E L A N A

E L A N A
122. Alasan Chiko


__ADS_3

"Selamat siang semuanya." sapa Arga pada mereka yang sedang bersitegang.


Anita, Celine, Chila, Chiko dan Antonio menatap Arga yang tersenyum pada mereka. Semua menatap Arga dengan kebisuan, Arga jadi heran. Ada apa dengan mereka semua.


"Sayang, ada apa ini?" tanya Arga pada Anita.


"Aku tidak tahu pa, mereka sepertinya sedang berdebat." jawab Anita.


Arga bingung, dia menatap satu persatu anak-anaknya dan juga istrinya. Yang paling menonjol dengan wajah kesal adalah Chiko, sedangkan Chila menunduk. Antonio malah membuang wajah ke samping. Tak ada yang bicara lagi, membuat Arga heran.


"Bang, ada apa ini?" tanya Arga yang dia tahu Chiko sedang kesal entah pada siapa.


"Ngga ada apa-apa pa." dan yang jawab Chila.


"Papa ngga percaya kak, adikmu sedang kesal sepertinya. Coba jelaskan sama papa apa yang terjadi?" tanya Arga.


"Bang, jelaskan juga sama mama. Kalian kenapa bertiga?" tanya Anita.


"Kak Chila dan Antonio, mereka pacaran pa, ma." jawab Chiko.


Chila dan Antonio menunduk malu, entah apa tanggapan kedua orang tuanya. Anita diam, dia menatap Chila yang tertunduk dan berganti menatap Antonio.


"Lalu, memang kenapa mereka pacaran?" tanya Anita lagi.


"Aku tidak setuju ma, Antonio itu playboy. Aku ngga mau kak Chila nanti di sakiti dan di tinggalkan. Apa mama mau anak mama itu di sakiti oleh laki-laki brengsek itu?" tanya Chiko dengan menggebu.


"Iko!" teriak Chila.


Dia tidak terima jika Antonio terus di adili dan di pojokkan karena dia seorang playboy. Kekesalan Chila sudah memuncak, Chiko sudah menyakiti hatinya.


"Bang, apa abang tidak melihat sisi baik dari Antonio?" tanya Celine kali ini.


Dia membela kakaknya Chila, karena dia juga tahu Antonio seperti apa di Rusia. Bukan hanya mengumbar ketengilan pada gadis-gadis, tapi juga baik. Bisa menjaga apa yang harus dia jaga.


Kali ini Antonio mendekat pada Anita, dia akan memohon untuk merestuinya menjadi kekasih Chila, bukan hanya pada Chiko. Dia pun berjongkok di depan Anita dan Arga yang berdiri bersebelahan. Arga sendiri sedang bingung dengan semuanya itu.


"Tante, aku meminta Chila pada tante Anita dan om Arga agar merestui aku mencintai dia dan akan menikahinya nanti. Aku mohon tante merestuinya." ucap Antonio membuat semuanya terpana dengan apa yang di lakukan Antonio pada Anita.

__ADS_1


Anita memandang suaminya, dia bingung, kenapa Antonio sama halnya dengan Elana dulu? Arga hanya mengedikkan bahunya, namun Anita malah menyenggol pinggang suaminya.


"Kamu mau berjanji dengan semuanya, tidak akan menyakiti anakku?" tanya Arga pada Antonio.


"Aku janji om." jawab Antonio.


"Ya, terserah Chila. Papa hanya memberi izinkan, tapi jika kamu berbohong, aku akan cari kamu sampai dapat meski pun kamu larinke ujung Afrika sekalipun." kata Arga dengaj ancamannya.


"Pa, kenapa papa begitu mudah memberikan izin pada laki-laki seperti dia?" kata Chiko protes.


"Dek, sekarang kakak tanya. Apa alasanmu begitu keras melarang berpacaran dengan Antonio?" tanya Chila mulai melembut ucapannya.


Meski dia tahu pasti alasan kenapa Chiko bersikeras melarangnya berpacaran dengan Antonio. Bukan hanya karena Antonio playboy, tapi dia punya alasan yang besar. Dan Chiko pin diam, menatap kakaknya, lalu melirik mamanya. Chila tahu, itu akan membuat Anita sedih.


"Ayo dek, kakak mau bicara di dalam." kata Chila pada akhirnya.


Chila menarik tangan Chiko untuk masuk ke dalam kamar Cheril yang terdekat, tidak harus naik tangga. Kebetupan Cheril sedang tidak ada, jadi mereka pun masuk ke dalam kamar Cheril. Semua menatap Chila dan Chiko meninggalkan mereka.


Antonio berdiri kembali, dia duduk lagi ke kursinya. Di susul oleh Celine dan Arga pergi dari situ. Tapi Anita tidak, dia mengikuti kemana kedua anaknya itu pergi. Dia berdiri di depan pintu kamar Cheril yang sedikit terbuka. Mendengarkan apa yang di bicarakan oleh anak kembarnya.


