikah dan sampai sekarang aku masih tetap sayang dan cinta sama kamu." kata Arga dengan senyumannya.


Anita pun ikut tersenyum, dia menghapus air matanya. Dia tidak menyangka akan dapat kejutan dari suami dan anak-anaknya.

__ADS_1


"Terima kasih suamiku dan juga anak-anakku. Aku terharu, terima kasih kalian masih menyayangi mamamu ini. Hik hik hik, mama terharu." kata Anita kembali menangis.


"Sudah, jangan menangis. Ayo tiup lilinnya sama-sama." kata Arga.


Anita dan Arga meniup lilinnya bersama-sama bergantian di tangan kedua anaknya.


"Yeeeaa, selamat ya ma. Uuuh, makin sayang aku sama mama. Cup." ucap Celine.


Dia memeluk lebih dulu, kemudian di susul Chila lalu Chiko, Kevin, Angga, Cheril serta Karin yang terlihat masih mengantuk. Terakhir Arga suaminya.


"Selamat ya sayang, semoga kita selalu bersmaa sampai akhir memisahkan kita. Cup." kata Arga.


"Iya, sama-sama pa. Aku pikir kamu diam saja sejak pulang menjemput Celine kamu bertemu mantanmu dan mulai berubah padaku." kata Anita akhirnya mengeluarkan unek-uneknya.


Arga menarik tubuh istrinya, senyumnya mengembang. Ternyata dia berhasil memgerjai istrinya.


"Ya ngga sayang, aku cintanya sama kamu aja kok."


"Ciiieee, uuuugh romantis banget sih?" ucap Celine dan Chila.


Semua tampak tertawa, lalu mereka pun kini ke ruang tengah dan makan kue bersama-sama. Elana yang sejak tadi diam saja kini juga mengucapkan selamat pada Anita.


"Selamat ya tante, semoga selalu sehat dan panjang umur dalam pernikahannya." kata Elana.


"Iya, terima kasih Elana. Kamu juga semoga bisa seperti kami ya nanti dengan Iko." kata Anita.


Elana mengangguk, dia lalu mengucapkan juga pada Arga.


"Selamat juga ya om, maaf saya ngga tahu kalau om mau kasih kejutan sama tante Anita."


"Ya, terima kasih Elana. Kamu jangan sungkan di rumah ini ya, anggap saja ini rumahmu."


"Iya om, terima kasih."


Mereka lalu bercanda dan tertawa di ruang keluarga sambil makan kue ulang tahun itu. Anita menatap suaminya lalu tersenyum mengingat pikirannya tentang suaminya.


"Kamu senyum-senyum begitu kenapa sayang?" tanya Arga.


"Aku ketakutan sejak sore sampai tadi. Takut kamu punya simpanan lain, bahkan kamu juga tidak masuk ke kamar dan malah mengunci ruang kerja. Aku takut itu terjadi Ga." kata Anita.


Kini Arga memeluk istrinya erat, dia tidak pernah berpikir untuk memiliki simpanan apa lagi lainnya. Cukup Anita saja sampai dia tua dan punya cucu dari anak-anaknya nanti.


_


_

__ADS_1


_


😊😊😊😊😊😊😊😊❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2