
Elana berada di kelas, dia sedang membaca buku seperti biasanya. Amanda mendekat dan duduk di samping Elana, Elana pun mendongak dan tersenyum pada Amanda lalu melanjutkan lagi membaca bukunya.
"Khazhdyy den' ya vizhu, kak ty chitayesh' na Elana?" (Setiap hari aku lihat kamu membaca terus, Elana?") tanya Amanda melihat buku yang di baca Elana.
Elana menoleh lalu tersenyum lagi pada Amanda.
"Ya lyublyu chitat, ya vsegda lyubil chitat' knigi." (Aku suka membaca, dari dulu aku suka sekali membaca buku." ) kata Elana.
"O, neudivitel' no, chto vchera u tebya byl khoroshiy rezul' tat." (Ooh, pantas saja kemarin nilaimu bagus. Rupanya kamu hobi membaca ya.") kata Amanda.
"Net pravda, ya chitayu knigu. *** shaya chast' togo, chto ya chital o biografiyakh fenomenal'nykh deyeletey." (Tidak juga, aku membaca buku tidak ada kaitannya dengan mata kuliah. Kebanyakan yang aku baca tentang biografi tokoh-tokoh yang fenomenal.") ucap Elana.
Dia memperlihatkan buku yang dia baca, hanya pada Amanda saja Elana. Sebuah buku yang dia bawa dari rumahnya dulu, biografi presiden pertama Indonesia. Sukarno. Elana kagum dengan kepemimpinan sukarno yang bisa di segani di dunia.
"O, tak ty lyubish' chitat' i' chitat' biografei." (Oh, jadi kamu suka baca buku biografi?") tanya Amanda.
"Vse, ya prochital."(Apa saja sih, aku baca semuanya.")
Semua teman kelas Elana masuk, perkuliahan pun di mulai lagi setelah istirahat di jam keempat. Kini Elana siap untuk menerima kembali materi kuliah siang ini.
_
Elana sedang berjalan menuju perpustakaan, dia kembali untuk mencari buku bacaan yang enak di baca. Waktu masih pukul tiga sore waktu Rusia, dia malas untuk pulang cepat karena nanti di rumah akan bertemu dengan Angela dan Dimitri.
Terutama Angela, dia akan di ceramahi terus dengan mengatakan jangan macam-macam di rumah kakaknya. Apa lagi nanti ibu sambungnya menampakkan muka masam jika melihat Elana.
Lagi pula, kenapa Evan lama sekali keluar kota. Bukankah dia bilang hanya tiga hari. Tapi sudah sampai seminggu belum juga datang.
Sedang memikirkan Evan, suara dering telepon Elana. Dia mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelepon.
Papa
"Halo pa?"
"Sayang, kamu di mana?"
"Aku masih di kampus pa, kenapa?"
"Ngga, papa ingin tahu kabar kamu. Maaf papa janjinya tiga hari ya, tapi sudah satu minngu papa belum pulang. Ternyata pekerjaan papa masih banyak, mungkin tiga hari lagi papa pulang. Kamu ngga apa-apa kan?"
"Iya pa, ngga apa-apa."
"Emm, kata mama Ana Angela dan Dimitri tinggal di rumah ya selama dua bulan. Apa kamu sudah berkenalan dengan mereka?"
"Sudah pa."
"Kalian pasti berteman dengan baik kan?"
__ADS_1
Elana diam, dia tidak menjawab ucapan Evan tentang kedua adik ibu sambungnya itu.
"Elana? Papa ingin kamu berteman dengan Angela dan Dimitri, mereka semua baik kok."
"Iya pa."
"Ya sudah, papa tutup teleponnya dulu ya. Mudah-mudahan dalam dua hari papa bisa pulang. Baik-baik di rumah ya, bantu mama kamu jaga Diego."
"Iya pa."
"Ya sudah, by sayang."
"By pa."
Klik
Sambungan telepon terputus, Elana menghela nafas panjang.
"Bagaimana mau berteman, mereka sepertinya ngga suka sama aku. Kadang mama Ana juga seperti ngga suka sama aku." ucap Elana lirih.
