E L A N A

E L A N A
39. Benteng Kremlin


__ADS_3

Benteng Kremlin terletak di tengah kota Moscow, benteng ini juga ikon dari negara Rusia. Banyak yang bilang jika berwisata ke negara beruang merah ini belum ke Moscow dan ke benteng Kremlin, maka belum pergi ke Rusia.


Kremlin juga merupakan salau satu simbol kemegahan Rusia, karena tempat itu punya cerita sejarah yang sangat besar dan berharga. Terutama sejarah perpolitikan Rusia.


Pada abad 15, benteng Kremlin sebagai benteng pertahanan di tengah kota untuk menahan serangan musuh di masa perang dulu. Dulunya benteng Kremlin di tempati oleh kaum tsar, yaitu pemguasa monarki Rusia.


Istilah Kremlin Walls berasal dari sebutan dari benteng Kremlin benteng yang melindingi wilayah Kremlin, benteng itu di dirikan pada tahun antara empat belas delapan lima dan empat belas sembilan lima ( 1485-1495 )


Bangunan towers Kremlin di desain oleh arsitektur Italia bernama Petrus Antonius Solaslrius. Di benteng Kremlin sangat luas dan banyak beberapa bangunan yang sangat megah juga, ada empat istana dan juga empat gereja katredal. Juga Kremlin Walls dan Kremlin Towers, bangunan tersebut yaitu Ivan the Great Bell Towers, Archangel Cathedral, Spasskaya Tower, Historical Memoirs, Chruch of the Deposittion of the Virgin's Robe, Borovistkaya Tower, Armoury Camber, Patriach Palac, Assumption Cathedral, dan Anunciation Cathedral.


Dari beberapa bangunan megah itu banyak sekali mengandung sejarah tentang Rusia.


Benteng Kremlin berdiri megah bersebalahan dengan sungan Moscow, di sisi sebelah timur ada Red Square yang merupakan tempat wisata para pelancong seluruh dunia. Benteng Kremlin dan Red Square adalah situs budaya dunia yang sudah di akui oleh UNIESCO.



Informasi bersumber dari web indonesiatraveler


_


Chiko, Celine dan Elana berjalan-jalan di sekitar Red Square untuk melihat keindahan sekitar benteng Kremlin yang megah itu. Mereka bertiga sangat mengagumi bangunan bersejarah itu.


"Kalau di Indonesia kita punya candi Borobudur ya." kata Celine menikmati pemandangan sekitar benteng Kremlin dari lapangan merah itu. Mereka sama halnya dengan wisatawan lainnya, mengagumi beberapa bangunan yang berdiri megah dan dengan warna-warna yang mencolok.


"Bukan hanya Borobudur, tapi juga banyak candi di Indonesia yang juga di kagumi oleh dunia, Bali dan juga candi Prambanan. Wisatawan banyak juga yang datang kesana." kata Chiko.


Dua kakak beradik itu saling menyahuti tentang pengetahuannya dalam situs dunia yang di akui oleh UNESCO.


"Danau Kalimutu juga, bang di Nusa Tenggara. Danau tiga warna airnya itu juga di akui oleh UNESCO." kata Elana menimpali.


Chiko tersenyum, tangannya mengelus kepala Elana dengan lembut. Mereka terus berjalan menyusuri tempat-tempat menarik, ada juga taman bunga Alexander yang indah. Di sana mereka berlabuh terakhir setelah berjalan lama.


_


Mereka lalu mampir di sebuah warung makanan yang berada di mobil, mereka menyediakan tempat duduk untuk para pembeli yang memang ingin menikmati makanan sambil melihat benteng Kremlin dari jauh. Jika di Indonesia mungkin para ibu-ibu atau bapak-bapak menjajakan jajanan dengan menggunaka gerobak atau sepeda motor, mungkin di sini menyajikannya dengan kendaraan khusus yang di buat untuk berjualan. Mobil van besar dan jendela samping terbukan untuk melayani pembeli.


Penjual itu menyajikan makanan cemilan khas Rusia. Chiko memesan roti rye dengan sup okroskha, dia menyukai makanan itu. Sedangkan Elana hanya memesan a pig in a blenket. Yaitu makanan sosis yang berlapis puff pastry dama halnya dengan Celine.

__ADS_1


"Kalian hanya memesan itu saja?" tanya Chiko.


"Ini juga bikin kenyang bang." jawab Celine.


"Hemm, ya benar. para gadis akan membatasi makanan agar terlihat langsing dan terjaga badannya tetap kurus." gumam Chiko.


"Nah, itu abang tahu." ucap Celine.


