E L A N A

E L A N A
88. Akhirnya Menemukanmu


__ADS_3

Chila mengikuti kemana Elana membawanya, dan dia berhenti ketika Elana menunjukkan sekumpulan baju-baju dewasa yang memang terlihat bagus dan masa kini modelnya. Chila tertarik, dia pun segera melihat-lihat beberapa baju.


Elana belum beranjak dari tempatnya, dia ingin melihat sejauh mana pelanggan barunya itu menyukai rancangan bajunya yang baru saja dia luncurkan minggu kemarin.


Elana memperhatikan wajah Chila, dia seperti mengingat sesuatu. Wajah itu mengingatkan pada seseorang, wajah Chiko.


Deg!


Dia pun berbalik dan tak sadar mulutnya menyebut nama Chiko.


"Bang Iko." gumam Elana.


Lama dia membelakangi Chila, hatinya bergetar mengingat Chiko kekasihnya yang sudah lama dia tidak bertemu.


"Mbak, apa ini cocok buat saya?" tanya Chila pada Elana yang masih membelakanginya.


"Mbak? Apa anda baik-baik saja?" tanya Chila lagi ketika Elana tidak menyahutinya.


Chila diam sejenak, dia lalu mendekat pada Elana dan memegang pundaknya. Berharap Elana berbalik dan melihat baju yang dia pegang itu.


"Mbak?"


"Eh, ya kak. Ada apa? Maaf kalau saya melamun." kata Elana gugup.


Di pandanginya lagi wajah Chila, dan benar saja. Wajah Chila di mata Elana memang mengingatkannya pada Chiko.


"Ini baju cocok ngga untuk saya?" tanya Chila lagi.


Dia juga memperhatikan wajah Elana, dan seperrtinya Chila mengingat sesuatu dengan wajah Elana. Pernah melihat, tapi di mana?


"Ini cocok kok buat kakak, kakak sepertinya wanita karir ya?" tanya Elana berbasa basi.


"Bukan, saya masih kuliah dan sedang liburan sih. Jadi mampir kemari, hehehe ...." jawab Chila.


"Oh, maaf kalau begitu. Saya kira kakak perempuan yang sudah bekerja." ucap Elana.


Chila pun memlih beberapa baju untuknya, Elana sendiri sudah kembali ke ruangannya. Dia memikirkan kekasihnya, tiba-tiba dia rindu pada Chiko.


"Bang Iko, aku rindu kamu." lirih Elana berucap.


Duduk di kursi kerjanya dan memejamkan mata sambil mengingat Chiko dan mengingat kebersamaannya dengan Chiko sewaktu di Rusia.


Sedangkan Chila masih memilih beberapa baju untuknya daj juga dia akan membeli dua baju untuk adinya Cheril dan Karin.


Chila lalu perginke kasir untuk membayar baju yang dia beli. Tak sengaja telinganya mendengar pembicaraan kedua kasir tersebut.


"Mbak Elana itu sangat ramah ya pada para pengunjung. Kalau ada pengunjung baru datang, pasti dia dekati dan mengarahkan pengunjung pada untuk ke baju-baju yang ingin di cari." kata kasir yang bertugas itu.

__ADS_1


"Iya, saya jadi salut sama dia. Katanya dia anak yatim yang di adopsi oleh ibu Sandra, dia kuliah di Rusia tapi ngga tahu tuh sampai sekarang apa sudah lulus atau belun" kata temannya lagi.


Deg!


Chila pun terdiam, dia mendengarkan percakapan kedua kasir tersebut. Chila melihat sekeliling kemana gadis yang tadi menyapanya dengan ramah. Dia pun keluar dari antrian untuk mencari gadis yang dia duga itu Elana.


Elana yang di maksud adiknya, ya. Kemungkinan dia orangnya. Chila mencari terus setiap sudut butik, namun dia tidak menemukan gadis tersebut.


Kemudian Chila kembali ke kasir, mengantri lagi, dia akan bertanya di mana dia bisa menemui Elana. Rasa penasaran dan ingin tahu tentang Elana bahkan lebih besar. Satu persatu Chila maju membawa beberapa baju, dia akan memberitahu adiknya kalau Elana ada di butik ini.


Ya, Chila menemukan Elana. Dan kini Chila sudah di depan kasir membayar baju yang dia beli. Tapi sambil menunggu, Chila bertanya pada kasir tersebut.


"Mbak, Emm yang tadi mbak bicarakan itu Elana pemilik butik ini?" tanya Chila.


"Iya mbak, memang kenapa?"


"Tadi memang saya di sambut olehnya, apa saya bisa bertemu dengannya?" tanya Chila lagi.


"Kalau sudah sore begini, biasanya Elana sudah pulang." kata kasir tersebut.


"Tapi baru saja dia mengibrol denganku, apa secepat itu dia pulang?"


"Biasanya sih, kan ini sudah jam lima sore lebih. Kami tutup jam setengah enam sore, seringnya Elana lebih dulu pulangnya." kata kasir tersebut.


