E L A N A

E L A N A
43. Festival Musim Dingin


__ADS_3

Chiko menggandeng tangan Elana, hari ini mereka merasa senang bisa berjalan berdua tanpa ada gangguan dari Celine.


Chiko senang Elana mau jalan berdua dengannya, entah kenapa Chiko benar-benar ingin selalu dekat dengan Elana. Meski dia masih penasaran dengan Elana, ternyata seiring berjalannya waktu rasa suka Chiko pada Elana kian tumbuh.


"Bang, apa setiap tahun acara festival ini selalu ramai?" tanya Elana.


"Iya, bahkan dari berbagai negara banyak yang sengaja datang kemari untuk melihat festival musim dingin di sini, karena nanti ada pertunjukkan berbeda dari negara lain." jawab Chiko.


"Tapi kenapa ya mereka suka sekali, padahal kan cuaca sedang dingin dan kalau aku lebih baik rebahan di kamar jika dingin begini. Hachiiih!" kata Elana di selingi bersin.


Membuat Chiko tertawa, ternyata Elana belum terbiasa di cuaca dingin itu.


"Kamu kedinginan?" tanya Chiko.


"Iya, aku ngga tahu kalau cuaca jika tambah sore semakin dingin begini. Apa lagi nanti sudah malam ya bang, tambah dingin." kata Elana.


"Kalau begitu, yuk kita beli syal dan sarung tangan dulu. Biar kamu ngga terlalu dingin." ujar Chiko.


Elana mengangguk, dia mengikuti kemana Chiko pergi. Tangannya selalu di gandeng oleh laki-laki lembut dan perhatian itu. Di mata Elana, Chiko sangat melindungi dirinya juga sepertinya sayang padanya. Dia menatap Chiko dari belakang, lalu tersenyum malu. Wajahnya tiba-tiba merona melihat wajah Chiko dari samping.


Kini mereka sedang di sebuah lapak yang menjual berbagai atribut pakaian dingin. Chiko memilih beberapa syal untuk Elana pakai.


"Coba yang ini kamu pakai." kata Chiko melingkarkan syal pada Elana.


"Lumayan bang, hangat." ucap Elana.


Chiko tersenyum senang, lalu dia membeli tiga buah syal untuk Elana dan satu untuk dirinya.


"Kok untuk abang satu?" tanya Elana heran.


"Aku cuma butuh satu aja, di rumah sudah banyak. Ayo kita ke tempat makanan dan minuman hangat, kita beli makanan dan minuman biar kita bisa menikmati malam festival ini." kata Chiko sambil tersenyum pada Elana.


Kembali Elana mengangguk dan tersenyum, baru kali ini dia merasakan kebahagiaan sebagai seorang yang sangat di lindungi dan di sayangi. Dia merasa Chiko seperti kakaknya yang sangat melindunginya bahkan menghargainya sebagai manusia. Baru Chiko yang dia rasakan selain Mourin.


Bahkan Evan sendiri tidak terlalu kentara rasa sayang yang Elana rasakan sebagai anaknya. Mungkin karena sibuk dan juga ada adik sambungnya, jadi rasa sayang Evan terbagi dengan istri dan adiknya.


_


Malam ini di menara Spassakaya di selenggarakan festival Circle of Light yang sangat meriah. Chiko membawa Elana ke acara festival tersebut. Di mana di sana lampu-lampu indah menyala dengan terang benderang berwarna warni. Banyak berbagai lampu dan dekorasi selama musim dingin.


Agar warga di sana dan para wisatawan tertarik untuk melihat festival tersebut.

__ADS_1


Sepanjang jalan di Moscow pohon natal di hias lampu warna warni menambah keindahan kota. Ada juga di Moscow menampilkan musik serta tarian tradissional Rusia untuk memeriahkan acara festival.


"Sangat indah ya bang lampu-lampu itu." kata Elana dengan senyum mengembang.


"Iya, kamu suka?" tanya Chiko menatap wajah Elana yang ceria itu.


"Ya, aku suka banget bang." jawab Elana.


"Kamu lapar ngga?"


"Iya, heheh ...."


"Ayo kita cari makanan hangat juga."


Elana mengangguk, dia mengikuti kemana Chiko pergi. Baginya kebahagiaan malam ini sangat menyenangkan hatinya.


Tidak apa kan memanjakan hatinya agar bahagia malam ini, melupakan semua orang yang tidak menyukainya. Dan melupakan jika ada yang tidak suka akan kepulangannya nanti malam ini.


Yang terpenting, malam ini Elana menikmati kebahagiaan bersama orang yang selalu memperhatikannya.


