E L A N A

E L A N A
113. Di Dapur


__ADS_3

Malam semakin larut, Antonio dan Chiko mengobrol santai di dalam kamar. Celine dan Chila masuk ke dalam kamar Chiko, namun hanya sebentar saja. Lalu mereka pun kembali lagi ke kamarnya.


"Ko, kakakmu cantik juga ya?" kata Antonio.


"Ya, dia kakakku yang paling baik." kata Chiko menanggapi ucapan Antonio.


"Kalian sering bertengkar?"


"Tidak, tapi kalau kakakku itu tidak mau mengalah. Maka akan selalu ada pertengkaran pada kami di setiap kali bertemu. Tapi dia orangnya penyabar dan selalu mengalah sama aku, waktu kecil aja dia suka berdebat dengan aku. Tapi semakin besar kak Chila jarang sekali berdebat apa lagi bertengkar. Mungkin karena dia sudah menyadari kalau adiknya banyak, jadi dia lebih banyak mengalah." kata Chiko lagi.


"Apakah kakakmu sudah punya pacar?" tanya Antonio lagi.


"Emm, setahuku sih belum. Dia orangnya pemilih dan tidak mau repot dengan urusan pacaran. Tapi bukan berarti dia tidak menyukai laki-laki." kata Chiko lagi menggambarkan kakak kembarnya.


"Dia cantik ya, sayang kalau tidak punya pacar." kata Antonio lagi tidak sadar.


"Sayang? Sayang kenapa?"


"Ya kan, dia cantik tapi tidak ada yang melindunginya dan juga membuatnya bahagia." kata Antonio lagi.


"Aku yang akan menjaganya dan melindunginya, pacarnya mana bisa melindunginya seperti aku." kata Chiko tidak terima jika Chila punya pacar sembarangan.


"Ck, kamu itu sudah punya Elana. Mana ada waktu kamu menjaga kakakmu, lebih baik ada laki-laki yang bisa menjaganya dan melindunginya. Dia gadis yang baik kan, sepantasnya harus di jaga dan ada yang membahagiakannya." kata Antonio lagi.


"Kalau kakakku punya pacar, dia harus melewatiku dulu. Dia pantas ngga dengan kakakku itu, karena dia terlalu berharga."


"Ish, kamu posesif banget sama kakakmu. Pantas saja Celine tidak pernah punya pacar, karena kamu selalu menghalanginya berpacaran."


"Tentu saja, aku menjaga mereka dari laki-laki brengsek. Karena nantinya laki-laki yang akan jadi pacar kakakku itu harus bisa menjaganya dan juga Celine."


"Ck, terlalu posesif pada saudara itu tidak baik. Dan kamu itu namanya menang sendiri, kamu sudah punya pacar Elana. Kakak dan adikmu? Apa mereka akan selalu menjadi jomblo gara-gara kamu? Egois itu namanya." kata Antonio.


Dia tidak setuju dengan pemikiran Chiko, kedua kakak dan adiknya harus menjomblo gara-gara Chiko. Sedangkan dirinya sendiri sudah punya pacar. Niatnya Antonio mau mendekat pada Chila sementara dia masih ada di sini, meminta nomor ponselnya kalau bisa. Terus terang saja, Antonio tertarik sama Chila.


"Aku bukan egois, mereka bisa kok punya pacar. Tapi aku harus tahu tentang laki-laki yang jadi pacar Celine dan kak Chila." kata Chiko.


"Terserah kamu, tidak semua pendapatmu itu benar. Jika mereka mempunyai cinta untuk laki-laki yang kamu sendiri tidak suka, apa kamu juga akan menghalangi cinta mereka?" tanya Antonio.

__ADS_1


Perdebatan Antonio dan Chiko masih terus berlanjut mengenai kedua saudaranya, Chiko tetap kekeh dengan pendapatnya sendiri. Sedangkan Antonio kini menyerah dengan pendapat Chiko. Perdebatan itu berakhir dengan Antonio ingin di antar ke bawah, entah untuk apa. Tapi dia ingin ke bawah.


"Kamu mau apa ke bawah? Ini sudah malam, nanti di kira maling di rumah ini." kata Chiko.


"Ck, aku mau ke bawah. Mau makan, lapar." kata Antonio beralasan.


"Ya udah, aku antar kamu ke dapur aja. Kamu bisa ambil apa aja di kulkas. Tapi tidak ada makanan Rusia di kulkasku." kata Chiko.


