E L A N A

E L A N A
17. Mimpi Elana


__ADS_3

Setelah ibu Sinta pergi, Elana kembali ke kamarnya, dada yang tadi terasa nyeri kini mulai reda. Seiring dia makan bekal dari ibu Sinta.


Elana berbaring di ranjangnya dan menatap langit-langit kamarnya yang redup karena jendela kamar sengaja tidak dia buka. Hanya gorden saja yang di sibak ke samping.


Dia memikirkan apa yang di katakan ibu Sinta mengenai sponsor yang akan membiayai kuliahnya nanti. Apa benar mamanya mengurus semua pengajuan pada perusahaan besar untuk jadi sponsornya dalam pendidikannya nanti. Dia ragu, tapi pikirannya terus menggelitik.


Antara ragu dan ingin melakukan, Elana terus berperang dalam hatinya. Dan karena lelah berpikir, dia pun tertidur di kamarnya karena matanya sudah lelah.


Lama Elana tidur hingga petang dia baru bangun. Lumayan segar tubuhnya setelah tiga jam tertidur. Kini dia bangun dan duduk di tepi ranjangnya. Mengumpulkan pikiran dan tenaganya untuk kembali beraktifitas.


Lima menit masih duduk di tepi ranjangnya, lalu dia keluar dari kamar menuju kamar mandi untuk mandi. Rasa lengket di tubuhnya memang ingin di siram dengan air dingin.


Rasa lelah yang entah tiba-tiba menyerang, padahal dia tidak melakukan apa-apa. Bahkan tubuhnya lemas tak bertenaga. Tapi dia tetap melakukan apapun, meski tubuhnya lemas.


Setelah selesai mandi, dia ternyata lapar lagi. Elana pun mengambil mie instan rebus juga telur untuk makan malamnya.


Tok tok tok


Suara pintu di ketuk, juga suara panggilan Elana.


"Nak El, apa ada di dalam?" tanya ibu Mira dari luar.


Elana pun segera menuju ruang tamu untuk membuka pintu. Dengan langkah pelan, dia terus melangkah.


Klek


Pintu terbuka dan tampak ibu Mira sedang membawa rantang seperti isi makanan di tangannya.


"Nak El sudah makan?" tanya ibu Mira.


"Belum bu, saya baru bangun tidur dan selesai mandi ini. Kenapa bu?" tanya Elana.


"Kebetulan sekali, ibu masak banyak. Ayahnya Nilam sudah makan di luar, jadi dari pada sisa tidak di makan. Buat nak El aja, mau ngga?" kata ibu Mira.


"Boleh bu, tapi saya ngga masak nasi."


"Ya, ibu juga nasi banyak di rumah. Sebentar, ibu ambil nasinya juga ya." kata ibu Mira.

__ADS_1


Dia memberikan rantang tersebut pada Elana, lalu pergi ke rumahnya lagi mengambil nasi untuk Elana. Elana melihat rantang yang berisi ayam asam manis juga tumis sayur hijau. Sangat menggugah selera makan Elana, dia lalu masuk ke dalam. Mencicipi sedikit sebelum nasi datang.


"Nah, ini ibu bawa nasinya. Satu piring cukup nak El?" tanya ibu Mira.


"Cukup bu, saya kalau makan ngga banyak."


"Ya sudah, makan ya. Di habiskan, nak El kelihatannya lebih segar dari tadi pagi. Apa tadi pagi ngga pergi ke loundry?"


"Ngga bu, badan saya lemas dan dada nyeri. Saya izin sama bos Marta pemilik loundrynya." jawab Elana.


"Kalau lelah, nak El jangan di paksakan kerja. Mungkin karena beban pikiran dan juga tubuh nak El ngga istirahat, jadinya sakit. Tubuh juga butuh istirahat nak El. Kalau masalah cari untuk makan, ibu bisa kok setiap siang atau malam menyiapkan nak El makan, jadi jangan terlalu di paksa ya." kata ibu Mira.


Dia merasa kasihan sama Elana, sakit pun hanya mengurus sendiri.


"Kerja di loundry hanya untuk buang sepi bu, di sana teman-teman kerjanya baik semua. Jadi saya betah di sana."


"Ya sudah, tidak apa-apa. Kalau begitu, makanlah nak El. Supaya kuat ya."


