
Pelukan Chiko semakin erat, dia tidak ingin Elana pergi lagi dari hidupnya. Benteng Kremlin jadi saksi cinta keduanya yang menyatukan dua hati antara Elana dan Chiko.
Saat ini Elana hanya ingin bahagia dengan Chiko, kekasih hatinya yang selalu menguasai ruang kalbunya. Lalu keduanya pun berjalan menyusuri benteng Kremlin, saksi sejarah negara tersebut juga saksi cinta mereka berdua.
"Bang?"
"Hem, kenapa?"
"Abang ngga marah sama aku?" tanya Elana.
"Rasa cintaku padamu lebih besar dari pada rasa marahku Elana." jawab Chiko.
Elana tersenyum, dia mengeratkan pelukannya pada Chiko. Cukup sudah hatinya saat ini, yang dia rasakan adalah kebahagiaan bersama Chiko.
"Celine marah ngga sama aku, bang?"
"Dia tidak akan berani marah sama kamu. Karena abang tidak akan pernah marah sama kamu." jawab Chiko lagi.
"Tapi Celine pernah kecewa sama aku bang, aku merasa bersalah padanya."
"Jangan di pikirkan, dia tidak marah kok sama kamu."
"Aku tetap akan meminta maaf padanya."
"Terserah kamu, tapi abang harap kamu dan Celine jadi orang yang sangat abang sayang."
"Tentu."
Chiko dan Elana duduk di taman Alexandria, mereka duduk menatap bunga-bunga yang mulai bermekaran. Saling menggenggam tangan, sesekali Chiko mencium tangan Elana yang dia pegang.
"Selama ini kamu kemana aja?" tanya Chiko, merapikan anak rambut yang menempel di pipi Elana karena di terpa angin sepoi.
"Aku ke panti asuhan bang, mencoba menenangkan diri karena rasa kecewa sama abang dulu." jawan Elana.
"Kamu melakukan apa di sana?"
"Banyak, membantu anak-anak bermain dan belajar. Membantu suster Maria dan suster Valen mengurus anak-anak panti asuhan, ransanya menyenangkan bermain dengan anak-anak panti di sana." kata Elana.
"Kamu senang di sana?"
"Ya."
"Dan kamu bisa melupakan aku di sana?"
__ADS_1
Elana menggeleng lalu menunduk, menghela nafas panjang.
"Aku tidak bisa melupakan abang, aku bahkan sering merasa rindu sama abang. Makanya aku mencoba menepis semua itu dengan bermain dengan anak-anak. Tapi suster Maria memberiku masehat agar aku kembali ke rumah abang. Niatnya mau mengambil baju-bajuku dan akan tinggal di panti itu. Tapi aku mendengar percakapan abang sama Celine, membuat tekad bulatku untuk pindah dan tinggal di panti asuhan. Tapi aku justru sering melamun, bahkan di kamar aku sering menangis. Akhirnya suster Maria memberiku nasehat lagi agar memikirkan keputusanku tinggal di sana. Aku berpikir untuk pergi ke benteng Kremlin, tapi aku mendapatkan cinta bang Iko di sini." ucap Elana dengan senyum mengembang.
"Jadi, abang adalah laki-laki beruntung yang telah menguasai hatimu?" tanya Chiko dengan senyum bahagianya.
"Hahah, abang bisa aja. Yang ada aku yang beruntung di cintai oleh bang Iko. Aku berpikir akan selamanya di panti asuhan dan akan seperti suster Maria dan suster Valen yang tidak akan pernah jatuh cinta dan menikah. Hidupnya sudah di abdikan pada gereja, yaitu mengurus anak-anak panti asuhan. Waktu itu abang kemana?" kata Elana lagi.
"Abang pergi ke rumah teman, sama denganmu. Menenangkan hati untuk mencari jawaban atas kegundahanku. Dan ternyata, aku memilih cintaku sama kamu. Rasanya sangat lega ketika aku lebih memilih perasaan cintaku pada kamu."
"Jadi, bang Iko tidak kecewa lagi sama aku karena mamaku?" tanya Elana.
Dia menatap Chiko yang juga menatapnya, ada wajah sedih Chiko karena rasa bersalah pada Elana. Lalu Chiko membelai pipi Elana dengan lembut.
