
Elana lalu mengambil ponselnya, dia ingin menghubungi Chiko dengan cepat.
Tuuut
Tidak ada jawaban, Elana terus menghubungi Chiko tapi tetap tidak ada jawaban.
Tak tinggal diam, dia pun menguubungi Celine. Namun tetap sama tidak di jawab.
"Kemana kakak beradik itu?" gumam Elana.
Lalu Elana mengetikkan pesan untuk Celine lebih dulu. Dia memberitahu kalau dirinya sedang bertengkar dengan papanya.
"Celine, katakan pada bang Iko. Malam ini aku bertengkar dengan Angela dan tante Ana. Kami bertengkar dan aku tidak sengaja memukul tante Ana, hingga dia marah dan menamparku. Dia merendahkan mamaku, aku marah lalu aku balik merendahkannya. Tapi tanpa di duga papa mendengar ucapanku, hingga aku pun di tamparnya. Aku kembali di usir, bahkan aku akan di pulangkan papa ke Indonesia. Tolong aku, Celine. Aku tidak mau berpisah dengan abangmu."
Pesan di kirim ke nomor Celine, Elana pun mencoba kembali menghubungi Chiko. Tapi tangan tersodor menarik ponselnya dan merebutnya.
"Saat ini kamu tidak boleh menghubungi siapa pun. Papa hanya ingin kamu introspeksi diri Elana."
"Pa, bukan aku yang mulai tapi Angela." kata Elana membela diri.
"Papa tidak butuh pembelaanmu, papa merasa malu dan kamu bukan seperti anak papa Suka melawan dan membantah. Dan papa benar-benar akan memulangkanmu ke Indonesia." kata Evan yang tiba-tiba ada di kamar Elana.
Dia lalu pergi dari kamar Elana dan mengunci kamar anaknya itu. Elana pun lemas, dia tersungkur di lantai. Cukup sudah penderitaannya, dia kini hanya bisa diam. Dia tidak bisa menghubungi Chiko lagi, ponselnya di sita oleh Evan.
Pandangan Elana kosong, dia masih tersungkur di lantai. Belum beranjak di kasurnya, masih tidak percaya apa yang di katakan Evan dan juga ponsel satu-satunya di sita.
Air matanya pun luruh, membasahi pipinya yang putih mulus.
"Apa salahku? Apakah aku harus seperti ini? Selalu saja tidak di sukai oleh orang-orang terdekatku? Apa salahku, Tuhan? Hik hik hik."
Elana menangis sesunggukan, dia menunduk dan menangis tersedu. Dia meratapi nasibnya yang sekarang ini, merasa sendiri lagi dan seperti tidak berguna.
__ADS_1
Lama Elana menangis, dia semakin terisak. Siapa yang akan menolongnya, di saat seperti ini.
Malam semakin larut, Elana pun bangkit dari duduknya di lantai. Dia lalu berpindah ke kasurnya dan berbaring, dia menatap laptopnya di meja yang masih basah oleh air yang di tuangkan Angela.
Dia benar-benar kesal, kenapa Angela tidak bisa melihatnya tenang dan hidup masing-masing saja.
"Semuanya brengsek!" teriak Elana.
Jiwa pemberontaknya kini keluar, dia lelah. Lelah di perlakukan tidak adil. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa saat ini.
"Hik hik hik, mama tolong El ma." ucap Elana sambil menangis.
Dia seperti tawanan di rumah Evan, tidak bisa berbuat apa-apa. Namun demikian Elana masih berpikir untuk kabur, tapi kabur kemana?
"Sudahlah, mungkin ini kisah hidupku. Hik hik hik."
Elana menghentikan tangisannya, dia lalu merebahkan tubuhnya. Memejamkan matanya, berharap besok ada keajaiban untuk dirinya bisa keluar dari kamarnya dan pergi dari rumah itu.
_
Dia akan memulangkan Elana ke Indonesia dan menyerahkan hidupnya pada dirinya sendiri di sana. Kembali bekerja jadi tukang laundry lagi pun tidak masalah. Evan tidak peduli, yang penting sekarang Elana harus pergi dari rumahnya dan hidup seperti dulu.
Satu minggu mengurus dokumen Elana, kini waktunya Evan masuk ke dalam kamar Elana dan memberitahu besok dia akan pulang ke Indonesia.
Evan menatap anaknya yang sedang duduk menghadap jendela sembari melamun. Entah sejak dua hari setelah kejadian itu Elana semakin diam dan tidak banyak tingkah. Makan pun sedikit serta lebih banyak diam.
Evan melihat sekeliling kamar Elana, berantakan dan tidak pernah di rapikan. Melihat ke arah meja belajar Elana, terdapat laptop yang masih terbuka namun tidak menyala. Dia pun mendekat pada Elana.
"Besok kamu sudah berangkat ke bandara. Papa akan antar sampai bandara, Elana." kata Evan pada Elana yang terdiam.
Evan menarik nafas panjang, dia lalu keluar dari kamar anaknya namun di hentikannya dan kembali menatap Elana yang masih bergeming di tempat duduknya.
__ADS_1
"Kemasi barang-barangmu, besok pagi harus sudah berangkat ke bandara. Jangan sampai pa0a menunggumu berkemas Elana." kata Evan mengingatkan Elana.
Tapi Elana tidak menjawab, dia masih menatap keluar jendela yang ternyata suasananya sepi. Sesepi hati Elana. Dia merasakan rindu pada Chiko juga marah dan kesal kenapa Celine tidak juga membalasnya. Tapi lagi-lagi dia sadar kalau ponselnya di sita oleh Evan.
Di tarik nafasnya panjang, Elana pun beranjak dari duduknya. Menuju lemari pakaiannya dan mengambil beberapa baju serta syal yang di berikan oleh Chiko.
Di pandanginya syal tersebut lalu di ciumnya lama.
"Aku rindu bang Iko, kemana kamu bang? Apa kamu tidak menerima pesanku dari Celine?" gumam Elana.
Kembali dia pun menangis, memeluk syal di tangannya lalu dia jongkok masih memeluk syal berwarna biru muda dengan motif bunga.
_
Evan mengantar Elana sampai terminal di bandara, dia membawakan koper milik anaknya. Dan sampai di terminal bandara Evan menyerahkan koper Elana, Elana menyambutnya dan pergi begitu saja. Dia masuk ke bagian line detektor tanpa mempedulikan dan tanpa pamit pada Evan.
Dalam hati Elana, dia berucap ' papa membuangku saat ini, ketika bertemu denganku lagi. Dia sudah tidak mengenal lagi anaknya ini. Anak yang di buang dan tidak di percaya tidak akan mengenal lagi papanya, tidak akan mengenal lagi Evan Septian.'
Mata Elana menatap lurus, dia akan hidup dengan berjuang keras lagi di Indonesia. Tak mengenal apa pun lagi setiap orang yang perbah dia kenal. Begitu pikiran Elana.
Setelah memalui beberapa pemeriksaan, kini Elana masuk ke dalam kabin. Hatinya sangat sakit, namun dia begitu tegar. Bersikap masa bodoh dengan sekitarnya, dan memperjuangkan hidupnya kelak di negerinya sendiri.
"Terlalu pahit hidupku di negara ini, meninggalkan cinta yang tidak tahu apakah akan memperjuangkannya. Aku tidak tahu. Selamat tinggal Rusia, aku tidak akan kembali lagi kesana." gumam Elana.
_
_
_
😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤
__ADS_1