E L A N A

E L A N A
79. Curhatan Chiko


__ADS_3

Chiko telah sampai di Indonesia sejak dia di putuskan pindah tempat magang di firma hukum Arga, papa sambungnya. Dia sangat senang, setelah melalui perdebatan panjang akhirnya bisa juga pindah magang ke kantor Arga.


Arga sendiri heran, kenapa Chiko mau magang di tempat kantornya?


Namun demikian, Arga belum bisa menanyakannya, karena dia juga akhir-akhir ini sibuk dan sering pergi ke kantornya.


Chiko berpesan pada Antonio untuk menjaga adiknya Celine, sedangkan dia juga memberikan pesan pada Celine kalau jangan berbuat di luar batas jika sudah berteman dan bergaul.


Itulah Chiko, terhadap Celine dia sangat perhatian dan melindungi. Apa lagi Elana yang jadi kekasihnya, akan dia lindungi sampai nyawanya terputus. Itu istilah cinta mati bagi Chiko pada Elana.


"Bang, kenapa minta magangnya pindah?" tanya Anita ketika di jemput oleh Arga dan Anita ke bandara.


"Abang ingin dekat dengan mama sama papa aja, juga adek ma." jawab Chiko.


Dia belum mengatakan yang sejujurnya tentang tujuannya pindah magang di kantor Arga. Dia masih ragu, karena masih bingung untuk mencarinya.


"Yakin hanya itu saja bang?" tanya Arga heran.


"Yakin pa, tapi ada yang harus aku lakukan sih sebanarnya." kata Chiko ragu.


"Apa itu bang?"


"Emm, aku mau mencari seseorang di sini."


"Mencari seseorang siapa bang?"


"Ada ma, nanti aja deh abang ceritanya. Kalau sudah ketemu orangnya." kata Chiko menghindar desakan Anita untuk memberitahu tentang Elana.


"Dia temanmu atau pacarmu bang yang kabur?" gurauan Arga membuat Chiko bungkam.


Anita melirik ke arah anak bujangnya itu, tak afa jawaban. Namun hanya mimik wajah sendu saja.


Dan wajah itu sejak kedatangannya di bandara terlihat sendu, hanya senyuman rasa rindu yang berbeda seperti biasanya.


"Mungkin bang Iko masih belum mau bicara tentang rahasianya pa, sudah biarkan saja. Nanti abang cerita kan sama kita?" tanya Anita.


"Pasti ma, abang belum berani cerita sekarang. Karena belum bisa memastikan semuanya." kata Chiko.


Mobil melaju dengan cepat ketika waktu menunjukkan pukul lima sore, Arga ingin cepat sampai di rumahnya karena sangat lelah sekali.

__ADS_1


_


"Halo kak Chila, apa kabar?" tanya Chiko ketika Chila menghubunginya malam hari.


Chila tahu adik kembarnya pulang hari ini dan berniat magang di kantor Arga selama tiga bulan. Tapi bukan itu yang ingin di tanyakan Chila, dia ingin tahu alasan kenapa Chiko pindah tempat magangnya.


Sekilas dia di beritahu oleh Celine kalau Chiko pulang karena ingin mencari kekasihnya di sini.


"Kamu baik-baik saja dek?" tanya Chila di seberang sana.


"Aku baik kak, kakak sudah koas di mana?" tanya Chiko.


"Sudah satu minggu lalu, di rumah sakit besar di Jogja. Oh ya, Celine bilang kamu ingin magang di kantor papa karena mau mencari pacar kamu itu?" tanya Chila.


"Iya kak, dia harus aku cari. Aku benar-benar kehilangan dia kak." kata Chiko lirih.


"Kamu benar-benar mencintai dia? Sampai rela pindah magang di kantor papa."


"Ya kak, rasanya tidak bersemangat kehilangan dia. Aku seperti kurang bergairah kak, dia sudah menjadi belahan hatiku." kata Chiko seperti mencurahkan rasa sedihnya pada kakak kembarnya itu.


"Secantik apa dia, sampai membuat adikku ini seperti hilang semangat."


"Dia manis kak, juga pendiam anaknya. Dia baik banget, tapi dia .... "


"Dia anak orang yang pernah menculikmu?"


