E L A N A

E L A N A
07. Mourin Pingsan


__ADS_3

Liburan semester telah usai, Elana bersiap pulang dari rumah ibu Sinta wali kelasnya di sekolah. Orang yang selalu memberinya semangat selain ibu kantin di sekolahnya. Sebelum dia pulang, dia menyapu halaman rumah ibu Sinta karena tadi anak-anak dan keponakan ibu Sinta bermain sebelum mereka semua pergi mengantar sampai ke stasiun.


Hanya di antar oleh suaminya ibu Sinta, dan ibu Sinta sendiri sedang ke supermarket membeli keperluan dapur juga cemilan anaknya.


Saat ini Elana sedang menunggu ibu Sinta pulang, setelah itu dia pamit pulang juga ke rumahnya. Elana sebenarnya tidak mau ke rumah ibu Sinta karena Mourin enak badan, namun dia memaksa Elana untuk pergi ke rumah ibu Sinta.


Hati Elana sejak pagi gelisah, dia memikirkan Mourin yang sedang terbaring lemah di ranjangnya. Baru tadi pagi dia melihat mamanya sakit dengan keadaan tidak berdaya, sebelumnya dia tidak pernah melihat ketika di penjara Mourin sering sakit selama enam bulan menjelang bebas dari penjara.


"Elana menunggu ibu lama ya? Maaf ya, tadi ada tetangga yang mengajak mengobrol sama ibu " kata ibu Sinta masuk ke dalam rumahnya.


"Emm, bu. Saya langsung pulang aja, mama saya sedang sakit. Jadi tidak bisa lama-lama." kata Elana menghentikan langkah ibu Sinta.


"Oh ya, sebentar ya. Ibu mau ambil uang dulu, bayaran hari ini untuk kamu." kara ibu Sinta kembali masuk ke dalan rumah.


Elana hanya mengangguk saja, karena biasanya dia di jaka ngobrol atau makan dengan ibu Sinta sebelum pulang.


Tak lama ibu Sinta keluar lagi sambil membawa kantong kresek berisi sebuah makanan mentah siap di goreng dan juga memberikan uang pada Elana.


"Terima kasih ya bu, saya jadi merepotkan ibu selama liburan ini." kata Elana basa basi.


"Ah, kamu itu. Kan ibu yang minta tenaga kamu untuk bantu-bantu ibu. Oh ya, semoga mama kamu cepat sembuh ya." kata ibu Sinta.


"Iya bu, terima kasih. Kalau begitu saya permisi dulu."


"Ya, hati-hati El."


"Iya bu."


Elana pun bergegas pergi meninggalkan ibu Sinta yang sejak tadi memandang Elana sampai mendapatkan angkot.


"Kasihan, dia terlalu baik tapi orang-orang tidak terima dengan statusnya sebagai anak mantan narapidana." gumam ibu Sinta.


_


Libur sekolah sudah selesai, kini saatnya aktivitas belajar berjalan lagi seperti biasanya. Elana juga sudah siap dengan seragam sekolahnya untuk menyambut semester genap pertama masuk sekolah setelah libur dua minggu.


Selama tiga hari Mourin sakit demam serta batuk. Dia tidak mau di bawa ke dokter untuk di periksakan. Karena dia tidak mau anaknya jadi sedih dengan mengetahui penyakitnya nanti. Beruntung hanya tiga hari demam, dengan obat warung saja demam Mourin sudah reda. Tapi batuknya masih belum reda.

__ADS_1


"Mama ke dokter aja yuk, batuknya semakin parah itu. Nanti kalau ada apa-apa dengan batuknya bagaimana?" kata Elana melihat Mourin batuk terus.


"Sudah ngga apa-apa. Biasa kalau batuk pilek itu lama sembuhnya, yang terpenting mama sudah bisa bekerja lagi." jawan Mourin.


"Mama ngga usah kerja lagi ya, biar Elana aja yang cari kerja. Mama di rumah istirahat total, ngga usah pergi ke pabrik kerupuk lagi." kata Elana memohon.


Tapi Mourin mendorong Elana agar cepat berangkat sekolah dan membiarkan dirinya bekerja di pabrik kerupuk.


Akhirnya Elana mengalah, dia menyalami tangan Mourin dan berpamitan untuk berangkat sekolah. Setelah Elana pergi dari rumah, Mourin kembali terbatuk dengan kencang hingga wajahnya berubah jadi merah kehitaman menahan batuk yang tiada henti.


Mourin pergi ke dapur menuju westafel untuk mencuci mulutnya, tapi dari mulutnya malah keluar darah kental. Dia kaget, ternyata secepat itu sakitnya menggerogoti tubuhnya. Nafasnya mulai lemah, tubuhnya melorot kebawah dengan cepat, dia pegangi dadanya yang terasa sakit dan serasa mencekik.


Dalam hati Mourin berharap untuk bisa menahan sakit yang di deritanya selama di penjara.


"Tuhan, kuatkan aku. Aku tidak tahu Elana akan bagaimana jika Engkau panggil aku secepat ini." ucap Mourin dalam diamnya.


