E L A N A

E L A N A
47. Tinggal Dengan Celine Dan Chiko


__ADS_3

Celine duduk di samping Elana, dia melihat Elana masih menangis. Lalu Celine memeluk Elana untuk menenangkannya agar bisa melepas semua beban di hatinya.


Chiko memperhatikan kedua gadis yang sedang berpelukan. Dia juga tidak sabar untuk mengetahui kenapa Elana sampai pergi dari rumah papanya di waktu dingin begini.


Setelah di rasa cukup, Elana melepas pelukan Celine. Dia menghapus air matanya lalu menatap Celine dan Chiko bergantian.


"Maaf kalau aku merepotkan bang Iko dan Celine. Aku tidak tahu harus pergi kemana." kata Elana lirih.


"Kamu sudah tepat datang kesini, El. Dan kita ngga di repotkan, tapi sebenarnya ada apa sampai kamu pergi di waktu cuaca dingin begini. Apa kamu kabur dari rumah papamu?" tanya Celine yang sejak tadi penasaran.


Elana melirik ke arah Chiko sekilas dan dia menatap Celine.


"Aku bukan kabur, tapi di usir oleh papaku." ucap Elana.


"Apa? Di usir?!" ucap Chiko dan Celine bersamaan.


Elana mengangguk pelan, dia menunduk dalam. Rasanya malu sekali harus bercerita, tapi jika tidak bercerita akan semakin membuat kedua kakak beradik itu penasaran.


"Aku tidak tahu kenapa papa marah sama aku, tapi waktu itu aku menjaga adik tiriku karena di suruh mama Ana. Angela masuk dan menggangguku. Malah dia menuduhku yang tidak-tidak sama mama Ana. Akhirnya aku di marahi karena adikku menangis. Aku sendiri ngga tahu kenapa ada binatang kecoa di sana, sampai aku dan mama Ana bertengkar dan papa melihatnya. Dia tidak terima karena aku melawan. Dan aku di suruh pergi dari rumah itu." kata Elana.


Celine dan Chiko saling pandang, mereka merasa kasihan sama Elana.


"Angela itu siapa?" tanya Chiko.


"Dia adiknya istri papa." jawab Elana.


"Kenapa dia selalu usil sama kamu?" tanya Celine


"Aku ngga tahu, sejak dia datang dia tidak suka padaku. Entahlah, mungkin dia merasa aku akan menarik perhatian kakaknya. Tapi kenyataannya mama tiriku itu juga tidak suka padaku." jawab Elana.


Cerita Elana mengalir terus apa adanya tentang Evan dan Ana. Serta adiknya Angela dan Dimitri yang selalu kadang mengganggunya dan juga mencemoohnya.


Hingga larut malam, mereka akhirnya mengakhiri obrolan dan pertanyaan pada Elana. Elana tidur di kamar Celine, sedangkan Celine pindah tidur di kamar Chiko.


Chiko sendiri tidur di ruang tengah dan di sofa. Tapi sebelum tidur, Chiko menghampiri Elana yang masih berbaring di ranjangnya.


"Emm, El. Kamu bisa tinggal di sini dulu, besok aku akan pindahkan ranjangku ke kamar Celine. Biar nanti Celine bisa tidur di sini denganmu." kata Chiko.


"Terima kasih bang, tapi abang tidurnya bagaimana? Ngga ada kasurnya." kata Elana lagi.

__ADS_1


"Ngga apa-apa, nanti aku beli lagi. Kamu jangan khawatirkan aku, pikirkan kesehatanmu dulu ya." kata Chiko.


Elana tersenyum, lalu mengangguk pelan.


"Nanti vitaminnya jangan lupa di minum ya sebelum tidur." pesan Chiko.


"Iya bang, terima kasih." jawab Elana.


Chiko tersemyum, lalu dia keluar dari kamar Celine. Elana pun ikut tersenyum lalu dia mengambil vitamin yang tadi di beli oleh Chiko. Setelah meminum vitamin, kini Elana bersiap tidur.


_


Satu minggu sudah Elana tinggal dengan Celine dan Chiko. Selama satu minggu itu Elana berharap papanya mencarinya dan mengajaknya kembali ke rumahnya. Biar bagaimana pun tetap saja dia merasa tidak enak tinggal dengan Celine dan Chiko.