Pertanyaan Chila membuat kaget Chiko, dia lalu menghela nafas panjang. Celine rupanya memberitahu semuanya pada kakaknya itu.


"Iya kak, cinta itu aneh kan? Terkadang kita ingin menghindari, tapi malah kita di pertemukan dan di beri rasa cinta yang dalam. Tapi kakak tahu, Elana itu berbeda sekali dari gadis kebanyakan." kata Chiko.


"Ya, terserah kamu dek. Kamu yang sedang jatuh cinta pada gadis itu. Kakak cuma berharap kamu mengatakan semua tentang gadis itu pada mama dan papa, aku yakin kamu belum mengatakan pada mereka kan?" kata Chila.


"Iya kak, aku ragu dan takut mama sama papa akan menolaknya. Makanya saat ini aku belum berani mengatakan tentang gadis itu apa lagi dia sudah jadi pacarku kak." kata Chiko.


Dia menceritakan seluruhnya tentang Elana dan kejadian yang menimpa gadis itu. Chiko benar-benar merasa sedih dengan kehilangan jejak Elana.


"Terus kapan kamu mau mencarinya?"


Mungkin besok, karena di surat tugas dari kantor papa mulai magang tanggal satu bulan depan." jawab Chiko.

__ADS_1


"Semoga cepat ketemu dek, dan nanti kenalkan pada kakak. Kakak pengen kenal gadis yang membuat adikku ini jadi kehilangan semangat." kata Chila mencandai adiknya.


Chiko tertawa kecil, dia sesungguhnya nyaman bercerita dan mencurahkan semua masalahnya dengan kakaknya Chila. Chila tidak pernah membantah atau pun melarang apa yang di lakukan oleh adik-adiknya. Dia hanya memberi masukan dan juga nasehat agar bisa memilih sesuatu teman atau pacar dengan baik, agar nanti tidak menyesal akhirnya.


"Dek, kakak ngantuk. Udah dulu ya, besok lagi teleponnya." kata Chila.


"Iya kak, terima kasih atas dukungannya kak. Aku berharap kakak bisa pulang liburaj nanti." ucap Chiko.


"Oh ya, pertengahan bulan depan aku libur lho dek. Bisa nanti deh pulang, ya walaupun cuma dua hari aja sih." kata Chila.


"Nah itu, mudah-mudahan ngga ada tugas mendadak ya kak."


"Ya, semoga saja. Karena koas di rumah sakit itu kadang-kadang menyita waktu liburan juga. Tapi kakak usahakan pulang kok, biar nanti jika ada tugas mendadak di ganti sama teman juga."


Percakapan pun berhenti ketika Anita mengetuk pintu kamar Chiko, dia lalu membuka pintunya dan terlihat mamanya berdiri dengan senyum padanya.


"Abang belum tidur?" tanya Anita.


"Belum ma, lagi menelepon kak Chila. Lama aku ngga menghubungi dia, jadi aku meneleponnya." jawab Chiko.


Anita masuk ke dalam kamar anaknya itu yang selalu rapi. Baru kali ini kamar itu sedikit berantakan, karena memang kamar laki-laki itu tidak bisa rapi.


Kini Anita yang berbicara pada Chila dengan ponsel Chiko. Chiko merapikan kopernya yang belum sempat dia bereskan tadi, dia memindahkan baju-bajunya ke dalam lemari. Dia mrngambil syal yang yang di beli ketikan di benteng Kremlin dulu dengan Elana.


Sejenak dia menatap syal tersebut, mengelusnya pelan. Ada rasa rindu di hati Chiko dengan memegang syal tersebut, bibirnya tanpa terasa mengucapkan nama Elana.


"Elana, kamu di mana ... " gumam Chiko masih menatap syal di tangannya itu.


Anita memperhatikan apa yang di lakukan anaknya, melihat syal di pegang Chiko dan melihat wajah sedih anak lelakinya itu.


"Bang?"


Chiko buru-buru memasukkan syal ke dalam lemarinya dan merapikan kembali baju-bajunya. Buku-buku juga dia simpan di meja belajarnya.


Dan sejak tadi Anita memperhatikan apa yang di lakukan oleh Chiko, menghela nafas panjang. Dia tahu Chiko sedang memendam sebuah perasaan sedih, tapi entah apa itu.


_


_

__ADS_1


_


😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤❤


__ADS_2