E L A N A

E L A N A
23. Saling Melempar Kesalahan


__ADS_3

Elana pergi ke bangku kayu, menunggu papanya di depan pusara Mourin untuk bicara. Meski sebuah pusara tidak bisa mendengarkan atau menjawabi semua ucapan yang orang ucapkan di depannya, tapi bagi orang yang berkunjung pemakaman itu akan merasa lega jika menumpahkan segala keluhan dan penyesalan pada mendiang pemilik pusara tersebut.


Evan menoleh ke arah Elana yang berjarak lima puluh meter dari makam Mourin, dia menatap Elana yang sedang diam. Wajah sedih Elana sejak bertemu Evan tidak pernah berubah. Evan pun kembali menatap pusara Mourin.


Menabur bunga dan menyingkirkan daun-daun berjatuhan di atasnya, menghela nafas panjang. Dia mengusap matanya yang sempat berair, lalu menunduk. Dia bingung apa yang ingin dia ucapkan pada pusara mantam istrinya itu.


Ada rasa penyesalan pada Evan, kembali mengusik masa lalunya ketika dengan tiba-tiba dia ingin memceraikan Mourin sejak bertemu dengan Ana pada waktu itu. Padahal dulu tidak ada masalah dengan Mourin dalam rumah tangganya.


Hanya karena dia merasa terobsesi ingin menikahi Ana yang lemah lembut, tidak seperti Mourin waktu itu. Cerdas, aktif dan wanita karir. Evan terpesona pada Ana yang perempuan biasa, mempunyai cita-cita jadi ibu rumah tangga. Sedangkan dulu? Mourin adalah perempuan bekerja, namun perhatian dan cinta Mourin pada Evan lebih besar. Namun itulah godaan di setiap rumah tangga.


Dan Evan mempertahankannya sampai sekarang dengan Ana, perempuan Rusia yang sederhana menurutnya.


Lagi, Evan kembali mengingat pernikahannya yang kandas dengan Mourin, dia menceraikan Mourin tanpa sebab dan hanya karena mengejar Ana.


"Mourin, ini pertemuan yang tidak aku inginkan. Aku melakukan banyak kesalaha padamu juga pada anak kita, hik hik hik. Maafkan aku, aku ingin menebus kesalahanku padamu juga Elana. Aku ingin membawanya ke Rusia, aku ingin dia merasakan keluarga utuh di sana. Maafkan aku yang tidak pernah pulang menjengukmu dan Elana, maafkan aku hik hik hik.


Pertemuan ini membuatku semakin merasa bersalah, Elana gadis yang kuat. Dia benar-benar kuat seperti kamu. Aku ..., menyesal telah menceraikanmu saat itu. Aku ..., bersalah karena keegoisanku. Maafkan aku, maafkan aku hik hik hik ...."


Evan terus menangis di depan pusara Mourin. Jika saja dulu dia tidak menceraikan Mourin, hal seperti ini tidak akan terjadi. Mourin tidak bangkrut perusahaannya, Mourin tidak menelantarkan Elana, Mourin tidak melakukan kejahatan, Mourin tidak di penjara dan Mourin tidak akan sakit lalu akhirnya meninggal.


"Mourin, maaf ...."


Evan masih menunduk, menangis di depan pusara Mourin. Dari kejauhan Elana memperhatikan apa yang di lakukan Evan, dia merasa terharu dengan papanya itu. Menangis karena penyesalannya atas perbuatannya.


Lalu Elana beranjak dari duduknya, melangkah mendekat pada Evan yang masih menangis tersedu.


"Pa ...."


Evan masih belum bangun dari posisinya semula, Elana lalu menyentuh pundak papanya pelan. Lama Evan tertunduk, kemudian dia pun mendongak dan menatap Elana. Matanya masih basah karena air mata, kemudian dia bangkit dan memeluk Elana.


"Maafkan papa, sayang. Papa benar-benar merasa bersalah sama kamu nak, maafkan papa hik hik hik." kata Evan dalam pelukan Elana.


Elana hanya diam, dia membalas pelukan papanya dan ikut menangis terharu. Lama mereka saling berpelukan, lalu akhirnya Elana mengajak Evan pulang ke rumahnya.


Cukup sudah air mata mengalir saat ini, Elana tidak mau bersedih lagi. Kini harapannya pun hanya pada Evan. Ya, dia akan mempertimbangkan permintaan Evan untuk ikut dengan papanya itu.

__ADS_1


_


Elana kembali bekerja, sedangkan Evan berkunjung ke butik Sandra. Dia ingin meminta penjelasan kenapa Elana merasa trauma tinggal dengan banyak orang di rumah besar dan mewah. Dia hanya ingin bertanya, kenapa Mourin sampai bisa meninggal.


Mobil Evan terparkir di depan butik Sandra, memang kebetulan Sandra sedang berada di butik. Karena hari ini ada dua klien yang meminta di buatkan baju pengantin untuk pernikahannya.


