
"Elana!!"
Suara teriakan Evan menggema di kamar bermain Diego itu. Dia terlihat marah pada Elana dengan menyebut Ana dengan tante. Dia mendekat pada Elana dan menatapnya tajam.
"Kamu berani berteriak pada istri papamu?" tanya Evan dengan nada marah.
"Pa, bukan begitu. El hanya membela diri aja, mama Ana menghinaku pa." kata Elana.
Dia tidak terima dengan Ana yang menghinanya dan juga ibunya. Dia sangat marah Ana mengungkit masa lalunya dan di sangkutkan dengan ibunya juga.
"Tapi kamu tidak berhak berteriak pada orang lebih tua Elana, dia mamamu juga." kata Elana.
"Diyego plachet, potomu chto prines tarakana v svoyey igrushechnoy loshadke." ("Diego menangis karena dia bawa kecoa di mainan kudanya.") kata Ana.
Dia memandang sengit Elana dan menenangkan Diego yang masih menangis.
"Papa ngga nyangka kamu malah membuat papa malu Elana, papa sudah didik kamu selama di sini, papa sudah pesan sama kamu jangan membuat papa marah." kata Evan menatap tajam anaknya.
Karena apa yang di tuduhkan papanya itu tidak benar Elana membela diri dengan menyangkalnya.
"Sejak kapan papa mendidikku?" kata Elana dengan lirih.
"Elana!"
"Papa sibuk, bahkan tidak pernah mengajakku kemana-mana. Papa membawaku kemari karena hanya rasa tanggung jawab, bukan papa sayang sama El." kata Elana lagi seakan menghakimi Evan.
"Elana!" teriak Evan tidak terima Elana berkata seperti itu.
"Aku bahkan mendidik diriku sendiri dan besar sendiri tanpa bantuan papa."
"Jadi kamu menyalahkan papamu? Sebaiknya kamu keluar dari rumah papa! Kamu tidak tahu terima kasih telah papa bawa dan papa kuliahkan, tapi kamu malah jadi anak pembangkang." kata Evan dengan nada keras.
"Pa ..."
__ADS_1
"Pergilah, urus dirimu sendiri." ucap Evan melirih.
Seketika Elana diam, dia menatap Evan dengan tatapan tidak di memgerti. Tak lama air matanya meluruh, tapi Elana langsung menghapusnya cepat.
Dia lalu meninggalkan Evan dan Ana yang masih marah padanya. Elana masuk ke dalam kamarnya dan mengemasi baju-baju yang dulu pernah dia bawa. Dia bereskan buku-bukunya, serta visa dan paspornya. Hanya buku yang dia bawa semua serta syal pemberian Chiko dia bawa. Ponsel serta mantel tebal, karena cuaca sedang dingin.
Setelah semua siap, Elana lalu membawa kopernya keluar dari kamarnya. Ana dan Angela menatap kepergian Elana, sedangkan Evan hanya bisa menahan rasa kesal serta sedihnya karena telah mengusir anaknya sendiri.
"Ne govirya uzhe ob Evane , ne zhaley, chto ushel iz doma. Deystvitel'no, takogo rebenka sleduyet prouchit', chtoby on ne byl dissidentom. On takzhe vernetsya iskat' vas." ("Sudahlah Evan, jangan sesali dia keluar dari rumah ini. Memang anak seperti itu harus di beri pelajaran agar tidak jadi pembangkang. Dia juga akan kembali lagi mencarimu.") kata Ana menenangkan Evan yang diam karena menyesal mengusir anaknya.
Evan pikir apa yang di katakan Ana memang benar, Elana harus di beri pelajaran. Dia berpikir Elana akan kembali ke rumah itu karena dia sendiri tidak tahu harus kemana.
Setelah nanti Elana kembali, dia akan menasehatinya lagi. Agar lebih menghormati Ana dan juga lebih menyayangi Diego.
_
'*Bang Iko, alamat rumahnya di mana?'
'Kenapa? Besok mau main?'
'Kompleks rumah mmm, dekat dengan bread shop dan kafe.'
'Oke bang, terima kasih'
'Tapi aku lagi ngga ada di rumah lho, sedang penelitian hukum di desa B. Pulangnya malam.'
