
Elana memasuki toko buku di pinggir jalan raya, dia ingin mengumpulkan buku-buku untuk teman sendirinya ketika nanti di kampus barunya tidak ada yang mau menemaninya seperti di sekolahnya dulu.
"Pa, El ke toko buku ya." kata Elana pada Evan ketika mereka berempat sedang jalan-jalan di kota untuk sekedar liburan.
Elana, Evan dan istrinya juga anaknya Diego yang masih berumur tiga tahun lebih pergi jalan-jalan. Dua kali ini Alena di ajak jalan-jalan oleh Evan ketika liburan.
Ana, sang mama sambung juga sepertinya tidak keberatan dengan hadirnya Elana di rumah mereka. Dia mengerti.ketika Evan suaminya berceritan bahwa ibunya Elana di penjara dan Elana tinggal dengan sahabatnya.
Evan juga bercerita, betapa menderitanya Elana dulu. Makanya dia meminta pada istrinya itu untuk membawa Elana ke Rusia.
"El mau beli buku lagi?" tanya Evan pada anaknya itu.
"Iya pa, aku suka baca buku. Jika waktuku luang banyak sekali buku yang aku baca." jawab Elana.
"Ya sudah, beli aja yang El suka. Papa terserah kamu sayang." kata Evan.
"Iya pa."
Elana pun masuk ke dalam toko buku yang lumayan besar dan lengkap. Dia memilih beberapa buku terjemahan Rusia dan Inggris agar bisa mengerti isi buku yang dia baca.
Sedangkan Evan ke mall dengan Ana dan anaknya. Ketiganya bersenang-senang, hanya Evan berpesan pada Elana kalau sudah selesai untuk meneleponnya dan bertemu di mana.
Lama Elana berkeliling di setiap rak buku, mencari buku yang dia suka dan terjemahan. Beberapa buku sudah dia dapat, ada juga buku novel karya penulis besar dan terkenal yang di terjemahkan. Elana tidak sadar bahwa buku yang dia ambil sudah banyak.
"Ya ampun, kok aku banyak banget ya bukunya." gumam Elana.
Dia memperhatikan buku-buku yang dia bawa untuk di bayar. Namun ternyata tidak ada buku yang tidak dia sukai, dia melihat harga buku tersebut. Namun karena terlalu banyak, jadi Elana malas untuk menghintungnya.
"Sudahlah, nanti kalau uangnya kurang aku telepon papa aja."
Begitu kata Elana dalam gumamannya, dia berjalan menuju kasir untuk membayar buku-buku yang dia pilih. Dan ada seorang laki-laki yang memperhatikannya membawa buku menuju kasir juga.
Elana berbaris untuk membayar buku, karena kebetulan pengunjung sedang ramai. Dan kebanyakan sepertinya mahasiswa atau pelajar, dia memperhatikan sekeliling. Dan ada seseorang dua baris di belakangnya selalu memperhatikan Elana, sesekali melirik Elana dengan ragu.
Kini giliran Elana maju dan menghitung buku-buku yang dia ambil. Ada rasa khawatir ketika buku-bukunya di hitung. Dan buku terakhir Elana melihat jumlah nominal uang yang harus di bayar.
Dia pun menyodorkan lima lembar uang, petugas kasir menghitungnya dan menatap Elana.
"Men'she deneg." ( kurang uangnya.)
"Nu men'she da?" (Oh kurang ya?)
"Da." (Ya)
__ADS_1
"Em, ty mozhesh' prosto unem'****' knigu, verno?" ( Emm, bukunya saja di kurangi, bisa kan?)
"Nel'zya, vse proschitano." (Tidak bisa, sudah di hitung semua)
Elana bingung, dia ingin menghubungi Evan untuk meminta bantuannya membayar sisa kekurangan uangnya. Tapi di belakang Elana meminta cepat menyelesaikan pembayarannya.
"Ey, bystro zakokonchit' platit za knigu. Ya tozhr speshu pokochit' etim!" ( Hei, cepat selesaikan bayar bukunya. Saya juga buru-buru ingin cepat selesai!) kata laki-laki tua di belakang Elana.
"Prostite menya." ( Maafkan saya.)
Satu laki-laki maju ke depan dan bersedia membayar kekurangan buku yang Elana beli.
"Pozvol'te mne zaplatit ostal'noye." (Biar saya yang bayar sisanya.)
