E L A N A

E L A N A
92. Memberitahu Anita


__ADS_3

Chiko sedang menelepon Elana di kamarnya, dia tertawa kecil dan juga tersenyum. Betapa bahagianya dia menerima telepon dari kekasihnya itu. Berjumpa kemarin dengan Elana belum menyurutkan rasa rindunya kali ini.


Sudah enam bulan tidak bertemu dengan kekasih hatinya itu, dia semakin sayang dan cinta. Rindunya selalu menggebu di hatinya, begitu juga dengan Elana.


Tok tok tok


Suara pintu kamar di ketuk dari luar. Chiko menghentikan pembicaraannya di telepon dengan Elana. Dan sekali lagi pintu di ketuk dari luar.


"Sayang, udah dulu ya. Di luar ada yang mengetuk pintu. Mungkin itu mamaku." kata Chiko pada Elana.


"Ya udah bang, aku tutup teleponnya. Daah bang Iko, i love you."


"Love you too."


Klik!


Chiko membuka pintunya, dan memang benar Anita berdiri dengan senyum keibuannya.


"Mama boleh masuk bang?" tanya Anita.


"Masuk aja ma." kata Chiko.


Anita pun masuk, dia memperhatikan setiap sudut kamar anaknya. Wajah senyumnya tak juga hilang, membuat Chiko melihatnya heran. Dia duduk di ranjang anaknya dan menatap penuh kasih sayang pada anak lelaki sulungnya.


"Abang terlihat beda kali ini." kata Anita terus memperhatikan wajah anaknya yang selalu ceria.


"Beda bagaimana ma? Abang juga biasanya seperti ini." jawab Chiko heran dengan perkataan mamanya itu.


"Beda aja bang, waktu pulang dari Rusia wajah abang kusut dan tidak bersemangat. Sekarang ceria lagi, apa abang bertemu seseorang atau mendapatkan apa yang membuat abang bahagia seperti itu. Bisa abang ceritakan pada mama?" tanya Anita penuh hati-hati, karena dia tahu Chiko tidak mudah bercerita jika itu tidak pasti baginya.


Chiko memeluk Anita erat, Anita heran kenapa anaknya tiba-tiba memeluknya. Tidak ada tangisan, namun hanya helaan nafas panjang saja yang Anita rasakan di tengkuknya. Lama Chiko memeluk mamanya, dan Anita membiarkan saja. Barangkali Chiko sedang menyusun kata-katanya sendiri untuk menjawab pertanyaannya.


Tujuh menit Chiko masih memeluknya, hingga Anita jadi merasa gerah karena terus di peluk anaknya.


"Bang, abang mau cerita apa mau peluk maka aja?" tanya Anita akhirnya.


Chiko pun melepas pelukannya, dia menunduk dan tersenyum sendiri. Anita semakin heran, ada apa dengan anaknya itu. Apa lagi sekarang tiba-tiba diam dan wajahnya terlihat murung.


"Kamu kenapa bang? Mama jadi bingung sama kamu." kata Anita.

__ADS_1


"Emm, ma. Apa mama janji tidak marah kalau abang cerita?" tanya Chiko ragu menatap Anita.


"Janji apa? Abang kalau bicara membuat mama jadi bingung." kata Anita lagi.


"Tapi mama jangan marah ya, Iko harap mama merestuinya." kata Chiko lagi membuat Anita bertanya-tanya.


"Bang, mama udah tua. Jangan bikin kalimat teka teki, mama udah kenyang belajar. Sejak mama TK, SD, SMP dan SMA. Lalu Kuliah, di lanjut dengan kalian sekolah dan sampai terakhir Karin, mama kenyang dengan teka-teki. Jadi abang jangan membuat teka-teki untuk mama." kata Anita semakin tidak sabar dengan Chiko.


"Hahah! Mama bisa aja kalau melawak. Mana ada setiap jenjang pendidikan ada teka-teki terus ma. Apa lagi sekolah TK."


"Ada, makanya abang jangan bikin teka-teki untuk mama. Cepat katakan sama mama, apa yang abang rasakan atau abang dapat apa sampai wajahnya ceria banget." kata Anita.


"Iya, mama janji dulu. Nanti abang cerita sama mama semuanya."


"Iya janji, mama janji ngga marah. Cepat katakan sama mama, abang dapat apa?"


Chiko diam, dia kembali menatap Anita lekat. Lalu menghela nafas panjang dan menunduk.


"Abang sudah punya pacar ma." kata Chiko.


Anita diam, dia sudah menduganya anak lelakinya itu sudah punya pacar. Anita ingin mendengarkan ucapan Chiko lagi, tapi Chiko belum meneruskan ceritanya.


"Ya orang lokal ma, dia tinggal di pinggir kota. Dan ngga jauh tempatnya dengan rumah abang di sana." jawab Chiko lagi.