Antonio tidak peduli, yang penting dia ingin keluar. Siapa tahu Chila juga belum tidur dan bisa mengobrol dengannya, pikir Antonio. Meski itu mustahil, tapi dia ingin keluar dari kamar Chiko.


Chiko mengantar Antonio ke dapur, mereka melangkah hati-hati agar penghuni kamar tidak terganggu dengan langkah kaki mereka. Sampai di dapur, Chiko membuka kulkas dan memperlihatkan pada Antonio. Tak ada apa pun yang bisa di jadikan makanan olahan mendadak.


"Emm, lapar. Tapi bingung mau bikin apa ya?"


"Ada roti tawar, barangkali kamu mau makan roti dengan telur di ceplok." kata Chiko.


"Oh, boleh juga. Oke, aku akan buat sendiri." kata Antonio.


"Kalau begitu, aku masuk ke kamar lagi. Udah ngantuk, kamu kalau selesai langsung ke kamar aja."


"Oke."


"Kamu lapar?" tanya Chila.


Antonio terkejut, dia menoleh ke arah Chila yang sedang menatapnya. Lalu tersenyum tipis.


"Ya, maaf aku mengotori dapur rumahmu. Entah kenapa aku lapar sekali setelah berdebat dengan adikmu." kata Antonio dengan bahasa Inggrisnya yang terbata.


Sama halnya, Chila juga bisa berbahasa Inggris hanya sedikit. Mereka berbicara dengan menggunakan isyarat tangan dan tubuh juga agar bisa di mengerti satu sama lain.


"Ada yang bisa aku bantu?"


"Waah, telurku gosong. Aku belum lihai memasak telur ceplok, heheh." kata Antonio dengan salah tingkah.


Chila pun mengambil telur lagi dalam kulkas dan dia menggoreng telur tersebut. Antonio memperhatikan apa yang di lakukan oleh Chila, menggoreng telur dengan cekatan dan sangat cepat. Chila menaruh telur itu di atas roti yang sudah di siapkan di piring, dan menyerahkan pada Antonio.


"Ini makanan berat, apa tidak khawatir makan makanan berat di malam hari?" tanya Chila.

__ADS_1


"Tidak masalah, aku kalau lapar malam hari apa saja aku makan." kata Antonio.


Dia duduk di meja makan, sedangkan Chila membersihkan wajan yang tadi di pakai menggoreng. Setelah selesai, dia mengambil minuman mineral di kulkas dan menuangkannya di gelas. Dia menengguknya, dan Chila mengambil satu gelas lagi untuk Antonio.


"Ini minumnya." kata Chila meletakkan gelas itu.


"Temani aku makan, bolehkah?"


Chila diam, lalu dia pun duduk sambil memperhatikan Antonio makan roti lapis telur dengan pelan. Entah cara makannya yang sengaja di pelankan agar bisa berlama-lama dengan Chila atau memang dia menikmati makanan roti itu.


"Kamu satu jurusan dengan Chiko?" tanya Chila.


Dari pada hanya memperhatikan Antonio makan, Chila bertanya tentang adiknya.


"Ya, dia satu jurusan denganku. Hukum, dan sekarang sudah selesai magang. Satu bulan libur dan nanti satu bulan lagi kita masuk kuliah lagi." kata Antonio.


"Begitu ya."


"Kamu kuliah jurusan kedokteran? Kata adikmu kamu kuliah jurusan kedokteran." tanya Antonio.


"Ya, kedokteran membutuhkan waktu panjang dan perlu keberanian." jawab Chila.


"Kamu suka membantu orang-orang? Kenapa kamu mengambil jurusan kedokteran?"


"Aku suka aja, menolong orang yang sedang sakit. Dan juga lebih senang lagi kalau dokter anak, aku akan ambil spesial dokter anak jika lulus kuliah ini nanti." kata Chila.


Antonio mendengar cerita Chila, dan sebaliknya. Hingga tidak sadar waktu sudah menunjukkan pukul satu malam.


"Sudah malam sekali, sepertinya ini sudah dini hari. Aku harus masuk kamar sebelum bi Ina bangun jam lima pagi." kata Chila.


"Hahah, ini masih jam satu. Tapi memang ini waktunya tidur, masuklah Chila. Tidak baik begadang bagi perempuan sepertimu." kata Antonio.


Chila tersenyum, dia lalu mengangguk dan pergi meninggalkan Antonio di meja makan. Antonio juga akhirnya masuj ke kamar Chiko, dia juga sudah mengantuk setelah makan malam di dapur dengan Chila.


_


_

__ADS_1


_


😊😊😊😊😊😊😊😊❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2