E L A N A

E L A N A
91. Obrolan Kakak Beradik


__ADS_3

Elana pulangbke butiknya sendiri naik ojek online, dia tidak mau di antar sampai butik. Karena dia tahu akan mengantar kakaknya pulang ke rumah. Dan sore hari harus berangkatnke Jogja lagi.


Dalam perjalanan, Chiko berpikir bagaimana mengenalkan Elana pada kedua orang tuanya. Chila tahu apa yang di pikirkan adiknya itu.


"Kamu bingung dek dengan papa dan mama?" tanya Chila yang melihat adiknya selalu menarik nafas panjang terus.


"Iya kak, aku bingung. Apakah mama sama papa akan menerima Elana nantinya." jawab Chiko.


Pandangannya tetap di depan jalanan yang padat karena hari memang sangat sibuk di jalan.


"Aku pikir kalau mama pasti menerima dek, tapi aku tidak tahu kalau papa. Karena tentunya papa sangat marah saat itu ketika tahu kamu di culik. Dan tahu kalau pacar kamu itu anaknya tante Mourin, orang yang pernah menculikmu." kata Chila.


Chiko diam lagi, dia bingung apa yang akan dia katakan nantinya. Chila sendiri hanya memberinya semangat, agar bisa memberitahu kedua orang tuanya.


"Dan kakak rasa, hanya mama yang bisa meluluhkan hati papa. Kamu harus pandai-pandai memberitahunya tentang Elana, jika kamu serius sama gadis itu. Kamu harus secepatnya memberitahu mama sama papa dek." kata Chila lagi.


"Aku janji pada Elana, sesudah aku wisuda segera menikahinya kak. Apa aku terlalu cepat menjanjikan dia menikah?" tanya Chila.


"Itu terserah kamu, tapi kamu harus mengenalkannya dulu sama papa dan mama. Tahapannya harus seperti itu, karena menikah butuh restu kedua orang tua jika ingin pernikahan itu langgeng dan bahagia seperti papa dan mama. Aku kadang iri dengan kemesraan papa dan mama, apakah aku bisa seperti mereka. Menjaga keluarga dan bisa mengurus anak-anak nanti, bahkan papa sampai rela kan membantu mama dalam mengurus adik-adik kita. Jarang lho laki-laki seperti papa Arga, beliau itu sahabat dari SMA yang mencintai sejak dulu. Dan terbukti sekarang bertahun-tahun kehidupan rumah tangganya baik-baik saja." kata Chila menceritakan kedua orang tuanya.


Mereka tidak tahu, bagaimana menjaga hati dari masing-masing. Karena memang sesungguhnya kehidupan rumah tangga, ketika ada masalah dengan pasangan. Maka anak-anak tidak boleh tahu, bahkan berusaha bahagia di depan mereka meski hati tidak baik-baik saja. Anita sukses membuat anak-anaknya bangga padanya karena tidak memperlihatkan sisi buruk dari sebuah rumah tangga.


"Ya, papa juga sangat mencintai mama. Itu yang ingin aku tiru dari papa, beliau juga sangat baik. Bahkan selalu memperlihatkan sisi romantisnya di mana pun berada." kata Chiko menimpali.


"Papa itu bucin sama mama, pernah merasa kehilangan ketika mama pergi setelah lulus SMA dulu. Dan menikah dengan papa Rendi, lahirlah kita. Tapi papa Arga tidak membedakan kita sebagai anak sambungnya."


"Ya, kalau cinta sejati memang seperti itu, menerima apa pun keadaan yang di cintainya. Aku harus belajar seperti itu pada papa." kata Chiko.


"Makanya aku malas untuk punya pacar, kebanyakan di kampus itu hanya untuk main-main saja."

__ADS_1


"Kakak memang harus hati-hati pada laki-laki seperti itu. Aku punya sahabat, dia orangnya baik banget. Tapi dia sering gonta ganti perempuan, namun begitu dia tidak pernah mengikat teman-teman perempuannya jika sudah dekat. Hanya sekedar senang-senang saja, dia pernah aku nasehati jangan mempermainkan perempuan. Tapi apa yang dia jawab, dia bilang tergantung perempuannya yang dia ajak kencan. Kan itu sangat tidak baik juga, tapi aku suka berteman dengannya. Pikirannya sangat dewasa, bisa melihat keadaanku saat itu. Berteman dengannya sangat menyenangkan, makanya aku percayakan Celine di jaga olehnya." kata Chiko mengingat Antonio sahabatnya di Rusia.