"Tapi kenapa semua perempuan seperti itu? Tidak menikmati makanan enak yang ada di sebuah restoran." kata Chiko lagi.


"Karena perempuan itu selalu kalap bang lihat makanan enak, sama dengan barang diskon di mall. Semuanya menggairahkan mata kita, ya kan El?" tanya Celine pada Elana.


"Aku ngga ngerti sih masalah diskon, tapi bolehlah pendapatan Celine seperti itu." jawab Elana.


"Ish, coba lihat di mall-mall itu Elana. Mereka para ibu-ibu yang suka berbelanja di mall akan selalu berburu diskon besar, apa lagi kalau mall mengadakan diskon besar-besaran jauh-jauh hari. Pasti deh itu pada ngantri di sana." ucap Celine lagi.


"Iya, termasuk kamu." celetuk Chiko.


Dia tahu tingkah Celine yang satu itu jika berada di mall. Papanya dan Anita sampai heran, dia bilang Celine itu ibu-ibu pemburu diskonan.


"Iya, kamu kan ibu-ibu pemburu diskon di mall. Setiap ada diskon kamu beli, harusnya kamu membeli barang yang bermanfaat, jangan asal beli karena diskon tapi ngga tahu mau di pakai apa." kata Chiko lagi.


Perdebatan masalah diskon masih terus berlanjut membuat Elana selalu tersenyum, dia lupa dengan masalah yang ada dalam pikirannya.


Sangat menyenangkan berteman dengan kedua kakak beradik yang selalu berdebat hal kecil, tapi mereka saling menyayangi. Elana sangat iri dengan Chiko dan Celine.


Bagaimana dengan keluarganya ya? pikir Elana.


Dia pun menunduk, berbeda sekali dengan dirinya yang sejak kecil broken home. Di besarkan oleh sahabat ibunya, selama satu tahun lebih bisa hidup dengan ibunya lalu di tinggalkan, sempat putus asa namun akhirnya dia bangkit.


Pada akhirnya, Evab datang dan membawanya ke negara ini. Tak sampai di situ, berbagai masalah kembali muncul setelah kedua adik ibu sambungnya datang. Dan sekarang dia tidak tahu ke depannya seperti apa.


Apakah akan berakhir sama dengan dia hidup dengan Sandra, hadir orang lain dan akan tersisihkan lagi.


Elana menghela nafas panjang, dia menerawang jauh memandang benteng Kremlin yang megah dari jauh. Sesungguhnya dia ingin hidup normal dan bahagia, siapa pun itu punya cita-cita yang sama. Hidup normal dan di cintai laki-laki yang tulus mencintainya.


Chiko memperhatikan perubahan wajah sedih Elana, dia kembali penasaran. Apa yang di pikirkan Elana sehingga dengan cepat berubah rona wajahnya.

__ADS_1


"Dek, belikan minuman dong ke sana tuh." kata Chiko pada Celine.


"Minuman apa bang?" tanya Celine.


"Apa aja deh, abang haus." kata Chiko memberi alasan.


Dia ingin bicara berdua dengan Elana, dia tidak mau Celine mengganggunya.


"Ya udah, sini. Berapa?"


"Tiga dong dek, kan kita bertiga."


"Mana uangnya?"


Chiko mengambil uangnya dan memberikannya pada Celine. Celine pun pergi, dia agak kesal namun memang dia juga haus.


Sedangkan Chiko kembali memperhatikan Elana yang masih diam.


"Apa yang kamu pikirkan, Elana?" tanya Chiko memperhatikan wajah Elana.


"Aku iri sama bang Iko dan Celine, kalian tampak akrab banget dengan saudara." jawab Elana.


"Kamu tahu, Celine itu adik sambungku. Dia adalah anak dari papa yang menikahi mamaku. Kami akrab sebelum mamaku dan papa Celine menikah. Dan setelah menikah, kami saling menyayangi satu sama lain. Mama dan papa Celine tidak membedakan kami, semua di anggap sama. Kami bahkan sangat dekat dengan papa dan mama kami. Dan tidak di pungkiri kami hidup dengan bahagia, meskipun adik kami banyak." kata Chiko masih memperhatikan wajah Elana yang masih sama, wajah sedih.


Elana tersenyum getir, berbanding terbalik dengan dirinya. Dia bahkan hidup dalam kepura-puraan orang-orang yang dekat dengan papanya. Dulu Sandra juga seperti itu.


"Elana, ceritalah padaku tentang kesedihanmu. Pundakku siap untuk menyandarkan kepalamu ketika sedang sedih, kamu tahu aku ...."


"Nih bang, minumannya."


_


_


_


😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2