"Abang sudah bilang, aku lebih memilih perasaan cintaku sama kamu Elana. Maafkan abang, waktu itu abang merasa kecewa dan marah sama kamu. Makanya abang pergi dan menenangkan diri, mencari jawaban atas apa yang abang alami. Abang hanya tidak menyangka jika mama kamu yang dulu menculikku. Abang minta maaf kalau tidak langsung menjelaskan waktu itu." kata Chiko.
Dia kembali memeluk Elana dengan erat, berharap Elana tidak kecewa padanya sudah mengungkit masa lalu ibunya.
Rasanya dia sangat sakit ketika mengingat Elana dulu bersujud padanya untuk meminta maaf karena kesalahan ibunya.
"Elana?"
"Ya bang?"
"Jangan lakukan lagi bersujud seperti dulu pada siapapun." kata Chiko.
"Elana?"
"Ya bang."
"Kamu dengar apa yang aku katakan?"
"Iya."
"Aku ngga mau melihat kamu bersujud seperti dulu lagi pada orang lain. Aku akan merasa sakit jika kamu melakukan itu." kata Chiko.
Dia melepas pelukannya pada Elana dan menatap gadis manis yang sedang menunduk. Kembali di angkat dagu Elana dan mencium bibirnya.
Elana tersenyum, wajahnya merona karena malu. Lalu menunduk lagi. Chiko gemas melihatnya.
"Kamu cantik banget, Elana."
"Aku gadis biasa bang, mana ada aku cantik."
__ADS_1
"Tapi di mataku kamu sangat cantik, sampai aku tidak ingin mengalihkan padanganku pada gadis lain."
"Bang Iko gombal."
"Aku serius Elana, coba saja kamu tanya sama Celine. Aku tidak pernah melirik gadis lain selain kamu. Atau kamu boleh tanya sahabatku, Antonio. Tapi jangan deh, dia nanti naksir kamu lagi." kata Chiko menyesal kenapa menyebutkan Antonio sahabatnya.
"Hahaha, aku baru tahu bang Iko gombal banget."
"Aku ngga gombal sayang." ucap Chiko.
"Bang?"
"Ya?"
Elana terdiam, dia menatap Chiko dengan lembut dan senyuman manisnya. Di tatapnya mata Chiko yang berbinar dan memendarkan cinta untuknya.
"Terima kasih abang mencintaiku, aku sangat bahagia dan bersyukur. Aku merasa aku gadis beruntung di cintai oleh abang. Aku takut abang hanya ingin menenangkan hatiku saja, karena aku gadis yang sangat menyedihkan. Gadis yang tidak ada yang mau mendekat padaku karena latar belakang orang tuaku. Aku merasa tersanjung karena abang mencintaiku bukan karena aku anak mama Mourin. Sekali lagi aku minta maaf atas kesalahan mama Mourin bang, jika aku tahu mamaku dulu menculikmu. Rasanya waktu itu aku akan marah juga padanya, tapi itu tidak aku lakukan. Karena mamaku menderita saat itu. Sekali lagi, maafkan mamaku bang." ucap Elana.
Entah kenapa dia jadi melankolis dan ingin meminta maaf pada Chiko tentang Mourin.
"Jangan ungkit itu lagi, aku sudaha melupakannya. Yang ada aku hanya ingin kamu tetap berada di sisiku, Elana. Aku mencintaimu karena aku memang menginginkamu jadi kekasihku." kata Chiko lagi.
Elana kembali tersenyum, dia memberanikan diri untuk mengecup bibir Chiko.
"Terima kasih abang mencintaiku seperti itu." ucap Elana.
Dia lalu memeluk Chiko lagi, dan apa yang di rasakan Chiko? Dia benar-benar sangat bahagia, Elana mengecup bibirnya.
"Jangan pergi lagi dariku." kata Chiko.
"Bang."
"Iya?"
"Aku lapar."
"Hahah, baiklah. Ayo kita cari makan."
Kini Elana dan Chiko bangkit dari duduknya, tangan keduanya saling bertaut dan melangkah pergi meninggalkan bangku taman yang jadi saksi sejarah cinta keduanya.
_
_
__ADS_1
_
😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