"Dia suka sama Celine?" tanya Chila.


"Aku tidak tahu, aku selalu melarangnya untuk memacari Celinr. Karena aku tahu siapa dia, aku takut Celine jadi salah satu gadis yang dia mainkan." jawab Chila.


"Jika sudah bertemu dengan orang yang tepat, kurasa mungkin temanmu akan berubah. Tidak semua orang brengsek itu akan selalu brengsek, jadi kurasa dia sebenarnya orang baik. Hanya karena mungkin teman-temannya yang membuat dia seperti itu." kata Chila lagi.


Ucapan Chila memang benar, jika orang seperti itu harus di arahkan ke hal baik. Dan Chiko juga mengakui, Antonio seperti itu karena teman-temannya memang begitu. Gadis yang selalu mendekat pada selalu menawarkan apa yang berharga padanya, sedangkan dia di beri sesuatu yang membuatnya senang maka dia mau saja. Tapi aku selalu mengingatkannya agar tidak mengikuti teman-temannya." kata Chiko lagi.


Pembicaraan terus berlanjut, hingga jam tiga sore mereka sampai di rumah Anita. Mobil masuk ke halaman rumah, Chila langsung turun begitu mobil berhenti. Dia buru-buru untuk berkemas.


Anita merasa heran dengan anak sulungnya itu yang terburu-buru masuk ke dalam kamarnya. Chiko masuk ke dalam rumah dan menyimpan kunci mobilnya.


"Bang, kakakmu kenapa terburu-buru sekalia. Ada apa?" tanya Anita.


"Kak Chila mau berkemas dulu ma, katanya sore ini mau berangkat lagi ke Jogja." jawab Chiko.


"Halo sayang, aku udah sampai rumah nih. Kamu masih di butik?" tanya Chiko dengan senyumannya.


Dia masuk kamar dan menutupnya langsung. Pembicaraan itu terdengar oleh adiknya, Angga. Dia mengerutkan dahinya dan turun ke bawah menemui Anita.


"Ma, bang Iko baru pulang?" tanya Angga.


"Iya tadi sama kak Chila. Kenapa memangnya?"


"Emm, ngga apa-apa. Tadi aku dengar abang bicara di telepon bilang sayang. Memang abang udah punya pacar ya ma?" tanya Angga lagi.


Anita mengerutkan dahinya, apa benar anaknya itu sudah punya pacar? Dan kedatangannya kali ini sangat berbeda sekali wajahnya, sangat ceria.

__ADS_1


Berbeda dengan dulu sewaktu pulang dari bandara, lesu dan tidak bersemangat. Apa dia memang benar sudah punya pacar?


Pertanyaan Anita dalam hati belum terjawab, dia akan bertanya pada anaknya itu. Namun dia bingung bagaimana bertanya pada anaknya itu.


Hari semakin sore, Chila sudah bersiap untuk berangkat lagi ke Jogja. Temannya yang koas di rumah sakit yang sama sudah menrleponnya berkali-kali agar cepat berangkat lagi.


"Ma, aku berangkat dulu ya." kata Chila memeluk Anita.


"Ngga bisa tunggu satu hari lagi kak? Mama masih kangen sama kakak." kata Anita memeluk anak sulungnya.


"Ngga bisa ma, aku di teleponi terus di suruh berangkat. Mungkin bulan depan deh aku pulang lagi, Celine juga pulang kan dari Rusia? Nanti semua kumpul, sangat menyenangkan ma." kata Chila lagi.


Anita pun kecewa, namun memang anaknya itu harus segera berangkat jika tidak mau koasnya di ulang lagi tahun depan.


"Mau di antar Angga, ngga kak?" Angga menawarkan diri.


"Pakai motor?"


"Iya, biar cepat."


"Emm, boleh deh. Biar ngga ketinggalan kereta, jam enam kereta datangnya."


"Oke, aku ambil jaket dulu."


Angga lalu naik ke dalam kamarnya mengambil jaket dan kunci motornya. Dia senang jika mengantar kakak sulungnya itu.


_


_

__ADS_1


_


😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤❤


__ADS_2