Elana menoleh, dia agak terkejut siapa yang membayar bukunya. Dia berpikir siapa laki-laki yang mau membayar bukunya, sepertinya dia orang Indonesia juga. Pikir Elana.
Setelah membayar buku Elana dan juga buku yang dia beli, kini laki-laki itu menarik tangan Elana untuk keluar dari barisan antrian.
Elana merasa tidak enak lalu mengambil bukunya dari tangan laki-laki itu.
"Emm, apakah anda dari Indonesia?" tanya Elana ragu.
"Ya, nama saya Chiko." jawab Chiko sekalian memperkenalkan dirinya pada Elana.
"Kamu siapa?" tanya Chiko pada Elana.
"Saya Elana, terima kasih telah membayar buku-buku saya. Lain kali kalau ketemu saya ganti uangnya." kata Elana.
"Oh, kamu Elana? Emm, baiklah. Oh ya, kamu baru ya di negara ini?" tanya Chiko.
"Iya, baru dua bulan. Rencananya mau kuliah di sini juga. Apak kamu kuliah atau bekerja di sini?" tanya Elana ragu.
Dia sebenarnya tidak pernah ingin tahu seperti itu, namun karena sama-sama dari satu negara . Jadi merasa ada temannya juga.
"Saya kuliah, sudah dua tahun. Oh ya, kamu dengan siapa di sini?" tanya Chiko.
"Dengan papaku, papaku tinggal dan bekerja di negara ini. Saya baru datang dua bulan lalu dengan papaku." jawab Elana.
"Ouwh, begitu ya." ucap Chiko menanggapi.
"Chiko, poshli." ( Chiko, ayo kita pergi.) ajak Antonio menghampiri Chiko.
"Ya, da podozhdi minutku." ( Ya, tunggu sebentar.) jawab Chiko.
__ADS_1
"Oy ya, Elana. Sampai jumpa lagi ya, semoga kita bertemu di kampus yang sama." ucap Chiko dengan tersenyum.
Elana mengangguk, tak lupa mengucapkan terima kasih.
"Terima kasih Chiko, lain kali kalau bertemu lagi saya ganti uangnya." ucap Elana.
"Tidak masalah, daah."
"Daa."
Lalu Chiko pergi dengan Antonio meninggalkan Elana yang masih terpaku melihat kepergian kedua laki-laki itu. Ada rasa senang karena bisa berbicara dengan orang satu negara, setidaknya dia bicara berbahasa Indonesia beberapa kali. Karena jika di rumah Evan dan ibu sambungnya harus memakai bahasa Rusia.
Kecuali sedang bersama Evaj saja berdua, Ana istrinya tidak mau harus berpikir apa yang di katakan Elana atau Evan dengan bahasa sendiri. Meski dia juga sedikit-sedikit tahu apa yang di katakan oleh Evan.
"El, kamu sedang apa di sini? Sudah dapat bukunya?" tanya Evan mengagetkan Elana.
"Eh, pa. Sejak kapan papa ada di sini?" tanya balik Elana.
"Baru, memang kamu melamun?"
"Ngga pa, ini bukunya banyak. El ngga kuat kalau di bawa sendiri." ucap Elana.
"Lho, banyak banget bukunya. Uangnya cukup ngga beli buku sebanyak itu?" tanya Evan.
"Cukup pa, cuma kurang sedikit aja. Tapi tadi ada teman yang mau bayar buku-buku El." jawab Elana.
"Teman? Teman dari mana? Kamu baru ke sini sayang, kamu sudah punya teman?" tanya Evan heran.
Masalahnya baru dua kali Elana keluar rumah dan jalan-jalan ke pusat kota dan perbelanjaan. Dia mendapatkan teman begitu cepat, rasanya mustahil jika mendapat teman orang Rusia sendiri.
"Orang yang bayar buku El, orang Indonesia juga pa. Makanya El bilang teman, di sini jarang bertemu dengan orang Indonesia juga." ucap Elana.
"Ooh, ya sudah. Ayo kita pulang, Diego rewel mau cepat pulang. Dia tidak bisa lama-lama di luar." ucap Evan mengambil sebagian buku Elana.
"Iya pa."
Mereka pun pergi keluar dari toko buku itu yang semakin ramai pengunjung.
_
_
_
__ADS_1
😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