"Dek, aku tahu alasan kamu itu." kata Chila.


"Tapi di sana ada kamu dek, yang akan mencegah dia untuk tidak selingkuh dari kakak. Lagi pula, Antonio sungguh-sungguh. Kakak lihat dari matanya dia sungguh-sungguh sama kakak, dan kakak mencintainya juga. Memang aneh, terlalu cepat untuk jatuh cinta. Tapi kenyataannya kakak dan Antonio saling jatuh cinta. Apa itu tidak boleh?" tanya Chila lagi.


Chiko diam, ada alasan kenapa dia sangat ngotot sekali tidak menyetujui Chila berpaaran dengan Antonio. Di samping memang playboy, Antonio juga suka tidur dengan perempuan lain. Tapi Chiko memgakui kalau Antonio begitu karena memang perempuannya yang mengajaknya, seberapa keras dia menolak ada saja yang menginginkannya.


Dia juga mengakui kalau Antonio itu baik, dan tidak pernah menggoda sendiri perempuan-perempuan itu. Dia tahu itu, tapi Chiko tetap merasa takut kakaknya akan di sakiti. Seperti papanya Rendi menyakiti mamanya.


"Dek, jelaskan alasanmu kenapa melarang kakak dengan Antonio? Kakak tahu ada alasan yang membuatmu takut kan?" kata Chila.


"Aku takut kakak di tinggalkan oleh Antonio, aku takut akan seperti mama. Di sakiti papa dulu dan dan di tinggalkan, aku ngga mau kakak mengalami itu. Mengalami sama dengan apa yang mama alami, kak. Itu saja, karena aku tahu Antonio tidak bisa hanya satu perempuan." kata Chiko lirih.


Dia sangat sayang sekali dengan kakaknya itu, lebih dari yang lain. Karena dia tahu sendiri, meski pun dulu waktu kecil tidak begitu paham. Tapi sekarang dia mengerti kenapa mamanya pergi ke kampung, hidup di kampung dengan kesederhanaan. Ternyata mamanya terluka oleh papanya Rendi dulu.


Pintu kamar terbuka, terlihat Anita masuk dan menatap kedua anaknya. Dia merasa sedih kenapa Chiko sampai trauma dengan apa yang di alaminya.


"Bang, mama tahu abang begitu posesif sama kakak. Maafkan mama, bang kalau itu membuat abang begitu sakit dengan perceraian mama dulu. Tapi percayalah bang, kak Chila kuat menghadapinya. Kakakmu bisa melaluinya, sama dengan mama. Dan abang lihat sekarang mama begitu bahagia. Ujian tidak akan datang jika kita tidak mencobanya lebih dulu menjalaninya bang. Jadi abang percaya sama mereka ya." kata Anita memberi pengertian pada anaknya itu.

__ADS_1


Chila menatap adiknya yang masih saja belum terima. Namu dia akhirnya menurut pada Anita.


"Baiklah ma, Iko akan jaga dia dan awasi dia di sana. Aku tidak mau kak Chila sakit hati karena dia." kata Chila.


"Lakukanlah bang, jika itu membuat dia benar-benar mencintai kakakmu. Dia berlutut di hadapan mama tadi, mama melihat sorot matanya begitu serius mencintai kakakmu. Jadi, apa salahnya menerima dia." kata Anita lagi.


Chila memeluk adiknya itu, dia lega sekarang. Namun kini harus sedih berpisah dengan Antonio. Lalu ketiga anak dan ibu itu pun keluar, di depan berdiri Celine dan Arga sedang menunggu mereka. Bahkan mungkin mendengar apa yang di bicarakan oleh ketiganya.


"Sudah bang bicaranya?" tanya Celine.


"Sudah."


"Ini sudah jam dua siang, pesawat abang berangkat jam beraap?" tanya Arga.


"Jam lima pa, tadinya mau berangkat lebih cepat karena mau beli buku dulu. Tapi ngga bisa, waktunya juga udah mepet."


"Terus, kapan berangkat ke bandara?"


"Sekarang aja ma, biar nanti makan di jalan aja bawa bekal ma." kata Chiko lagi.


"Ya udah, mama siapkan bekal untuk kalian."


"Aku ikut pa, papa kan yang antar?"


"Katanya Angga yang antar?"


"Anak itu belum datang pa, ngga tahu kemana."


"Ya udah, bersiap saja."


Chiko bersiap, dia juga menghampiri Antonio dan bicara padanya dengan nada ketus. Menyuruhnya bersiap untuk segera pergi ke bandara sekarang juga.


_


_


_

__ADS_1


😊😊😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤❤❤❤


__ADS_2