Malam semakin merangkak naik, Chiko dan Elana merasa puas menikmati berbagai acara di sana. Memang bukan puncak festival, tapi mereka menikmati jalan berdua layaknya sepasang kekasih yang sedang di mabuk cinta.


"Bang, pulang yuk?" ajak Elana.


"Kamu mengantuk?" tanya Chiko.


Dia melihat Elana beberapa kali menguap.


"Ngga bang, hanya saja aku takut papa akan marah karena lama keluar dari rumah. Belum lagi mama sambungku." kata Elana lirih.


Sungguh, sebenarnya dia ingin menikmati lebih lama jalan berdua dengan Chiko. Tapi dia merasa khawatir juga pada Evan.


"Mama tiri kamu galak ya?" tanya Chiko.


"Ngga galak bang, cuma mungkin kurang suka sama aku." jawab Elana dengan raut wajah sedih.


"El, jika ada masalah ceritakan padaku. Jangan sungkan, aku siap dengarkan semua cerita tentangmu." kata Chiko, menatap Elana dalam.


Untuk meyakinkan bahwa dia benar-benar tulus dan tidak akan meninggalkannya serta menjauhinya. Elana menatap balik, mencari kebenaran dalam mata Chiko, bahwa dia bisa di percaya dengan apa yang pernah dia alami.


"Abang yakin mau mendengar cerita tentangku?" tanya Elana.

__ADS_1


"Ya, karena aku mulai menyukaimu. Jadi katakan padaku apa yang selama ini jadi kesedihanmu." kata Chiko lagi.


"Abang tahu dari mana kalau aku sering merasa sedih?"


"Aku tahu dari raut wajahmu, semua apa yang aku lihat dari wajahmu menandakan kesedihan El, aku ingin kamu berbagi cerita denganku. Setidaknya kamu bisa merasa lega dengan beban yang berkurang karena menceritakan padaku masalahmu." kata Chiko lagi.


Elana menunduk, dia memastikan bahwa Chiko orang yang tepat untuk mengetahui semua kesedihan yang selama ini menimpanya. Menarik nafas panjang dan matanya menerawang jauh ke depan.


"Aku malu bang, malu dengan statusku yang dulu. Malu dan merasa aku tidak pantas untuk di dekati." kata Elana.


Chiko menggenggam tangan Elana, dia bertekad untuk memaksa Elana bercerita tentangnya. Setidaknya dia bisa meringankan kesedihan Elana.


"Kamu tidak percaya sama aku?"


"Bukan, hanya saja aku masih belum berani bang. Aku masih takut, jika aku cerita abang akan menjauhiku juga." kata Elana.


"Tidak El, abang janji tidak akan menjauhi kamu." kata Chiko meyakinkan Elana lagi.


Diam lagi, Elana kembali diam. Memikirkan apa yang di katakan Chiko bahwa dia tidak akan menjauhinya.


"Aku belum siap bang, lain kali aku akan cerita pada bang Iko. Aku janji bang, tapi saat ini aku belum siap untuk cerita." kata Elana lagi.


"Kenapa?"


"Karena ini sudah malam bang, papaku pasti mencariku. Bercerita itu butuh waktu panjang dan santai." ucap Elana dengan senyum di bibirnya.


Chiko pun tersenyum, dia mencubit hidung Elana dengan lembut. Lalu keduanya pun tertawa kecil.


Dan dari jauh terlihat seorang gadis memperhatikan Elana dan Chiko yang sedang bicara saling berhadapan, lalu tertawa dan melangkah pergi saling bergandengan tangan.


"Khm, poluchayetsya' v tebya yest' devuska Elana. Tak legko zapoluchit' devushka, ty deystvitel' no plokhaya devochka, kotoraya legko zavodit pamya s grustnym listom? Osnovaniye!" (Hemm, ternyata kamu sudah punya pacar Elana? Mudah sekali mendapatkan pacar ya. Apa kamu memang gadis nakal yang dengan gampang mendapatkan seorang laki-laki dengan wajah sendumu? Dasar!")


Setelah bergumam seperti itu, gadis itu pun pergi. Ada banyak akal dan cara untuk membuat Elana jadi orang tertuduh di rumah kakaknya.


"Davay posmotrim, Elana, kak khorosho moya sestra slyshit, kak tu shlyayesh' sya po nocham." (Kita lihat Elana, sebaik apa kakakku mendengar kamu pergi berkeliaran di malam hari.")


_


_


_

__ADS_1


😊😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤❤❤


__ADS_2