"Ooh, begitu ya."


_


"Deek! Kamu di mana?" tanya Chila ketika dia mencari di setiap ruangan tidak ada.


Entah kemana Chiko itu, Chila pum duduk di meja makan. Dia membuka bungkusan makanan yang dia beli di jalan tadi. Pesanan Siomay adiknya dan jus alpukat di letakkan di meja, dia membuka cilok goreng dengan bumbu kacang langsung di lahapnya.


"Kak Chila udah datang?" tanya Chiko mengambil jusnya dan menyeruputnya.


"Kamu dari mana?" tanya Chila.


"Beli buku kecil, kenapa memangnya?"


"Coba tebak, kakak dapat apa?"


"Apa?"


"Kakak bertemu dengan Elana." kata Chila dengan senyumnya.


Chiko tertegun, dadanya bergetar mendengar kakaknya menyebut Elana. Bahkan bertemu dengannya. Chiko segera duduk dan bertanya pada kakaknya, dia tidak sabar mendengar informasi tentang Elana.


"Di mana kakak bertemu Elana?" tanya Chiko dengan tidak sabar.

__ADS_1


"Di butik. Ternyata dia punya butik, dek. Aku aja sempat kaget, awalnya kakak ngga tahu kalau dia itu Elana. Tapi ketika kasir membicarakan Elana, kakak yakin dia itu Elana. Bahkan kakak di sapanya, dek." kata Chila.


"Kak, di mana butiknya? Aku ingin menemuinya sekarang." kata Chiko tidak sabar.


"Besok aja dek, sekarang butiknya sudah tutup. itu kata pegawainya." kata Chila lagi.


Chiko kecewa, dia ingin sekali bertemu dengan Elana dan bertanya padanya tentang banyak hal.


"Jangan putus asa, kakak yakin dia besok ada di butik itu. Karena katanya setiap hari Elana selalu menyambut pengunjung butiknya dengan ramah, itu salah satu trik bagus." kata Chila memberi semangat pada adiknya.


"Kakak ngga nanya di mana dia tinggal?" tanya Chiko.


"Waah, aku sampai lupa menanyakan itu. Waktu itu aku mau menemui dia, tapi tidak ada. Kata pegawainya Elana sering pulang lebih dulu, aku tidak tahu kalau itu benar. Lebih baik besok pagi kamu langsung ke butiknya aja." ucap Chila lagi.


"Di mana? Nama butiknya apa?" tanya Chiko tidak sabar.


"Nama butiknya EL Boutiqe, tempatnya di ujung jalan. Pasti kelihatan, karena butik di situ hanya ada EL Boutiqe." jawab Chila.


Chiko terdiam, wajah senangnya kini tampak jelas, sebentar lagi dia akan bertemu kekasihnya. Meski tidak bicara, namun Chila tahu adiknya itu sangat senang dengan informasi tentang Elana.


_


Esok hari, Chiko lebih dulu bangun. Dia bersiap untuk bertemu dengan Elana, makanya dia segera mandi dan bersiap dengan baju yang terbaik menurutnya. Hatinya berbunga-bunga, dia sebentar lagi bertemu dengan Elana.


"Dek, sepagi ini kamu mau kemana?" tanya Chila melihat jam di dinding masih pukul setengah enam pagi.


"Aku akan menunggu Elana kak, biar aku yang menunggu dia di butik itu." jawab Chiko merapikan bajunya.


Chila tersenyum, begitu besar rasa cintanya pada Elana hingga rela dia harus menunggu. Dan setelah selesai Chiko berpamitan pada kakaknya, dia segera menjalankan mobilnya menuju butik Elana sesuai alamat yang di berikan oleh Chila.


Dengan cepat dan penuh semangat, Chiko mengendarai mobilnya. Baru setelah dia sampai di daerah di mana butik Elana berada, matanya tak lepas dari pandangan setiap bangunan.


Matanya tertuju pada sebuah bangunan sedang, tertulis di depan nama bangunan itu. EL Boutiqe. Chiko berhenti, dia masuk ke dalam halaman parkir. Suasana butik masih sepi. Dan jalanan di sekitar juga masih sepi, belum ada yang buka karena memang masih terlalu pagi. Mungkin sebagian orang masih tidur.


Chiko turun dari mobil, rasa gelisah dia rasakan sejak dari rumahnya. Menunggu dan duduk di bangku panjang di depan butik. Matanya selalu melihat ke jam di tangannya, belum jam enam pagi.


Lama Chiko menunggu, hingga jam setengah tujuh. Suasana sudah mulai terang, dia berdiri berkeliling di sekitar butik yang masih tutup. Tepat di depan pintu dia menatap pintu itu, dan berbalik. Dia kaget bercampur senang.


Di depannya berdiri gadis yang selama ini dia cari. Ya, Elana berdiri tepat di depannya sama dengan dirinya diam terpaku menatapnya penuh dengan kerinduan.


"Akhirnya aku menemukanmu, Elana."


_


_


_

__ADS_1


😊😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤❤❤


__ADS_2