E L A N A

E L A N A
108. Keluarga Bahagia


__ADS_3

Sampai di rumah Chiko, waktu sudah menunjukkan pukul dua siang. Anita menyambut Chiko dan Elana. Sangat hangat sekali penyambutan Anita pada Elana. Dia senang sekali akhirnya Elana kembali dengan senyum cerianya.


"Ma, papa kemana?" tanya Chiko.


"Ke bandara, jemput Celine. Dia pulang dan hari ini bawa temannya katanya." jawab Anita.


"Lho, kok dia ngga bilang sama aku kalau mau pulang ke Indonesia?" tanya Chiko.


"Kamu sibuk dengan Elana, mana ingat kamu sama adikmu." sindir Anita.


Chiko hanya diam saja, dia membenarkan ucapan mamanya. Dia terlalu senang akhirnya Elana bisa di terima oleh keluarganya.


"Terus tuh anak laki-laki mama kemana semua?" tanya Chiko lagi.


"Kevin belum pulang dari puncak, mungkin malam nanti. Kalau Angga ke Jogja, jemput kakakmu. Kalau Chiko ada di sini,baru datang." kata Anita.


Chiko memeluk mamanya lalu mencium pipinya. Dia sangat senang, ternyata acara makan malam ini untuk semua keluarganya bisa kumpul bersama.


"Terima kasih ma, mama yang terbaik. Ternyata acara makan malam ini sangar spesial. Terima kasih ma." kata Chiko.


"Iya, papa juga sengaja membuat kejutan rencananya. Tapi abang tahu jadinya." kata Anita.


"Kok aku makin sayang sama mama ya?" kata Chiko kembali memeluk ibunya itu, membuat Elana melihat dari jauh merasa iri dengan Chiko yang begitu dekat dengan Anita.


Namun dia juga merasa lucu, Chiko yang terlihat pendiam jika tidak bersamanya itu ternyata seorang laki-laki yang manja pada ibunya. Apakah nanti akan seperti itu padanya? Entahlah.


"Bang, sadar ngga abang tuh di lihatin terus sama pacar kamu. Di kira abang anak mama yang manja." kata Anita melihat sekilas Elana dari jauh.


"Mana?"


"Sudah sana temani pacar kamu, kasihan di sini dia bingung nanti." kata Anita.


"Iya ma, nanti aku suruh bantu mama di dapur deh."


"Ya udah, ajak aja ke dapur. Biar dia lebih akrab dan tidak canggung." kata Anita.


"Siap mama."


Chiko lalu pergi menuju ruang tamu, dia mendekat pada Elana yabg sedang duduk kakinya merapat.


"Kaki kamu kenapa?"


"Aku pengen pipis bang, tadi aku mau tanya sama kamu. Eh, bang Iko lagi manja sama tante Anita. Jadi iri aku bang." kata Elana.


"Uuuh, kamu iri lihat aku dekat sama mamaku?" tanya Chiko mencubit kecil hidung Elana.

__ADS_1


"Alu iri, ngga bisa seperti abang yang masih bisa peluk mamanya." kata Elana.


Chiko memeluk Elana dari samping, dia merasa kasihan dan juga bersalah tadi terlihat manja pada Anita.


"Kamu bisa kok manja-manja sama mamaku, semua anaknya seperti itu. Dari kak Chila sampai Karin tuh suka banget manja-manja sama mama. Apa lagi Celine, dia kalau sudah bertemu mama manja banget." kata Chiko.


Dia tidak sadar kalau ucapannya itu membuat Elana semakin sedih. Dulu ketika Mourin baru keluar dari penjara, dia bahkan merasa canggung harus bermanja dengan mamanya itu. Karena sudah terbiasa hidup mandiri, dan bahkan tidak pernah bermanja-manja dengan ibunya sampai meninggal. Hanya merasakan kesedihan harua di tinggal kembali oleh Mourin.


"Jangan sedih, nanti kamu bisa manja-manja sama aku nanti kalau sudah menikah. Atau sekarang pun bisa kamu manja sama abang." kata Chiko.


"Hemm, yang ada bang Iko yang manja sama aku." kata Elana.


"Hahaha, tepat sekali sayang. Kamu nanti sebagai pengganti mama yang akan memanjakanku." kata Chiko dengan tawa renyahnya.


"Ish, udah ah. Aku pengen buang air kecil bang. Kamar toilet di mana?" tanya Elana.


"Ayo aku antar, sekalian kalau udah selesai kamu langsung ke dapur ya bantu mama memasak." kata Chiko.


"Waah, senangnya. Boleh deh bang, dekat sama mama mertua dulu. Baru bisa akrab dengan yang lainnya. Heheh ...."


Elana mengikuti Chiko kemana dia melangkah, Chiko menunjukkan kamar toilet yang dekat dengan ruang dapur.