"Kok bisa dapat orang lokal bang? Abang kuliah kan di Rusia, atau abang ketemu dengan gadis itu di sana?" tanya Anita.


"Iya ma, kami sama-sama satu kampus di sana. Abang udah jadian sejak delapan bulan lalu dengan gadis itu. Dan dia ada di sini ma, pulang ke Indonesia." kata Chiko lagi.


"Dia sudah lulus kuliah?"


"Belum ma, tapi ada sesuatu yang membuat dia harus pulang. Makanya abang minta pindah magang di kantor papa, karena abang sempat kehilangan dia ma. Kata papanya di sana dia sudah pulangkan jadi abang mencari dia. Dan tadi pagi abang baru ketemu gadis itu ma." jawab Chiko lagi.


"Siapa dia bang? Mama kok semakin penasaran dengan cerita abang itu."


"Namanya Elana ma, dia gadis mandiri dan ...." kalimat Chiko menggantung.


"Elana? Dari namanya saja sepertinya dia gadis baik dan manis." kata Anita.


Chiko tersenyum, dia membenarkan apa yang di katakan oleh ibunya itu.

__ADS_1


"Memang dia manis ma, dan juga baik. Tapi yang membuat abang cinta sama dia itu, selalu ingin melindungi dia ma. Abang sangat mencintai Elana, dan berjanji ingin menikahinya agar abang bisa melindunginya sepenuhnya, ma." kata Chiko dengan wajah serius.


Anita heran, ada apa dengan anaknya ini? Apa gadis itu anak yatim piatu? Tidak punya kedua orang tua, sehingga Chiko bicara seperti itu.


"Bang, ceritakan tentang gadis itu pada mama semuanya tanpa harus ada yang di tutupi, mama akan mendengarkan dengan baik. Mama janji akan menerima Elana jika abang ceritakan semuanya siapa gadis itu dan kenapa abang harus melindungi dia secepatnya." kata Anita semakin penasaran dengan ucapan anaknya itu.


Lalu Chiko menceritakan semua dari awal pertemuan dan juga kisah Elana dari kecil. Chiko belum berani mengatakan kalau kekasihnya itu adalah anaknya Mourin yang sekarang sudah meninggal dunia. Dia juga belum menceritakan tentang Sandra yang dulu menjadi orang tua asuh Elana.


Hanya menceritakan kehidupan Elana dari kecil yang mengidap penyakit jantung dan di besarkan oleh sahabat mamanya, lalu mamanya meninggal ketika satu tahun hidup bersama. Setelah itu Elana kembali hidup mandiri, dan ayahnya datang yang menikah lagi dengan orang Rusia. Dia di bawa ayahnya di sana dan di kuliahkan, hingga pada akhirnya pertengkaran dengan ibu tirinya dan Elana membuat Elana harus pulang ke Indonesia dan tidak meneruskan kuliahnya.


Dia kembali bertemu suami dari sahabat mamanya dan di ajak lagi tinggal di rumahnya. Sampai di berikan usaha butik kecil, yang sekarang sudah ramai pengunjung karena rancangan baju-bajunya menarik para gadis remaja.


"Dia hebat sekali ya bang, mama suka gadis mandiri seperti itu. Tapi, abang belum mengenalkan siapa orang tuanya, ya walaupun ibunya sudah meninggal. Dan sekarang dia tinggal dengan sahabatnya." kata Anita.


"Mama marah ngga jika aku kasih tahu Elana anaknya siapa dan tinggal dengan siapa sekarang?"


"Kenapa harus marah bang? Mama hanya ingin tahu, jika mamanya sudah meninggal abang bisa melamar Elana pada tantenya itu."


"Masalahnya Elana itu anaknya Mourin ma." ucap Chiko lirih.


Dan kalimat itu yang membuat Anita tercekat, dia menatap Chiko tajam. Ingin memastikan apa yang di katakan anaknya itu.


"Anaknya siapa bang?"


"Mourin ma." kata Chiko dengan tegas.


Membuat Anita tertegun, tangannya bergetar lalu mencengkeram sprei fi ranjang yang dia duduki. Chiko melihat tangan makanya mencengkeram sprei miliknya di kasur. Dia buru-buru bangun dan memeluk ibunya seakan sednag meminta ampun pada orang yang telah melahirkannya itu.


"Mourin siapa bang?" tanya Anita datar.


"Mourin, perempuan yang dulu pernah menculik abang. Ma, abang mencintai Elana ma. Abang sudah memaafkan ibunya Elana waktu itu, abang juga terkejut dengan cerita Elana. Tapi abang mencintai Elana, abang akan tetap akan menikahi Elana ma. Apa pun yang terjadi." kata Chiko.


Anita berdiri, melepas pelukan anaknya lalu keluar dari kamar anaknya. Tanpa memgatakan apa pun, Anita meninggalkan anaknya yang masih bersimpuh seperti tadi di panguan ibunya.


_


_


_

__ADS_1


😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤❤


__ADS_2