Mereka memang baik tapi tidak baik juga menumpang hidup terlalu lama. Elana berpikir jika Evan mencarinya dan mengajaknya pulang, dia akan pulang meski nanti Ana dan juga Angela akan selalu memusuhinya. Setidaknya dia tinggal dengan papanya.


Waktu liburan kuliah tinggal satu minggu lagi, Elana semakin gelisah. Dia juga belum menukarkan uang yang dulu pernah di berikan oleh Mourin dari sponsor dan juga tabungannya.


Elana menimbang buku tabungan itu ragu dan tidak tahu harus kemana dia menukarkan uangnya.


Celine masuk ke dalam kamar Elana, dia melihat Elana sedang memegang tabungan.


Dia sedang mengemil makanan kesukaannya.


"Aku ingin menukarkan uang tabunganku dengan rubel. Untuk kebutuhanku di sini." jawab Elana.


"Kamu mau mencairkan uangmu?" tanya Celine lagi.


"Iya, aku ngga punya uang lagi." jawab Elana.


"Nanti aku antar ke bank untuk menukarkan uangmu dan mencairkannya. Aku selalu ke bank itu untuk ngambil uang kiriman papa." kata Celine.


"Benarkah? Memang bisa ya di tukar lalu di carikan? Soalnya masih bentuk tabungan." kata Elana.


Celine berpikir keras, bagaimana bisa mencairkan tabungan di Indonesia dan menukarkannya ke dalam rubel.


"Agak susah ya, tapi kita coba ke kantor KBRi aja, minta di tukarkan dan di cairkan bisa ngga." kata Celine.


"Emm, ke kantor KBRI bisa mengurus semua itu ya?" tanya Elana ragu.

__ADS_1


"Hehe, ngga tahu juga. Tapi kita coba minta tolong aja sama petugas di sana. Siapa tahu bisa bantu." kata Celine dengan senyum ragunya.


Elana berpikir, apa sebaiknya begitu saja ya? Tapi apa salahnya di coba, bukankah kantor itu bisa mnegurus keperluan warga Indonesia yang sedang merantau di negeri orang.


"Baiklah, ayo kita coba ke kantor itu. Mungkin memang benar, siapa tahu bisa bantu. Hehe ..." kata Elana.


"Kalaupun ngga bisa bantu, mungkin kita di kasih petunjuk kemana kita bisa menukarkannya dan mencairkan uangnya. Sekalian kita jalan-jalan kan?"


"Heheh, iya benar. Mumpung masih libur kuliah. Tapi aku ngga punya uang sama sekali, Celine." kata Elana.


"Tenang aja, aku punya kok. Kalau kurang nanti minta sama bang Iko."


"Emm, iya. Ada bang Iko ya. Hahah...."


"Iya, jangan khawatir. Dia pasti kasih uang buat jalan-jalan kita, bang Iko itu banyak uangnya." ucap Celine tertawa juga.


"Tapi, bang Iko kok sibuk banget ya. Memang sedang apa dia Celine?" tanya Elana.


"Bang Iko sedang melakukan penelitian di setiap badan hukum di kota-kota kecil. Mumpung liburan katanya dan itu juga tugas dari kampus. Emm, sebenarnya dia berat sih ninggalin kamu di sini denganku." ucap Celine tanpa sadar.


"Berat ninggalin aku?" tanya Elana heran.


"Eh, bukan. Maksudnya dia pengen mengisi liburan sama kita bertiga, tapi ada tugas dari kampus. Jadi ya, harus di kerjakan secepatnya." kata Celine.


Elana pun diam, dia mencerna ucapan Celine lalu memgangguk.


"Nanti siang kita ke kantor KBRI, sekalian kita jalan-jalan ya." kata Celine.


"Iya, boleh." jawab Elana.


Elana kembali memikirkan Evan, apakah dia tidak merindukan anaknya? pikir Elana.


Dia menghela nafas panjang, lalu mengambil cemilan di tangan Celine dan memakannya.


_


_


_

__ADS_1


☺️☺️☺️☺️☺️☺️☺️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2