E L A N A

E L A N A
125. Melamar Chila


__ADS_3

Enam bulan sudah, kini Antonio dan Chiko menyelesaikan kuliahnya. Hanya menunggu wisuda dua bulan lagi. Memang wisuda di laksanakan setelah semua fakultas, mahasiswanya menyelesaikan semester akhirnya dan menyelesaikan tugas akhir.


Dan kini Chiko dan Antonio sudah menyelesaikannya. Antonio menagih janji pada Chiko yang sekarang sedang bersiap untuk pulang ke negaranya. Chiko juga merindukan Elana, dia benar-benar merindukan kekasihnya itu.


"Apa kamu mau pulang ke Indonesia?" tanya Antonio.


"Ya, aku merindukan kekasihku." jawab Chiko.


"Tentu saja, yang bercinta dan berpisah lama pasti merindukan kekasihnya. Seperti diriku, merindukan Chila." kata Antonio.


"Kalau kamu rindu, pulanglah denganku." kata Chiko yang kini sudah lebih lunak pada Antonio.


"Tentu aku akan menemui kekasihku. Tapi tidak sekarang, nanti." jawan Antonio.


Dia tidak memberitahu Chiko lebih dulu kalau dia akan ke Indonesia dengan kedua orang tuanya, sekaligus akan melamar Chila. Chiko menatap sahabatnya itu, lalu duduk di sampingnya dan menepuk pundak Antonio.


"Maafkan aku selama ini, Antonio. Sekarang kamu bisa menemui kakakku dengan bebas. Dia juga sangat merindukanmu." kata Chiko.


"Ya, aku tahu. Tapi tunggu satu minggu setelah kamu pulang, aku akan menemui kekasihku itu." kata Antonio.


"Hemm, terserah kamu. Asal jangan bohong kalau kamu mau datang kesana." kata Chiko.


Dia kembali merapikan bawaan bajunya, lalu merapikan juga laptopnya yang selalu menemaninya belajar. Antonio memperhatikan apa yang di lakukan oleh calon adik iparnya itu. Dia juga membantu Chiko memasukkan buku-bukunya.


"Kita akan ketemu di rumahku." kata Chiko.


"Ya, dan wisuda ini aku sudah menjadi kakak iparmu."


"Hei, secepat itu kamu akan menikahi kakakku?"


"Tentu saja, aku sudah tidak sabar ingin menikah dengannya. Dan nanti wisudaku Chila sudah aky bawa kemari sekaligus bulan madu." kata Antonio dengan segala rencananya.


"Ck, seharusnya aku yang lebih dulu menikah. Kenapa kamu yang ingin cepat menikah?"


"Karena aku takut Chila akan berubah pikiran."


"Hahah, ya. Kakakku itu memang tidak banyak bicara, tapi percayalah. Dia sangat setia pada pasangan, sama denganku." kata Chiko memuji diri sendiri.


Antonio pun mencibir Chiko, namun begitu kini persahabatan mereka kembali terjalin erat. Setelah beberapa bulan sempat tegang dan tidak banyak bicara jika bukan urusan penting. Selama tiga bulan, Antonio sabar menghadapi Chiko. Celine juga sangat membantu mengeratkan lagi hubungan persahabatan mereka.


Jadi, Celinelah yang banyak membantu kedua orang tersebut. Termasuk urusan percintaan. Memgenai Elana, Celine juga sangat membantu. Begitu juga dengan Antonio, dia banyak di bantu oleh Celine yang sering menyampaikan apa pun pada Chila. Atau Celine sering memberitahu keduanya agar tidak lagi bersitegang masalah hubungan Chila dan Antonio


"Adikmu itu sangat baik, dia benar-benar membantu kita menyelesaikan masalah ya." kata Antonio.


"Ya, aku merasa bersalah telah menghalangi dia jika ada yang dekat dengannya." kata Chiko.


"Lain kali kalau ada yang suka adikmu, biarkan saja. Itu juga akan membuatnya banyak berpikir mana laki-laki baik dan tidak."

__ADS_1


"Tapi dia belum tahu itu, makanya aku selalu menjaga dia agar tidak terjerumus oleh laki-laki sepertimu dulu." kata Chiko.


"Ck, sudah aku bilang. Aku tidak pernah memulai."


"Sudahlah, jangan di bahas lagi Nanti antar aku ke bandara ya."


"Oke."


_


Sesuai ucapan Antonio, dia datang setelah Chiko pulang ke Indonesia satu minggu kedatangannya. Dan yang membuat Chila kaget adalah Antonio membawa kedua orang tuanya datang ke Indonesia untuk melamarnya. Chila benar-benar tidak percaya, soalnya Antonio tidak pernah membaritahunya kalau dia akan datang dengan kedua orang tuanya.


"Antonio, apa ini benar?" tanya Chila tidak percaya setelah dia bertemu dengan Antonio.


"Ya, mereka sekarang ada di rumah keponakannya di kota. Apa kamu mau bertemu dengan momy dan dadyku?" tanya Antonio.