Elana lalu berjalan terus menuju perpustakaan, dia melihat ada tiga gadis yang hampir seusianya namun beda dua tahun. Mereka sedang bercanda dengan asyik, Elana memperhatikan dengan seksama gadis yang sedang tertawa itu.
Dia melihat gadis itu seperti orang Indonesia, ingin dia menyapa namun takut salah. Akhirnya dia terus berjalan menuju perpustakaan.
Sampai di perpustakaan, ketiga gadis yang tadi bercanda itu juga ikit ke perpustakaan. Gadis yabg tadi tertawa di jalan melirik ke arah Elana. Dia pun tersenyum padanya. Tapi tak di sangka, gadis itu mendekat padanya.
"Hai juga." jawab Elana dengan bahasanya sendiri.
"Hahaha, jadi kamu orang Indonesia? Siapa namamu?" tanya gadis itu yang tak lain adalah Celine.
"Elana." jawab Elana dengan sedikit senyuman.
"Waah, Elana ya. Kamu jurusan apa?" kata Celine antusias.
"Desain."
"Waah, benarkah? Aku juga jurusan desain, tapi udah tingkat jauh sih. Heheh ..." tanya Celine tidak percaya.
Dia ingat ucapan kakaknya Chiko, kalau kakaknya itu mengenal gadis Indonesia di jurusan desain.
"Kamu kenal abangku?" tanya Celine.
Elana mengerutkan dahinya, bingung apa yang di katakan oleh Celine.
"Oh ya, aku lupa mengenalkan diriku. Namaku Celine adiknya bang Iko, emm Maksudnya Chiko." kata Celine sambil tersenyum.
Tentu saja Elana kaget, jadi Celine ini yang adiknya Chiko? pikir Elana.
__ADS_1
"Oh, Celine adiknya bang Chiko ya. Hehe, maaf aku tidak tahu." kata Elana.
"Ya, ngga apa-apa. Ku pikir di sini yang dari Indonesia itu adalah aku dan bang Iko aja, tapi ada kamu yang baru masuk ya?" tanya Celine.
"Iya, jurusannya sama denganmu. Emm kak Celine, hehe." kata Elana.
"Duh, padahal kan kita cuma beda dua tahun aja kan? Jangan panggil kakak deh, Celine aja. Lebih enak kok, siapa tahu jodoh kita iparan nantinya. Hehehe ...." ucap Celine lagi dengan tawa riangnya.
Elana ikut tertawa kecil, dia sepertinya nyama dengan Celine. Sama halnya dengan Amanda, mereka orang-orang yang tulus dalam berteman. Entahlah, Elana seperti merasakan kalau berteman. Jika merasa nyaman baginya, berarti mereka menerimanya apa adanya.
Tapi, apakah memang seperti itu?
Sejauh ini sih, Amanda memang tidak memandang dia itu seperti apa. Mungkin karena dia belum sedekat seperti seorang sahabat, menceritakan segala yang pernah Elana alami.
"Ikut gabung sama aku aja yuk duduknya, nanti sama teman-temanku." kata Celine.
"Ngga, terima kasih. Aku lebih suka sendiri kalau membaca buku. Lebih fokus sama bacaan." kata Elana menolak dengan halus.
"Hhemm, begitu ya. Eh, lain kali kita nanti ketemu lagi ya?"
"Ya."
"Aku minta nomor teleponnya dong."
Elana mengeluarkan ponselnya, dia menyebutkan nomor ponselnya dengan melihat di layar. Karena dia tidak hafal nomor barunya itu.
"Aku tidak hafal nomor ponselku, heheh." kata Elana membuat Celine tersenyum.
"Oke, nanti aku kabar kamu ya. Kita nanti jalan-jalan bareng deh dengan bang Iko juga hari Minggu nanti." kata Celine lagi.
"Iya, Celine."
"Oke Elana, aku ke teman-temanku dulu ya. Daah ...."
Elana membalas lambaian tanga Celine, dia tersenyum senang. Akhirnya dia bisa ketemu juga dengan adiknya Chiko. Tapi kok, berbeda ya?
Chiko lebih terlihat dingin dan juga agak kaku, sedangkan Celine sangat ceria pembawaannya.
Elana lalu kembali meneruskan mencari buku sesuai keinginannya hari ini dia ingin membaca buku apa.
_
_
_
😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤❤
__ADS_1