'Ngga apa-apa.'
'Ya udah, di rumah ada Celine kok.'
'Oke*.'
Elana mengakhiri kirim pesan pada Chiko, dia lalu duduk di halte bis. Sejenak dia melamun, hari sudah gelap. Cuaca semakin dingin, Elana mengeratkan mantelnya ager udara dingin tidak masuk dan menyapu tubuhnya. Bibir Elana bergetar, dia lupa memakai topi penghangat.
__ADS_1
Elana pun berpikir lagi, apakah dia akan menginap di rumah kontrakan Chiko dan Celine? Lalu, setelah itu dia mau kemana?
Bingung, Elana bingung mau kemana dia. Tiba-tiba pikirannya kembali ke Indonesia, bekerja di loundry. Di sana semua teman-temannya baik padanya. Tidak mempermasalahkan dirinya siapa, bahkan di sana semua tahu Elana anaknya siapa. Tapi tidak ada yang menjauhinya, semua mau membantunya.
"Aku kangen sama Riri." gumam Elana.
Hari terus beranjak malam, Elana masih setia di halte bis meski udara semakin dingin dan salju semakin banyak yang turun. Elana kedinginan, lalu dia pun naik mobil trem yang menunu kompleks rumah kontrakan Chiko.
Butuh satu jam menuju rumah kontrakan Chiko, dan naik dua kali bis. Elana menggigil, dia pun masuk ke dalam bis. Tak ada yang peduli di dalam bis tersebut, semua sibuk dengan dirinya sendiri.
Memang jika di sana, tak ada yang mau tahu dengan urusan orang yang tidak di kenal. Rasa acuh dan apatis pada sekitarnya memang sudah biasa di negara itu.
Namun, jika ada yang mengenalkan pasti dengan suka rela akan membantunya.
Bis trem berjalan melambat karena jalanan penuh salju, hingga supir trem itu takut jika mobil yang dia bawa akan tergelincir. Jalanan memang padat dengan beberapa kendaraan, namun tidak saling mendahului.
Sesekali Elana mendesis karena kedinginan, dia rapatkan kembali mantelnya menahan dinginnya salju serta angin yang berhembus. Beruntung di dalam bis di pasang penghangat, agar penumpang merasa hangat dan tidak kedinginan. Namun Elana masih merasa dingin, dia pun mendekap kedua tangannya. Syal dia keluarkan untuk di lilitkan di leher serta kepalanya.
Tak lama bis berhenti, dan Elana pun turun. Dia membayar dengan kartu pembayaran. Lalu dia menunggu di halte kembali, menunggu bis menuju kompleks rumah Chiko. Hanya menunggu lima menit, bis pun datang. Elana langsung naik, dia duduk di kursi belakang agar lebih cepat turun.
Tubuhnya masih merasa menggigil kedinginan.
"S toboy vse v poryadke?" ("Kamu baik-baik saja?") sapa penumpang di sebelahnya karena tahu Elana kedinginan.
"Ya v poryadke." ("Aku tidak apa-apa.") jawab Elana memaksa tersenyum.
Penumpang tadi hanya diam menatap Elana, namun dia kembali sibuk dengan ponselnya.
Tak lama bis pun berhenti di halte, Elana turun dengan pelan. Sejenak dia ragu untuk turun, benarkah dia akan ke rumah Chiko?
Namun penumpang di belakang memintanya cepat turun jika mau turun. Elana pun akhirnya turun meski rasanya berat sekali.
Dia berjalan tertatih karena rasa dingin menggerogoti tulang-tulangnya. Bibirnya bergetar. Dia melihat sebuah rumah yang di katakan Chiko pada pesan singkatnya tadi sore.
__ADS_1
Elana melangkah cepat, agar bisa sampai di rumah itu. Di seretnya kopernya, rasa dingin terus menusuknya. Elana masuk di halaman rumah dan duduk di bangku kecil depan rumah. Dia tidak tahan untuk berjalan lagi.
Tubuhnya menggigil kencang, tubuh Elana pun jatuh di sandaran dan kakinya melorot. Tangan yang tadi menggenggam koper pun terlepas.