"Ya, tapi aku gugup. Bagaimanakah tanggapan momy dan dadyku mengenai diriku?" tanya Chila.


Soalnya, Chila tidak pernah bicara langsung di telepon dengan kedua orang tua Antonio. Dan mereka sedang menjaga jarak, meski memang jarak mereka jauh sekali.


"Tenang saja, mereka berdua sangat senang. Dan besok mereka akan datang menemui papa dan mamamu." kata Antonio.


"Apa kamu benar-benar akan melamarku?" tanya Chila lagi.


"Tentu saja, kamu pikir aku main-main? Jauh-jauh aku dan kedua orang tuaku datang untuk melamarmu, Chila. Aku ingin secepatnya hidup denganmu dan tidak mau jauh darimu." kata Antinio.


Dia memeluk Antonio erat, rasanya seperti mimpi Antonio datang lagi dan memberi kejutan akan melamarnya dan mengenalkannya pada kedua orang tuanya. Antonio juga sangat bahagia, dia akan menikahi Chila dalam waktu dekat.


"Jika menikah nanti, aku masih kuliah. Kamu bagaimana?" tanya Chila.


"Aku akan ikut di mana kamu berada." jawab Antonio.


"Aku sangat senang Antonio."


"Aku juga."


Beberapa hari setelah Antonio dan Chila bertemu, kedua orang tua Antonio datang berkunjung ke rumah Arga dan Anita. Melamar Chila untuk anaknya, Antonio. Anita dan Arga sebelumnya di beritahu Chila kalau kedua orang tua Antonio akan datang untuk melamarnya.


"Jadi benar dia akan melamarmu kak?" tanya Celine ketika mereka sedang menunggu kedatangan rombongan Antonio dan keluarganya.


"Ya dek, kakak juga tidak menyangka akan di lamar secepat ini. Tapi kakak senang sekali, dek. Dan berkat kamu juga semua hubunganku dengan Antonio semakin erat juga dengan Iko. Terima kasih dek, semoga kamu cepat dapat pacar yang menyayangimu juga dek." kata Chila.


"Aah, kak Chila. Aku belum mau pacarn kak. Aku mau cari pacar orang sini aja, dan nanti saja. Aku ngga mau pacaran jarak jauh seperti kak Chila dan bang Iko." kata Celine.


"Tapi yang penting dia setia menunggu kita dek."


"Tetap saja, aku ngga mau."

__ADS_1


"Kak, calon mertuamu sudah datang tuh." kata Anita memberitahu anak sulungnya itu.


"Ya ma." jawab Chila.


"Ciee, yang gugup mau ketemu calon mertua." ledek Celine.


"Apa sih dek, kakak malu tahu." kata Chila dengan wajah merah merona.


"Hahah, sampai pipi kak Chila merah tuh."


"Haish, goda kakak terus sih. Udah ah, kakak mau ke depan dulu."


"Jangan gugup kak, santai."


Chila tak menanggapi ucapan adiknya itu, dia lalu melangkah menuju ke ruang tamu. Dan di sana sudah banyak yang menunggunya, terutama momy dan dady Antonio. Dia berjalan pelan, semua menatap ke arah Chila yang berpenampilan berbeda dari biasanya.


Dia berdandan lebih dari biasanya, karena dia akan di lamar dan bertemu dengan calon mertuanya itu. Chila duduk di sebelah Anita setelah menyalami kedua orang tua Antonio. Sedangkan Antonio tidak pernah berkedip menatap kekasihnya itu.


"Jadi ini calon menantuku?" tanya madam Ester.


"Iya mom, cantik ya." jawab Antonio.


"Iya, lebih cantik dari yang di foto. Iya kan dady?" tanya madam Ester pada suaminya.


"Ya, tentu."


"Jadi, bagaimana? Apakah lamaran anakku di terima?" tanya dadynya Antonio pada Arga dan Anita.


"Terserah anak kami, tuan. Dia yang akan menjadi istrinya Antonio jika dia menerima lamarannya. Kak, bagaimana?" tanya Arga.


"Apanya pa?" tanya Chila bingung.


"Tadi kedua orang tua pacarmu itu memintamu untuk menjadi istrinya nanti.Dia melamarmu kak." kata Anita.


"Ya, aku mau ma."


"Nah, kan. Lamaran nak Antonio di terima oleh Chila. Sekarang kita membicarakan acara pernikahannya kapan di laksanakan." kata Arga.


Dan mereka pun membicarakan acara pernikahan selanjut yang akan di langsungkan kemudian. Karena kedatangan kedua orang tua Antonio sekaligus untuk menghadiri lamaran dan pernikahan. Jadi dengan segala serba cepat dan tak terduga sebenarnya, namun bagi Anita dan Arga tidak masalah. Dan di tentukan akhirnya bulan depan Antonio dan Chila pun menikah.


_.


_


_


😊😊😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2