"Ibu Sandra ada?" tanya Evan pada pegawai Sandra.


"Ada pak, tapi beliau ada tamu di ruangannya." jawab pegawai itu.


"Baiklah, saya tunggu di sini saja." kata Evan lagi.


Pegawai itu pun mengambil kursi untuk Evan duduk, dia hanya berdiri dan melihat-lihat baju-baju yang di pajang.


"Pak, silakan duduk." kata pegawai itu sopan.


"Terima kasih." ucap Evan.


Dia duduk sambil bermain ponsel, mengirim pesan pada istrinya di Rusia. Mencari kabar tentang anaknya yang mempunyai kebutuhan khusus.


Di sana istrinya menyekolahkan dan melakukan terapi oleh ahli psikologi dan juga dokter anak. Meski baru dua tahun, tapi anak berkebutuhan khusus memang harus di berikan perhatian penuh oleh kedua orang tuanya.


Lima menit, pegawai tadi menemui Evan yang sedang memantau perusahaannya di Rusia.


"Pak, kata ibu Sandra anda boleh masuk ke ruangannya."


"Oh ya, terima kasih."


Evan lalu beranjak pergi menuju ruang kantor Sandra. Sebelumnya dia mengetuk pintu lalu mendorongnya pelan.


Sandra sedang membuat sketsa baju yang tadi di pesan oleh klien yang baru saja keluar.


"Duduk, Van. Maaf, gue lagi tanggung. Lo tunggu aja dulu." kata Sandra.


"Ya, santai aja. Gue juga ngga buru-buru kok." jawab Evan.

__ADS_1


Sandra pun fokus membuat sketsa, dia memang harus fokus jika ada yang meminta di buatkan baju khusus. Karena kepuasan pelanggan memang nomor satu, begitu motto Sandra.


Lima belas menit Sandra selesai membuat sketsa baju pengantin, dia rapikan kertas berisi sketsa itu agar tidak tercecer di mejanya. Lalu memandang Evan yang masih sibuk dengan ponselnya.


"Ehem, ada apa lo datang kemari?" tanya Sandra.


"Lo lupa kalau gue harus datang lagi menemuimu?" jawab Evan.


Sandra diam, dia menatap Evan dan menghela nafas panjang. Meski dia tahu Evan pasti marah padanya, tapi dia juga tahu tidak sepenuhnya salah.


"Elana ngga mau tinggal di rumah gue, dia sudah gue bujuk. Tapi tetap tidak mau." kata Sandra.


"Mungkin kamu pernah mengusirnya?" tanya Evan.


Dan kembali Sandra terdiam lagi, dia pun menunduk. Dia merasa bersalah.


"Maaf, mungkin gue pernah bilang secara tidak sengaja. Saat itu gue lagi pusing karena anak gue reweo terus." jawab Sandra.


"Tapi setidaknya jangan lampiaskan pada Elana, kamu sendiri pernah bilang kalau Elana itu sangat perasa. Tapi kenapa lo membuat hatinya sedih?" tanya Evan tidak sadar akan ucapannya berbalik oleh Sandra.


"Ya, mungkin gue salah tentang itu. Tapi lo juga melakukan banyak keslahan pada Elana. Lo bahkan tidak pernah mengasuhnya, tidak pernah mau tahu pertumbuhan Elana selama dia tinggal dengan gue, dan yang lebih banyak kesalahan lo itu, ngga pernah memberinya uang. Apa lo tahu, jika Elana di sekolah banyak yang buli? Lalu dia mana papanya saat anaknya itu di buli sampai lulus sekolah tidak ada teman sama sekali. Dan apa lo tahu, Mourin sakit sejak keluar dari lapas dan hanya Elana yang mengurusnya? Lo hanya bisa menyalahkan gue, yang dengan suka rela mengasih Elana sejak kecil. Lalu hanya karena kesalahan satu kali, membuat lo bisa menghakimi gue?" tanya Sandra yang kembali emosi dengan sangkaan Evan padanya.


Dan memang, Evan pun terdiam. Jika Sandra mengungkit masalah itu, maka Evan tidak bisa berkutik. Karena memang kenyataannya seperti itu.


"Maaf, aku hanya ingin Elana ikut denganku ke Rusia. Aku akan menebus semua waktu yang terbuang karena tidak pernah memberinya perhatian dan kasih sayang sejak kecil." kata Evan lirih.


Sandra pun menatap Evan yang tertunduk, dia juga merasa bersalah.


"Sudahlah, jangan saling menyalahkan Perbaiki hubunganmu dengan Elana. Karena dia itu susah untuk akrab dan dekat dengan orang lain. Dia akan tertutup jika ada orang yang memandangnya sebelah mata. Jadi lo sebagai papanya, beri pengertian, perhatian dan kasih sayang. Maka Elana juga akan melakukan hal yang sama, ya meskipun agak lama." ucap Sandra.


"Terima kasih, atas jasa lo mau menampung awastaan.!!"


_


_

__ADS_1


_


😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤❤


__ADS_2