"Nanti kamu langsung ke dapur ya, aku mau menemani Karin sama Cheril main." kata Chik.


_


Sore hari, Chila baru datang dengan Angga dari Jogja. Angga sengaja datang ke Jogja kemarin, karena dia ingin sekalian jalan-jalan. Sedangkan Celine dan Arga setengah jam lagi sampai.


"Hai Elana." sapa Chila pada Elana yang masih berada di dapur.


"Hai kak Chila." balas Elana.


"Kalia sudah saling kenal?" tanya Anita.


"Sudah ma, kan yang menemukan Elana itu Chila ma. Iko aku kasih tahu aja waktu itu, paginya dia langsung menemui Elana." jawab Chila.


Elana hanya tersenyum saja mendengar penuturan kakak dari kekasihnya itu. Chila menghampiri Anita, mencium tangannya dan kedua pipinya lalu memeluknya.


"Uuuh, aku kok selalu kangen ya sama mama." kata Chila dalam pelukan Anita.


"Hemm, ngga kakak ngga adik sama aja manjanya." kata Anita.


"Waaah, kak Chila udah datang?" tanya Cheril berlari ke arah kakaknya itu dan memeluknya.


"Iya, bang Angga kan yang menjemput kakak."

__ADS_1


"Oh iya, kak Chila ngga bawa gelang koka?"


"Ngga, kakak ngga sempat mampir ke tokonya. Lain kali aja ya."


"Yaah."


"Chiko mana Elana?" tanya Chila.


"Ada di kamar Karin kak." jawab Cheril.


"Ooh, kok pacarnya di tinggal di dapur sih? Nanti gosong lho." goda Chila pada Elana.


"Biarin aja gosong kak, biar Iko kaget. Hahah." ucap Anita membuat Elana tersenyum senang.


Keluarga yang menyenangkan, banyak anak memang sangat menyenangkan. Ternyata seperti ini yang mungkin di inginkan Chiko, mempunyai saudara banyak dan saling menyayangi. Elana kembali tersenyum, dia sangat senang dan berharap di keluarga Anita di terima dengan benar-benar baik dan di anggap seperti yang lainnya.


"Elana, kamu harus terbiasa dengan saudara banyak. Iko saudaranya banyak, jadi seperti ini. Akan selalu ramai kalau semuanya berkumpul." kata Anita.


"Iya tante, saya juga melihatnya senang bisa saling akrab. Emm, saya harap saya tidak mengecewakan tante dan om di rumah ini. Dan juga terima kasih sama tante telah membujuk om untuk menerim saya di keluarga tante." kata Elana dengan penuh kesopanan.


"Iya, itu tidak masalah. Pada dasarnya papanya Iko itu sangat meyayanginya, jadi mungkin sebagai orang tua yang khawatir pada anak kesayangannya itu wajar sekali. Kamu harus memakliminya ya Elana." kata Anita dengan bijak.


"Iya tante, justru saya yang harus banyak terima kasih sama tante. Berkat tante juga aku masih bisa hidup sehat seperti sekarang ini. Berkat tante waktu itu membantu membiayai pengobatan saya di Singapura dengan tante Sandra." kata Elana.


"Sudah Elana, jangan di bahas lagi. Tante ikhlas kok waktu itu, dan tante juga ngga menyangka kamu hidup sehat sampai sekarang dan jadi pacar anakku. Takdir itu memang sangat aneh sekali, tante juga merasa Tuhan itu memang sedang mendekatkanmu dengan keluarga tante. Melupakan masa lalu dengan penuh keikhlasan. Dan kamu jangan lagi berterima kasih sama tante, karena memang tante sesungguhnya di tunjuk oleh Tuhan untuk menyayangimu seterusnya." kata Anita dengan sangat bijak.


"Tante, boleh aku memeluk tante?" tanya Elana ragu.


"Kenapa tidak, sini peluk tante. Kamu sekarang sudah menjadi anak tante kok Elana." kata Anita.


Elana pun mendekat, dia lalu memeluk Anita ragu awalnya. Namun Anita menariknya lebih dekat dan erat. Ada kenyamanan di hati Elana, dia pun terisak.


"Terima kasih tante, terima kasih tante mau memelukku. Aku jarang bahkan tidak pernah lagi di peluk seperti ini oleh mama ataupun papaku, hik hik hik." ucap Elana terbata karena menangis.


"Sudah, jangan menangis. Kamu boleh mulai sekarang menganggap kami keluargamu. Meski pun mungkin masih lama Iko menikahimu, tapi kamu boleh menganggap kami keluargamu Elana." kata Anita.


Elana semakin terisak, ada rasa haru di hatinya. Dia benar-benar merasa bahagia sekarang, sedangkan dari jauh. Chiko dan Chila melihat pemandangan yang mengharukan di dapur.


_


_


_


😊😊😊😊😊😊😊😊❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2