Dia berusaha mengucapkan doa dan berharap umurnya tidak berhenti secepat itu. Lalu perlahan matanya tertutup, dia masih mendengar ketukan pintu dari luar. Sedetik kemudian Mourin tidak sadarkan diri di lantai dapur tanpa ada yang mengetahuinya.


Sedangkan di depan pintu terus di ketuk, ibu Marni tetangga belakang rumah mau mengajak Mourin ke pabrik kerupuk lagi. Lama tidak ada sahutan dari dalam, dia iseng menarik handle pintu dan ternyata terbuka.


Ibu Marni melongok ke dalam rumah dan memanggil Mourin.


Tak ada jawaban, dia pun terpaksa masuk lebih dalam. Takutnya terjadi sesuata pada Mourin, pikir ibu Marni.


Kemudian ibu Marni masuk ke dalam, dia tidak tahu yang mana kamar Mourin. Sehingga dia berinisiatif untuk pergi di dapur, siapa tahu Mourin sedang memasak lebih dulu.


"Bu Mourin, maaf ya masuk tanpa permisi. Ibu sedang memasak?" tanya ibu Marni terus melangkah ke arah dapur.


Dan tetap tidak ada jawaban dari Mourin, hingga dia melihat ada kaki yang tersungkur di lantai membuat ibu Marni curiga. Dia lalu mendekat dan benar saja, ibu Marni melihat Mourin tergeletak di lantai dapur dengan darah masih menempel di tangannya.


"Ya ampun, bu Mourin kenapa?" tanya ibu Marni panik.


Dia memegangi tangan Mourin dengan rasa cemas. Lalu dia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang untuk minta bantuan membawa Mourin ke rumah sakit atau klinik terdekat.


_


Hingga sore Mourin masih di klinik terdekat, dia di bawa oleh ibu Marni dan tetangga lainnya ke klinik yang berada di seberang jalan. Elana menatap ibunya sedih, kenapa setelah Mourin keluar dari penjara malah mengidap penyakit serius harus di tangani.

__ADS_1


"Ma, di rawat aja ya" pinta Elana.


Dia tidak tega ibunya harus terbatuk-batuk dengan keras dan lama. Membuat Elana merasa kasihan.


"Mama baik-baik aja kok, El. Jangan khawatirkan mama." ucap Mourin di sela batuknya.


"Bagaimana El ngga khawatir ma, mama pingsan tadi pagi. Kalau ibu Marni ngga tahu dan ngga nolongin mama bagaimana?" tanya Elana sambil terisak sedih.


Mourin menatap anaknya, dia merasak sedih dan kasihan pada anaknya itu. Dan lagi-lagi dia mengingat semasa Elana kecil, ketika Elana kesakitan dia justru mengabaikan anaknya itu. Ketika Elana membutuhkan dukungan, dia malah masuk penjara karena kelakuannya. Hatinya benar-benar perih mengingat dulu.


Dan sekarang, Elana mengkhawatirkannya? Elana tidak membalas perbuatannya dulu sewaktu kecil. Elana anak yang baik, dia anak yang cerdas dan juga pendiam. Anak yang perasa dan sensitif hatinya.


Rasanya Mourin ingin cepat sembuh dan menemani Elana dewasa dan menikah. Tapi dia ingat dengan keinginan Elana, kalau dia ingin bertemu Evan di Rusia. Bagaimanakah dia sekarang?


Mourin bertambah sedih mengingat perceraiananya dulu dengan Evan. Tanpa ada keributan apa lagi perselingkuhan dirinya, tapi tiba-tiba Evan meminta bercerai.


"Ma, ke rumah sakit aja ya?" Elana memohon pada mamanya.


"El sayang, mama hanya perlu berobat jalan. Dokter bilang juga mama bisa berobat jalan, jadi tolong jangan paksa mama. Jika mama di ramat di rumah sakiy, siapa yang akan membayar biaya rumah sakit mama?" tanya Mourin.


"El akan meminta bantuan sama om Jho, ma." kata Elana.


"Ngga El, mama ngga mau merepotkan om Jho dan tante San lagi. Mama pasti sembuh kok, El jangan khawatir. Mama akan jaga kesehatan, agar El ngga khawatirkan mama." kata Mourin lagi.


Elana diam, dia terisak lalu mengangguk pelan. Meski dia keberatan, tapi akhirnya Elana mau menuruti kemauan Mourin hanya berobat jalan.


"Mama jangan ke pabrik kerupuk lagi ya, El ada tabungan kok buat makan dan berobat untuk mama." kata Elana.


"Dari mana tabunganmu? Jangan kamu gunakan tabunganmu, itu untuk persiapan kuliahmu satu tahun lagi El." kata Mourin lagi.


"Kalau begitu, mama harus di rawat jika mama masih ngga mau menggunakan tabungan El untuk berobat." ucap Elana mengancam Mourin.


Mourin tersenyum, dia pun mengangguk patuh. Dan setelah melakukan pembayaran pemeriksaan dan menebus obat, kini Mourin dan Elana pulang ke rumahnya.


_


_

__ADS_1


_


😊😊❤❤❤❤


__ADS_2