"Iya bu, terima kasih."


Mungkin benar, Mourin pasti meninggalkan barang penting untuknya.


_


Pukul sembilan akhirnya Elana berani masuk ke kamar Mourin, yang sejak tadi dia ragu untuk masuk ke dalam kamar Mourin setelah makan malam selesai tadi.


Dia membuka perlahan pintu kamar Mourin, berhenti sejenak lalu mendorong daun pintu dan melangkah masuk lebih dalam.


Kamar Mourin masih sama setelah meninggal di kamar itu. Belum di rapikan karena Elana belum berani masuk ke dalam kamar mamanya itu. Tiba-tiba pipinya basah, lelehan air mata Elana tidak bisa di bendung. Dia mengingat semua kenangan di kamar itu bersama Mourin, kadang hanya bercerita saja atau mengantar tidur mamanya.


Yang terakhir ketika pagi ingin membuatkan bubur, tapi Elana tidak segera membuat bubur karena hatinya cemas dengan keadaan ibunya waktu itu.


"Ma, apa mama bahagia dia sana?" gumam Elana sambil menangis.


Dia terisak ketika duduk di sisi ranjang Mourin, dia masih merasakan bau tubuh Mourin di kasur dan bantal yang tergolek tak beraturan. Elana meraba kasur itu dan kepalanya menunduk, mencium kuat bau tubuh Mourin yang masih menempel di kasur.


Kembali Elana teriksak, dia benar-benar merindukan ibunya itu.

__ADS_1


"Ma, El rindu mama. Apa mama merindukan El? Hik hik hik." masih dalam gumamannya di sela tangisnya.


Tubuh Elana bergetar, dia menangis kencang dalam diamnya. Rasa putus asa, sedih dan sakit hati berkecamuk dalam dadanya saat ini. Haruskah dia menyusul saja pada mamanya?


Pikiran putus asa Elana menguasai hatinya, rasa sepi, sedih, sakit karena di tinggal orang terkasih juga kembali merasakan jadi orang tersisihkan itu timbul lagi.


"Apa El harus menyusul pada mama? El sendiri ma, El sedih, El tidak punya teman. Mama jahat meninggalkan El sendiri. Mama ngga kasihan sama El, hik hik hik."


Gumaman demi gumaman Elana tanda keputus asaan karena hatinya benar-benar sepi dan sedih. Hingga dia tertidur tanpa sadar karena lelah menangis terus meratapi nasibnya.


Dalam tidurnya, Elana bermimpi. Dia duduk di ursi sambil membaca buku. Mourin menghampiri Elana yang fokus membaca buku yang dia suka tanpa menyadari Mourin ikut duduk di sampingnya.


"El..." panggil Mourin pelan.


Elana menoleh ke arah suara Mourin, dia melihat Mourin menatapnya dan tersenyum padanya.


"Mama! Mama ada di sini? Mama kembali?" teriak Elana senang.


"El, mama hanya sebentar saja di sini." kata Mourin.


"Mama jangan pergi lagi ma, El sendirian di rumah." kata Elana memeluk Mourin.


Mourin pun membalas pelukan Elana. Dia mengelus kepala Elana dengan kasih sayang dan penuh cinta.


"El, mama yakin kamu anak yang kuat. Bisa hidup dengan semangat dan ketangguhan, mama yakin El bisa. El anak yang kuat dan sabar, mama bangga sama El. Mama tidak seperti El yang selalu sabar dan kuat menjalani hidup meski penuh dengan penderitaan. Teruskanlah nak, Tuhan selalu mengiringi anak yang tabah dan kuat, selalu menjaga anak yang selalu bersemangat menjalani hidup meski penderitaan yang El alami. Mama percaya Elana bisa menghadapi semuanya. Jangan putus asa, mama selalu ada untuk El. Mama selalu ada di hati El, jangan merasa sendiri lagi nak. Banyak yang masih menyayangmu. Kejar cita-citamu, ingatlah keinginan El untuk pergi ke Rusia menemui papa. Mama sudah siapkan semuanya untuk El, bersemangat sayang. Mama selalu ada dalam hati kamu sayang, Elana putri mama yang tangguh."


Setelah mengatakan seperti itu, Mourin bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Elana yang masih bingung dengan keadaannya sekarang.


"Mama!!"


_


_


_


😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2